My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 11 Surat Perjanjian


__ADS_3

Sepeninggal Mala, Rey dan Rafli masih terpaku ditempat duduk masing-masih. Rafli tengah sibuk mengetik ulang surat perjanjian yang telah ditandatangani oleh Mala, sementara Rey masih saja menunduk dan meratapi nasib buruknya.


"Kau tidak lelah menunduk dari tadi?" Tanya Rafli memecahkan keheningan.


"Raf." Panggil Rey dengan suara seraknya.


"Hem."


"Sebenarnya aku siapa?"


Rafli menghentikan aktivitanya, dia meletakan laptop diatas meja dan menatap Rey prihatin.


"Kamu Rey." Jawab Rafli dengan wajah datarnya.


Rey menatap Rafli dan menggela nafas panjang. "Bukan itu yang aku tanyakan, sudah lah males banget cerita sama penyedot debu kaya kamu, kaku dan nggak asik sama sekali."


Rey berdiri dan mengayunkan kedua kakinya meninggalkan Rafli di ruangan itu sendirian. Pemuda berlesung pipi itu masuk kedalam kamar dan merebahkan tubuhnya diatas kasur berukuran besar. Rey menatap langi-langit kamar, ingatannya kembali pada saat Mala beringsut menjauhinya, Rey memegangi dadanya yang terasa sesak lagi. "Apa yang terjadi padaku." Desis Rey lirih. Rey kembali hanyut dalam lamunanya hingga tak ia sadari kini telah terlelap dalam mimpi.


Rafli menatap lekat punggung Rey, jika bisa memilih mungkin Rafli lebih memilih Rey sebagai pemilik tubuh yang asli, Rey adalah sosok yang begitu baik dan ramah, sifatnya sangat bertolak belakang dengan Arthur. Namun Rey tetaplah Rey, sebuah kepribadian yang terbentuk dan hidup didalam tubuh Arthur, meski bersimpati, Rafli tetap menganggap Rey sebagai benalu dalam tubuh Arthur


"Maaf Rey, aku juga tidak tau siapa dirimu."Gumam Rafli dalam hati.


***


Mala sudah bersiap untuk pergi ketempat kerjanya, dia sengaja tidak sarapan pagi ini, setelah mengantar makanan untuk pamannya, Mala kembali kedapur dan menyiapkan bekalnya. Setelah memasukan kotak bekal ke dalam tas, Mala melangkahkan kakinya menuju pintu, dia melewati bibi dan kedua sepupunya yang tengah menikmati sarapan mereka. Namun langkah Mala terhenti karena Rani sudah mencegatnya didepan pintu. Gadis culas itu bersedakap dan menatap Mala.


"Apa lagi, aku bisa telat nanti, minggir." Hardik Mala kesal, dia menyingkirkan kaki Rani yang menghalangi jalannya.

__ADS_1


"Bagi duit." Pintanya dan kembali menghalangi jalan Mala.


"Duit dari mana, aku belum gajian. Awas aku mau lewat." Mala mendorong lirih tubuh Rani sehingga dia bisa keluar dari dalam rumah.


Rani tidak terima dan tidak aka melepaskan Mala begitu saja, gadis tengil itu mengekor dibelakang Mala, saat Mala membuka pintu pagar, tiba-tiba Rani mendorong Mala sehingga tubuh Mala terhuyung keluar, beruntung seseorang menangkap tubuh Mala sehingga gadis berkacamata itu tidak tersungkur ditanah. Mala mendongakan kepalanya dan terkejut karena pria yang menolongnya adalah Arthur, bosnya yang aneh.


"Mampus lo, hahaha." Rani terbahak dari balik pagar, dia mengira Mala terjatuh, saat dia menyusul Mala keluar, Rani membulatkan mulutnya karena Mala justru berada didalam pelukan seorang pria.


Menyadari tengah ada yang memperhatikannya, Arthur melepaskan kembali tubuh Mala sehingga Mala terjun bebas dan tertelungkup ditanah.


Mala menggeram kesal, dia bangun dan membersihkan tangan dan bajunya yang kotor. "Ada apa anda disini?"Tanya Mala dengan wajah kesalnya.


"Menjemputmu." Jawab Arthur dengan wajah dinginnya.


Mala memicingkan sebelah matanya dan menatap kedua pria yang wajahnya minim ekspresi itu secara bergantian. "Menjemputku, anda?" Ulang Mala tak percaya.


"Kau tak apa Mala, maafkan aku, aku sungguh tidak sengaja." Rani menyela percakapan mereka, dia menghampiri Mala dan memutar tubuh sepupunya seolah tengah memeriksa keadaanya.


Rani kembali melanjutkan aksinya, dia memutar tubuhnya sehingga kini berhadapan dengan Arthur dan juga Refli, Rani menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, dengan anggun dia menjulurkan tangannya didepan Arthur, lama tangan itu menggantung diudara, namun keduanya tak menyambut uluran tangan itu, sehingga membuat Rani kesal. "Dasar sombong, untung ganteng." Desis Rani nyaris tanpa suara, hanya bibirnya saja yang bergerak.


"Masuk." Titah Arthur.


"Saya?"Mala menunjuk dirinya sendiri.


"Siapa lagi, dasar bodoh."


Mala segera masuk kedalam mobil Arthur tanpa memperdulikan sepupunya yang masih berdiri disana, tak lama Arthur masuk dan duduk disebelahnya.

__ADS_1


"Aktingmu bagus sekali nona." Sindir Rafli sebelum dia masuk kedalam mobil menyusul atasannya.


Rani meremas tangannya, rasanya dia ingin sekali memukul wajah datar Rafli, gadis itu menghentakan kakinya dan masuk kedalam rumah setelah mobil yang ditumpangi Mala pergi.


"Tandatangani ini." Arthur melempar sebuah map tepat di atas paha Mala.


"Apa ini?"


"Selain bodoh apa kau juga tidak bisa membaca?" Ucap Arthur dengan tatapan menghina.


Mala mengbuang nafasnya dengan kasar, dia membuka map itu dan mulai membaca tulisan yang berada didalamnya.


"Surat perjanjian lagi, bukankah kemarin saya sudah menandatanganinya." Ujar Mala seraya menatap Arthur.


"Aku belum melihatnya."


"Jelas saja tidak melihatnya, kau sedang malih rupa kemarin." Desis Mala lirih, namun ternyata sampai ditelinga pria yang duduk disebelahnya. Arthur menoleh dan menatap Mala dengan tatapan mengintimidasi. "Kau sudah bosan hidup?"Ancam Arthur dan membuat Mala beringsut, gadis itu segera meraih pena dari tangan Arthur dan menandatangi perjanjian itu tanpa membacanya lebih lanjut. Arthur menyeringai melihat wajah panik Mala, dia menatap tajam wajah gadis berkacamata itu seolah telah menangkap buruannya.


"Berhenti." Ucap Arthur dan Rafli segera menepikan mobilnya. "Turun." Usir Arthur. "Kau tuli, aku bilang turun, urusan kita sudah selesai, aku tidak ingin tercemari oleh orang sepertimu jika kau tetap berada didalam mobilku."


"Saya juga tidak suka berlama-lama dengan orang aneh seperti anda." Ujar Mala, lalu dia keluar dari mobil mewah itu.


Kaki Mala menendang keudara saat mobil Arthur telah pergi dari hadapannya, gadis itu mulai celingukan mencari kendaraan yang akan membawanya ketempat kerja, Mala memeriksa jam ditangannya, gadis itu memekik kesal karena dia pasti akan datang terlambat.


Mala segera berlari, berharap didepan sana dia menemukan sesuatu yang bisa mengantarnya. Kurang kebih 5 menit Mala berlari, gadis itu tersenyum girang saat melihat pangkalan ojek didepannya, dia segera menghampiri salah seorang tukang ojek dan segera berangkat ketempat kerjanya.


Sementara didalam mobil Arthur masih mengamati surat perjanjian antara dirinya dan juga Mala, jarinya menjentik-jentik diatas selembar kertas itu, bibirnya menyunggingkan senyum yang syarat akan arti.

__ADS_1


Pagi ini setelah Arthur bangun dari tidur panjangnya, Rafli segera menjelaskan situasi yang terjadi kepadanya termasuk Mala yang melihat semua perubahan pada dirinya. Arthur segera menyuruh Rafli untuk mengantarnya kerumah Mala, dia ingin memastikan bahwa Mala bisa menjaga rahasianya. Melihat Mala hanya diam saja saat didorong oleh sepupunya, Arthur sedikit bernafas lega, dia mengira Mala gadis yang mudah ditindas sehingga dia bisa mengancamnya untuk tidak membocorkan rahasianya.


BERSAMBUNG...


__ADS_2