My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 63 Seandainya?


__ADS_3

Setelah dua jam lebih menempuh perjalanan laut akhirnya mereka tiba di pulau Tidung, salah satu destinasi wisata didaerah Kepulauan Seribu bagian selatan. Mala berdecak kagum saat dia keluar dari kapal sewanya, dia tak menyangka jika di Jakarta masih ada tempat seindah ini.


Mala berlarian menepaki lautan pasir yang berada di bibir pantai, dia sudah melupakan rasa canggungnya terhadap Rey, pemuda berlesung pipi yang kini mengekor dibelakangnya, pemuda itu menapaki jejak kaki Mala yang kecil seraya menatap punggung gadis itu, senyum kembali terukir diwajah tampannya saat dia melihat Mala nampak begitu riang.


Suasana pulau Tidung cukup sepi, hanya ada beberapa pengunjung yang terlihat sedang bermain ditepi pantai, mungkin karena bukan akhir pekan jadi tidak terlalu ramai.


Lelah berlarian, Mala memutuskan untuk duduk dibawah deretan pohon kelapa yang cukup rindang, matanya menyapu jauh ke segala penjuru pulau tersebut dan mulutnya tak henti-hentinya menyuarakan kalimat takjub akan keindahan pulau Tidung. Dari tempatnya duduk Mala bisa melihat sebuah pulau kecil yang biasa disebut pulau Tidung kecil, pulau tersebut terhubung dengan pulau Tidung besar melalui sebuah jembatan yang disebut dengan jembatan cinta.


"Kamu mau kesana?" Ucap Rey seraya menunjuk pulau yang berada diseberang sana.


"Nanti saja, aku masih mau main disini. Tadi aku melihat ada penyewaan sepeda, bisa kamu sewakan untukku?" Tanyanya sambil menatap Rey yang kini duduk disebelahnya.


"Tunggu disini." Ujar Rey lalu dia pergi menuju tempat penyewaan sepeda.


Mala menatap kepergian Rey, hatinya terasa gusar, setelah Rey tak terlihat dia kembali menikmati pemandangan yang jarang ia saksikan, sesaat dia memejamkan matanya dan menikmati hembusan angin yang menyapu wajahnya.


"Semoga ini keputusan yang tepat." Gumam gadis itu dan tanpa ia sadari sudut matanya mulai basah.


Tak lama berselang Rey kembali dengan menuntun dua sepeda di tangan kanan dan kirinya, Mala berdiri dan menghampiri Rey, gadis itu mengulum senyum melihat wajah Rey yang berkeringat, hari masih belum terlalu siang namun matahari sudah begitu terik.


"Mau balapan?" Tantang Rey dengan sombongnya.


"Tentu saja, apa taruhannya?" Mala segera menyanggupi tantangan Rey, dia yakin akan menang dari Rey mengingat betapa lihainya dia mengayuh sepeda.


"Kalau kamu menang aku akan menciummu, kalau kamu kalah kamu harus menciumku." Ujar Rey sambil tersenyum bak orang bodoh.


Mala mencebikkan bibirnya, dia tak menyangka jika Rey sepicik itu.


"Kamu untung banyak dong, aku nggak mau balapan." Protes Mala dengan wajah cemberut.

__ADS_1


"Jangan begitu aku hanya bercanda. Baiklah, baiklah, akan aku ganti persyaratannya, kalau kamu menang aku akan mengabulkan semua keinginanmu tapi kalau aku yang menang kamu harus mengabulkan semua keinginanku, gimana? Deal?" Rey menjulurkan tangannya menunggu persetujuan Mala.


"Deal." Mala menjabat tangan Rey lalu dia meraih salah satu sepeda dari Rey.


Setelah menentukan garis start dan finish keduanya mulai bersiap di atas sepeda masing-masing dan setelah hitungan ketiga mereka mulai mengayuh sepeda dengan kecepatan tinggi, melihat Mala yang begitu bersemangat Rey sengaja memperlambat kayuhnya, dia ingin Mala menang dan melihat gadisnya bahagia.


Saat jarak mereka terpaut jauh, Rey mulai mempercepat laju sepedanya, Rey tak mau Mala curiga jika dia sengaja mengalah, akhirnya setelah beberapa menit Mala sampai lebih dulu di garis finish.


"Kamu cepat sekali, aku tak sanggup mengalahkanmu." Ucap Rey dengan nafas tersenggal.


"Kamu tidak sengaja mengalah kan?" Tanya Mala seraya menatap Rey.


"Nggak lah, aku nggak pernah naik sepeda sebelumnya, wajar saja kalau aku kalah." Sanggah Rey, baginya kalah bukan masalah asalkan dia bisa melihat Mala bahagia.


"Jadi apa keinginanmu?" Tanya Rey lagi, dia penasaran dengan keinginan Mala.


"Nanti, aku akan menagihnya nanti." Jawab Mala dengan cepat lalu dia kembali menaiki sepedanya.


Lelah bermain sepeda, keduanya kini tengah berada di sebuah warung yang menjual kelapa muda. Mala dan Rey duduk berdampingan diatas sebuah kursi yang terbuat dari bambu dan menikmati segarnya es kelapa muda. Rasa manis dan segar dari air kelapa muda menyapu tenggorokan Mala yang kering dan menghilangkan dahaganya.


Mala menarik nafas panjang, lalu dia menyenderkan kepalanya di bahu kekar Rey, pemuda itu melirik sekilas, dia merasa bingung dengan sikap Mala yang terkesan sangat manja padanya hari ini.


"Capek?" Tanya Rey, tangannya ia gunakan untuk mengelus wajah Mala.


"Hem." Mala menjawab singkat, ia tengah menikmati sapuan jemari Rey diwajahnya.


"Mua istirahat di hotel?"Tawar Rey, dia khawatir jika Mala kelelahan.


"Tidak perlu, begini sana cukup." Tolak Mala dengan segera.

__ADS_1


"Rey." Panggil Mala pelan.


"Hem." Rey menjawab singkat, dia sibuk merubah posisi kepala Mala sehingga kini berada dalam dekapannya, posisi yang sungguh membuat Mala merasa nyaman, belum lagi Rey menghujani kepalanya dengan kecupan yang bertubu-tubi membuat Mala semakin terlena di dalam pelukan pemuda terkasihnya.


"Rey." Panggilnya lagi.


"Apa?"


"Aku sungguh berharap kamu memiliki raga yang bisa ku peluk setiap hari." Ucap Mala yang terdengar begitu menyedihkan.


Rey hanya diam membisu, dia tak menyangka Mala akan mengucapkan kalimat itu, sebuah kalimat yang membuatnya merasa tak nyata, kalimat yang mampu merobek hatinya dan kalimat yang membuatnya sadar akan dirinya, jika Rey bisa meminta, dia hanya ingin menjadi manusi normal, hidup dalam tubuhnya sendiri, mencintai Mala dengan segenap jiwanya, memeluk Mala tanpa mengkhawatirkan apapun dan akan mengajak Mala untuk menikah dengannya. Namun sayang semua itu tak akan pernah bisa Rey lakukan karena dia hanyalah Rey, jiwa yang hidup di tubuh Arthur. Lalu siapa yang harus disalahkannya? Tuhan yang telah menciptakan manusia atau Arthur yang telah membuat Rey hidup didalam tubuhnya.


"Maaf." Ucap Rey pada akhirnya, dia tak tau harus menjawab apa selain kata maaf.


Keduanya lalu saling diam, mereka larut dalam fikiran masing-masing, entah apa yang ada di dalam kepala mereka, hanya saja wajah sendu mereka seakan menyiratkan kesedihan yang cukup dalam.


"Rey aku ingin naik itu." Mala menunjuk sebuah babana boat yang mengapung diatas permukaan laut.


"Banana boat?"


Mala hanya mengangguk, dia kemudian melepaskan dekapan Rey dan berjalan menuju tempat penyewaan banana boat tersebut, Rey tersenyum simpul lalu dia mengikuti Mala yang sudah berjalan jauh didepannya.


Setelah membayar biaya sewa, Rey memakaikan pelampung ditubuh Mala lalu mereka berdua bersiap untuk menaiki banana boat tersebut.


"Kamu nggak takut?" Tanya Rey memastikan sebelum mereka benar-benar melakukan salah satu olahraga air itu.


"Nggak, ayo cepat naik." Ujar Mala bersemangat, lalu dia menaiki banana boat itu dan Rey menyusul duduk dibelakangnya. Setelah siap, banana boat mulai meluncur ketengah laut dengan ditarik oleh Jet Ski.


Mala berteriak kegirangan saat banana boat yang ditumpanginya melaju dengan kecepatan tinggi, senyumnya tak sekalipun pudar dari wajah ayunya, begitupun dengan Rey, dia menikmati setiap waktunya bersama Mala, dia tersenyum senang mendapati Mala tertawa bahagia. Banana boat yang mereka tumpangi berhenti ditengah lautan sebelum akhirnya berputar arah kembali ke pantai, kesempatan itu tak ingin Rey lewatkan, kedua tangannya memeluk pinggang Mala yang berbalut oleh baju pelampung, entah mengapa dia ingin selalu dekat dengan Mala, gadis cantik yang tiba-tiba hadir tengah hidupnya yang hampa.

__ADS_1


BERSAMBUNG..


__ADS_2