
"Bisa bibi ceritakan apa yang terjadi?" Pinta Arthur dengan suara yang hangat, Mala menoleh sekilas, ia melihat sisi baru dari dalam diri Arthur. Hangat, dia adalah seseorang yang hangat, lukanya di masa lalu membuatnya bersikap dingin dan acuh kepada orang lain.
Bi Narti nampak sedang mengingat-ingat, wajar saja kejadian itu sudah lima belas tahun berlalu, belum lagi usia bi Narti yang sudah tidak muda lagi membuatnya sedikit sulit untuk mengingat masa lalu.
"Waktu itu Tuan Raymon datang bersama nyonya besar dan tuan muda, mereka juga kedatangan tamu, sepasang suami istri dan anak gadisnya yang akan merayakan ulangtahun di Villa ini, menurut beberapa pelayan, pasangan suami istri itu merupakan sahabat serta rekan bisnis Tuan Raymon. Ndoro Sepuh juga turut hadir saat itu tuan." jelas bi Narti.
"Opa?" Tanya Arthur memastikan.
"Iya tuan."
Mala menatap bi Narti dan Arthur bergantian, ia belum pernah mendengar tentang Ndoro Sepuh sepuh sebelumnya, apakah dia kakek Arthur, batin Mala.
"Lalu apa yang terjadi bi?" Mala kembali bertanya, dia tak berniat mencari tau siapa itu Ndoro Sepuh.
"Bibi juga kurang tau non, acara ulang tahun sudah selesai, Tuan Raymon beserta tamunya sedang berada di ruang kerja, mungkin mereka sedang membahas pekerjaan. Kejadiannya sangat cepat, tiba-tiba saja kebakaran itu terjadi. Tapi yang membuat bibi heran, hanya ruang kerja saja yang habis terbakar, pintunya juga terkunci sehingga yang berada di dalam tidak bisa keluar untuk menyelamatkan diri."
Mata Mala mulai berkaca-kaca, meskipun belum jelas jika orang tuanya yang berada di dalam sana, namun Mala tetap merasakan kepedihan. Mala menoleh ke arah Arthur, pria itu mulai berkeringat dingin, Mala tau jika Arthur mulai gelisah, Mala lalu meraih salah satu tangan Arthur dan menggenggamnya, memberikan sedikit kekuatan agar Arthur bisa melawan traumanya.
"Bi apakah Tuan Arthur memiliki saudara perempuan?" Tanya Mala.
Bi Narti nampak terkejut dengan pertanyaan Mala, ia melirik Arthur sekilas lalu kembali menatap Mala. "Ti..ti..dak, Tuan Muda adalah satu-satunya putra Tuan Raymon." Jawab Bi Narti gugup, seakan-akan dia mengetahui sesuatu yang tak boleh di ketahui oleh orang lain.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Kini Arthur yang bertanya kepada Mala.
"Kata bi Ningsih, anak yang selamat bersama saya adalah seorang gadis juga, jadi saya fikir mungkin anda memiliki saudara perempuan."
"Saya permisi ke belakang dulu tuan, panggil saja kalau butuh sesuatu."
Bi Narti bergegas pergi ke belakang, ia takut akan mengatakan hal yang tak semestinya ia ucapkan. Sambil berjalan ia terus mengusap dadanya, jantungnya bergemuruh saat Mala menanyakan tentang saudara perempuan Arthur.
Mala menghela nafas berat, kedatangannya kemari tak memberi jawaban, apakah benar orang tuanya meninggal di Villa ini atau tidak? Mala menoleh ke arah Arthur, dia baru sadar jika tangannya belum ia lepaskan dari tangan Arthur, gadis itu cepat-cepat melepaskan tangannya, tiba-tiba saja Mala menjadi salah tingkah.
Setelah berbagai cara membujur Arthur, akhirnya Mala berhasil mengajak Arthur untuk berkeliling Villa meski pada akhirnya tangannya harus menggandeng tangan Arthur dengan erat. Mereka menuju halaman belakang Villa tersebut, Mala membulatkan mulutnya saat melihat berbagai macam bunga tumbuh dan berkembang di halaman belakang, perhatiannya terarah pada bunga Krisan yang di tanam sejajar dan memanjang, terdapat beberapa baris bunga dengan warna yang berbeda, sungguh pemandangan yang menyejukkan mata.
"Cantik." Puji Arthur ketika melihat bunga-bunga tersebut.
"Hemm, mereka sangat cantik." Timpal Mala tanpa mengalihkan pandangannya dari bunga-bunga yang beraneka warna.
"Maksudku kamu yang cantik."Goda Arthur.
Mala menoleh, saat itu pula Arhur tengah menatapnya, pandangan mereka saling beradu, perasaan ingin segera memiliki terlihat jelas di iris mata Arthur.
__ADS_1
"Saya memang cantik sejak dulu." Jawab Mala percaya diri, ia lalu membuang mukanya ke arah lain sebelum Arthur menyadari jika wajahnya mulai merona.
"Sejak kapan kepercayaan dirimu tumbuh La?" Tanya Arthur menggoda.
"Sejak saya bekerja dengan anda tuan, berkat anda saya jadi memiliki banyak kemampuan, saya mulai bisa berakting, tingkat kepercayaan diri saya semakin meningkat dan yang lebih luar biasa lagi saya jadi hobi mengumpat sekarang." Jawab Mala seakan tengah menyindir Arthur secara halus.
"Dasar bodoh, kau buta, kau tuli, dasar tidak berguna, kau di pecat." Ucap Mala dengan suara di buat-buat, dia sengaja meniru ucapan kasar Arthur yang pernah di tujukan kepadanya.
"Kenapa kamu malah membahas masa lalu, aku tak pernah memakimu lagi sekarang." Protes Arthur tak terima.
"Saya sedang menunjukan bakat baru saya tuan." Ucap Mala, ia lalu berjalan menuju kolam renang yang berada di sisi lain Villa. Kolam renang yang cukup besar dan airnya terlihat jernih, sayang sekali Mala tak bisa berenang.
Arthur mengejar Mala, ia tak rela tangannya di lepaskan begitu saja. "Kamu mau berenang?"Tanya Arthur begitu ia mensejajari langkah Mala.
"Renang gaya batu." Jawab Mala ketus.
"Ah, kamu nggak bisa renang ya, maaf, maaf aku lupa. Biar aku ajari ya?"
Mala menghentikan langkahnya, ia belum sempat menjawab pertanyaan Arthur, namun Arthur lebih dulu memeluknya dan membawanya masuk kedalam air.
Kyaaa, Mala berteriak saat tubuhnya terjun bebas masuk kedalam kolam renang, saat kepala mereka terangkat ke permukaan, kesempatan itu Mala gunakan untuk memukul bahu Arthur sekeras-kerasnya, ia sangat jengkel kepada Arthur.
"Aku juga sudah bilang akan mengajarimu berenang."
"Aku belum menyetujuinya. Dasar jahat."
Arthur hanya tersenyum mendengar ucapan Mala, wajah kesal Mala justru membuatnya gemas. Dengan hati-hati Arthur membawa Mala ke tepi kolam, ia lalu mengangkat tubuh Mala keluar dari dalam kolam. Mala duduk di bibir kolam, kakinya masih menjuntai kedalam air, semantara Arthur masih berada didalam kolam, ia memegangi kaki Mala sambil menatap gadisnya yang masih marah.
"Mala." Panggil Arthur.
"Apa." Jawab Mala ketus.
"Bajumu menerawang, aku bisa melihat sesuatu yang ada di dalam sana." Ucap Arthur tanpa dosa, ia bahkan mengerakan kedua alisnya naik turun.
Mala menunduk, ia segera menyilangkan kedua tangannya di dada, kemeja putih yang ia pakai melekat pada kulitnya, menampilkan br*a berwarna hitam di baliknya.
"Jangan lihat, dasar mesyumm." Teriak Mala lalu ia berlari masuk ke dalam Villa dan mencari bi Narti.
Arthur terkekeh, namun detik berikutnya ia segera keluar dari air dan menyusul Mala, Arthur lupa jika mereka sedang berada di Villa yang selama ini paling ia hindari.
"Bi apa ada pakaian wanita di Villa ini?" Tanya Mala pada bi Narti.
__ADS_1
"Ada non, tapi saya tidak yakin jika akan cocok di pakai oleh non." Jawab Bi Narti seraya mengamati tubuh Mala yang basah
"Tidak apa bi, asal bisa saya pakai, saya tidak bawa baju ganti." ucap Mala dengan bibir yang mulai gemetar, hawa dingin puncak dan dinginnya air kolam membuat Mala menggigil.
"Ikut saya non."
Mala mengikuti bi Narti menuju kamar yang berada di belakang Villa, bi Narti membuka kamar itu dan menyuruh Mala untuk masuk. Bi Narti segera membuka lemari dua pintu yang berada di kamar tersebut. Mala tak berkedip saat melihat isi lemari tersebut, kedua sisi lemari itu berisi baju-baju yang tak asing bagi Mala, dres bermotif polkadot dengan berbagai warna tersusun rapi didalam lemari tersebut.
"Miss Kimberly." Seru Arthur dari arah belakang, ia memang mengikuti Mala dan bi Narti.
Mala menoleh sejenak, namun ia kembali menatap baju-baju yang berada di dalam lemari itu, ia mendekat dan memeriksa satu per satu baju yang di gantung. Mala tertegun, semua baju itu sama persis dengan milik miss Kimberly.
"Sama persis." Ucap Mala seraya menoleh ke arah Arthur, ia menunjukan dres bermotif polkadot yang di ambilnya dari lemari.
"Siapa pemilik baju-baju ini bi?" Tanya Arthur.
"Semua baju ini milik mendiang nyonya Lidya. Tuan Raymon menyuruh saya untuk membakarnya, namun saya menyimpannya karena tidak tega untuk menyimpannya." Jelas bi Narti, ia lalu keluar dari kamar itu meninggalkan Arthur dan Mala.
"Apa mungkin kepribadian miss Kimberly ada sangkut pautnya dengan mamy anda?"
Arthur mengangkat kedua bahunya, kenangannya bersama mamy-nya pun hanya samar-samar, ia melupakan segala hal setelah kebakaran itu, sama persis dengan apa yang Mala alami, mereka tak mengingat masa kecil mereka.
"Ganti bajumu, kita pulang sekarang." Ujar Arthur, lalu dia keluar dari kamar itu.
Setelah Arthur pergi, Mala memilih dres yang menurutnya paling cocok, ia segera berganti pakaian dan pulang, Mala mulai merasa khawatir, takut Arthur akan berubah saat mereka masih berada di Villa.
Mala keluar dari Villa itu dengan membawa paper bag berisi baju basahnya, di luar Villa Arthur sudah menunggu bersama bi Narti.
"Apa tidak mau menginap tuan?" Tanya bi Narti.
"Tidak bi, besok saya harus bekerja."Tolak Arthur, dia hanya belum siap untuk bermalam di tempat itu.
"Kami pulang bi, terimakasih untuk bantuannya." Pamit Mala, lalu ia memutari mobil dan masuk ke dalamnya.
Begitupun Arthur, dia ia pamit kepada bi Narti dan masuk ke dalam mobilnya. Saat Arthur akan menutup pintu mobil, tiba-tiba bi Narti memberi pesan kepadanya.
"Tuan muda, lebih baik tidak mengingat masa lalu lagi, bibi yakin hidup tuan muda lebih mudah dari pada mengingat semuanya."
Arthur hanya mengangguk, tapi pesan bi Narti malah membuatnya semakin penasaran. Apa sebenarnya yang dia lupakan, kenangan menyakitkan apa yang tak boleh ia ingat.
BERSAMBUNG...
__ADS_1