
Dengan wajah panik Rafli membopong tubuh Lala menuju UGD. Sesampainya di UGD, Lala segera diambil alih oleh petugas medis yang tengah berjaga.
Rafli menunggu di luar, dia mondar-mandir didepan pintu UGD sambil menggigit ujung jarinya. Siapa sangka seorang Rafli yang terkenal sangat acuh kepada orang lain tiba-tiba begitu ketakutan dan peduli terhadap gadis kecil yang selalu mengganggunya.
Tiga puluh menit kemudian seorang dokter keluar dan Rafli segera menghampirinya.
"Bagaimana kondisinya dok?" Tanya Rafli dengan wajah yang terlihat begitu khawatir.
"Tidak ada yang serius, kadar gula darahnya rendah sehingga pasien pingsan, mungkin karena pasien belum sarapan. Selebihnya hanya luka lecet ditangan dan kakinya. Setelah sadar, pasien sudah boleh pulang" Terang sang dokter dengan pelan.
Rafli bisa bernafas lega, kekhawatirannya ternyata tak beralasan. "Terimakasih banyak dok."
"Sama-sama, kalau begitu saya permisi."
Setelah dokter pergi Rafli segera masuk dan menghampiri Lala yang terbaring diatas brankar Rumah Sakit. Rafli menatap lekat gadis yang matanya masih terpejam itu. "Kau mulai mengusikku." Batin Rafli.
Beberapa saat kemudian Lala mulai membuka matanya, Rafli yang duduk di sebelah tempat tidurnya segera bangun dan memastikan jika Lala benar-benar sudah sadar.
"Sudah bangun?" Tanya Rafli dingin, dia sudah lupa jika dia sempat khawatir dengan gadis itu.
"Sudah." Jawab Lala pelan.
"Minum ini biar gula darahmu naik." Rafli menyodorkan jus apel dalam kemasan kepada Lala.
Lala bersusah payah untuk duduk, namun Rafli enggan membantunya, dia hanya mengamati Lala hingga gadis itu bisa duduk dengan sendirinya. Setelah duduk Lala meraih jus dari tangan Rafli dan segera meminumnya.
"Terimakasih." Ungkap Lala datar, kali ini dia tidak bertenaga hanya untuk sekedar tersenyum. "Anda boleh pulang, saya sudah baik-baik saja, terimakasih sudah menolong saya." Imbuh Lala dengan sopan.
"Apa ada keluarga yang harus aku hubungi?" Tawar Rafli basa-basi, dia hanya belum ingin pergi dari Rumah Sakit.
"Saya akan menghubungi Mala untuk menjemput saya."
Rafli mengangguk, dia kembali diam karena kehabisan topik pembicaraan.
"Anda bisa pulang sekarang." Ulang Lala karena Rafli masih berdiri disebelahnya.
"Kau yakin akan baik-baik saja."
__ADS_1
"Ya."
"Sebenarnya aku bisa menemanimu sampai Mala datang."
"Tidak perlu, saya tidak ingin merepotkan anda, saya baik-baik saja, anda bisa pergi sekarang." Tolak Lala yang terdengar seperti sedang mengusir Rafli secara halus.
"Baiklah, aku pergi sekarang." Ucap Rafli datar, lalu dia pergi dari ruangan itu dengan perasaan yang tak karuan, jengkel atau marah. Entahlah rasanya sangat tidak nyaman karena gadis itu menolak untuk ditemaninya.
"Kenapa dia, pagi tadi masih merengek ingin menjadi kekasihku, kenapa sekarang begitu acuh padaku." Batin Rafli.
Rafli sudah berada didalam mobilnya, namun dia masih ragu untuk meninggalkan Rumah Sakit, dia akan pergi setelah Mala datang menjemput gadis itu. Lima belas menit berlalu, Mala tak kunjung terlihat, Rafli justru kaget saat melihat Lala keluar dari UGD sendirian, dia terlihat sedang mencari sesuatu.
Rafli keluar dari mobilnya, dia berlari kearah Lala yang masih berdiri didepan ruangan UGD. Lala terkejut melihat Rafli yang belum juga pulang.
"Dimana Mala?" Tanya Rafli, dia terlihat kesal.
"Sebentar lagi datang." Jawab Lala datar.
"Oh ya." Rafli meraih ponsel dari sakunya, lalu dia menghubungi seseorang.
"Hallo, ada apa Asisten Rafli?" Tanya Mala dari seberang sana. Rafli segera menggunakan mode pengeras suara agar Lala juga bisa mendengarnya.
"Saya dirumah, ada apa?"
"Oh tidak, saya hanya ingin memastikan apakah kamu sedang bersama Tuan Arthur atau tidak." Kilah Rafli lalu tanpa menunggu jawaban Mala dia segera menutup panggilannya.
"Kenapa kau berbohong?" Cecar Rafli dengan wajah dinginnya.
Lala hanya diam, dia tidak menjawab pertanyaan Rafli, dia memang berbohong kepada Rafli, tapi bukan tanpa alasan, dia hanya tidak ingin merepotkan Rafli.
Lala masih ingat saat Rafli menggendongnya setelah dia tertabrak sepeda motor, samar-samar dia mendengar perkataan Rafli yang sedikit menyakiti hatinya.
Kenapa kau selalu merepotkan, kau selalu saja mengusikku.
Ya, kalimat itu yang keluar dari mulut Rafli dan membuat Lala tak ingin merepotkannya lagi.
"Kenapa tak menjawab pertanyaanku, kenapa kau berbohong padaku?" Seru Rafli penuh dengan penekanan, dia tidak suka dibohongi.
__ADS_1
"Kenapa anda harus marah, apa peduli anda saya bohong atau tidak." Hardik Lala, kemudian sebuah taxi datang dan Lala segera masuk kedalam mobil, dia meninggalkan Rafli begitu saja tanpa berkata apapun lagi.
Rafli menatap kesal mobil yang sudah berlalu meninggalkannya, dia mengacak rambutnya sendiri, dia bigung karena marah setelah tau Lala berbohong kepadanya.
*****
Sementara diapartemen Arthur, Mala dan Rey masih melanjutkan aksi saling diam mereka, keduanya masih berdiam diri didalam kamar masing-masing.
Waktu sudah menunjukkam jam satu siang, Mala merasa lapar karena pagi tadi dia juga tidak sarapan. Mala keluar dari kamarnya, dia pergi kedapur mencari sesuatu yang bisa dia makan. Didalam kulkas masih banyak sayur dan lauk pauk lainnya, namun Mala sedang malas memasak, dia memilih mengambil mie instan dan memasaknya.
Saat Mala sedang memasak mie instan, tiba-tiba Rey melingkarkan tangannya diperut Mala, gadis itu mencoba untuk melepaskan tangan Rey, namun Rey justru semakin mempererat pelukannya.
"Jangan marah lagi." Bisik Rey tepat ditelinga Mala sehingga membuat Mala meremang.
"Kenapa diam, masih marah sama aku." Ulang Rey namun Mala masih sibuk dengan mie instannya.
Rey memutar tubuh Mala secara paksa sehingga mereka saling berhadapan sekarang, Rey menatap Mala dengan wajah sedih. "Aku minta maaf karena tidak percaya padamu, aku bersalah, aku pantas dihukum, tapi jangan diamkan aku seperti ini." Ucap Rey penuh sesal.
Mala mengangkat kepalanya sehingga dia bisa menatap wajah Rey, dia sangat kesal kepada Rey, namun melihat sorot matanya membuat Mala luluh, dia tak bisa terlalu lama marah kepada Rey. "Janji tidak akan mengulanginya lagi?" Tanya Mala.
"Aku janji, aku akan percaya padamu."
"Baiklah." Mala kembali memutar tubuhnya, dia mengaduk mie yang sudah hampir matang.
"Jadi kamu memaafkanku kan?" Tanya Rey memastikan.
"Hemm."
"Terimakasih."
Rey kembali memeluk Mala dari belakang, dia mengecup pipi Mala berulang kali sehingga membuat Mala terkekeh dibuatnya.
"Boleh aku minta mie nya?" Pinta Rey.
"Tentu saja."
Mala memindahkan mie kedalam mangkok dan membawanya kemeja makan. Mereka membagi mienya dan makan bersama setelah berbaikan.
__ADS_1
Setelah makan siang mereka menikmati momen kebersamaan mereka yang sangat jarang mereka dapatkan. Mereka saling bercerita, tertawa bersama dan melupakan kesalahpahaman yang terjadi diantara mereka.
BERSAMBUNG....