
Sudah dua hari Mala di rawat di Rumah Sakit, selama itu pula Arthur setia menemaninya, tak sedetikpun ia meninggalkan Mala, semua pekerjaannya di ambil alih oleh Rafli, terkadang Rafli datang membawa berkas yang harus di tanda tangani oleh Arthur.
Dalam satu hari, hanya dua kali Arthur di perbolehkan untuk masuk ke dalam ruang perawatan Mala. Pagi ini Arthur kembali masuk ke ruangan Mala, ia mengenakan pakaian terusan berwarna hijau, masker serta penutup kepala. Arthur melangkahkan kakinya dengan pelan, ia menatap Mala dari dekat, hatinya kembali terisis melihat peralatan penunjang hidup yang terpasang di tubuh Mala.
Arthur hampir menangis, namun ia segera menahannya, Arthur tidak mau Mala melihatnya menangis, mulai sekarang ia harus kuat, ia yakin Mala akan segera sadar.
Arthur keluar dari ruangan itu dengan wajah lesu, di luar ruangan rupanya sudah ada Rafli, Lala, mama Wulan serta Lea, mereka semua akan menemani Mala karena siang nanti Mala akan di operasi.
Mala sangatlah beruntung karena ia tidak perlu menunggu antrian untuk melakukan Transplantasi, biasanya pasien yang melakukan cangkok hati harus menunggu satu hingga enam bulan sampai mereka mendapat pendonor yang cocok.
"Bagaimana Raf, kau menemukan pelakunya?" Tanya Arthur dengan ekspresi wajah yang sulit di artikan, kesedihan, rasa sakit dan amarah tergambar jelas di wajah tampannya.
"Belum. Saya berhasil melacak mobilnya, namun ternyata mobil sewa. Saya memeriksa rekaman dari mobil anda, ternyata mobil itu mengikuti kalian ke villa, dugaan saya kecelakaan ini sudah di rencanakan." Jelas Rafli seraya menunjukkan rekaman di ponselnya. Mobil Arthur terparkir tepat di depan restaurant dan menghadap arah jalan raya sehingga kamera pengawas di dalam mobilnya menangkap momen kecelakaan itu dan berbekal rekaman itulah Rafli menemukan petunjuk. Ia meminta rekaman CCTV di sekitar villa keluarga Arthur dan menemukan mobil yang sama berada di sana.
"Apa kamu memiliki musuh nak?" Tanya mama Wulan hati-hati.
"Entah ma, tapi Arthur tidak pernah punya masalah dengan orang lain." Jawab Arthur dengan suara parau.
"Atau mungkin saingan bisnis anda?" Tebak Lala.
Arthur menggeleng lemah, seajuh ini ia tak pernah bermasalah dengan pengusaha yang menjadi rivalnya.
CODE BLUE, CODE BLUE, CODE BLUE
AREA THREE, ICU ROOM
CODE BLUE, CODE BLUE, CODE BLUE
Semua orang terlihat panik setelah peringatan Code Blue menggema didalam Rumah Sakit, tiga orang Perawat dan dua Dokter berlari menuju ruangan ICU tempat Mala di rawat.
Arthur seakan menggila, meskipun ia awam akan tindakan medis namun Arthur tau jika Code Blue hanya akan berbunyi saat terjadi keadaan darurat pada pasien. Matanya mulai memerah, ia sangat frustasi saat Perawat melarangnya untuk masuk. Rafli dan mama Wulan menahan tangan Arthur dan mencoba menenangkannya. Arthur lepas kendali, katakutannya semakin nyata, bayangan saat Mala menutup matanya kembali terlintas dikepalanya.
"Apa yang harus aku lakukan." Ucapnya sambil terisak.
__ADS_1
Mama Wulan tak bisa menahan air matanya, ia belum pernah melihat Arthur sehancur ini. Mama Wulan memeluk Arthur, mencoba untuk menenangkan putranya.
"Tenanglah, doakan yang terbaik untuk Mala." Mama Wulan mengusap punggung Arthur dengan lembut, dalam hatinya ia terus berdoa untuk kesembuhan Mala.
Arthur mulai tenang, mereka menunggu di luar ruangan ICU dengan perasaan bercampur aduk. Cemas, khawatir, dan rasa takut kehilangan bercampur menjadi satu, mereka semua nampak gelisah, nampang bendungan air di mata masing-masing.
Dua puluh menit kemudian, para Perawat dan Dokter keluar dengan wajah tegang.
"Bagaimana kondisi Mala Dok?" Tanya Arthur dengan suara panik.
"Pasien sempat mengalami henti jantung. Untung saja pasien bisa melewatinya. Kondisinya stabil sekarang. Pendonor sudah bersiap untuk melakukan pencangkokkan, satu jam lagi pasien akan masuk ruang operasi. Berdoa saja agar kondisi seperti tadi tidak terulang lagi."
Dokter dan Perawat itu meninggalkan ruang ICU. Meskipun kondisi Mala sudah stabil namun ketakutan belum hilang dari kepala Arthur.
Satu jam kemudian Perawat kembali datan ke ruangan Mala, mereka mendorong brankar tidur Mala keluar dari ruang ICU menuju ruang operasi. Arthur dan yang lainnya mengikuti di belakang Perawat, langkah mereka pelan namun penuh ketakutan.
Pintu ruang operasi telah tertutup, sebuah lampu berpendar di atas pintu menandakan operasi sedang berlangsung. Operasi cangkok hati merupakan operasi besar yang memakan waktu enam hingga dua belas jam. Operasi Mala di lakukan oleh Tim Transplantasi hati yang pimpin langsung oleh seorang Profesor dalam bidang Bedah Digestif yang juga merupakan ketua tim transplantasi tersebut.
Arthur masih mondar-mandir di depan ruang operasi, mama Wulan dan Lea saling berpegang tangan sementara Rafli masih sibuk dengan pekerjaannya dan Lala dengan setiamenemani sang kekasih.
***
Sementara di rumahnya, bi Ningsih nampak cemas, bukan karena kondisi keponakannya, namun ia memikirkan harta warisan Mala yang akan di sumbangkan jika Mala meninggal dunia, padahal itu semua hanya karangan Lala.
Sofyan dan Rani duduk termenung seraya menatap wajah pias ibu mereka, merekapun mulai khawatir, bagaimana nasib mereka jika Mala benar-benar meninggal, sudah dapat di pastikan mereka harus bekerja keras atau mati kelaparan.
Keserakahan sudah menghilangkan rasa kemanusiaan mereka, saat Mala terbaring tak berdaya mereka justru sibuk memikirkan warisan, mereka tak sepantasnya di sebut keluarga.
***
Di belahan dunia lain, seorang laki-laki tua tengah duduk di atas kursi roda, tangan kirinya yang lumpuh bertumpu pada pahanya, sementara tangan kanannya sibuk membuka lembaran demi lembaran kertas yang berada di dalam map berwarna hitam.
Senyum meremehkan terbentuk diatas bibirnya yang tak simetris lagi, tatapan tajam kini tertuju pada seorang pemuda yang berdiri di hadapannya, banyaknya keriput di sekitar matanya menandakan ia tak lagi muda.
__ADS_1
"Menyingkirkan gadis kecil saja kau tidak bisa. Sungguh mengecewakan." Ucapnya lembut namun terdengar mengerikan.
"Maafkan saya tuan." Ucap pemuda itu sambil menunduk, ia tak mempunyai kekuatan untuk sekedar mengangkat kepalanya.
"Kau sungguh tidak berguna."
Pemuda itu bersimpuh, tangannya yang penuh dengan goresan tinta bergetar dengan hebat. Kalimat tak lagi berguna sama halnya dengan matilah kau, tentu saja kalimat tersebut membuat sang pemuda ketakutan.
"Ampuni saya tuan, saya akan meyingkirkan gadis itu dengan segera."
"Baiklah, tapi jika gagal tidak ada ampun bagimu."
Pria tua itu meninggalkan sang pemuda yang masih duduk bersimpuh, kursi roda yang di lengkapi dengan berbagai tombol membuat pria tua itu tak membutuhkan perawat.
"Dasar tidak berguna." Gumamnya lagi sebelum ia menghilang di balik pintu.
****
Malam telah larut, namun belum ada tanda-tanda operasi selesai. Mama Wulan dan Lea sudah kembali ke rumah, Arthur memaksanya untuk pulang mengingat kondisi mama Wulan yang terlihat kurang baik. Lala terlelap di bahu Rafli, energinya terkuras siang tadi saat mengerjakan skripsinya.
Arthur berulang kali memeriksa arlojinya, ia mulai cemas, perasaannya tak karuan. Seharian ini Arthur sama sekali tak mengisi perutnya, berulang kali Rafli menyuruhnya untuk makan namun ia selalu menolaknya. Bukan Arthru namanya jika ada yang bisa membantahnya, akhirnya Rafli hanya membelikan air mineral dan beberapa roti yang sampai saat ini tak di sentuh oleh Arthur.
Lampu padam, sesaat setelahnya seorang Dokter keluar dengan wajah lelahnya, bagimana tidak ia berada di dalam ruang operasi hampir sepuluh jam lamanya.
Arthur segera bangun dari duduknya dan menghampiri sang Dokter. Rafli membangunkan Lala, mereka menyusul Arthur menemui Dokter tersebut.
"Bagaimana operasinya Dok?" Tanya Arthur.
"Operasinya berjalan lancar, pasien tetap berada di ruang ICU sampai observasi selesai, operasinya memang berhasil, namun efek samping dari operasi tersebut perlu di waspadai, semoga tubuh pasien bisa menerima organ barunya." Jelas Dokter dengan tenang.
"Terimakasih banyak Dok."
Dokter tersebut kembali masuk ke dalam ruang operasi, tak berselang lama, Mala keluar dari ruang operasi. Matanya masih tertutup, wajah cantiknya memucat dan beberapa goresan masih tersisa di sisi wajahnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG