
Mala mulai mengerjapkan matanya, pagi ini dia bangun kesiangan karena terlalu nyaman tidur didalam pelukan Arthur. Mata Mala terbuka sempurna dan dia begitu terkejut melihat Arthur berada disebelahnya dan kini tengah menatapnya.
Mala terperanjat dari tempat tidur, dia merapikan rambut dan bajunya dengan gugup, dia mulai mengingat-ingat kenapa dia bisa tidur bersama Arthur diatas ranjang yang sama.
"Maaf tuan, kenapa saya tidur di tempat tidur anda?" Tanya Mala gugup.
"Mana aku tau, bukannya kalian memang sengaja tidur bersama." Jawab Arthur yang membuat Mala semakin kebingungan.
"Apa maksdu anda tuan?"
"Aku Rey, bukan tuanmu." Jawabnya lalu dia berlalu meninggalkan Mala dan masuk kedalam kamar mandi.
"Rey." Mala gagap, bagaimana mungkin dia tidak mengenali kekasihnya. Mala menyusul Rey, dia berdiri didepan pintu kamar mandi dan mengetuknya beberapa kali.
"Aku benar-benar tidak tau kenapa aku tidur bersama Tuan Arthur, Rey." Seru Mala dari balik pintu namun Rey tak meresponnya.
"Rey buka pintunya, kita harus bicara."
Rey membuka pintu kamar mandi dan melewati Mala, dia berjalan kearah lemari. Rey masih bungkam, dia membuka lemari bajunya dan meraih kaos serta celana jeans dari dalam lemarinya. Entah sengaja atau tidak, Rey melepas kaosnya dan mengganti dengan yang baru, dia juga melepas celananya tanpa memperdulikan Mala yang berdiri dibelakangnya. Mala terkejut melihat Rey melepas pakaiannya, dia segera berbalik dan menutup matanya.
Setelah selesai berpakaian Rey keluar dari kamar dan pergi kedapur, Mala mengekorinya dibelakang seperti anak ayam yang mengikuti induknya, dia terus menunduk hingga tanpa sadar dia menabrak punggung Rey yang tiba-tiba berhenti.
"Auw." Pekik Mala seraya memegangi keningnya.
Rey tetap tak merespon, dia hanya melirik sekilas lalu kembali melangkahkan kakinya menuju dapur. Mala mencebikkan bibirnya, dia merasa kesal dengan sikap Rey yang acuh padanya.
"Rey." Rengek Mala, dia bergelayut dilengan Rey seperti anak kecil yang ingin dibelikan mainan.
"Kamu marah? Sumpah aku nggak tau kenapa aku bisa tidur diatas ranjang, seingatku aku hanya menemani Tuan Arthur yang sedang sakit." Mala kembali menjelaskan situasi yang sebenarnya.
"Jadi kamu sengaja menemani Arthur?" Tanya Rey dengan wajah kesal.
"Ah sial kenapa aku jadi serba salah." Batin Mala tak kalah kesal.
"Bukan begitu, jadi kemarin aku yang menyebabkan Tuan Arthur sakit, jadi aku merasa harus bertanggung jawab kan, aku hanya menemaninya, aku takut perutnya akan kambuh lagi, itu saja."
"Hem." Jawab Rey singkat.
__ADS_1
"Heemm?" Ulang Mala yang semakin kesal menghadapi sikap kekanakan Rey.
"Terserah kamu saja lah, aku sudah menjelaskan yang sebenarnya, percaya atau tidak terserah padamu saja." Hardik Mala lalu dia pergi kedalam kamarnya, Mala membanting pintu dengan keras sehingga membuat Rey terkejut.
"Kenapa dia ikutan marah, dasar perempuan." Gumam Rey seraya menatap pintu kamar Mala.
(Ingat Rey cewek nggak pernah salah🤣🤣)
Ditempat lain, Rafli tengah membantu ibunya berjualan nasi uduk disekitar taman kota dekat dengan rumahnya. Setiap akhir pekan Rafli selalu menggunakan waktunya untuk membantu sang ibu, dia tidak pernah malu menjajakan nasi uduk buatan ibunya meskipun sekarang dia sudah menjadi Asisten Pribadi di perusahaan yang terbilang cukup terkenal di Jakarta.
Rafli tumbuh besar dikeluarga yang sederhana, ayahnya sudah meninggal sejak Rafli masih duduk dibangku SMP, sejak saat itu dia selalu membantu sang ibu untuk berjualan, bahkan saat masih sekolah, Rafli tak malu membawa kue buatan ibunya kesekolah. Semuan itu Rafli lakukan demi membantu sang ibu untuk membiayai hidup mereka.
"Apa kamu nggak capek nak, lebih baik istirahat di rumah." Ucap bu Yati sambil memegang punggung anaknya.
"Nggak bu, lagipula Rafli tidak punya kegiatan."
Bu Yati tersenyum, dia sangat bangga kepada putra semata wayangnya itu. Meskipun sudah bekerja, dia tetap mau membantu pekerjaan ibunya.
Paras tampan Rafli rupanya membawa magnet tersendiri, beberapa gadis muda yang tengah berolahraga ditaman kota tertarik untuk membeli nasi uduk yang penjualnya sangat tampan, mereka mengantri demi melihat Rafli dari dekat. Tak sedikit dari mereka yang memotret Rafli yang tengah membungkus nasi uduk, mereka semakin terpesona saat Rafli tersenyum ramah kepada pelanggannya.
Lala mendongakan kepalanya, dia membaca tulisan dispanduk bertuliskan 'Nasi Uduk Mpok Yati' yang terpasang diatas gerobak.
"Oh nasi uduk, cobain ah, kalau rame biasanya enak." Gumam Lala, lalu gadis itu mulai mengantri.
Setengah jam berlalu, akhirnya giliran Lala untuk memesan, namun Lala malah mematung, dia menatap tak percaya dengan penjual nasi uduk yang tengah berdiri didepannya.
"Jadi pesan tidak?" Tanya Rafli dingin, padahal dengan pelanggan lainnya dia sangat ramah.
"Eh, iya jadi. Mau nasi uduknya satu ya bang." Pesan Lala dengan suara sedikit gagap.
"Bang bang, emang saya abang tukang bakso." Protes Rafli tak terima saat dipanggil abang oleh Lala.
Lala hanya menyengir kuda, dia memperhatikan Rafli yang dengan telaten memasukkan satu persatu makanan kedalam kertas nasi dan membungkusnya dengan rapi. Gara-gara nasi uduk, Lala semakin terpesona dengan Rafli.
"Ini pesananmu, totalnya 15 ribu." Ucap Rafli seraya menyerahkan bungkusan nasi uduk kepada Lala.
"Terimakasih kak." Balas Lala dengan lembut, gadis itu tersenyum semanis mungkin.
__ADS_1
"Aku bukan kakakmu." Rafli kembali melayangkan protesnya.
"Ini kan diluar kantor aku tidak munggkin memanggilmu Asisten Rafli kan. Apa aku harus memanggilmu sayang?" Kelakar Lala.
Bu Yati yang memperhatikan kedekatan anaknya dengan pelanggan cantik itu segera mendekati mereka, dia tersenyum kepada Lala.
"Siapa gadis cantik ini Raf?" Ucap bu Yati sambil melirik anaknya.
"Anak magang dikantor Tuan Arthur bu" Jawab Rafli apa adanya.
"Jadi ini ibunya Asisten Rafli. Kenalin bu, saya Lala." Ucap Lala memperkenalkan diri. "Saya calon pacarnya Asisten Rafli." Imbuh Lala seraya berbisik di depan bu Yati.
Bu Yati mengulum senyum mendengar pernyataan Lala.
"Mana ada gandis cantik seperti nak Lala menyukai Rafli yang jelek seperti ini, belum lagi Rafli kan sangat cuek." Ucap bu Yati sambil mengejek anaknya
"Dia memang sangat cuek bu, tapi Lala sangat menyukainya. Lala harap ibu akan me dukung Lala ya."
"Pasti nak Lala, ibu akan mendukung nak Lala."
Lala tersenyum puas karena dia mendapat dukungan dari ibu Yati, sementara Rafli malah sebaliknya, dia terlihat murung setelah mendengar jawaban dari ibunya.
"Kalau gitu Lala pulang dulu ya bu, permisi." Pamitnya, lalu gadis itu pergi.
Saat akan menyebrang tiba-tiba dari arah lain datang sepeda motor dengan kecepatan tinggi, Lala tidak sempat menghindar sehingga tubuh kecilnya terpental karena tertabrak sepeda motor tersebut.
"Lala." Teriak bu Yati panik, dia segera berlari kearah Lala. Rafli yang menyadari hal itupun segera mengejar ibunya dan menghampiri Lala yang sudah tergeletak diaspal.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Rafli seraya mengangkat tubuh Lala keatas pangkuannya.
"Hem." Balas Lala dengan suara lemah.
"Kita kerumah sakit sekarang." Ucap Rafli lalu dia menggendong tubuh Lala dan membawanya kemobil miliknya yang terparkir didekat sana.
Rafli begitu panik hingga dia melupakan orang yang telah menabrak Lala. Melihat Lala tak berdaya ada perasaan aneh didalam hatinya, tiba-tiba dia merasa takut kehilangan gadis yang selalu mengganggunya itu.
BERSAMBUNG...
__ADS_1