My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 75 Jomblo


__ADS_3

Rafli masih berada di tempat peraduan jangkrik, namun ia tak bergabung bersama Mala dan pakde Karto, ia hanya mengamati mereka dari kejauhan. Rafli ikut mengulum senyum ketika melihat Mala dan pakde Karto tertawa berbahak-bahak, entah apa yang sedang mereka tertawakan.


"Pakde Jangkriknya cewek apa cowok?" Tanya Mala seraya menatap jangkrik yang berada di dalam kandang. Gadis itu berjongkok dan mengintip dari sela-sela kawat yang menjadi pagar kandang tersebut.


"Lanang." Jawabnya singkat.


"Lanang?" Mala mengkerutkan dahi sehingga kedua alisnya hampir menyatu. Ia menatap pakde Karto menuntut jawaban yang dapat di cernanya.


"Laki-laki."


"Oh." Mala membulatkan mulutnya, ia lantas berdiri dan kembali duduk disebelah pakde Karto.


"Tapi sayang." Ucap pakde Karto ambigu.


"Sayang kenapa pakde?" Mala melirik pakde Karto yang duduk disebelahnya.


"Jomblo."


"Hahahahahha."


Mala tak bisa menahan tawanya, ia terbahak-bahak bahkam sampai mengeluarkan air mata, hanya perihal lelucon pakde Karto mengenai jangkrik jomblo sudah berhasil membuatnya tertawa.


Pakde ikut tertawa begitu melihat Mala menangis karena tawanya tak kunjung berhenti.


"Jomblo kaya kamu." Sindir pakde Karto.


Mala bersusah payah menghentikan tawanya setelah mendengar ejekan dari pakde Karto.


"Kamu kan cewek, jangkrik pakde cowok, gimana kalau kalian pakde jodohkan." Goda pakde Karto.


"Pakde." Pekik Mala, gadis itu mencebikkan bibirnya dan mengundang gelak tawa dari pakde Karto.


****


Matahari mulai tergelincir ke barat, Mala dan pakde Karto memutuskan untuk pulang.


Mala mengemudikan mobilnya dengan pelan pasalnya pakde Karto selalu protes jika Mala kebut-kebutan di jalan.


"Nduk." Panggil pakde Karto lembut, aksen jawanya terdengar begitu adem ditelinga.


"Yaa." Jawab Mala tanpa mengalihkan pandangannya.


"Semisal nanti pakde pergi, apa kamu mau merawat jangkrik-jangkrik ini."

__ADS_1


"Kenapa pakde bilang begitu, memangnya pakde mau pergi kemana?" Mala melirik pakde Karto sekilas, dari ujung matanya terlihat jelas wajah sedih milik pakde Karto.


"Pakde ndak mungkin to selamanya hidup di tubuh Arthur, pakde saja merasa tersiksa apalagi Arthur. Pakde merasa kasian kepada Arthur, seandainya pakde bisa membantunya untuk hidup normal."


"Tapi kalau Arthur hidup normal artinya pakde harus menghilang, apa pakde tidak keberatan."


"Yo ndak to, lagipula tubuh Arthur tidak cocok untuk laki-laki tua seperti pakde ini, kalau saja pakde bisa menghilang, pakde ingin menghilang secepatnya, pakde sudah lelah." Imbuhnya dengan mata berkaca-kaca.


Mala tak bisa menjawab lagi, ia tak tau harus bersikap seperti apa, disisi lain Mala juga mengharapkan Arthur bisa hidup normal, namun disisi lainnya ia juga sedih jika harus berpisah dengan pakde Karto.


Akhirnya sepanjang perjalanan mereka hanya diam, pakde Karto memilih menatap keluar, ia mengamati jalanan ibukota yang lenggang.


***


Setelah memastikan Mala dan pakde Karto sampai di apartemennya, Rafli berputar arah, ia berniat menemui Lala untuk menebus rasa bersalahnya karena sudah merusak acara kencan pertama mereka.


Jalanan cukup sepi sehingga Rafli memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, namun tiba-tiba seseorang menyeberangi jalan, Rafli terkejut, ia segera menginjak rem dan membanting setir ke kiri.


Braakkk...


Mobil yang Rafli kendarai menabrak bahu jalan. Sialnya saat itu Rafli tak memakai sabuk pengamannya sehingga kepalanya terbentur setir mobilnya.


Rafli merasa kepalanya sangat sakit, ia keluar dari mobil sambil memegangi kepalanya, dengan langkah yang terseok-seok ia menghampiri seseorang yang hampir di tabraknya.


Laki-laki yang menyeberang jalan secara sembarangan tersebut berdiri, ia memperhatikan Rafli yang sedang menahan sakit.


"Tuan?" Ucap lelaki itu kaget.


"Maaf tuan, maafkan saya. Anda baik-baik saja kan?" Imbuhnya dengan nada ketakutan.


Rafli mengibaskan kepalanya yang berdenyut, ia menatap laki-laki yang hampir di tabraknya itu.


"Anda yang tadi di peraduan jangkrik kan?" Tanya Rafli setelah mengenali laki-laki tersebut.


"Benar tuan. Sekali lagi maafkan saya tuan. Anda baik-baik saja kan tuan?"Pria itu mulai cemas begitu melihat luka di dahi Rafli.


"Saya baik-baik saja, bagaimana dengan anda?" Rafli bertanya balik, meskipun pria itu salah karena menyeberang sembarangan namun Rafli jugaa merasa ia salah karena ugal-ugalan di jalan raya.


"Saya baik-baik saja tuan."


"Kenapa anda menyeberang sembarangan, anda bisa mencelakai diri sendiri dan orang lain." Tutur Rafli.


"Maaf tuan, saya buru-buru ke Rumah Sakit, bapak saja ngamuk di Rumah Sakit Jiwa tuan." Lelaki itu menceritakan kenapa ia sampai bertindak nekat dengan menyeberang sembarangan.

__ADS_1


"Naiklah, saya antarkan ke Rumah Sakit." Rafli menawarkan diri untuk mengantar laki-laki tersebut.


"Tapi tuan."


"Sudah masuklah."


Lelaki itu akhirnya menurut, ia memang butuh tumpangan agar cepat sampai ke Rumah Sakit.


"Siapa nama anda?" Tanya Rafli setelah mereka berad didalam mobil.


"Aryo tuan." Jawabnya memperkenalkan diri.


"Saya Rafli."


Setelah beberapa menit akhirnya mereka sampai di Rumah Sakit Jiwa tujuan. Aryo segera turun dan diikuti oleh Rafli.


"Boleh saya ikut." Pinta Rafli, ia penasaran dengan bapaknya Aryo yang katanya penampilannya mirip dengan pakde Karto.


"Anda tidak keberatan?" Tanya Aryo ragu.


Rafli hanya menggeleng. Ia lalu mengikuti Aryo masuk ke dalam Rumah Sakit Jiwa tersebut, Aryo berjalan menelusuri lorong hingga ia menghentikan langkahnya di depan pintu kamar rawat yang berada di ujung lorong tersebut.


Aryo membuka pintu tersebut dan mempersilahkan Rafli untuk masuk. Rafli tertegun begitu masuk ke dalam ruangan itu, netra beningnya mulai memanas begitu melihat seorang lelaki tua yang mengenakan setelan baju lurik lengkap dengan belangkon di kepalanya tengah tertidur di atas ranjang dengan posisi kedua kaki dan tangannya terikat.


Rafli menoleh ke arah Aryo, banyak sekali pertanyaan yang ingin ia lontarkan.


"Kenapa di ikat begitu?" Tanya Rafli tak terima.


"Bapak saya habis ngamuk tuan, mereka sengaja mengikatnya agar tidak melukai diri sendiri." Jelas Aryo.


Suara Rafli dan Aryo rupanya mengusik lelaki tua tersebut, ia mulai mengerjapkan matanya dan menggerakan kedua tangannya yang terikat.


Lelaki tua tersebut menatap Rafli dan Aryo bergantian, dari sorot matanya, Rafli bisa melihat adanya ketakutan dan kekhawatiran disana.


"Kenapa bapak anda bisa berada di tempat ini?" Rafli bertanya meskipun sedikti ragu. "Maaf atas kelancangan saya." Imbuh Rafli.


"Kejadiannya sekitar 15 tahun yang lalu tuan, waktu itu saya baru pulang kerja dan tiba-tiba bapak saya pulang, beliau langsung masuk kedalam kamarnya dan menguncinya hingga malam. Karena merasa khawatir kami membuka paksa kamarnya, ketika kami berhasi masuk, kami sudah mendapati bapak dengan kondisi memprihatinkan. Beliau duduk sambil terus mengoceh tidak jelas."


"Bukan saya, bukan saya pelakunya, saya tidak membakarnya, saya tidak tau apa-apa." Lelaki tua itu berteriak histeris, matanya mengedar ke seluruh ruangan tersebut, dia terlihat sangat ketakutan, bibirnya bergetar sambil berucap jika bukan dia pelakunya.


Suara hentakan kaki terdengar silih berganti, beberapa detik kemudian beberapa perawat masuk kedalam ruangan itu.


"Pak Karto tenanglah."

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2