My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 145 Belut Alaska


__ADS_3

"Lakukan lagi." Ucap Petra seraya menatap Mala, namun kali ini tatapan itu begitu hangat.


"Lepaskan aku, aku melakukannya untuk memancing Arthur keluar." Tolak Mala, ia berusaha melepaskan diri dari Petra.


"Bukan masalah, aku hanya memintamu untuk melakukannya lagi, aku harus memeriksa sesuatu, anggap saja aku adalah Arthur." Petra terus memohon.


"Sayangnya kau buka Arthur. Lepaskan aku!" Hardik Mala.


Petra yang keras kepala tak mengindahkan ucapan Mala, ia justru semakin bersemangat untuk mencium Mala, salah satu tangannya memegang pinggang Mala dan tangannya yang lain menekan tengkuk Mala dengan keras, tak ingin kehilangan kesempatan, Petra segera mencium bibir Mala secara paksa, Mala berontak, namun tenaganya kalah kuat, Petra memciumnya dengan kasar, sesekali ia menggigit bibir bawah Mala. Tak sampai di situ, Petra mengangkat tubuh Mala di pundaknya, seolah ia tengah mengangkat karung beras. Petra melemparkan tubuh Mala ke atas tempat tidur Arthur, ia segera mengungkung tubuh kecil itu dan kembali menciumnya.


Mala semakin berontak, ia mulai menangis ketakutan, bagaimana jika Petra memaksanya untuk berbuat lebih? Mala terisak di tengah ciuman Petra yang mengagairahkan, namun pria itu tak memperdulikannya, ia tetap mencium Mala dengan kasar.


Petra melepaskan ciumannya, namun ia mengapit tubuh Mala dengan kedua pahanya, Mala sama sekali tak bisa bergerak, ia semakin ketakutan saat Petra membuka kemeja, ia juga membuka pengait celana kain yang ia kenakan.


"Apa yang kau lakukan, lepaskan aku, jangan kurang ajar." Ujar Mala dengan suara bergetar.


"Bukankah kau ingin memancing Arthur keluar, aku akan membantumu." Balas Petra di iringi seringai di wajahnya.


"Lepaskan aku Petra, aku mohon jangan sakiti aku." Mala memohon, rupanya ia salah mengambil keputusan, kerinduannya akan Arthur justru memancing hasrat tersembunyi Petra.


Pria itu tak bergeming, ia semakin menyeringai dan tak butuh waktu lama ia memaksa melucuti baju Mala membuat kulit tubuh bagian atasnya terekspos. Mala melingkarkan kedua tangannya guna menutupi kedua dadanya yang hampir terbuka, air matanya kembali mengalir, ia sangat ketakutan.


Mala mencoba kabur saat Petra turun dari atas tubuhnya, namun sialnya pergerakannya justru mempermudah Petra untuk menarik paksa celana kulot yang di pakainya, kini yang tersisa di tubuh Mala hanya sebuah Br*a berwarna hitam dan under wear dengan warna senada.


"Petra aku mohon."Mala kembali mengiba, ia menangkup kedua telapak tangannya di depan dada, gadis itu berlutut di atas tempat tidur.


Petra tertawa dengan puas, melihat tubuh Mala yang tebuka membuatnya bergairah, ia lalu melepaskan celananya, menyisakan sebuah boxer yang menutupi belut Alaskanya yang sudah menegang.


Mala belum menyerah, ia mencoba untuk lari dan keluar dari kamar, namun lagi-lagi usahanya sia-sia, Petra meraih pinggangnya dan mengangkatnya dengan paksa, Petra melemparkan tubuh Mala ke atas tempat tidur, pria itu kembali menindih Mala, kedua tangannya ia gunakan untuk menopang tubuhnya.


"Nikmati saja." Bisiknya menggoda, lalu ia mulai menyusuri leher hingga dada Mala, gadis itu menggigit bibirnya sehingga sesuatu yang amis terasa di dalam rongga mulutnya, ia menangis lagi, tubuhnya menggigil saat Petra mencumbu seluruh tubuhnya.


"Arthur aku mohon keluarlah." Ucapnya putus asa.


Kini kedua orang itu telah telan*jang sempurna, tak ada lagi kain yang menutupi organ intim keduanya, Mala semakin terisak, ia tak bisa melawan Petra sama sekali.

__ADS_1


Mala menjerit saat merasakan belut Alaska milik Petra menyentuh organ intimnya. "Arthur." Teriaknya begitu putus asa.


Belum sampai belut Alaska itu masuk ke dalam guanya, Petra ambruk tepat di atas tubuh Mala, pria itu tak sadarkan diri mebuat Mala bisa bernafas lega.


Mala berusaha menyingkirkan tubuh Petra, himpitan dari tubuh pria itu membuatnya kesusahan bernafas, saat dorongan terakhir di kedua pundak Petra di saat yang bersamaan kedua kelopak mata pria itu terbuka.


Pria itu menatap wajah Mala yang sembab, ada rasa sesal di balik tatapan pria itu. "Sayang kenapa kau menangis?" Tanyanya dengan suara lembut.


Mala yang tengah berusaha mendorong tubuh pria itu seketika berhenti bergerak, ia menatap pria tersebut yang juga tengah menatapnya..Kedua manik mereka saling beradu, tatapan hangat itu, sorot yang begitu Mala rindukan.


"Kaukah itu?" Tanya Mala dengan suara terbata.


"Ya ini aku, Arthur." Balasnya seraya tersenyum.


"Ah, kenapa kau jahat sekali, kenapa kau baru muncul sekarang?"


"Apa yang terjadi, kenapa kamu menangis?" Arthur masih menunggu jawaban Mala, ia belum sadar jika kedua tubuh mereka saling menempel tanpa sehelai benang yang membatasi.


"Aku kenapa, apa kau tak bisa merasakan sesuatu?" Mala membalikkan pertanyaan Arthur membuat pria itu mengerutkan dahi.


Arthur yang baru menyadari jika ia berada di atas tubuh Mala segera mengangkat tubuhnya, namun betapa terkejutnya ia melihat tubuh telan*jang Mala yang berada di bawah kunkungannya, ia juga semakin terkejut mendapati dirinya yang napak polos dengan belut Alaskanya yang menegang sempurna.


"Apa yang sudah kita lakukan?" Tanyanya seraya menutupi tubuh Mala dengan selimut, bukannya menghindar Arthur justru ikut masuk ke dalam selimut itu, ia berbaring dan menutupi tubuh polosnya.


"Petra." Jawab Mala setengah ragu.


"Apa? Kalian melakukannya? Sayang kenapa kau tega sekali, aku menahannya beberapa kali tapi kenapa kau membiarkan Petra menyentuhmu." Cecar Arthur dengan beragam pertanyaannya.


"Dengarkan dulu, kami belum melakukan apapun." Jawab Mala.


"Sungguh?


"Ya."


"Aku tak percaya kalau aku belum memeriksanya." Ucap Arthur .

__ADS_1


"Kalau begitu periksalah." Tantang Mala.


Arthur menelan ludahnya dengan kasar, tak bisa di pungkiri ia ingin segera bersetubuh dengan Mala, namun ia berpegang teguh pada janjinya untuk tak menyentuh gadisnya sebelum mereka resmi menikah.


"Aku percaya padamu."


Hening, keduanya hanya diam berada di bawah selimut tanpa busana sedikitpun.


"Sayang, apa yang terjadi setelah hari itu? Apa kamu sudah memaafkanku? Aku sungguh tidak tau jika aku yang membakarnya, kamu boleh menghukumku sekarang. Tapi aku mohon jangan tinggalkan aku lagi!" Arthur membuka suaranya, ia baru teringat akan kejadian beberapa minggu yang lalu saat acara pernikahan mereka.


Mala memiringkan tubuhnya, ia menghadap Arthur dan tersenyum manis. "Aku tau, semuanya telah terungkap, tuan Bagaskaralah dalang di balik semuanya, kini Marsel dan pelayan yang membakar villa itu sudah di hukum, beberapa hari lagi vonis akan di bacakan."


Arthur menoleh, ia menarik selimut hingga leher Mala, sungguh ia tak kuat melihat kulit mulus Mala. "Benarkah, jadi bukan aku yang melakukannya. Jadi aku tidak bermimpi."


"Mimpi?" Mala bertanya.


"Ya, aku bermimpi jika bukan aku pelakunya, seseorang memberikan kembang api kepada kita, aku melemparkan kembang api itu dan api berkobar sangat besar, lalu tukang kebun menyeretku menemui opa, dia mengatakan kepada opa jika aku pelakunya, namun opa mengatakan jika harusnya bukan aku yang melakukannya, harusnya seorang pelayan yang membakar tempat itu karena opa ingin membunuh mamy Lidya."


Mala berfikir sejenak, jika mendengar ucapan pak Karto sebelum meninggal, tentang Arthur tersenyum saat melihat kobaran api, bukankah berarti saat itu Petra yang berada di sana, lalu kenapa sekarang Arthur mengingatnya? Mungkinkah?


"Semuanya akan baik-baik saja. Mari segera menikah." Ujar Mala tanpa keraguan.


"Menikah?"


"Ya, bukankah seharusnya sekarang kita sudah menjadi suami istri?"


"Tapi sebelum menikah, sebaiknya kau berpakaian atau aku akan menerkammu."


"Terkam saja, aku siap." Tantang Mala seraya tersenyum.


Arthur menyibak selimut yang menutupi tubuhnya, ia berlari masuk ke dalam kamar mandi..Sementara itu Mala hanya terkekeh, ia begitu bahagia, meskipun ia hampir kehilangan kesuciannya demi membangunkan Arthur.


Namun begitulah cinta, butuh pengorbanan di setiap prosesnya. Atas nama sebuah cinta, seorang gadis rela berkorban demi orang terkasihnya, ia rela menjadi gadis yang kejam dan menghilangkan belas kasihnya demi mengungkap sebuah kebenaran, jika hitung dengan angka, mungkin saja kadar cinta Mala lebih besar terhadap Arthur.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2