
"Hey gadis gila, kau ingin dipatok ular, malam-malam begini berada didekat rumah kosong."
"Tuan Arthur." Tebak Mala, karena hanya Arthurlah yang selalu memanggilnya gadis gila.
"Ya ini aku." Jawab Arthur begitu mereka sudah saling berhadapan.
Mala menghembuskan nafas penuh kelegaan, dia membuang batu yang ada ditangannya, Mala merasa aman karena Arthur yang kini berada didepannya
"Kau mau uji nyali disini?" Tanya Arthur, dia penasaran kenapa Mala bisa berada rumah kosong ini.
Mala menarik nafas panjang, dia menoleh kearah rumahnya yang sudah tidak layak huni itu. "Aku hanya ingin melihat rumah lamaku." Ujar Mala sedih.
"Kau disusir?" Tebak Arthur. Mala menatap Arthur penuh tanya. "Dari mana aku tau?" Imbuh Arthur menebak arti tatapan Mala.
"Apa dia juga dukun, kenapa bisa menebak isi kepalaku." Batin Mala.
"Lihat ransel besarmu itu, semua orang yang melihatmu pasti tau kalau kau pasti habis diusir dan menjadi gelandangan."
Mala hanya diam mendengar penuturan Arthur. Mata gadis itu mulai berkaca-kaca begitu mengingat kata gelandangan, kini Mala hanya seorang diri, tak memiliki uang dan tempat tinggal, hidupnya benar-benar menyedihkan.
"Masuk." Seru Arthur seraya membuka pintu mobilnya.
Mala menurut dan masuk kedalam mobil milik atasannya, dia tidak punya tenaga untuk menolak Arthur, mungkin lebih tepatnya dia mencari perlindungan didalam mobil Arthur.
Arthur menyalakan mobilnya dan meninggalkan tempat itu. Mala tak banyak bertanya, dia seperti sudah pasrah kemanapun Arthur akan membawanya pergi, bahkan jika Arthur akan membuangnya kelaut Mala akan mensyukuri itu. Gadis itu mulai patah arah, Mala merasa hidup tak memihak kepadanya dan Tuhan terus menerus memberinya cobaan yang sulit.
"Kita dimana tuan?" Tanya Mala begitu mobil Arthur memasuki basement apartemen.
"Kau linglung atau bagaiman, bukannya kau pernah kesini." Jawab Arthur dingin, kata hinaan sepertinya sudah menempel dimulutnya.
Mala mencoba mengingat lagi, dia terkejut saat tau Arthur membawanya keapartemen milik Arthur.
"Ikut aku, ada yang ingin aku bicarakan padamu."
__ADS_1
Mala hanya mengangguk dan mengikuti Arthur dibelakangnya, mereka naik kelantai paling atas dimana unit mewah Arthur berada disana.
"Masuk." Titah Arthur begitu mereka sampai didepan pintu apartemen Arthur.
Mala hanya mengangguk dan mengikuti tuannya masuk kedalam apartemen. Mala terpesona melihat desain interior apartemen Arthur, sebelumnya saat datang kesini dia hanya menunduk sehingga dia tidak sempat memperhatikan isi apartemen mewah ini.
Arthur berjalan menuju dapur dan tanpa disuruh Mala segera mengikutinya..Arthur membuka kulkas dan mengeluarkan dua botol air mineral, dia memberikan salah satu botol itu kepada Mala. Mala segera meraih botol itu lalu meminumnya sampai habis, dia kehausan setelah berjalan lumayan jauh dari rumah bibinya menuju rumah lamanya.
"Kau bisa tinggal disini."
"Uhuk Uhukk." Mala tersedak begitu mendengar ucapan Arthur.
"Jangan salah paham, maksudku kau boleh tinggal disini dan bekerja sebagai asisten rumah tanggaku."
"Tapi saya sudah bekerja di Art Life tuan."
"Sebelum berangkat kau bisa membersihkan rumahku dulu, sepulang dari Art Life kau bisa melanjutkannya. Aku tau kau tidak punya uang untuk mengontrak sebuah rumah."
"Ya sudah kalau tidak mau, keluar dari rumahku sekarang." Tegas Arthur, dia berlalu dan membuka pintu apartemennya.
Mala melirik jam ditangannya, sudah jam 10 malam, dia tidak tau harus kemana, ditambah lagi dia tidak memiliki uang sepeserpun.
"Saya bersedia tuan?" Pekik Mala sebelum Arthur berubah fikiran. Sekarang yang terpenting dia memiliki tempat berteduh, masalah bertemu Petra akan dia fikirkan selanjutnya.
Tanpa Mala sadari Arthur menyunggingkan senyumnya, pria berkacamata itu berhasil menangkap buruannya, sebenarnya menjadikan Mala sebagai pembantu diapartemennya hanyalah alasan baginya, Arthur hanya ingin mencari tau kenapa gadis itu terus memancing kemunculan kepribadiannya yang lain, dengan mereka tinggal bersama Arthur berharap dia bisa menemukan penyebabnya.
Arthur menutup kembali pintunya, dia memasukan tangan kirinya kedalam saku celananya, dia berjalan menuju sebuah ruangan dan tangan kanannya memberi kode kepada Mala untuk mengikutinya.
"Kau bisa tidur disini." Ucap Arthur begitu mereka masuk kedalam ruangan itu.
Mala kembali tertegun melihat ruangan itu, sebuah kamar yang tidak terlalu besar dan didominasi dengan warna merah muda, Mala menatap tempat tidur berukuran kecil dengan sprei berwarna pink dan bermotif hello kitty.
Jejeran boneka berwarna merah muda memenuhi sudut ruangan itu, tapi yang menarik perhatiannya justru sebuah boneka Kangguru dengan anak didalam kantungnya. Mala berjalan mendekati boneka Kangguru berwarna cokelat muda itu, tangannya terulur kearah boneka itu namun Arthur menahan tangannya sebelum sempat menyentuh boneka itu.
__ADS_1
"Jangan sentuh, itu boneka kesayangan Ara, dia bisa marah jika bonekanya disentuh oleh orang lain?"
"Ara?" Tanya Mala kebingungan.
"Hem, dia salah satu kepribadianku, namanya Ara, usianya 6 tahun dan dia pemilik kamar ini." Jelas Arthur dan menjawab semua rasa penasaran Mala mengenai kamar serba merah muda ini.
"Istirahatlah." Ucap Arthur dingin.
"Terimakasih tuan."
Arthur keluar dari kamar itu, Mala segera menutup pintu dan menguncinya untuk berjaga-jaga, dia khawatir Petra akan muncul dan mengganggunya lagi. Mala melepaskan ransel dari punggungnya, dia berjalan mendekati tempat tidur dan membaringkan tubuh lelahnya disana. Saking lelahnya Mala tidak sadar jika ia terlelap tidur dikamar yang masih asing banginya.
***
Mala terbangun karena perutnya terus berbunyi, dia baru ingat jika belum makan sejak kemarin. Mala memeriksa jamnya, sudah dini hari dan kemana dia harus mencari makan. Mala keluar dari kamar dan menuju dapur, berharap menemukan sesuatu yang bisa mengganjal perutnya.
Mala membuang nafas kasar karena tak menemukan apapun didalam kulkas Arthur. "Percumah saja ukuranmu begitu besar, tapi tidak ada isinya." Ucap Mala sambil menunjuk kulkas yang ukurannya hampir sama dengan lemari baju.
Mala memegangi perutnya yang sedang berdemo itu, Mala membuka setiap laci penyimpanan didapur, namun nihil dia tak menemukan apapun. Mala menyerah, dia mengambil air dari dalam kulkas, gadis itu duduk dilantai dan meminumnya.
"Siapa disana."
Mala menggigit bibir bawahnya, dia khawatir Arthur akan marah jika melihatnya mengambil minum tanpa izin. Dengan hati-hati Mala berdiri, dia terkejut melihat Arthur sudah berdiri didekatnya. Mala kesusahan menelan salivanya, bukan karena takut akan dimarahi Arthur tapi karena dia terpukau dengan penampilan Arthur yang terlihat sangat mempesona tanpa menggunakan setelan jas ditubuhnya.
"Mala, ini benar-benar kamu."
"Rey."
BERSAMBUNG...
__ADS_1