
"Mari tebus kesalahan ini dan menikah." Ucap Lala setelah mengumpulkan semua keberaniannya.
Rafli mengangkat kepalanya, ia menatap Lala seolah tak percaya dengan yang baru saja di dengarnya.
"Kau yakin?"
Gadis itu mengangguk dengan cepat, keputusannya sudah bulat. Rafli mengulas senyum di bibirnya, ia segera bangun dan berlari ke arah Lala, ia segera memeluk Lala dengan erat.
"Maafin aku. Terimakasih karena bersedia menikah denganku." Ucap Rafli, ia tersenyum bahagia.
"Aku juga berterimakasih karena kamu mau bertanggung jawab." Balas Lala seraya membalas pelukan Rafli.
Rafli melepas pelukannya, ia menatap wajah Lala dan mengelus pipinya dengan lembut. "Tentu saja, bukankah sejak awal aku sudah mengajakmu menikah." Ucapnya tulus.
"Salahku karena menolakmu waktu itu. Tapi bisakah kamu berpakaian dulu, aku geli melihat itu." Ujar Lala seraya menunjuk sesuatu yang berada di bawah sana.
Rafli reflek menutup cacing alaskanya yang sedang tidur dengan kedua tangannya, ia lupa mengenakan pakaiannya lagi. Rafli buru-buru masuk ke dalam kamar mandi sebelum bertambah malu.
Tiga puluh menit kemudian keduanya telah rapi dan siap beraktivitas, Lala akan berangkat ke kampus sementara Rafli akan ke kantor sebelum pergi ke Rumah Sakit karena banyak dokumen yang memerlukan tanda tangan Arthur.
Rafli mengamati langkah Lala yang terlihat aneh, gadis itu berjalan pelan dan terlihat tidak nyaman.
"Apa sakit?" Tanya Rafli, ia tau semua itu karena ulahnya.
"Sedikit." Jawab Lala pelan, ia sebenarnya malu untuk mengakuinya jika di bawah sana terasa sangat nyeri.
"Aku anterin aja ya, aku nggak tega kamu naik motor." Tawar Rafli seraya menatap Lala, wajahnya terlihat khawatir.
Lala mengangguk, ia juga merasa tidak sanggup untuk mengendarai motornya, berangkat bersama Rafli adalah pilihan terbaik saat ini.
Rafli membukakan pintu mobil untuk Lala, setelah gadis itu masuk ia menutup pintu dan menyusul masuk ke dalam mobil. Rafli melajukan mobilnya menuju kampus Lala.
"Pernikahan seperti apa yang kamu inginkah?" Tanya Rafli seraya melirik Lala sekilas, lalu ia kembali fokus pada jalanan di depannya.
"Yang sederhana saja, uangnya bisa kita tabung untuk keperluan lain."
Rafli tak menyangka mendengar jawaban Lala, bukankah seharusnya Lala menuntut pernikahan yang mewah kepadanya, tapi nyatanya tidak gadis itu hanya meminta pernikahan yang sederhana saja, sungguh membuat Rafli semakin yakin untuk menikahi gadis yang sedang duduk di sebelahnya.
Tak terasa mereka telah sampai di depan kampus Lala, Rafli menepikan mobilnya tepat di depan pintu gerbang kampus.
"Pulang nanti mungkin aku nggak bisa jemput." Sesal Rafli.
"Nggak papa, aku bisa pesan taxi online. Aku turun ya, hati-hati di jalan."
Lala melepaskan sabuk pengamannya, ia hendak membuka pintu mobil namun Rafli menahan tangannya.
"Ada apa?" Tanya Lala heran.
Rafli tak menjawab, ia mengeluarkan dompet dari saku celananya. Rafli mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam dan menyerahkannya kepada Lala.
"Pakai ini untuk keperluan lamaran nanti."
Lala mentap kartu yang masih berada di tangan Rafli. "Nggak usah, aku punya sedikit tabungan, magang kemarin tuan Arthur memberikan banyak bonus untukku." Tolak Lala secara halus, belum sepantasnya ia menerima uang dari Rafli karena mereka belum sah menjadi suami istri.
"Simpan uangmu untuk kebutuhan yang lain, mulai sekarang kamu adalah tanggung jawabku." Ujar Rafli membuat siapapun yang mendengarnya pasti akan meleleh.
Dengan sedikit ragu Lala menerima kartu itu dan memasukannya ke dalam dompet. "Terimakasih ya." Ucapnya tulus.
Rafli hanya mengangguk, ia lalu menarik tengkuk Lala dan mengecup kening Lala. "Hubungi aku jika terjadi sesuatu."
Lala tersenyum, ia lalu keluar dari mobil Rafli dan segera masuk ke dalam kampus. Rafli menatap kepergian Lala, mengamati pergerakan Lala yang terlihat tidak nyaman membuat Rafli kembali merasa bersalah.
Saat akan meninggalkan kampus Lala, tiba-tiba ponsel Rafli berbunyi, Rafli segera meraihnya, sebuah panggilan dari Dokter Lutfi, Rafli segera menjawabnya.
"Ya Dok." Ucap Rafli memulai percakapan.
"Pak Karto sudah sadar, perawat suruhan anda juga sudah datang, saya harus pulang." Ujar Dokter Lutfi dengan sopan.
"Terimakasih untuk kerja keras anda Dok."
Rafli kembali menyimpan ponselnya, ia lalu memeriksa arloji yang melingkar di tangannya, dia sudah terlambat datang ke kantor, hari ini adalah sejarah karena beberapa tahun bekerja untuk Arthur ia tak pernah telat sama sekali.
***
Di Rumah Sakit, Petra tengah menyuapi Mala, entah kenapa jiwa liarnya seakan hilang begitu saja dan berubah menjadi sosok yang lebih lembut.
Mala makan dengan lahap, ia mengingat saran Dokter untuk menghabiskan makannya agar cepat pulih, Mala juga berusaha untuk tidak terlalu memikirkan tuan Mahesa.
"Anak pintar." Ujar Petra seraya menepuk-nepuk ubun-ubun Mala.
"Aku bukan anjing, kenapa kau menepuk kepalaku." Protes Mala, ia melotot menatap Petra.
__ADS_1
Petra mengeryitkan dahinya, ia menatap wajah Mala. "Tapi kau menggemaskan seperti anak anjing." Ucapnya tanpa beban.
"Petraa."
Petra terkekeh, ia meletakan mangkuk bubur di atas meja dan membantu Mala untuk minum meskipun wajah Mala masih terlihat masam karena ejekannya. Petra juga dengan telaten membantu Mala meminun obatnya.
"Butuh sesuatu lagi nggak, aku mau mandi?" Tanya Petra dan hanya di jawab gelengan kepala oleh Mala.
Petra berjalan menuju lemari, ia menarik nafas panjang setelah membuka lemari, pakaian yang Arthur bawa sungguh bukan gayanya, hanya ada setelah jas dan kemeja putih yang memenuhi lemari tersebut, sementara Petra lebih suka memakai celana jeans dan kaos serta jaket kulit sebagai pelengkapnya.
Dengan terpaksa Petra meraih celana kain berwarna hitam dan kemeja panjang berwarna putih dan membawanya ke kamar mandi.
Sepuluh menit kemudian Petra keluar dari kamar mandi, ia terlihat tidak nyaman menggunakan baju yang biasa di pakai Arthur.
"Kenapa aku kaya pegawai magang begini." Gumamnya seraya bercermin.
"Pakai jasnya biar mirip CEO bukan anak magang." Saran Mala yang lebih terdengar seperti ejekan bagi Petra.
"Diam saja, aku nggak minta pendapatmu anak anjing." Petra menengok ke arah Mala sambil tersenyum smrik, wajahnya terlihat sangat menyebalkan.
"Dasar menyebalkan."
Tok..tok..tok..
Suara ketukan pintu mengakhiri aksi saling ejek mereka, mereka menoleh ke arah pintu bersamaan, dari balik pintu Rafli masuk dengan membawa setumpuk dokumen di tangannya.
"Kenapa kau belum juga pergi?" Tanya Rafli, dari gaya berdirinya saja Rafli sudah bisa menebak jika pria yang ada di hadapannya adalah Petra.
"Aku juga nggak tau, aku bangun pagi dan masih berada di sini."
"Kalau begitu bantu aku sekarang, semua dokumen ini butuh tanda tangan tuan Arthur."
"Aku bukan pembantumu." Tolak Petra.
"Pasti menyenangkan membuat api unggun dengan motor gede milikmu." Ucap Rafli dengan senyum licik, ia berjalan menuju sofa dan meletakkan semua dokumen itu di atas meja yang berada di depan sofa.
"Cih, dasar tukang mengancam." Petra terlihat sangat kesal, namun ia tetap mengikuti Rafli dan duduk di sebelahnya, ia mengamati banyaknya dokumen yang harus di tanda tangani. Petra meraih satu persatu dokumen itu, ia mulai menoreh pena diatasnya dan meniru tanda tangan Arthur.
Tak lama terdengar bunyi ponsel milik Rafli, ia segera mengangkat panggilan dari anak buahnya, Tomi.
"Ya Tom, kau berhasil menangkapnya?" Tanya Rafli sambil mengamati pekerjaan Petra.
"Sudah tuan, kapan anda dan tuan Arthur kemari?" Ujar Tomi dari seberang sana.
"Apa yang terjadi, siapa yang kau tangkap?" Sela Petra tiba-tiba.
"Orang suruhan tuan Raymon." Ucap Rafli pelan, ia tak mau Mala mendengarnya.
"Sudah ku bilang, tidak mungkin tuan Raymon pelakunya. Tapi ya sudahlah, ayo kita kesana sekarang."
Petra tiba-tiba berdiri dari duduknya, ia menggulung lengan kemejanya hingga siku. Rafli menarik tangan Petra sehingga ia kembali duduk di tempat semula.
"Siapa yang mengajakmu, aku akan pergi bersama tuan Arthur." Tukas Rafli.
"Aku juga ingin menghajarnya, anggap saja aku mewakili Arthur. Ayolah, tanganku sudah gatal sekali ingin memukul seseorang." Pinta Petra, dia terlihat begitu bersemangat.
Rafli nampak menimbang-nimbang keinginan Petra, ia melirik Mala sekilas lalu menatap Petra. "Kau tidak boleh menunjukan siapa dirimu sebenarnya, kau harus menjadi tuan Arthur."
"Mudah sekali."
Rafli merapikan semua dokumen yang berada di atas meja, ia berdiri di ikuti Petra, mereka berjalan menuju tempat tidur Mala.
"Kami harus pergi, ada pekerjaan yang harus di tangani langsung oleh tuan Arthur. Jika butuh sesuatu kau tinggal teriak saja, ada dua orang yang berjaga di depan pintu." Ujar Rafli panjang lebar.
Mala hanya mengangguk, ia menatap kepergian dua pria tampan itu, sebelum menghilang di balik pintu Petra sempat melambaikan tangan kepadanya dan tersenyum.
****
Rafli dan Petra tiba di sebuah rumah terbengkelai yang berada di pinggiran kota Jakarta. Tomi dan anak buahnya menyambut kedatangan Rafli dan Petra dengan hormat, keduanya lalu masuk ke dalam rumah itu dan seorang pria tengah duduk menunduk dengan posisi kaki dan tangannya terikat.
"Bagaimana rasanya di ikat Marsel?" Ucap Rafli tak bersahabat.
Sang pemilik nama menganggat kepalanya yang tertunduk, ia menatap Rafli tajam, ia berontak dan berusaha untuk melepaskan ikatan di tangannya. Namun Rafli malah tersenyum puas saat melihat Marsel meronta-ronta, wajah Marsel yang babak belur serta mulutnya tersumpal kain membuat tawa Rafli pecah.
Berbeda dengan Rafli yang tengah tertawa, Petra justru merasakan kemarahan yang teramat sangat, fakta jika Marsel yang telah mencelakai Mala membuat Petra ingin segera membunuhnya.
"Jadi kau yang telah mengganggu Mala?" Ucap Petra dengan nafas yang mulai memburu, emosinya hampir meluap.
Petra menarik paksa kain yang menyumpal mulut Marsel. "Kenapa kau tega sekali, apa salah Mala padamu?" Tanyanya lagi dengan tatapan yang menakutkan.
"Tidak, tidak, bukan begitu pertanyaan yang benar. Mala tak mungkin mempunyai masalah denganmu. Pertanyaannya adalah siapa yang menyuruhmu untuk membunuh Mala?"
__ADS_1
"Jawab atau aku akan membuatmu bisu selamanya." Ancam Petra.
Marsel masih bungkam, ia sangat setia kepada majikannya, meskipun Petra mengancamnya namun ia tak terlihat gentar, dari sorot matanya ia seperti tak mengenal takut.
"Luka apa saja yang di alami Mala Raf?" Tanya Petra, ia menoleh ke samping dan menunggu jawaban dari Rafli.
"Dislokasi tulang leher, gegar otak dan patah tulung rusuk sehingga merobek organ hati." Rafli menyebutkan satu persatu luka yang di alami Mala akibat tabrak lari yang di lakukan oleh Marsel.
"Jangan lupakan luka gores di wajah cantiknya Raf." Ujar Petra, ia berjalan menuju sebuah meja yang berada di pojok ruangan, Petra mengambil sebuah botol kaca bekas minuman keras dan membawanya lagi ke tempat Marsel di ikat.
Petra membanting botol itu hingga pecah, ia mengambil serpihan kaca tersebut, seringai jelas tergambar di wajah dinginnya. Petra mendekatkan serpihan kaca itu di wajah Marsel dan detik berikutnya serpihan kaca itu benar-benar menempel di wajah Marsel.
"Sebaiknya kau jawab aku sebelum kesabaranku habis. Siapa yang menyuruhmu?" Teriak Petra, suaranya menggema di dalam rumah tua itu.
Tak sesuai harapan, mulut Marsel semakin tertutup rapat dan membuat Petra semakin marah.
Srreet..
Petra menggores wajah Marsel dengan serpihan kaca hingga menimbulkan luka gores yang cukup dalam, darah segar mulai keluar akibat goresan tersebut.
Marsel meringis menahan perih di bagian pipinya, ia sungguh tak menyangka jika tuan mudanya bisa berbuat seperti itu.
"Sepertinya luka di wajah Mala tidak hanya satu."
Sreet, sreet, sreet
Petra kembali menggores wajah Marsel, bukan hanya sekali namun berkali-kali membuat si pemilik wajah meraung kesakitan.
Rafli masih diam, memperhatikan Petra menyiksa Marsel. Rafli yakin jika saat ini Arthur yang berada di posisi Petra, ia juga akan melakukan hal yang sama dengan apa yang Petra lakukan.
"Dislokasi tulang leher, apa yang harus aku lakukan untuk membuat cidera seperti itu?"
Petra menggaruk telinganya seraya mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk menyiksa Marsel. Seringai kembali muncul di wajahnya saat ia menemukan balok kayu berukuran satu meter di dekat pintu.
"Woy, tolong ambilkan kayu itu." Titah Petra pada anak buah Tomi yang tidak jauh dari sana. Anak buah Tomi segera menjalankan perintah bosnya, ia mengambil kayu itu dan memberikannya kepada Petra.
"Kau masih belum mau bicara juga?"
Bug..
Petra memukul leher sebelah kiri Marsel dengan keras, tubuh Marsel hampir saja terlempar ke samping akibat pukulan dari Petra.
"Satu sisi saja pasti nggak cukup kan?"
Bug...
Sebuah pukulan keras kembali mengenai leher Marsel, namun kali ini berada di leher sebelah kanan, Petra tidak main-main dengan ancamannya.
Petra membuang nafas kasar, ia semakin kesal karena Marsel masih bungkam.
"Kau sungguh anjing yang setia."
"Raf, dimana letak hati manusia?" Tanya Petra, pertanyaannya berhasil membuat Rafli merasa takut
"Di mana Raf?" Ulang Petra penuh penekanan.
"Apa yang akan anda lakukan?" Tanya Rafli cemas.
"Aku hanya bertanya, jawab saja dimana letaknya."
"Rongga perut kanan bagian atas, tepat di bawah rusuk bagian kanan."
Petra tertawa hambar, ia mengeluarkan pisau dari balik bajunya, pisau buah yang sengaja ia bawa dari Rumah Sakit.
Rafli terkejut melihat pisau di tangan Petra, ia berusaha menahan Petra agar tidak bersikap gegabah.
"Tenang Raf, aku hanya menakutinya." Bisik Petra tepat di depan daun telinga Rafli.
"Aa.apa yang an..da lakukan t.uuan." Ucap Marsel, ia mulai gugup.
Petra tak menjawab, ia mendekatkan pisau itu ke dada Marsel, dengan cepat pisau itu telah merobek kemeja putih dengan bercak darah yang di pakai Marsel sehingga menampakan dada milik Marsel.
"Wajah sudah, leher sudah, selanjutnya giliran organ hati. Hati Mala harus di potong karena rusak, bukankah adil jika aku juga memotong sebagian hatimu?"
Dinginnya permukaan pisau membuat Marsel menegang, tiba-tiba ancaman Petra membuatnya ketakutan.
"Ampun tuan muda, ampuni saya. Saya akan mengatakan siapa yang menyuruh saya." Ujar Marsel dengan tubuh bergetar.
"Aissh, kenapa tidak dari tadi. Cepat katakan siapa yang menyuruhmu."
"Tuan Ba....
__ADS_1
Dor...
BERSAMBUNG..