My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 30 Kepompong


__ADS_3

"Mala." Teriak Rafli dari kejauhan, dia baru saja tiba ditempat itu.


"Ah sial, aku tidak bisa berenang, dasar gadis bodoh." Ucap Petra frustasi, namun dia tidak mungkin membiarkan gadis itu tenggelam.


"Ah terserahlah, aku juga tidak mau mati tenggelam." Gumam Petra, lalu dia hendak meninggalkan tempat itu, namun tiba-tiba dia berbalik dan berlari. "Ah sial, kenapa aku ingin sekali menolongmu." Ucap Petra sebelum akhirnya dia melompat kedalam air.


Didalam air, meski samar Petra melihat tubuh Mala yang melayang dan hanyut terbawa air, sebelum akhirnya Petra kehilangan kesadarannya dan digantikan oleh sosok lain, tubuh yang tadinya hampir tenggelam itu, berusaha untuk berenang mengejar tubuh Mala yang terseret arus. Dengan bersusah payah akhirnya pemuda itu bisa meraih tubuh Mala dan membawanya kepermukaan.


"Dasar gadis bodoh, sudah tau tidak bisa berenang, malah nekat masuk kedalam air." Gumam pemuda yang wajahnya membiru bekas pukulan Sofyan itu.


Rafli segera menghampiri mereka berdua, melihat pria yang tengah membopong Mala bisa berenang, Rafli sudah bisa menebak jika tubuh itu sudah kembali kepada pemiliknya, Arthur.


"Anda baik-baik saja." Ucap Rafli penuh sesal, dia merasa gagal melindungi tuannya.


Arthur hanya diam, dia menggeletakkan tubuh Mala di atas tanah. Melihat Mala yang tak kunjung sadar Arthur segera memberi pertolongan kepada gadis itu, dia memompa dada Mala dengan kedua tangannya, berharap air yang masuk kedalam tubuh Mala bisa keluar dan gadis itu segera sadar. Namun beberapa kali mencobanya Mala belum juga sadar, Arthur menggigit bibir bawahnya, lalu dia membuka mulut Mala dan memberi nafas buatan untuknya. Rafli tertegun, dia tidak menyangka Arthur akan berbuat seperti itu, jika Arthur yang dulu pasti dia tidak akan perduli dengan siapapun, Rafli kembali mengingat perkataan Dokter Lutfi, apa benar Tuan Arthur menyukai gadis itu, batin Rafli.


Setelah tiga kali memberi nafas buatan, akhirnya Mala mulai sadar, dia mulai terbatuk-batuk dan memuntahkan semau air yang sudah masuk kedalam tubuhnya. Arthur menghela nafas, dia menatap wajah Mala penuh kelegaan.


Masih diam seribu bahasa, Arthur segera menggangkat tubuh Mala, dia menggendongnya dan membawa Mala pergi dari tempat kumuh itu. Mala hanya pasrah, kesadarannya belum sepenuhnya kembali, namun dia berusaha mengaitkan tangannya dileher Arthur. Rafli berjalan lebih dulu, memandu tuannya sampai dimobil mewah yang terparkir dilahan kosong.


Rafli mebukakan pintu mobil dan Arthur segera membawa tubuh Mala masuk kedalam mobil itu. Rafli menutup pintu mobil dan membuka pintu bagian depan untuk menaruh sangakar jangkrik milik pakde Karto, namun Arthur menggeleng dan melirik kursi disebelahnya, Rafli hanya mengangguk dan memindahkan sangkar jangkrik itu kekursi belakang sesuai keinginan tuannya. Rafli menggeleng tak mengerti, namun dia menepis rasa penasarannya dan segera masuk kedalam mobil.


Didalam mobil, Arthur belum melepaskan tubuh Mala, kini Mala berada dipangkuannya dan tangan Mala masih melingkar dilehernya.


"Saya bisa duduk sendiri?" Ucap Mala pelan.


"Kau tidak lihat, sangkar jangkrik itu." Jawab Arthur seraya menunjuk sangkar jangkrik dengan dagunya.

__ADS_1


"Kalau begitu biar saya duduk didepan tuan."


"Kau akan ganti rugi jika kursi mahalku rusak karena basah, satu kursi saja cukup, jangan menambah kerusakan dikursi yang lain."


Mendengar kata ganti rugi Mala langsung terdiam, dia tidak mungkin mampu untuk ganti rugi, lebih baik dia menurut dan duduk dipangkuan Arthur. Sementara dikursi depan, Rafli mengulum senyum, cerdik juga akal tuan Arthur, batin Rafli lalu dia melajukan mobilnya meninggalkan tempat kumuh itu.


Diperjalanan tubuh Mala menggigil hebat, Arthur menyentuh kening Mala dengan punggung tangannya dan ternyata gadis itu mulai demam.


"Raf, Matikan ACnya, dan cepatlah sedikit, Mala demam dia harus segera mengganti bajunya, jangan lupa hubungi Dokter Lutfi untuk datang."


Rafli melirik sekilas dari spion, dia mengangguk lalu segera menjalankan perintah atasannya.


15 menit kemudian mereka sudah sampai dibasement, Arthur segera turun dari mobil, dia berlari sembari membopong tubuh Mala yang kian menggigil.


Arthur segera membawa Mala kedalam kamarnya, dia menaruh tubuh Mala diatas tempat tidurnya.


"Rafli." Panggil Arthur.


"Ya tuan."


"Kau tau alamat temannya Mala kan, bawa dia kemari."


"Tapi untuk apa tuan?"


"Untuk mengganti baju Mala, aku tidak mungkin menggantinya kan?"


"Baik tuan."

__ADS_1


Rafli segera pergi untuk menjemput Lala dan Arthur kembali kedalam kamarnya. Arthur panik melihat Mala yang semakin menggigil, jika bajunya tidak cepat diganti maka Mala akan semakin kedinginan.


"Maafkan aku Mala, salah siapa kau tak mau membuka bajumu sendiri." Ucap Arthur, dengan hati-hati dia mulai membuka satu persatu kancing kemeja Mala, setelah semuanya terbuka, nampaklah kulit putih Mala dan sebuah bra berwarna hitam yang membungkus kedua bukitnya. Arthur kesusahan menelan ludahnya, dia menarik nafas panjang dan segera melepaskan baju Mala lalu menutup tubuh Mala dengan selimut tebalnya.


"Tahan Arthur, tahan, dia bukan seleramu, jangan biarkan adikmu bagun hanya gara-gara dada datar itu." Ucap Arthur seraya mengatur nafasnya.


"Lalu bagaimana dengan celananya." Gumam Arthur. "Ah sudah biarkan saja, dari pada nanti aku Khilaf." Imbuh Arthur lalu dia berdiri dan mengambil selimut dari lemarinya, dia kembali mendekati Mala dan menggulung tubuh Mala dengan selimut yang dibawanya. "Kau seperti kepompong." Ucap Arthur dan tanpa dia sadari senyum mengembang diwajahnya.


Tak Lama berselang Dokter Lutfi datang, Arthur segera membawanya masuk kedalam kamar untuk memeriksa Mala. Dokter Lutfi mengamati Mala sejenak, dia menempelkan punggung tangannya dikening Mala, setelah itu dia berusaha untuk membuka selimut tebal yang membungkus tubub Mala.


"Jangan dibuka." Teriak Arthur panik.


Dokter Lutfi menghentikan tangannya, lalu dia menatap Arthur yang berada disebelahnya. "Ada apa tuan, saya harus segera memeriksanya."


"Tunggu sebentar, tunggu temannya datang."


"Tapi saya harus segera memeriksanya, dia demam tinggi, saya harus memastikan keadaannya."


"Iya aku tau dok, tapi tunggulah temannya sebentar."


"Aku tidak mau terjadi sesuatu dengan pasienku." Ucap Dokter Lutfi lalu dia kembali berusaha membuka selimut Mala.


"Dia telan*jang." Teriak Arthur.


"Apa?" Seru tiga orang secara bersamaan.


BERSAMBUNG..

__ADS_1


__ADS_2