My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 16 PETRA


__ADS_3

"Bertahanlah, jangan sampai anda dikalahkan oleh kepribadian yang lainnya." Ucap Mala saat memapah Arthur naik menuju kamarnya.


"Bawa dia masuk, tante akan turun lagi, tidak enak meninggalkan tamu." Setelah membuka pintu kamar Arthur, mama Wulan kembali turun.


Mala segera membawa Arthur masuk dan mendudukkannya ditepi tempat tidur. Mala berniat turun dan mengambil air untuk Arthur, namun tiba-tiba Arthur mencekal pergelangan tangannya dan menariknya hingga Mala berakhir duduk dipangkuan Arthur. Mala berusaha untuk berdiri namun Arthur melingkarkan tangannya dipinggang Mala sehingga Mala tidak bisa bergerak.


"Jangan pergi." Ucap Arthur lemah, pria yang biasanya begitu arogan itu kini menempatkan kepalanya didada Mala. Mala menghela nafas panjang, meskipun tak tau apa yang tengah terjadi terhadap tuannya namun Mala seakan ikut merasakan kesedihan Arthur. Dengan sedikit ragu Mala mulai melingkarkan tangannya di bahu Arthur, dia menepuk punggung Arthur dan berusaha untuk menenangkannya.


Lama mereka diam dalam posisi saling memeluk, Mala mulai merasa tidak nyaman dengan posisinya.


"Tuan, tuan." Panggil Mala seraya menggoyangkan kedua bahu Arthur. "Anda tidur?" Tanya Mala lagi karena tak kunjung mendapat jawaban dari Arthur.


"Dadaamu besar juga." Ucap Arthur diiringi seringai diwajahnya.


Mala terkejut mendengar ucapan tak sopan keluar dari mulut Arthur, dia segera berdiri dan menjauhkan dirinya dari Arthur.


"Hey, kenapa pergi, come on aku masih ingin memelukmu."


"Siapa kau?" Tanya Mala dengan suara terbata, dia tau bahwa yang dihadapinya sekarang bukanlah Arthur.


" Aku?" Arthur menunjuk dirinya sendiri, dia berdiri lalu melangkah mendekati Mala. "Aku orang yang kau peluk tadi, kau lupa?"


"Kamu bukan Tuan Arthur."


"Tentu saja aku bukan pengecut itu, kau ingin tau namaku." Jawab Arthur lagi, kini dia semakin dekat dengan Mala.


Mala hanya menggeleng dan terus melangkahkan kakinya untuk mundur .


"Kau mau pergi kemana? Disini saja temani aku, aku kesepian?" Ucap Arthur dengan suara seraknya.


"Jangan mendekat, biarkan aku pergi."


"Kita bahkan belum berkenalan, aku Petra, siapa namamu?"


"Petra, siapa dia dan bagaimana sifatnya, bagaimana aku harus menghadapinya." Gumam Mala didalam hati.


Brakk, tubuh Mala membentur pintu, dia berusaha memutar tubuhnya dan membuka pintu. Namun sayang tubuh Arthur yang kini dikuasai oleh kepribadian yang bernama Petra itu lebih dulu menangkapnya, pria itu kini mendekap tubuh Mala dari belakang.


"Kau harum sekali, membuatku semakin bergairah." Ucap Petra seraya menciumi punggung Mala dan lehernya.


"Lepaskan."Pekik Mala, dia berusaha melepaskan tangan Petra yang melingkar di pinggangnya.


Mendapat perlawanan dari Mala membuat Petra semakin bersemangat, kini dia mengangkat tubuh Mala dipundaknya, salah satu tangannya ia gunakan untuk menepuk bokong Mala. Mendapat perlakuan tidak sopan dari Petra membuat Mala semakin berontak, gadis itu berteriak dan mencoba melepaskan diri dari Petra.


"Pecumah saja kau berteriak, tidak akan ada yang mendengarmu, ruangan ini kedap suara, haha."


Petra menghempaskan tubuh Mala keatas tempat tidurnya, secepat kilat dia memposisikan dirinya diatas tubuh Mala, mengunci dan menindihnya. Dengan satu tangan Petra memegang kedua tangan Mala, sementara tangan yang lainnya mencengkeram wajah gadis itu.

__ADS_1


Mala kembali berteriak namun Petra membungkam mulut Mala dengan bibirnya dan m*lum*t habis bibir gadis itu.


Mala terus berusaha untuk berteriak, namun suaranya tak kunjung keluar dari mulutnya, Mala berusaha melepaskan diri dari Petra, namun tubuh Pria itu terlalu kuat baginya.


Mala meronta-ronta, dia berusaha menggunakan kakinya untuk menendang, tapi semua itu percumah, tubuhnya sudah terkunci, tidak ada kesempatan baginya untuk melarikan diri.


Mala pasrah, air mata mulai menetes diujung matanya, dia tidak menyangka jika kepribadian lain dari tuannya akan melakukan hal bejat kepadanya.


Melihat Mala menangis, Petra melepaskan pagutannya, dia menggerakkan kepalanya yang mulai terasa pusing, mata yang tadinya dipenuhi oleh birahi kini berubah sendu, Petra menyeka air mata diwajah Mala dengan lembut.


"Maaf, apa aku menyakitimu?" Tanya Petra dengan suara lembut, berbeda dengan suaranya yang begitu serak sebelumnya.


Petra melepaskan tangan Mala, dia menjatuhkan dirinya disebelah tubuh Mala. Mala segera bangun dan merapikan pakaiannya yang sudah berantakan, dia harus segera pergi dari sini sebelum Petra kembali menyerangnya.


"Mala."Panggil Petra yang kini sudah berdiri didepannya.


"Jangan sentuh aku, aku mohon." Pinta Mala dangan terisak, tubuhnya bergetar hebat saking takutnya kepada Petra.


"Ini aku, Rey."


"Rey?" Ulang Mala, dia menatap wajah pria yang ada didepannya itu.


"Ya ini aku."


"Entahlah, aku bahkan tidak bisa membedakan kalian lagi." Ucap Mala lalu dia keluar dari kamar itu dengan tergesa-gesa, dia menuruni tangga perlahan, saat melewati ruang makan mama Wulan beberapa kali memanggilnya, namun Mala tak bergeming, dia segera pergi dari rumah besar itu tanpa permisi.


Setelah pergi dari butik Rafli tak langsung pulang kerumahnya, dia berkeliling sambil berjalan kaki, menikmati waktu luangnya dan menikmati sorenya ibu kota seorang diri.


Rafli berjalan disepanjang trotoar, entah sudah berapa lama kakinya menapaki jalanan berdebu itu. Rafli menghentikan langkah kakinya, perhatiannya tertuju pada semak belukar yang berada dipinggir jalan, perlahan Rafli mulai mendekati semak itu, dia waspada jika ada hewan buas keluar dari semak belukar itu.


"Pasti sangat menyakitkan, ikut denganku ya." Ucap seorang wanita dibalik semak itu.


Rafli semakin penasaran dengan suara itu, dia kini lebih dekat dengan semak-semak itu.


"Kyaaa." Teriak Rafli dan seorang gadis yang keluar dari semak itu, ditangannya ia menggendong seekor anak kucil yang terluka.


"Penyedot debu." Panggil gadis itu.


"Kamu." Ujar Rafli setelah mengenali siapa gadis yang berada didepannya. "Apa yang kamu lakukan disemak-semak?" Tanya Rafli penasaran.


"Aku menolong kucing ini, kakinya terluka." Jawab Lala sembari menunjukkan luka dikaki kucing yang digendongnya.


"Oh." Jawab Rafli singkat, lalu dia mengayunkan kakinya dan meninggalkan Lala.


Tanpa Rafli sadari Lala sudah mengekor dibelakangnya, Lala menatap punggung Rafli dan mengukurnya dengan jengkalan jari. "Pasti sangat nyaman jika digendong dengan punggung itu." Desis Lala tanpa bersuara.


"Tunggu."Seru Lala, kini dia mensejajarkan langkahnya dengan Rafli.

__ADS_1


"Kamu mau kemana?" Tanya Lala , namun dia tidak mendapatkan jawaban dari Rafli.


"Kau tidak bersama bosmu?"


"Kenapa tak menjawab, kau sudah makan?"


"Warung tenda milik ibuku pasti sudah buka, mau pergi kesana?"


"Kenapa diam saja." Lala terus mengoceh namun Rafli tak memperdulikannya.


"Kau tuli ya." Teriak Lala dan membuat Rafli menghentikan kakinya. Rafli memutar tubuhnya dan menatap Lala mengintimidasi.


"Apa katamu?"


"Kau tuli?"Jawab Lala polos.


"Apa aku harus menjawab semua pertanyaanmu yang tidak penting itu?"


"Tentu saja, kau manusia kan, jadi kau harus menjawab jika ditanya oleh manusia lain, kecuali kalau kau memang jelmaan dari penyedot debu."


"Siapa namamu?"


"Lala."


"Lengkap?"


"Mikhayla."


"Sepertinya kau sudah bosan magang, sayang sekali padahal baru hari ini kau merasakan magang."


"Apa maksudmu, kau tidak akan memecatku kan, heeey, tidak mungkin kau kan hanya asisten Tuan Arthur, mana bisa kau memecatku."


"Aku hanya perlu menghubunginya sekarang." Ancam Rafli, dia mengeluarkan ponsel dari sakunya.


"Ayolah jangan begitu, aku kan hanya menyapamu dan mengajakmu makan malam."


"Halo." Rafli menempelkan ponsel ditelinganya.


"Kau serius?" Tanya Lala, dia mulai panik.


Rafli menempelkan jari dibibirnya, memberi kode untuk Lala agar gadis itu diam.


"Baiklah, saya segera kesana." Ucap Rafli lalu dia berlari meninggalkan Lala.


"Heeyy, bagaimana dengan magangku."


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2