My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 138 Hanya di suruh


__ADS_3

Mala sudah berada di dalam taxi, setelah mendapat informasi dari Marsel ia bergegas pergi ke kantor tuan Mahesa. Di dalam taxi tangannya tak berhenti bergetar, ia masih tak percaya dengan perbuatan kejinya yang sudah menyayat wajah Marsel tanpa ampun, beberapa bercak darah masih menempel di tangannya membuat gadis itu semakin merasa bersalah.


"Apa yang sudah kau lakukan Mala?" Gumamnya dalam hati.


Namun semenjak kecelakaan yang membuatnya harus melakukan cangkok hati, gadis itu sudah bertekad untuk menjadi gadis yang tangguh, ia enggan menjadi lemah dan selalu di injak oleh orang lain, kini apapun akan Mala lakukan demi mencari tau kebenarannya, meskipun ia sudah melihat rekaman CCTV itu, namun ia yakin jika Arthur bukan pelakunya.


Mala sudah berada di depan perusahaan tuan Mahesa, kedatangannya di sambut baik oleh security yang bertugas, berkat berita viral beberapa bulan yang lalu, mereka bisa dengan mudahnya mengenali Mala, putri seorang pengusaha sukses di Jakarta.


Dengan di antar oleh resepsionis, gadis itu telah sampai di depan ruangan tuan Mahesa, lalu salah seorang sekertaris tuan Mahesa menghampirinya dan menyapanya dengan ramah, sekertaris itu pula yang akhirnya mengantar Mala masuk ke dalam ruangan ayah kandungnya.


Kedatangan Mala tentu menjadi kejutan untuk tuan Mahesa, pria paruh baya itu sempat terpaku beberapa saat sebelum akhirnya ia menyambut kedatangan sang putri.


"Astaga, kemana saja kamu, papa mencarimu kemanapun, kau tau papa sangat mengkhawatirkanmu." Ujar tuan Mahesa, wajahnya nampak begitu lega melihat kehadiran Mala.


"Pa." Ucap Mala dengan sedikit ragu.


Tuan Mahesa tercengang mendengar Mala memanggilnya dengan sebutan Pa, ia masih belum percaya dengan apa yang di dengarnya tadi.


"Kau memanggilku apa?" Tanya tuan Mahesa.


"Papa."


Tuan Mahesa tak mampu menahan air matanya, setelah beberapa waktu berusaha untuk dekat dengan Mala akhirnya kini ia bisa mendengar pitrinya memanggilnya papa.


"Apa papa boleh memelukmu." Pinta tuan Mahesa setengah ragu, ia sadar tak seharusnya ia terlalu serakah untuk lebih dekat dengan Mala. Gadis itu mengangguk membuat tuan Mahesa segera memeluk putri kandungnya, putri yang puluhan tahun lamanya ia telantarkan, putri yang akhirnya bisa ia peluk setelah sekian lama.


"Terimakasih nak, terimakasih sudah datang menemui papa." Ucapnya penuh haru.


Mala membalas pelukan tuan Mahesa, tak bisa di pungkiri ia juga sangat merindukan sosok seorang ayah, meskipun ia menyimpan niat terselubung untuk dekat dengan sang ayah, namun Mala mencoba untuk menikmati perannya sebagai seorang putri.


Lama saling memeluk, akhirnya tuan Mahesa mengurai pelukannya, di tatapnya wajah sang putri yang nampak berbeda dari sebelumnya, warna bibir yang begitu mencolok membuat tuan Mahesa mengeryitkan dahinya.

__ADS_1


"Nak, sepertinya penampilanmu sedikit berbeda?" Ungkap tuan Mahesa seraya menatap wajah Mala, fokus utamanya tertuju pada bibir merah sang putri.


"Ah ini, Mala baru saja mengunjungi toko kosmetik pa, Mala mencoba lipstik terbaru mereka, sayang kalau di hapus." Kilah Mala seraya tersenyum hambar.


"Oh. Ayo duduk." Tuan Mahesa mengajak Mala duduk di sofa yang berada di sudut ruangannya, sebelumnya ia menghubungi sang sekertaris untuk membuatkan minuman untuknya dan juga sang putri.


"Apa papa boleh tau, kenapa Mala sampai mencari papa ke kantor?" Tanya tuan Mahesa setelah keduanya duduk bersebelahan.


"Maaf pa, mungkin kedatangan Mala terlalu mendadak, tapi sungguh hanya papa yang bisa Mala mintai tolong." Jawab gadis itu seraya menatap ayahnya.


"Katakan nak, apapun akan papa lakukan untukmu!"


"Mala butuh informasi salah satu Cleaning Service papa yang bernama pak Darman." Ucap Mala to the point.


Tuan Mahesa menatap putrinya penasaran. "Kenapa Mala membutuhkan itu?" Jawabnya lembut.


"Dia adalah mantan pelayan Bagaskara Group dan kemungkinan besar dia yang membakar villa itu pa, aku harus menemukannya dan memberikan pelajaran yang setimpal karena sudah membunuh ibu."


Mala mengepalkan tangannya, ia tak suka jika Arthur kembali di sebut sebagai pelaku, entah mengapa dia begitu yakin jika bukan Arthur penyebabnya, meskipun untuk saat ini ia belum bisa menemui Arthur. "Pa, papa adalah orang yang berpengalaman, mungkinkah sebatang kembang api bisa menyebabkan kebakaran? Kecuali kalau tempat itu sudah di siram bahan bakar sebelumnya?"


Tuan Mahesa diam sejenak, sebelumnya ia juga merasa ada yang janggal dengan rekaman tersebut, namun karena Marsel terus mengomporinya membuat tuan Mahesa kehilangan akan dan sampai merusak acara pernikahan putrinya. "Kamu benar, papa rasa ada yang salah dengan rekaman itu. Kamu tunggu di sini sebentar, biar papa menyuruh sekertaris papa untuk menghubungi pak Darman." Tuan Mahesa lantas berdiri dan menuju ke mejanya untuk menghubungi sang sekertaris.


Mala menjawabnya dengan anggukkan, ia mengangkat sedikit bibirnya, menciptakan sebuah senyuman samar. "Bagus Mala, kau hanya perlu melakukan apapun untuk menolong Arthur, dia lebih berharga dari harga dirimu, menjilat tuan Mahesa bukanlah suatu yang buruk, anggap saja kau sedang menghukumnya karena kesalahannya di masa lalu, maafkan saya tuan Mahesa, saya datang hanya untuk mencari pak Darman."


Setelah menghubungi sekertarisnya, tuan Mahesa kembali duduk dan berbincang bersama Mala, ia tak ingin menyiakan waktu yang sangat jarang terjadi.


"Apa Mala tidak ingin kembali kuliah?" Tanya tuan Mahesa dengan lembut.


"Mala akan kembali ke kampus semester ini pa." Jawab Mala jujur, ia memang berencana kembali kuliah seperti keinginannya dan Arthur.


"Syukurlah, Mala tak perlu khawatir akan biaya, papa akan menanggung semuanya, Mala hanya perlu fokus kuliah dan menjadi Arsitek Lansekap yang hebat."

__ADS_1


"Terimakasih banyak pa."


Di tengah perbincangan serius mereka, pintu ruangan tuan Mahesa di ketuk oleh seseorang dan detik selanjutnya sekertaris tuan Mahesa masuk bersama seorang laki-laki berusia sekitar 50 tahunan.


Setelah sekertaris itu keluar, pak Darman berdiri seraya menundukkan kepalanya, kedua tangannya saling mengait satu sama lain, tubuh tuanya sedikit bergetar, di dalam hatinya ia terus bertanya-tanya, kenapa tuan Mahesa memanggilnya.


Mala masih duduk, ia menatap laki-laki tua itu secara intens, kulitnya yang keriput dan uban memenuhi kepalanya membuatnya nampak seperti laki-laki lemah.


"Pak Darman." Panggil tuan Mahesa.


"Ya tuan." Sahut laki-laki itu.


"Bolehkan saya tanya sesuatu?"


"Tentu saja tuan."


"Saya harap, bapak akan menjawabnya dengan jujur."


"Apa bapak mengenal tuan Bagaskara?"


Pak Darman terkejut, reflek ia mengangkat kepalanya dan menatap tuan Mahesa, namun ia segera menyadari kelancangannya dan kembali menundukkan kepalanya. "Ti...tidak tuan, orang seperti saya mana mungkin mengenal tuan Bagaskara?"


"Benarkah? Apa mungkin tuan Bagaskara bohong, beliau bilang bahwa beliau sangat mengenal anda pak, bahkan menurut tuan Bagaskara, anda mendapatkan tugas penting dari beliau 15 tahun lalu?" Sela Mala, ia masih memperhatikan pak Darman, tubuh tua itu semakin bergetar.


"Huh, kenapa tuan Bagaskara harus berbohong, ia bahkan sudah melaporkan pak Darman ke pihak yang berwajib, katanya pak Darman dalang di balik kebakaran di villa mereka." Mala terus menyudutkan pertahanan pak Darman.


Tiba-tiba tubuh pak Darman ambruk, ia bersimpuh di lantai dan menangis.


"Saya hanya di suruh."


BERSAMBUNG..

__ADS_1


__ADS_2