My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 90 Kekecewaan Mala


__ADS_3

"Cukup." Teriak seseorang dari luar ruangan.


Arthur dan Mala menoleh, Mala terkejut karena melihat tuan Mahesa duduk di kursi roda, dengan di bantu seorang perawat tuan Mahesa menghampiri istrinya yang masih mematung si sebelah tempat tidur Mala.


Tuan Mahesa menatap istrinya nanar, rahangnya mengeras menahan amarah, tuan Mahesa tak menyangka jika sang istri berani menemui Mala, padahal jelas-jelas istrinyalah yang sudah memisahkannya dengan sang putri.


Mala menatap suami istri itu secara bergantian, lalu ia menoleh ke samping dan meminta penjelasan kepada Arthur, namun Arthur hanya diam dan menggenggam tangannya dengan erat.


"Tuan Mahesa, apa anda sakit?" Tanya Mala setelah menyadari ada selang infus yang terpasang di tangan tuan Mahesa.


"Semua ini gara-gara kamu." Sahut nyonya Marry dengan wajah angkuhnya.


"Saya? memangnya apa salah saya?" Mala kebingungan, ia menatap Arthur lagi karena menginginkan penjelasan.


Tuan Mahesa mengatur nafasnya, ia akan menjelaskan semuanya kepada Mala sekarang. Awalnya ia berniat menunggu Mala pulih, namun karena kelakuan istrinya mau tidak mau ia harus menjelaskannya sekarang.


"Sebelumnya saya ingin meminta maaf, saya sungguh tidak bermaksud untuk mengganggu kehidupan Mala, tapi karena sudah seperti ini saya harus menjelaskan kepada Mala tentang siapa saya yang sebenarnya." Tuan Mahesa menjeda kalimatnya, ia hampir menangis karena terlalu emosional.


"Saya adalah ayah kandungmu Mala." Lanjutnya dengam suara bergetar.


Mala tertawa hambar, ia menatap tuan Mahesa. "Tuan, apa tuan Arthur menyuruh anda untuk menghibur saya?


Tuan Mahesa menggeleng dengan cepat, ia membalas tatapan Mala dengan mata sendunya. "Saya tidak bercanda Mala, saya serius. Saya dan ibumu pernah menikah, namun kami bercerai sebelum kamu lahir kedunia ini. Semua memang salah saya, saya meninggalkan ibumu dalam keadaan hamil."


"Sayang, apa maksudnya ini?" Tanya Mala, ia menatap Arthur berharap Arthur akan menjelaskan apa yang terjadi selama dia tidak sadar.


Arthur duduk di tepi tempat tidur Mala, ia meraih tangan Mala dan membawanya ke atas pangkuannya. "Semua yang di katakan tuan Mahesa adalah kebenaran, beliau memang ayah kandungmu." Jelas Arthur dengan hati-hati.


"Kemarin kamu bertanya kan siapa yang sudah berbaik hati memberikan sebagian organnya kepadamu? Beliaulah orangnya." Lanjut Arthur, ia melirik nyonya Marry sekilas lalu kembali fokus kepada Mala.


"Aku juga baru tau jika beliau ayah kandungmu."


"Sayang kamu tau kan kedua orang tuaku sudah meninggal, mana mungkin aku memiliki ayah lain?"


Mala berusaha untuk menyangkalnya, ingatan tentang orang tuanya saja hanya samar-samar di kepala dan sekarang tiba-tiba ada yang mengaku sebagai ayahnya.


"Saya tau kamu mungkin tidak akan percaya, namun saya benar-benar ayah kandungmu nak, kamu bisa bertanya kepada bi Ningsih tentang kebenarannya." Sela tuan Mahesa, ia mengeluarkan selembar kertas dari saku baju dan memberikannya kepada Arthur. Arthur meraih kertas itu dan memberikannya kepada Mala.


"Ini hasil tes DNA kalian." Ucap Arthur lembut, ia menyerahkan kertas itu kepada Mala.

__ADS_1


Mala membaca isi kertas itu hingga selesai, di bagian bawah kertas itu tertulis dengan jelas jika tuan Mahesa adalah ayah biologisnya.


Mata Mala mulai berair, ia tertawa hambar, dan tapa terduga Mala merobek kertas itu hingga menjadi serpihan kecil. Mala menatap tuan Mahesa dengan tatapan mengerikan, tatapan yang belum pernah Mala perlihatkan sebelumnya.


"Anda yang sudah mendonorkan hati untuk saya?" Tanya Mala dan hanya di balas anggukan oleh tuan Mahesa.


"Kalau begitu ambillah, saya tidak membutuhkan belas kasih dari anda."


"Sayang, apa yang kamu katakan?" Arthur menyela perkataan Mala.


"Suruh dia untuk mengambil hatinya lagi, aku nggak mau ada bagian dari dirinya yang melekat di tubuhku, lebih baik aku mati saja."


"Sayang, tenanglah. Dengarkan aku." Arthur memegang kedua lengan Mala dan mencoba untuk menenangkan kekasihnya.


"Aku sangat mengkhawatirkanmu, kamu tidak boleh bicara seperti itu, jika kamu belum bisa menerima tuan Mahesa, anggap saja beliau hanya orang asing yang kebetulan memiliki darah yang sama denganmu dan mau mendonorkan hatinya untukmu "


Mala menunduk lemah, ia mulai terisak, hatinya benar-benar sakit, bukan karena bekas sayatan di meja operasi, namu karena ia mendapatkan fakta baru jika orang yang selama ini di anggap ayah bukanlah ayah kandungnya, lalu orang asing yang baru beberapa bulan di temuinya adalah ayah biologisnya. Fakta jika Mala di telantarkan sejak dalam kandungan membuatnya enggan untuk berhubungan dengan tuan Mahesa.


Mala mengusap air matanya dengan kasar, ia lalu menatap nyonya Marry dan tuan Mahesa, matanya di penuhi kebencian.


"Terimakasih untuk kebaikan tuan yang sudah sudi mendonorkan organ hati anda kepada saya. Tapi maaf saya tidak bisa menerima anda sebagai ayah saya, bagi saya kedua orang tua saya sudah meninggal. Dan untuk anda nyonya, saya harap anda tidak akan menemui saya lagi dan menyalahkan saya karena saya tidak tau apa-apa. Saya lelah, saya harap anda bisa keluar dari ruangan saya." Final Mala, setelah mengucapkan kalimat yang terdengar menyakitkan itu ia membuang wajah ke arah lain.


Arthur berdiri di sisi ranjang, ia hanya diam memperhatikan Mala yang tengah duduk termenung.


"Sayang." Ucap Mala dengan pelan.


"Ya. Kau butuh sesuatu?" Tanya Arthur, ia menggeser kakinya agar lebih dekat dengan Mala.


"Bisakah temani aku tidur?"


"Kau yakin, bagaimana dengan lukamu, aku takut tidak sengaja menyenggolnya."


"Aku baik-baik saja."


Arthur mengamati tempat tidur Mala yang lumayan luas, ia menekan tombol otomatis sehingga Side Rail yang berada di sebelah kiri tempat tidur Mala terangkat. Arthur mengangkat Mala dan menggesernya sedikit sehingga ia punya ruang untuk menemani Mala tidur si atas ranjang Rumah Sakit.


(Side Rail : Besi pembatas yang ada di kanan dan kiri ranjang pasien).


Arthur naik ke atas tempat tidur dengan hati-hati, ia memiringkan tubuhnya dan mengahadap ke arah Mala, gadis itu hanya mampu memiringkan sedikit kepalanya agar bisa melihat wajah Arthur.

__ADS_1


Tatatapan mereka saling beradu, Mala menggerakan tangan kanannya, jemari lentiknya menyapu wajah Arthur, di mulai dari mata, hidup, pipi dan berakhir di bibir Arthur.


"Apakah ini semua asli?"Ucap Mala.


"Kamu meragukan ketampananku, jahat sekali." Gerutu Arthur.


"Justru karena terlalu tampan makanya aku ragu."


"Jadi kamu mengakui kalau aku tampan?" Ucap Arthur dengan percaya dirinya.


"Dasar narsis." Gumam Mala seraya mencubit pipi Arthur hingga memerah.


Arthur memekik sambil memegangi pipinya yang terasa panas bekas cubitan Mala, bibirnya mengerucut membuat Mala semakin gemas di buatnya.


"Akan aku balas setelah kamu sembuh." Bisik Arthur dengan suara menggoda, deru nafasnya menyapu telinga Mala membuat sang gadis meremang seketika, Mala tak berani lagi menoleh ke arah Arthur, ia memejamkan matanya dan pura-pura tidur.


Arthur mengulum senyum, karena kondisi perut Mala yang masih sakit, akhirnya Arthur menahan diri untuk tidak memeluk Mala. Arthur mengangkat kepalanya, ia mengecup kening Mala dan berbisik di telinganya.


"Sweet dreams, i love you."


****


Keheningan menemani perjalanan pulang Rafli dan Lala, mereka saling diam dan larut dalam fikiran masing-masing. Rafli sengaja menutup rapat mulutnya, penolakan Lala membuatnya merasa sedih dan juga kesal.


Lala melirik Rafli sekilas, ia menggigit bibir bawahnya karena tidak tau harus berkata apa, melihat wajah dingin Rafli saja sudah membuatnya takut untuk membuka mulutnya.


Tanpa terasa mereka sudah tiba di depan rumah Lala, gadis itu melepas sabuk pengamaannya namun tak kunjung kuar dari mobil, sementara Rafli ia memilih menatap keluar jendela, ia masih kesal terhadap Lala.


"Terimakasih tumpangannya." Ucap Lala.


"Hem." Jawab Rafli singkat.


"Mau mampir ke rumah dulu? Tawar Lala, ia merasa tidak enak hati karena menolak Rafli di depan Mala dan juga Arthur.


"Tidak, pekerjaanku masih banyak." Tolak Rafli.


"Oh. Ya sudah. Hati-hati di jalan." Lala turun dari mobil dengan wajah kecewa, ia hendak mengangkat tangan dan melambai kepada Rafli namun mobil Rafli sudah dulu melesat meninggalkannya.


Lala menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan, ia tau jika Rafli sedang marah, namun Lala enggan untuk meminta maaf terlebih dahulu. Akhirnya ia masuk ke dalam rumah dengan perasaan kesal.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2