
Sebulan sudah pasca tuan Mahesa mengumumkan Mala sebagai putrinya dan selama itu pula mereka belum pernah bertemu lagi. Mala masih menutup hatinya untuk menerima tuan Mahesa, sementara itu sang ayah memilih menunggu, ia tak ingin memaksa Mala, ia ingin Mala mengakuinya atas keinginannya sendiri.
Hari ini Mala akan kembali bekerja, tentunya tidak lagi sebagai supir pribadi calon suaminya, setelah perdebatan panjang akhirnya Mala di perbolehkan bekerja namun hanya sebagai asisten pribadi Arthur.
Karena kondisi kesehatannya yang semakin baik, Mala kembali pada rutinitasnya yang sudah lama ia tinggalkan, Mala bangun pagi dan menyiapkan sarapan untuk mereka berdua, sementara untuk membersihkan rumah, Arthur telah mempekerjakan asisten rumah tangga setelah Mala keluar dari Rumah Sakit.
Sarapan telah siap, Mala meninggalkan dapur dan masuk ke dalam kamar Arthur untuk mandi, terkadang Mala merasa heran mengapa apartemen sebesar ini hanya memiliki satu kamar mandi? Jawabannya karena Arthur tidak pernah memikirkan akan memiliki seseorang yang tinggal bersamanya, bertemu Mala dan hidup bersama adalah sesuatu di luar rencananya.
"Kau sudah bangun?" Tanya Arthur dengan suara serak. Mala menghentikan langkahnya, ia berbalik dan mendapati Arthur masih rebahan di atas tempat tidurnya.
"Sudah, aku juga sudah membuat sarapan untuk kita. Aku mau mandi dulu, pagi ini aku sangat bersemangat. Aku sudah tidak sabar untuk pergi ke kantor."
Mala terlihat begitu bersemangat, ia lalu masuk ke dalam kamar mandi dan meninggalakan Arthur yang masih menatapnya dari atas tempat tidur.
Sepuluh menit kemudia Mala keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap, bukan tanpa alasan, Mala menghindari hal-hal yang tidak di inginkan, akhir-akhir ini Arthur terus saja menggodanya.
"Kamu ganti baju di kamar mandi?"Arthur nampak kecewa melihat penampilan Mala. Padahal tadi ia sempat membayangkan Mala keluar dari kamar mandi hanya menggunakan bathrobe atau handuk yang melilit tubuh kecilnya, namun harapannya pupus sudah, nyatanya Mala keluar dengan mengenakan midi skirt dengan model potongan lipatan di tengah, gadis itu juga memadukan inner kaos berwarna hitam dan di balut dengan blazer berwarna abu-abu senada dengan midi skirtnya.
"Kenapa wajah anda nampak kecewa tuan Arthur, apa yang anda harapkan?" Goda Mala seraya menahan tawanya.
"Aku berharap kau keluar tanpa sehelai benangpun yang menempel di tubuhmu." Bisik Arthur dengan suara menggoda, ia lalu melewati Mala dan masuk ke dalam kamar mandi.
"Dasar mesyummmm." Teriak Mala dan hanya terdengar tawa dari dalam kamar mandi.
***
Mala dan Arthur tengah menikmati sarapan mereka, seperti biasa masakan Mala tak pernah salah di lidah Arthur, pria itu menghabiskan sarapannya tanpa sisa.
"Sayang." Panggil Arthur setelah ia menghabiskan segelas susu hangat.
"Ya." Mala menjawab tanpa mengalihkan pandangannya, ia masih sibuk menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Kapan kita akan menikah?"
Uhuk..Uhukk..
Mala tersedak, untung saja makanan yang berada di dalam mulutnya tidak berhamburan. Melihat hal itu Arthur segera berdiri, ia menepuk punggung Mala dan memberinya segelas air putih.
"Pelan-pelan makannya!"
__ADS_1
Arthur kembali duduk saat Mala sudah mengatasi sedaknya, ia menatap Mala dan menunggu jawaban dari sang kekasih.
"Kenapa tidak di jawab? Kapan kita akan menikah? Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi"
Mala menyeka bibirnya dengan tisu, ia melipat tangannya di atas meja dan membalas tatapan Arthur. "Tunggu kuliahku selesai ya, dua bulan lagi aku kembali melanjutkan kuliahku, bukannya kamu juga ingin aku kembali melanjutkan pendidikanku?"
"Sayang satu tahun itu lama sekali, bagaimana kalau kita menikah sebelum kamu kembali ke kampus, setelah Lala dan Rafli menikah mari kita menikah juga."
Arthur masih belum menyerah untuk meyakinkan Mala, ia sungguh ingin segera menikahi kekasihnya, bukan tanpa alasan, imannya semakin lemah saat bersama dengan Mala, ia khawatir akan menerkam Mala dan memangsanya hidup-hidup.
"Ayo berangkat, nanti kita telat." Ucap Mala setelah memeriksa arloji di tangannya. Gadis itu lalu berdiri dan meninggalkan meja makan, ia kembali ke kamarnya untuk mengambil tas kerjanya.
Sementara Arthur masih terdiam di kursinya. "Haruskah aku menghamilimu dulu." Batin Arthur seraya mengulas senyum mesyum di wajahnya.
***
Sementara di apartemen lantai 11, suster Hanum tengah menyuapi pak Karto dengan bubur yang di belinya di lantai bawah. kondisi kesehatan pak Karto sudah lebih baik, kesehatan mentalnya juga mulai stabil, Pak Karto sudah jarang sekali mengamuk, terkadang pria tua itu menceritakan tentang anaknya kepada para perawatnya, ya meskipun ceritanya masih ngalor-ngidul nggak jelas namun setidaknya ada kemajuan pada pak Karto.
Pagi ini Dokter Sheila juga datang berkunjung, ia memperhatikan suster Hanum yang sangat telaten merawat pak Karto.
"Bagaimana kondisinya sus? Tanya Dokter Sheila.
"Anu Dok." Suster Hanum nampak ragu melanjutkan perkataannya.
"Katakan saja."
"Pak Karto selalu menyebut kangguru dan bayi Kangguru, kira-kira apakah tuan Arthur akan memberi izin jika saya mengajak pak Karto melihat Kangguru di kebun binatang?" Suster Hanum akhirnya mengutarakan maksudnya, ia berfikir jika pak Karto ingin melihat Kangguru.
Dokter Sheila menggaruk lehernya yang tidak gatal, ia juga ragu tentang rencana suster Hanum. "Saya juga tidak tau, namun saya rasa bukan hal yang baik membawa pak Karto ke kebun binatang, bagaimana kalau pak Karto ngamuk di sana?"
"Iya juga si." Gumam suster Hanum.
"Bagaimana kalau lihat Kanggurunya di televisi saja, suster Hanum mencari vidio Kangguru di Yutub." Saran Dokter Sheila.
Mendengar kata Kangguru membuat mata pak Karto berbinar seolah menemukan harta karun. "Kangguru, saya mau melihat kangguru saya, anak kangguru saya." Oceh pak Karto
Dokter Sheila dan suster Hanum lantas membawa pak Karto keluar dari kamarnya. Mereka mendudukkan pak Karto di sofa yang berada di ruang tengah, Dokter Sheila lalu menyalakan televisi dan mengghubungkannya dengan Yutube.
Vidio puluhan Kangguru kini mulai berputar di layar raksasa yang ada di ruangan itu, namun sepertinya pak Karto kurang menyukainya membuat dua tenanga media itu kebingungan.
__ADS_1
"Kenapa kek, kakek tidak menyukainya?" Tanya suster Hanum dengan sabar.
"Saya mau Kangguru saya, anak Kangguru saya."
Pak Karto berdiri dari duduknya, pria tua itu lalu kembali ke kamarnya dengan wajah murung.
"Tidak mungkin saya membawa Kangguru ke apartemen ini kan Dok?"
Dokter Sheila hanya terkekeh mendengar pertanyaan suster Hanum, ia tak habis fikir jika suster Hanum terfikirkan untuk membawa Kangguru ke dalam apartemen.
***
Kebahagiaan tergambar jelas di wajah kedua calon pengantin. Selang sebulan lagi mereka akan menjadi sepasang suami istri. Semakin hari Rafli semakin perhatian kepada Lala, sebelum berangkat bekerja ia menyempatkan untuk mengantarkan Lala ke kampus.
"Pagi. Nggak mau masuk dulu kak?" Sapa Lala saat ia sudah berada di dalam mobil Rafli.
Kak, ya itulah panggilan sayang Lala terhadap Rafli, setelah perbincangan panjang akhirnga Rafli memilih kakak sebagai panggilan sayangnya dari pada mas, abang dan Asisten Rafli.
"Nanti kita terlambat, lain kali kakak mampir."
Rafli lalu melajukan mobilnya meninggalkan komplek perumahan Lala. Di sepanjang jalan Lala hanya diam, keringat dingin menetes di dahinya padahal AC mobil menyala, wajahnya juga mulai pucat.
"Kamu sakit, kita ke dokter dulu ya!"
"Nggak usah, aku cuma kecapean aja." Tolak Lala.
Gadis itu memegangi perutnya yang terasa bergejolak, sarapan yang ia makan semakin terdorong ke atas, gadis itu merasakan mual dan ingin muntah.
"Hentikan mobilnya, aku mau muntah."
Ciiit..
Rafli menepikan mobilnya, Lala bergegas keluar dari mobil dan memuntahkan semua isi perutnya. Rafli menyusul Lala keluar, melihat Lala muntah-muntah lalu Rafli memijat leher calon istrinya
"La, apa kamu sudah menstruasi?" Tanya Rafli dengan sedikit ragu. Wajahnya tanpak menegang.
Lala hanya menggeleng lemah, bulan ini ia belum mendapatkan menstruasinya.
"Apa kamu hamil?"
__ADS_1
BERSAMBUNG..