My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 121 Kau masih hidup..


__ADS_3

"Kau."


Rafli tercengang melihat pria yang duduk di hadapannya, pria yang di ketahuinya telah meninggal namun kini malah sedang menyeringai menatapnya.


"Kau masih hidup Marsel?" Tanyanya dengan suara tercekat.


Ya Marsel, pria itu adalah Marsel, orang yang diam-diam menyadap ponsel Rafli dan Arthur. Pria yang di kabarkan telah mati itu kini berada di hadapan Rafli dengan sehat, hanya luka bekas sayatan yang masih tersisa di wajahnya, sayatan yang di lakukan oleh Petra secara brutal beberapa waktu yang lalu.


Marsel kembali menyeringai melihat wajah pias Rafli. "Tentu saja aku masih hidup, kau fikir aku ini arwah gentayangan."Hardiknya dengan suara keras dan memekakkan telinga.


"Lalu mayat itu?" Rafli tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya, ia masih tak percaya jika yang kini berada bersamanya adalah Marsel, padahal jelas-jelas waktu itu tuan Raymon mengatakan jika Marsel meninggal dalam kondisi yang mengenaskan.


"Mayat itu adalah Jack." Tutur Marsel dengan wajah tanpa dosa.


"Jack?" Rafli kembali di buat terkejut. Jack anak buah Tomi yang mengkhianati mereka beberapa saat yang lalu.


"Ya si pengkhianat itu, aku tidak ingin dia mengkhianatiku jadi lebih baik aku membunuhnya dan menukar identitasnya dengan milikku."


"Badjingan, kau sungguh kevarat Marsel."


"Lalu apa yang kau inginkan dariku hah?" Tanya Rafli dengan lantang, ia mulai bisa menutupi rasa takutnya.


"Rekaman itu, berikan Memory Card itu kepadaku."


"Rekaman?" Rafli memasang wajah seolah ia tak tau menahu tentang maksud perkataan Marsel.


"Tidak perlu berakting bodoh begitu, aku mendengarnya, kau menemukan memory card itu kan, memory card yang di simpan oleh lelaki tua itu."


Rafli menatap nyalang pria yang berada di hadapannya itu, di dalam hati ia terus bertanya dari mana Marsel mengetahui tentang memory card itu.


"Dari mana aku mengetahuinya?" Terka Marsel seolah-olah bisa membaca fikiran Rafli.


"Kau menyadap ponselku?" Tebak Rafli dan hanya di jawab sebuah tawa oleh Marsel. "Kau sungguh badjingan Marsel, siapa sebenarnya yang menyuruhmu melakukan semua itu."


Pintu gudang kembali terbuka, seorang lelaki tua duduk di kursi roda dengan selimut menutup bagian kakinya, lelaki tua itu masuk ke dalam ruangan pengap tersebut tanpa ada yang mendorong kursi rodanya, beberapa anak buahnya hanya mengawal lelaki tua itu dari belakangnya.


"Bukankah sudah aku peringatkan untuk tidak menggali masa lalu Arthur " Ucapnya dengan suara bergetar, bukan karena takut namun karena usia dan penyakitnya yang menyebabkan suaranya tak bisa lantang.

__ADS_1


Rafli dan Marsel menoleh bersamaan, kedua pria itu menampilkan mimik wajah yang berbeda. Rafli nampak sangat terkejut melihat lelaki tua itu, sementara wajah Marsel terlihat menegang namun detik berikutnya ia membungkuk memberikan hormat kepada lelaki tua itu.


"Tuan Bagaskara." Ucap Rafli dengan suara terbata, tubuhnya seketika bergetar hebat melihat sosok pendiri Bagaskara Group yang sangat terkenal itu.


Tuan Bagaskara merupakan pendiri Bagaskara Group, namun beberapa tahun ini ia memilih tinggal di Singapore untuk mengobati kanker kelenjar getah bening yang di deritanya, namun meskipun demikian tuan Bagaskara masih memegang kontrol atas Bagaskara Group, ia juga mengawasi anak dan juga cucunya dengan mengirim Marsel menjadi Asisten Pribadi tuan Raymon.


"Anak muda, jika kau tidak mengabaikan pesanku tentu saja kau tidak akan berakhir di tempat ini. Lebih baik sekarang kau tunjukan dimana kau menyimpan memory card itu sebelum kau menyesal." Ancam tuan Bagaskara, meskipun suaranya tak lantang namun ancaman yang keluar dari mulutnya sungguh menakutkan di telinga Rafli.


"Jadi anda yang melakukan semua ini? Tapi kenapa?" Rafli menatap lelaki tua itu tak percaya.


"Serahkan memory card itu, kita lihat bersama isinya dan kau akan tau kenapa aku melakukan semua ini!"


"Maafkan saya tuan, tapi saya bekerja untuk tuan muda Arthur, memory card itu hanya boleh di terima oleh tuan Arthur." Tolak Rafli dengan sopan, semarah apapun ia tetaplah ia harus menghormati orang yang lebih tua meskipun orang tua itu sungguh menjengkelkan.


"Aku sangat menyukai kesetianmu pada cucuku anak muda, tapi apakah kau ingin membatalkan pernikahanmu yang tinggal sebulan lagi. Siapa nama gadis itu? Ah ya Lala, Mikhayla Ananta, gadis manis itu apa kau tak mengkhawatirkannya?" Tuan Bagaskara kembali melayangkan ancaman kepada Rafli.


"Apa yang anda lakukan dengan calon istri saya?" Tanya Rafli dengan wajah panik, ia tak bisa membayangkan sesuatu terjadi pada calon istrinya.


"Serahkan rekaman itu dan calon istrimu aman di tangan anak buahku."


"Lepaskan dulu ikatan ini." Perintah Rafli seraya menatap Marsel yang berdiri di sebelah tuan Bagaskara.


Tuan Bagaskara mengangguk, memberi kode kepada Marsel agar pria itu melepaskan ikatan Rafli. Marsel mengangguk patuh, ia segera membuka tali yang melilit tangan dan kaki Rafli.


Rafli mengibaskan tangannya yang terasa pegal, ia juga meregangkan otot-otot lehernya yang terasa kaku, namun detik berikutnya tinjunya melayang tepat mengenai wajah Marsel.


Marsel yang tak siap menerima pukulan Rafli terhuyung jatuh ke lantai yang di penuhi debu itu, ia memegangi sudut bibirnya yang mengeluarkan darah, ia lalu berdiri dan tersenyum licik saat menatap Rafli.


"Maafkan saya tuan, tapi saya harus segera pergi dari tempat ini." Ucap Rafli seraya membungkukkan tubuhnya di depan tuan Bagaskara.


Entah keberanian dari mana yang Rafli dapatkan, pria itu melangkahkan kakinya menuju pintu keluar, namun sebelum kakinya sempat keluar dari gudang itu, sepuluh pria bertubuh besar dan menyeramkan menghadang jalannya.


"Minggir, kalian semua menghalangi jalanku!" Bentak Rafli.


Tuan Bagaskara hanya menggerakkan sedikit kepalanya dan saat itu juga kesepuluh orang itu mulai menyerang Rafli secara bergantian, beberapa menit awal Rafli masih bisa menangkis serangan lawan, sesekali ia juga melayangkan tinjunya kepada anak buah tuan Bagaskara, namun perlahan tenaga Rafli semakin terkuras, benturan di kepalanya terasa berdenyut lagi dan lawan yang tak seimbang membuatnya tersungkur di lantai kotor itu dengan wajah babak belur.


Kedua anak buah tuan Bagaskara menyeret Rafli kembali ke tempat duduknya, kemeja putihnya kini telah berganti warna akibat noda debu dan darah yang keluar dari mulutnya.

__ADS_1


"Cari memory card itu." Titah tuan Bagaskara, dengan segera tiga orang anak buahnya mulai menggeledah setiap jengkap tubuh Rafli, mereka bahkan melepaskan jas, kemeja serta celana kain yang Rafli kenakan, hanya tersisa celana boxer yang melekat pada tubuh Rafli.


Kriieett...


Lagi-lagi pintu gudang kembali terbuka, tuan Bagaskara dan anak buahnya menoleh ke arah pintu, tuan Bagaskara hanya menghela nafas berat saat melihat putranya masuk dan tengah berjalan menghampirinya dengan beberapa pengawal di belakang tuan Raymon.


"Romo. Apa yang Romo lakukan disini?" Tanya tuan Raymon dengan suara tercekat. Tuan Raymon semakin terkejut saat melihat Rafli dengan kondisi yang mengenaskan.


"Dasar anak bodoh, tentu saja aku sedang berusaha melindungi cucuku."


"Apa maksud Romo, kenapa Romo menyiksa Rafli, dia adalah orang kepercayaan Arthur."


"Anak muda ini telah menemukan rekaman CCTV yang di simpan oleh Karto, jika Arthur sampai melihatnya maka aku akan kehilangan cucuku, penerus kerajaan bisnisku."


"Apa maksud Romo dengan kehilangan, kita bisa saja menjelaskan kepada Arthur bahwa itu ketidaksengajaan?"


"Kau ini benar-benar bodoh Raymon, apa kau tak tau jika putramu mengidap penyakit langka, jika Arthur sampai melihat rekaman itu sudah di pastikan kita semua akan kehilangannya." Bentak tuan Bagaskara dengan suara bergetar.


"Penyakit?"


"Kau memang dady yang tidak berguna." Maki tuan Bagaskara lagi.


Di tengah rasa sakitnya, Rafli merasa penasaran mengapa tuan Bagaskara sampai melakukan kejahatan seperti ini demi rekaman CCTV itu, apa yang sebenarnya mereka coba tutupi, kenapa mereka menyebut nama Arthur, mungkinkah kecurigaannya dan Dokter Sheila benar, jika Arthurlah penyebab kebakaran itu?


Tuan Raymon tak ingin memikirkan mengenai penyakit yang di derita Arthur, kini ia hanya ingin membujuk Rafli agar memberikan rekaman tersebut, tuan Raymon menghampiri Rafli, ia merasa tak tega melihat sahabat dekat putranya terluka seperti itu, tapi ia harus mendapatkan rekaman itu sebelum sampai di tangan Arthur.


"Raf, kau sahabat baik Arthur kan, untuk itu saya mohon serahkan rekaman itu sekarang!" Pinta tuan Raymon dengan suara pelan.


"Maaf tuan, tapi saya hanya akan memberikan rekaman ini kepada tuan Arthur." Tolak Rafli, pria itu masih teguh pada pendiriannya.


"Apa kau tak penasaran dengan isi rekaman itu, bukankah sebaiknya kau melihatnya dulu sebelum menyerahkannya kepada Arthur? Setelah kau melihatnya, kau bisa memutuskan apakah Arthur perlu melihat rekaman itu atau tidak. Bukankah kau tau kondisi Arthur, bagaimana jika isi rekaman itu membuat Arthur menghilang dari tubuhnya?" Sela tuan Bagaskara.


Tuan Raymon berbalik dan menatap ayahnya. "Apa yang sebenarnya terjadi pada Arthur Romo?"


"Diam kau, kau bisa tanyakan pada istrimu saat kau pulang nanti."


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2