
"Intan, Pras, kenapa kalian kembali, bukannya kalian di panggil ke ruangan Romo?" Tanya Lidya saat sepasang suami istri itu kembali ke ruangan itu sebelum kebakaran terjadi.
"Mas Pras kehilangan stempelnya, aku rasa tertinggal di sini." Jawab Intan.
"Really, tapi I tidak lihat apa-apa di sini."
Lidya membantu Intan mencari stempel tersebut, mereka memeriksa setiap sudut ruangan itu namun tak menemukan apapun, hingga tiba-tiba ruangan itu terasa panas dan mereka bertiga mencium bahan bakar yang sangat menyengat. Pras berlari ke arah pintu saat melihat sesutu merembes keluar dari celah yang berada di bawah pintu, ia menyentuh cairan itu dengan kedua jari dan menciumnya.
"Minyak tanah." Ucapnya seraya menatap Lidya dan Intan bergantian.
"What?" Pekik Lidya.
Sesaat kemudian api menyambar minyak tanah yang berada di balik pintu, Pras mencoba membuka pintu namun pintu terkunci membuat ketiganya panik, mereka berteriak meminta tolong namun tak ada satupun yang mendengar mereka.
"Telefon Raymon Lid, cepat." Seru Intan dengan wajah panik.
Dengan tangan gemetaran Lidya berusaha untuk menghubungi suaminya, namun Raymon sama sekali tak mengangkat panggilannya. Di dalam ruangan itu api semakin membesar dan mulai membakar gorden dan beberapa perabotan yang berada di dalam. Pras masih berusaha untuk mendobrak pintu, namun sayang sebelum pintu itu terbuka, ruangan tersebut telah luluh lantah bersama tiga orang yang ada di dalamnya.
****
Dua jam kemudian kebakaran baru bisa di pandamkan, petugas pemadam membawa tiga kantong jenazah dari dalam ruangan itu, pihak kepolisian pun mulai menyelediki kebakaran tersebut. Pak Karto memeluk tubuh mungil Mala yang masih menangis, gadis kecil itu tak mengetahui jika kedua orang tuanya telah tiada. Sementara Arthur nampak kecewa karena api telah padam.
"Yah, kenapa sudah padam." Gumamnya dengan wajah kecewa.
Pak Karto semakin memeluk erat tubuh Mala, ia tak menyangka jika Arthur adalah moster kecil yang mengerikan, bagaimana mungkin seorang anak bisa menyebabkan sebuah kebakaran, belum lagi penampilan Arthur yang menyerupai perempuan membuat pak Karto semakin bergidik ngeri.
Beberapa saat kemudian paman Bahar dan bi Ningsih tiba di lokasi kejadian, paman Bahar segera meraih keponakannya yang masih berada di dalam pelukan pak Karto. Bi Ningsing sempat melirik Arthur, iapun merasa heran melihat bocah yang menurutnya seorang perempuan itu, bocah itu nampak gembira melihat musibah yang menimpa keluarganya.
"Bawa anak ini pergi dari sini, kebakaran ini di sengaja, selamatkan anak ini, bawa dia pergi sejauh mungkin." Bisik pak Karto di telinga paman Bahar sebelum pria itu pergi meninggalkan Villa.
__ADS_1
Paman Bahar memeluk Mala dengan erat, gadis kecil itu nampak begitu syok hingga akhirnya tak sadarkan diri di dalam pelukan paman Bahar, boneka Kanggurunya tak sengaja jatuh saat paman Bahar membawanya keluar dari lingkungan Villa.
Arthur tersenyum tipis dan memungut boneka Kangguru tersebut, ia membawa boneka itu bersamanya hingga ia pergi dari Villa.
Flasback off...
Rafli menitikkan air matanya setelah selesai melihat isi rekaman tersebut, kondisi rekaman yang tak terlalu jelas dan tak ada suara yang bisa di dengar membuat semua orang percaya jika Arthurlah pelaku pembakaran Villa tersebut.
Rafli mengusap wajahnya dengan kasar, ia menatap tuan Bagaskara dengan penuh pertanyaan.
"Lalu sejak kapan kepribadian tuan Arthur terpecah, saya yakin anda lebih tau akan hal ini? Dan bocah yang ada di dalam rekaman itu, dia bukan Arthur kan, dia pasti Petra?"
"Kepribadian terpecah, apa maksudmu Raf?" Tuan Raymon nampak begitu kebingungan.
"Kau ini memang dady yang tidak berguna. Inilah alasan Romo mencari rekaman ini , Romo ingin melindungi Arthur karena Arthur mengidap kepribadian ganda."
"Semua gara-gara istri gilamu itu."
Tuan Bagaskara menerawang jauh, ia mengingat kembali kejadian berpuluh tahun yang lalu yang membuat cucunya harus menderita hingga saat ini
***FLASBACK ON
Jakarta, 27 tahun silam***..
Keluarga besar Bagaskara Group tengah berbahagia atas kelahiran penerus kerajaan bisnis mereka, seorang bayi laki-laki lahir dan di beri nama Rahendra Arthur Bagaskara, yang berarti lelaki dengan tahta tertinggi dan pemberani. Namun sayangnya kebahagiaan itu tak di rasakan oleh wanita yang melahirkan bayi itu, Lidya kecewa karena yang terlahir dari rahimnya bukanlah anak perempuan.
Kegilaan Lidya berawal saat bayi Arthur pulang dari Rumah Sakit, kamar bayi Arthur di cat warna merah muda serta segala perlengkapan bayinya pun berwarna demikian.
"Lid, anak kita laki-laki kenapa semuanya berwarna pink, dan apa ini, ini bandana untuk bayi perempuan." Protes tuan Raymon kepada istrinya.
__ADS_1
"Sudah di beli mas, sayang kalau nggak di pakai. Bandana itu akan aku simpan, kamu tenang saja, aku akan membeli barang-barang baru setelah aku pulih." Kilah Lidya dan di percayai oleh sang suami.
Rupanya obsesi Lidya pada anak perempuan tak pernah padam, ia selalu memakaikan pakaian perempuan kepada Arthur saat suaminya bekerja, dan saat tuan Raymon pulang, Arthur sudah di dandani layaknya bayi laki-laki. Lidya mengancam seluruh pelayannya untuk tidak memberi tahu suaminya tentang kegilaannya itu.
Bayi Arthur mulai tumbuh besar,saat memasuki sekolah dasar ia mulai kehilangan identitasnya sebagai seorang laki-laki, ia mulai menyukai pakaian wanita, saat di rumah ia akan berdandan layaknya seorang wanita, hal itu tentu membuat Lidya senang, namun tanpa Lidya sadari, jika yang gemar bersolek bukanlah Arthur, melainkan kepribadian Arthur yang terpecah untuk pertama kalinya, ialah miss Kimberly. Kepribadian pertama yang menyerupai Lidya, mamy-nya
Sikap Arthur mulai berubah, kadang ia memberontak saat Lidya mendandaninya membuat sang mamy geram, Lidya memberi hukuman berupa pukulan dan cubitan di sekujur tubuh Arthur jika bocah itu tak menurutinya.
Sampai suatu ketika, kegilaan Lidya terungkap, tuan Raymon dan tuan Bagaskara meminta Lidya untuk menghilangkan obsesinya pada anak perempuan.
"Kau bisa hamil lagi dan melahirkan anak perempuan, berhentilah menjadikan Arthur sebagai mainanmu." Ucap tuan Raymon seraya menahan amarahnya, ia tak menyangka jika istrinya bertindak segila itu.
"Aku tidak mau hamil lagi, hamil dan melahirkan? Cih, aku tak sudi menerima sakit itu lagi."
"Baiklah, kalau begitu lebih baik kita berpisah." Ancam tuan Raymon.
"Hahah, kau lupa , aku memiliki 60 persen saham di Bagaskara Group, jika kau menceraikan aku nama Bagaskara Group hanya akan tersisa nama!"
Ancaman Lidya membuat kedua pria itu mengalah, mereka terpaksa membiarkan kegilaan Lidya, mereka terlalu takut jika perusahaan yang sudah mereka bangun dengan susah payah akan runtuh begitu saja, akhirnya mereka menjadikan Arthur sebagai tumbal atas keserakahan mereka.
Meskipun tak berpisah, hubungan Lidya dan tuan Raymon tak kembali harmonis, pria itu mulai menyukai alkohol dan bermain wanita, kadang ia membawa wanita simpanannya pulang ke rumah dan bermain se*ks di dalam ruang kerjanya. Kelakuan buruk Raymon tak lepas dari perhatian Arthur yang mulai tumbuh besar, sejak saat itulah muncul kepribadian Arthur yang bernama Petra.
Tuan Bagaskara mulai mengetahui kondisi cucunya, namun ia tak bisa melakukan apapun, hingga beberapa tahun kemudian ia merencanakan pembunuhan kepada Lidya. Namun sayangnya rencananya justru membawa Arthur hanyut lebih dalam, semenjak kebakaran itu kepribadian baru terus muncul. Mulai dari Rey si baik hati yang suka menggambar, Pakde Karto si pria tua berlogat jawa, serta Ara, gadis kecil berumur 6 tahun yang selalu memeluk boneka Kangguru, Ara muncul karena rasa bersalahnya terhadap Mala yang begitu besar.
Setelah insiden yang merenggut hidup mamy-nya, Arthur melupakan semua memori buruknya bersama sang mamy, dan semenjak saat itu tuan Bagaskara berusaha untuk melindungi Arthur agar ia tak perlu mengingat masa lalunya.
Dan begitulah penderitaan yang Arthur alami, hingga ia berusia 27 tahun ia terpaksa hidup berdampingan dengan kelima kepribadiannya yang lain.
BERSAMBUNG..
__ADS_1