My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 6 Pemakaman


__ADS_3

Pagi-pagi buta Mala sudah berada didapur untuk menyiapkan sarapan. Hari ini Mala memasak lebih dari satu menu, tak seperti biasanya, Mala menyiapkan itu semua untuk memperingati hari kematian kedua orangtuanya.


Mala menata semua masakannya diatas meja makan, sepulang kerja nanti dia berencana untuk mengunjungi makam kedua orangtuanya.


Satu persatu penghuni rumah keluar dari kamar masing-masing, mereka bersamaan menuju meja makan, namun lagi-lagi Mala tak mendapati pamannya keluar bersama mereka.


"Acara apa ini, tumben banget lo masak banyak."Ucap Rani terlihat bersemangat menatap hidangan diatas meja makan.


Bi Ningsih melirik sekilas kearah kalender, lalu dia menatap Mala dengan senyuman mengejek. "Dasar gadis gila, bisa-bisanya dia merayakan ulangtahun dihari kematian orang tuanya."


Mala tak ingin menanggapi bi Ningsing, baginya tak ada lagi hari ulangtahun, ulangtahunnya berakhir tepat saat dia berusia 6 tahun, tepat dimana kedua orangtuanya meninggal setelah merayakan ulangtahunnya. Setelah dewasa setiap tahun Mala akan memasak, bukan untuk ulangtahunnya, tapi untuk mengenang kepergian kedua orangtuanya.


"Kalian makanlah dulu, aku akan memanggil paman." Mala berlalu meninggalkan mereka dan pergi kekamar pamannya.


"Artinya hari ini sibodoh itu bisa mengambil warisannya dong bu?"Ucap Sofyan dengan seringai liciknya.


"Siapa bilang, ibu tidak akan membiarkan gadis bodoh itu mengambil apa yang seharusnya menjadi milik kita."


"Maksud ibu apa?" Balas Rani.


Bi Ningsing memandangi wajah anak-anaknya secara bergantian. "Ibu akan mengalihkan semua harta warisan Mala menjadi milik ibu sebelum gadis bodoh itu mengambilnya."Bi Ningsih dan kedua anaknya tersenyum bersama, mereka sudah berandai-andai, hidup mereka akan berubah setelah mengambil harta warisan yang bukan menjadi hak mereka.


**


Sepulang kerja Mala segera pergi mengunjungi makam kedua orangtuanya, tak lupa dia membeli dua buket bunga anyelir berwarn putih, sebuah bunga yang melambangkan kesucian dan ketulusan, Mala ingin kedua orangtuanya tau betapa suci dan tulus Mala menyayangi mereka, meskipun ingatan tentang mereka hanya samar-samar dikepala Mala.


Gadis berkacamata itu menatap pilu dua batu nisan yang saling berjejeran. Diletakannya kedua buket bunga itu di atas nisan kedua orangtuanya, dia duduk bersimpuh diantara dua pusara itu.

__ADS_1


"Ibu, ayah, bagaimana keadaan kalian disana, apa kalian tidak merindukanku, kenapa kalian tidak pernah datang kemimpiku sekalipun. Apa kalian tau, paman memberitahu mengenai penginggalan kalian, tapi aku sama sekali tidak tertarik, aku tidak butuh warisan kalian, aku hanya butuh kalian, aku hanya menginginkan kalian."


Mala menjeda kalimatnya, diusapnya kasar air mata yang sudah berderai diwajah ayunya. "Maafkan Mala yang masih belum merelakan kepergian kalian, seharusnya kalian membawa Mala pergi, bukan meninggalkan Mala seorang diri seperti ini. Kenapa kalian.. hiks..hiks..kalian tega sekali kepadaku." Mala semakin terisak, dia memukul dadanya yang begitu sesak, saking sesaknya hingga Mala kesulitan untuk bernafas.


Sementara Mala yang tengah meratapi nasibnya, disisi lain pemakaman itu, seorang pemuda dengan wajah dingin tengah berdiri mematung memandangi batu nisan dihadapannya. Wajahnya tak berekspresi, namun dibalik kacamata hitam yang dia kenakan tersimpan jelas penderitaannya.


Setelah puas memandangi batu nisan, pemuda minim ekspresi itu pergi meninggalkan pemakaman tanpa sepatah katapun, karena menurutnya berbicara dengan orang yang sudah meninggal adalah hal konyol.


Dari balik kacamata hitamnya, pemuda itu menangkap sosok yang sepertinya tidak asing baginya, pemuda itu menurunkan kacamatanya untuk memastikan apakah gadis yang tengah terisak itu benar-benar orang yang dikenalinya.


Langkahnya terhenti, sakit dikepalanya kembali menyerang. "Auw." Pekiknya seraya memegangi kepalanya. "Sialan, dasar pasarit." Makinya pada dirinya sendiri, dia segera berlari keluar dari pemakaman dan menuju mobilnya.


"Buka mobilnya Raf!"Seru Arthur, pemuda dingin minim ekspresi itu kepada asistennya.


Belum sempat masuk kedalam mobil, wajah dingin milik Arthur telah berganti menjadi wajah berlesung pipi milik Rey, hari ini dia kembali mengambil alih tubuh Arthur.


"Kenapa anda keluar lagi, tuan Arthur pasti akan sangat marah." Seru Rafli memberi peringatan kepada Rey.


"Aku juga tidak tau Raf, bukan aku yang mendorong Arthur pergi."Ucap Rey apa adanya, dia juga masih kebingungan mengapa hanya dia yang sering muncul akhir-akhir ini.


Ditengah kebingungan mereka berdua, dari kejauhan Rafli tidak sengana melihat Mala yang tengah berjalan diarea pemakaman. Rafli melirik Rey sekilas, kemudia dia kembali menatap Mala yang jaraknya semakin dekat. Melihat Mala berada di pemakaman membuat Rafli semakin yakin dengan dugaannya bahwa Mala-lah yang memancing Rey untuk terus muncul. Dugaan Rafli bukan tanpa alasan, Rafli masih ingat setelah Arthur terjatuh dan bertemu Mala, saat itu juga Rey muncul. Rey juga kembali muncul saat Arthur berencana menemui Mala untuk membatalkan pemecatannya, dan hari ini Rey kembali muncul ditempat Mala berada.


Tapi kenapa harus gadis itu, apa sebabnya, mungkinkah mereka terikat akan sesuatu, Rafli berfikir keras untuk memecahkan teka-teki yang dibuatnya sendiri.


"Asisten Rafli." Sapa Mala sehingga membuyarkan lamunan rumit Rafli.


"Mala, sedang apa disini?"Tanya Rey mendahului Rafli.

__ADS_1


"Saya habis mengunjungi makam orangtua saya, tuan Rey sendiri sedang apa disini?" Tanya Mala balik, kini gadis itu sudah bisa membedakan sikembar palsu itu.


"Aku juga baru saja mengunjungi makam ibuku." Jelas Rey setengah berbohong, tubuh yang tengah dikuasainya memang baru saja mengunjungi makam ibunya yang meninggal 12 tahun silam karena kebakaran.


"Naiklah, biar aku antar." Tawar Rey membuat Rafli segera melotot padanya.


"Tapi anda harus segera pulang, semua orang pasti sudah menunggu anda." Seru Rafli mencoba menghalangi niat Rey untuk mengantarkan Mala.


"Tidak perlu tuan Rey, saya bisa pulang sendiri, terimakasih untuk tawarannya, saya permisi." Mala yang merasa tidak enak hati segera pamit kepada mereka berdua.


Selepas Mala pergi, Rey menatap Rafli dengan tatapan yang sulit diartikan. "Hanya sebentar saja, Arthur tidak akan marah kalau kamu tidak memberitahunya."


"Tapi anda harus pulang, apa saya perlu mengingatkan anda kembali mengenai siapa anda?"Ancam Rafli.


"Terserah apa katamu saja, aku malas mendengar ocehanmu yang itu-itu saja."


Rey pasrah dan menuruti Rafli, dia segera masuk kedalam mobil dan meninggalkan pemakaman. Dari dalam mobil Rey menatap Mala yang tengah berjalan sendirian, dia memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa sakit, rasanya seperti ribuan jarum menghujam dadanya, Rey memekik kesakitan.


Rafli yang menyadari hal itu segera menepikan mobilnya. Dia turun dan segera menghampiri Rey yang duduk dikursi belakang.


"Anda baik-baik saja?"Tanya Rafli gugup.


"Sakit sekali Raf." Ucap Rey terbata.


"Bertahanlah, kita kerumahsakit sekarang." Ujar Rafli, namun tak ada jawaban dari Rey, dia sudah terlelap dalam mimpi panjangnya.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2