
"Maafkan saya nyonya, maafkan saya tuan Arthur." Batin Mala, dia sangat merasa bersalah kepada keduanya.
"Maaf ma, selain mama apa ada yang tau mengenai penyakit Tuan Arthur?" Tanya Mala pelan, dia ingin memastikan siapa saja yang mengetahui kondisi Arthur.
"Hanya mama yang tau, bahkan dady-nya juga tidak tau." Terang mama Wulan. "Mala tenang saja, mama akan menyimpan rahasia ini selamanya." Imbuh mama Wulan dengan mata berkaca-kaca.
"Terimaksih banyak ma."
Mama Wulan menggeleng pelan, dia melepaskan tangannya dan mengusap wajah Mala penuh kasih sayang. "Harusnya mama yang berterimakasih kepada Mala, terimakasih karena Mala mau menemani dan menjaga Arthur, mama harap Mala tidak akan meninggalkan Arthur suatu saat nanti."
Deg, lagi-lagi Mala hanya terdiam, dia tidak mungkin berjanji tentang sesuatu yang mustahil untuk dia lakukan, suatu saat nanti saat Arthur sudah tidak membutuhkannya, dia harus pergi meninggalkan Arthur, dia tidak mungkin terjebak dengan Arthur selamanya.
***
Setelah mama Wulan pulang, Mala masih termangu duduk disofa bersama dengan miss Kimberly, keduanya hanya diam, miss Kimberly yang melihat wajah sedih Mala memilih untuk tidak berkata apapun.
Mala bangun dan berjalan kearah pintu saat suara bel kembali berbunyi, dia terlebih dahulu mengintip dari lubang pintu dan mendapati Rafli tengah berdiri dibaliknya, Mala segera membuka pintu dan mempersilahkan Rafli untuk masuk. Rafli bergegas masuk dan melihat miss Kimberly tengah duduk disofa, dia membuang nafas dengan kasar lalu memijat pangkal hidungnya.
"Apa nyonya datang kesini?" Tanya Rafli dan Mala hanya mengangguk lemah. Rafli mengusap wajahnya kasar, dia seharusnya tidak memberi tahu mama Wulan jika Arthur berada dirumah.
"Apa nyonya bertemu dengannya?" Tanyanya lagi, kali ini dia menunjuk miss Kimberly yang sudah berdiri dan tengah menatapnya.
Lagi-lagi Mala hanya mengangguk dan membuat Rafli merasa frustasi, dia merasa gagal melindungi Arthur dan rahasianya yang telah Rafli jaga selama ini.
"Nyonya sudah tau sejak awal." Ungkap Mala.
"Apa maksudmu?" Rafli menatap Mala bingung.
"Nyonya sudah tau mengenai penyakit Tuan Arthur sejak 4 tahun yang lalu."
"Apa?" Rafli terkejut mendengar penuturan Mala.
"Nyonya bilang hanya nyonya yang tau mengenai hal ini."
__ADS_1
Rafli mengatur nafasnya, dia berusaha untuk tenang. Secepatnya dia harus bertemu dengan mama Wulan, dia ingin memastikan sendiri apa yang didengarnya dari Mala.
"Jangan sampai dia keluar, aku harus pergi sekarang." Seru Rafli seraya menatap tajam miss Kimberly, lalu dia melangkahkan kakinya meninggalkan apartemen Arthur.
Mala menghela nafas panjang, dia menatap miss Kimberly yang juga tengah menatapnya. "Apa yang harus aku lakukan agar dia tidak kabur?" Batin Mala lalu dia menghampiri miss Kimberly.
"Miss dengar ka, miss tidak boleh pergi keluar." Ucap Mala mengulang perkataan Arthur.
"Kalian menyebalkan." Gerutu miss Kimberly lalu dia masuk kedalam ruangannya dan membanting pintu dengan keras, Mala hanya menggeleng, dia kembali duduk dan berjaga agar miss Kimberly tidak keluar dari apartemen.
Dua jam berlalu tidak ada pergerakan dari ruangan miss Kimberly, saking lamanya duduk Mala mulai merasa ngantuk, dia beberapa kali mencuci wajahnya namun kantuknya tak kunjung hilang sehingga tanpa disadarinya Mala terlelap diatas sofa dengan posisi duduk.
***
Mala menggeliat saat merasa sebuah tangan membelai wajahnya, Mala mulai membuka matanya, samar-samar dia melihat Arthur yang tengah memandanginya. Kini mata Mala terbuka sempurna, dia bisa dengan jelas melihat wajah Arthur yang tengah tersenyum dan menatapnya.
"Rey." Panggil Mala dengan suara serak.
Arthur diam sesaat, dia kembali membelai wajah Mala dengan lembut. "Ya ini aku." Ucapnya. "Kenapa kau selalu menyebut nama Rey didepanku, apakah kau begitu menyukainya, kalau begitu mari kita lihat sebesar apa rasa sukamu." Batin Arthur, dia kembali berencana untuk menjadi Rey hari ini.
"Aku berjaga agar miss Kim tidak pergi, tapi aku malah ketiduran." Jelas Mala.
"Tidurlah dikamar, aku akan menemanimu."
"Aku sudah nggak ngantuk." Tolak Mala, dia terpaksa berbohong, dia masih sangat ngantuk namun enggan pergi kekamar bersama Rey, dia takut mereka akan melewati batas.
"Bagaimana kalau kita jalan-jalan." Ajak Arthur dan Mala segera mengangguk.
"Ganti bajumu dengan yang hangat." Imbuh Arthur seraya mengusap kepala Mala.
Mala tersenyum, lalu dia beranjak dari duduknya dan masuk kedalam kamar untuk berganti pakaian.. Arthur mengulum senyum melihat Mala yang begitu bahagia. "Kau bahkan tidak pernah menunjukkan senyuman itu kepadaku, kalau begitu aku akan menikmati peranku sebagai Rey, jangan salahkan aku Rey, karena aku juga menyukai Mala." Gumam Arthur lirih.
Arthur masuk kedalam kamarnya untuk berganti pakaian, dia mulai memilih baju Rey namum tak ada satupun yang cocok dengan seleranya, namun demi mendalami aktingnya akhirnya Arthur memilih celana Jeans hitam dan Hoodie yang biasa dikenakan oleh Rey. Dia juga menyisir rambutnya dan membiarkan poninya menutup kening sehingga dia lebih terlihat seperti Rey.
__ADS_1
"Mungkin didunia ini hanya aku yang bersaing dengan diriku sendiri."Ucap Arthur bermonolog dan diiringi dengan senyuman getir.
Setelah siap Arthur keluar dari kamarnya dan melihat Mala sudah menunggunya, gadis itu memakai setelan yang sama dengan yang dipakainya. Arthur segera menghampiri Mala, dia menggandeng tangannya dan keluar dari apartemen.
"Kita mau kemana Rey?" Tanya Mala.
"Kemana saja. Pertama mungkin kita harus
mencari makan, aku lapar."
Mendengar kata makan Mala segera menepuk dahinya, dia teringat dengan bekal makan siang yang dibawa oleh mama Wulan. "Astaga, mama tadi datang dan membawa makan untuk kita, lebih baik kita kembali dan makan dirumah Rey."
"Mama datang?" Arthur terjejut, dia menghentikan langkahnya.
"Iya."
"Dia tidak melihatku saat aku menjadi miss Kimberly kan?" Tanya Arthur, dia ingat saat sadar dia berada dikamar miss Kimberly dengan pakaian anehnya.
Mala menunduk, dia kembali merasa bersalah. "Maaf, tapi mama Wulan sudah tau sejak lama Rey."
"Apa?" Tanya Arthur terkejut sekaligus tak percaya jika selama ini mama Wulan mengetahui penyakitnya.
"Dia bahkan terlihat akrab dengan miss Kimberly."
"La, sebaiknya kita kembali, maafkan ku, aku harus pergi menemui mama Wulan untuk meminta penjelasannya."
"Bukankah lebih baik jika Tuan Arthur yang melakukannya?" Ucap Mala memberi saran.
"Ya tentu, untuk itu aku harus tidur dan membangunkan Arthur."
Mala mengangguk mengerti, kemudian keduanya kembali keapartemen, sebelum masuk kedalam kamarnya, dia mengecup pucuk kepala Mala.
"Istirahatlah, aku akan menemuimu nanti malam."
__ADS_1
BERSAMBUNG...