
"Aku.... Aku ingin mengakhirinya sekarang Rey, aku tidak ingin perasaan ini semakin dalam."
Kalimat itu terus terngiang ditelinga Rey sebelum akhirnya dia tak bisa mengendalikan tubuhnya, sekujur tubuhnya tiba-tiba mati rasa, kepalanya terasa sangat berat dan lidahnya mendadak kelu, samar-samar ia masih bisa mendengar Mala yang terus mengucapkan permintaan maaf, dibalik matanya yang mulai berkabut dia melihat Mala menangis, rasanya ia ingin menghapus air mata itu, namun apa daya, tangannya tak bisa ia gerakkan sama sekali, Rey benar-benar tak bisa melakukan apapun sampai akhirnya dia kehilangan kesadarannya, tubuhnya ambruk tepat diatas jembatan cinta yang melegenda itu.
"Rey." Teriak Mala histeris, dia segera menghampiri Rey yang sudah tak sadarkan diri.
"Rey, Rey." Panggil Mala dengan setengah terisak.
"Rey, maafin aku Rey."
Mala memindahkan kepala Rey ke atas pangkuannya, dia terus berusaha membuat pemuda itu bangun, dia tak bisa melakukan apapun, kondisi Pulau Tidung sudah sangat sepi, belum lagi mereka kini berada di tengah jembatan cinta yang cukup jauh dari daratan.
"Rey, aku mohon bangun." Pinta Mala seraya menepuk pipi Rey pelan.
Mala sedikit bernafas lega saat pemuda yang berada di pangkuannya mulai membuka matanya, perlahan pemuda itu bangun dan duduk di hadapan Mala.
"What happened, why are you crying?"Ucap pemuda itu dengan logat yang sangat Mala kenali, logat kemayu yang mampu membuat bulu kuduk Mala berdiri setiap kali mendengarnya.
"Miss." Ucap Mala dengan suara serak.
"Kenapa you nangis?" Ulang Miss Kimberly seraya mengusap butiran bening yang kembali membasahi pipi Mala.
"Saya.."
Mala memutuskan untuk menceritakan kisah cintanya bersama Rey yang terbilang tragis, Mala hanya berharap dengan bercerita kepada Miss Kimberly akan mengurangi sesak di dadanya, kesepakatan antara dirinya dan Arthur membuat Mala tak bisa berbagi bersama sahabatnya, Lala. Sungguh saat ini Mala sangat membutuhkan Lala, namun dia tak bisa melanggar kontrak yang sudah ia tanda tangani.
"Oh My Gosh, jadi you kencan sama si Rey? I fikir you pacaran sama Arthur." Ucap Miss Kimberly setelah Mala menyelesaikan ceritanya.
"Terus kenapa nangis, kan you yang bikin keputusan, don't cry anymore." Lanjutnya mencoba untuk menenangkan Mala.
Bukannya berhenti, Mala justru semakin terisak, Miss Kimberly menatap Mala prihatin, dia menggeser duduknya, kini posisi mereka sejajar, lalu tanpa di duga-duga Miss Kimberly merangkul pundak Mala dan menepuknya perlahan.
"Sudah, sudah, air mata you bisa kering kalau menangis terus." Miss Kimberly berusaha untuk menghibur Mala lagi, tapi sepertinya dia tidak tau caranya menghibur orang yang sedang patah hati.
"You masih muda, beautifull, mmm bodi you juga nggak jelek-jelek banget, you bisa nyari cowok lain, ngapain nangisin Rey yang nggak jelas asal usulnya." Ucap Miss Kimberly seolah dia tengah menyindir dirinya sendiri, mereka memang hanyalah jiwa yang tak jelas asal usulnya.
__ADS_1
"Miss kan juga begitu nggak jelas asal usulnya." Ucap Mala lirih namun rupanya sampai di telinga Miss Kimberly.
"Right, you bener, I memang nggak jelas asal usulnya, kenapa I bisa terjebak di dalam tubuh Arthur, sungguh I pengin bebas, I pengin seperti you yang bebas melakukan apapun, tidak seperti I yang selalu terkurung di dalam apartmen Arthur." Jawab Miss Kimberly, suaranya tenang namun terdengar sangat menyedihkan.
"Maaf Miss." Sesal Mala.
"It's okay."
Keduanya kini saling diam, mereka menatap jauh langit yang telah menghitam, mungkin mereka tengah meratapi nasib pilu masing-masing.
Angin laut yang berhembus semakin kencang membuat keduanya merasa kedinginan, setelah puas menikmati lautan malam mereka memutuskan untuk pulang, untung saja speed boat yang Rey sewa masih setia menunggu mereka di tepi pantai.
"Oh My Gosh, akhirnya I bisa berlayar juga, sudah lama sekali I ingin pergi ke pantai dan berlayar, tapi si Rafli kutu kupret itu selalu saja melarang." Miss Kimberly sangat girang saat sudah berada di atas kapal sewa mereka.
"Miss senang?" Tanya Mala penasaran.
"Ya, i'm happy."
Miss Kimberly kembali bersorak saat dia berdiri di deck kapal, dinginnya angin malam tak membuatnya gentar, dia merentangkan kedua tangannya, membiarkan angin malam menerpa seluruh tubuhnya. Sementara Mala hanya mengamati dari balik pintu, dia enggan untuk keluar, hawa dingin sudah menusuk kulitnya, belum lagi dia hanya mengenakan kaos pendek yang tak bisa menghalau rasa dingin tersebut.
Miss Kimberly menoleh, dia hanya tersenyum sesaat lalu kembali menatap lautan lepas di hadapannya.
"Miss sudah satu jam lebih anda di luar, anda bisa sakit miss." Ulang Mala, kali ini suaranya terdengar lebih keras.
Miss Kimberly mengerucutkan bibirnya, dia sangat kesal, layaknya anak kecil yang di panggil ibunya saat sedang asik bermain, miss Kimberly berjalan dengan menghentak-hentalkan kedua kakinya dan membuat Mala terkekeh.
"You sangat cerewet." Kesal Miss Kimberly, dia masuk ke dalam kapal sambil terus menggerutu.
Mala hanya tersenyum, dia mengikuti Miss Kimberly dan duduk disebelahnya, Miss Kimberly melipat kedua tangannya dia dada, dia masih kesal kepada Mala yang terus menyuruhnya untuk masuk.
****
Setelah dua jam perjalanan laut dan satu jam perjalan darat akhirnya mereka tiba di apartemen milik Arthur, waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari, keduanya lalu masuk kedalam kamar masing-masing dan beristirahat setelah perjalanan yang melelahkan itu.
Mala menghempaskan tubuhnya diatas kasur, tak sengaja kepalanya mengenai boneka Kangguru milik Ara yang belum sempat ia kembalikan ke tampatnya, Mala meraih boneka itu dan menaruhnya diatas dadanya.
__ADS_1
"Apa kau senang selalu di gendong oleh ibumu." Tanya Mala pada bayi Kangguru yang berada di kantung induknya.
"Kau tidak bosan didalam kantung terus, apa kau ingin keluar?"
"Iya aku ingin keluar kak." Jawab Mala pada dirinya sendiri, suaranya ia buat-buat seperti anak kecil.
Mala mengeluarkan boneka kecil itu dari tempatnya, namun sebuah benda justru ikut keluar bersama boneka kangguru kecil itu, Mala meraih benda itu dan memperhatikannya dengan seksama.
"Apa ini lipstik?" Gumam Mala seraya membolak-balik benda berwarna hitam, bentuknya bulat dengan diameter 17mm dan panjang hampir sama dengan jari telunjuk membuat benda itu terlihat seperti kemasan lipstik wanita.
"Tidak, tidak, jangan sampai aku melihat sesuatu yang seharusnya tidak boleh aku lihat." Gumam Mala lalu dia kembali memasukkan benda itu kedalam kantung boneka kangguru, dia kembali meraih boneka kecil dan mengajaknya berbicara, hingga tanpa disadari Mala terlelap dengan memeluk boneka Kangguru milik Ara.
***
Pagi tiba, suara alarm di ponsel Mala menggema didalam kamarnya, gadis itu mulai merenggangkan tubuhnya, sekujur tubuhnya terasa pegal, hidungnya tiba-tiba mampet dan dia bersin berulang-ulang.
"Ah sial, kenapa aku harus flu."
Mala bangun dari tempat tidurnya, dia meraih handuk dan perlengkapan mandinya, meskipun flu namun Mala merasa dia harus mandi, semalam ia tak sempat membersihkan tubuhnya yang sangat lengket, mau tidak mau dia harus mandi pagi ini.
Mala keluar dari kamarnya, seperti biasa apartemen Arthur selalu terlihat sepi, dia melirik kamar Arthur yang pintunya terbuka dan berjalan kearahnya. Mala memeriksa kamar Arthur yang ternyata kosong.
"Apa dia masih di ruangan Miss Kimberly? Sudahlah lebih baik aku numpang mandi saja, dari pada harus turun ke bawah." Batin Mala lalu gadis itu masuk kedalam kamar Arthur dan menuju kamar mandi.
Hampir setengah jam Mala berada didalam kamar mandi, dia menepuk jidatnya saat meyadari jika ia tak membawa baju ganti. Belum lagi baju kotornya sudah ia rendam sebelumnya.
"Dasar bodoh."
Mala melilitkan handuk ditubuh polosnya, dia menyumbulkan kepalanya keluar dari kamar mandi, dia ingin memeriksa apakah Arthur sudah kembali ke kamarnya atau belum.
Perlahan Mala keluar dari kamar mandi, dia harus segera keluar dari kamar itu sebelum pemiliknya datang dan melihat Mala yang hanya memakai handuk. Mala merasa lega saat dia sampai didepan kamarnya, gadis itu tak menyadari jika ada sepasang mata yang menatapnya penuh damba.
Prang, suara gelas pecah membuat Mala menoleh, gadis itu terperanjat saat melihat sang pemilik rumah tengah berdiri didepan kulkas dan menatapnya tanpa berkedip.
"Kau sedang menggodaku."
__ADS_1
BERSAMBUNG...