My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 12 Tuan Raymon


__ADS_3

Utungnya Mala datang tepat waktu, saat tiba di depan gedung Art Life Mala terkejut karena melihat Lala sudah berada disana. Lala tersenyum dan melambaikan tangannya begitu melihat sahabatnya turun dari motor.


"Ngapain disini?"Tanya Mala begitu dia menghampiri sahabatnya.


"Aku mulai magang hari ini, kamu lupa?" Jawab Lala seraya memanyunkan bibirnya.


Mala menepuk keningnya sendiri, gara-gara pagi ini bertemu dengan bos anehnya dia sampai lupa kalau hari ini Lala mulai magang ditempatnya bekerja. Sebenarnya mereka berdua kuliah dijurusan yang sama, seandainya Mala tidak berhenti dari kuliahnya, mungkin mereka akan berangkat magang bersama hari ini.


Perhatian mereka teralihkan saat sebuah mobil mewah berhenti didepan mereka, lebih tepatnya didepan gedung Art Life. Rafli keluar dari mobil itu lalu membukakan pintu untuk Arthur. Lala membulatkan matanya begitu melihat Rafli, dari awal pertemuan mereka, Lala memang sudah tertarik kepada laki-laki berwajah dingin itu.


"Dia kerja disini?" Bisik Lala dan hanya dibalas anggukan oleh Mala. "Aku tidak percaya dia juga bekerja disini, sepertinya kita memang jodoh." Kelakar Lala tanpa memalingkan pandangannya dari pujaan hatinya. Mala menoleh dan menatap tajam sahabatnya itu, namun Lala tidak memperdulikannya, dia hanya fokus pada Rafli yang kini melangkah mendekatinya.


"Rey." Sapa Lala begitu Arthur melewatinya begitu saja.


Mala terkejut dan segera menarik lengan Lala yang akan menghampiri Arthur dan Rafli, namun Lala malah menepis tangan Mala dan berlari menghampiri Athur yang kini sudah berhenti dan tengah menatap dua gadis itu.


"Hey bayi matahari, kau lupa padaku?" Tanya Lala sembari menunjuk wajahnya. "Dan kau penyedot debu, kita bertemu lagi." Imbuh Lala, kini tangannya melambai kepada Rey.


"La, itu bukan Rey, itu Tuan Arthur, beliau kembaran Rey dan pemilik perusahaan ini" Jelas Mala begitu dia menghampiri sahabatnya.


Lala menatap Arthur sejenak, lalu dia menatap Mala yang berada disebelahnya. "Kembaran? Mala hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Lala. " Jadi dia bos Arogan yang sudah memecatmu dan memakimu?" Ucap Lala, lalu dia segera membekap mulutnya sendiri saat Arthur menatapnya tajam.


"Maaf Tuan Arthur, kami permisi." Ucap Mala lalu dia segera menarik lengan Lala dan masuk kedalam gedung Art Life.


Arthur memutar tubuhnya dan manatap aneh kepergian gadis yang baru saja mengatainya.


"Kau kenal dia?" Tanya Arthur.


"Tidak."

__ADS_1


"Apa dia salah satu karyawan kita?


"Bukan, sepertinya dia salah satu mahasiswa yang akan magang disini."


"Kenapa dia memanggilmu penyedot debu?"


"Rey yang memberi nama itu padaku."


"Rey?" Arthur kembali memutar tubuhnya dan menatap Rafli. "Jadi kalian pernah bertemu saat tubuh ini dipakai benalu itu?"


"Ya, kami tidak sengaja bertemu mereka saat Rey membeli makan dipinggir jalan dan gadis itu berkerja disana?"


"Gadis mana yang kau maksud?"


"Mala."


"Dia bekerja ditempat lain juga, apa dia begitu miskin?" Ucap Arthur lalu dia melangkahkan kakinya masuk kedalam gedung Art Life dan segera menuju ruangannya. Setelah masuk kedalam ruangannya, Arthur sudah disambut dengan setumpuk dokumen dan beberapa desain milik clientnya. Arthur duduk dikursi kebesarannya dan segera larut dalam kesibukannya.


Ketukan pintu menghamburkan lamunan panjangnya, sedetik kemudian Rafli masuk dengan wajah yang nampak cemas.


"Ada apa?" Tanya Arthur begitu Rafli berada didepan mejanya.


"Tuan Raymon datang."


"Ada perlu apa pria tua itu datang kemari?"


Belum juga mendapat jawaban dari Rafli, seseorang sudah keluar dari balik pintu, pria paruh baya itu masuk kedalam ruangan Arthur dan segera duduk disofa yang tersedia diruangan Arthur.


"Lumayan juga kantormu ini." Ucap pria itu, pandangannya mengedar keseluruh ruangan Arthur dibarengi dengan anggukan kepalanya. Arthur berdiri dan meninggalkan kursi kebesarannya, dia menghampiri pria itu dan duduk berhadapan.

__ADS_1


"Ada perlu apa?" Tanya Arthur acuh.


"Begini caramu menyambut kedatangan dady" Bentak pria tua yang bernama Raymon itu. Ya dialah Raymond Bagaskara, generasi kedua Bagaskara Group yang kini masih menjabat sebagai Ceo diperusahaan induk. Dia juga merupakan ayah kandung dari Arthur Bagaskara


"Datanglah kerumah utama, dady akan menjodohkanmu dengan anak rekan dady, kau sudah tidak muda lagi, segeralah menikah dan bersiap memimpin Bagaskara Group."


Arthur menatap dadynya bak seorang musuh, mereka tidak pernah akur sekalipun ikatan darah mengalir diantara keduanya, kerenggangan itu terjadi setelah kepergian momynya 15 tahun silam karena kebakaran. Arthur mengira dadynya lah yang menyebabkan momynya meninggal dunia, karena pada saat insiden mengerikan itu terjadi hanya dadynya lah satu-satu orang yang selamat dari peristiwa mematikan itu.


"Aku sibuk, tidak bisa pulang." Tolak Arthur.


"Kau berani membantahku sekarang." Seru tuan Raymon, pria tua yang wajahnya mulai keripun itu berdiri dan mengacungkan tongkat kayu yang biasa iya bawa tepat didepan mata Arthur.


Arthur tak bergeming, pandangannya lurus dan tak terpengaruh sama sekali dengan tongkat kayu yang hampir mencongkel matanya itu. Kebenciannya kepada dadynya seperti sudah mendarah daging, entah bagaiaman awalnya, namun hingga Arthur sebesar ini, dia masih sangat membenci dadynya.


"Urusi saja hidupmu, jangan pernah mengganggu hidupku, aku sibuk, pulanglah." Usir Arthur secara halus, Arthur lalu berdiri dan meninggalkan Tuan Raymon yang masih berdiri.


"Kau fikir kau sudah hebat sekarang, jangan lupa kau membangun perusahan ini juga dengan uangku. Pulanglah dan temui anak rekan dady, maka perusahaan ini akan aman dan karyawanmu tidak perlu jadi pengangguran." Ancan Tuan Raymond.


Arthur menghentikan langkahnya begitu mendengar ancaman dari dadynya, tak bisa dipungkiri bahwa perusahaan ini bisa berdiri atas sokongan dana dari Bagaskara Group. Meskipun terlihat galak dan acuh, nyatanya Arthur begitu perduli dengan karyawannya, mau tidak mau dia harus menuruti keingan dadynya untuk pulang.


"Aku akan pulang, tapi aku tidak akan menikah dengan anak rekan dady, karena aku sudah memiliki kekasih."


"Baguslah, kalau begitu bawa gadis itu datang kerumah utama, dady ingin melihat apakah pilihanmu bisa menyaingi anak rekan dady." Tuan Raymon tersenyum licik, dia tau benar jika putra tunggalnya itu hanyalah berbohong. "Kau fikir aku sebodoh itu, dan tidak menyuruh orang untuk mengawasimu selama ini."Gumam Tuan Raymon, lalu dia pergi meninggalkan Arthur.


"Baiklah, jika begitu, aku akan membawanya pulang." Jawab Arthur seakan tengah menerima tantangan dari dadynya.


Tuan Raymon mengangkat ujung bibirnya, lalu lelaki paruh baya itu keluar dari ruangan Arthur.


"Gadis mana yang akan anda bawa pulang, anda bahkan tidak mempunyai teman wanita." Ujar Rafli mencoba mengingatkan atasannya jika dia seorang jomblo sejati.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2