My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 137 Seekor anjing gila


__ADS_3

"Kau." Pekik Marsel dengan suara tercekat. Ia tak percaya dengan apa yang di lihatnya, seorang gadis cantik bertubuh mungil berdiri sambil bersedakap dan menyeringai saat menatapnya. Gadis yang pernah di temuinya beberapa kali itu nampak begitu berbeda, gadis itu mengenakan jeans berwarna hitam, kaos hitam serta jaket kulit berwarna senada, bibirnya yang mungil di poles dengan lipstik warna merah menyala, matanya melebar memancarkan dendam di dalamnya.


"Kenapa lo lama banget si." Gerutu pemuda bertato naga itu.


Gadis itu hanya diam, ia tak memperdulikan ocehan pemuda itu, ia fokus terhadap Marsel, tatapannya terlihat begitu mengerikan seakan-akan ia baru saja menangkap hewan buruannya dan akan segera memanggangnya.


"Apa yang kau lakukan nona?" Tanya Marsel dengan wajah menegang.


"Aku." Gadis itu menunjuk dirinya sendiri. "Tentu saja aku ingin membalas perbuatanmu Marsel, aku fikir kau akan di penjara, tapi setelah melihatmu bebas berkeliaran aku berfikir ulang, bagaimana jika aku saja yang memberikan hukuman untukmu." Lanjutnya, gadis itu kembali menyeringai.


"Aku tak menyangka jika kau tak sepolos yang ku kira, kau memang pantas menjadi menantu keluarga Bagaskara." Ujar Marsel dengan tatapan menghina.


Gadis itu nampak murka mendengar ejekan Marsel, ia melewati pemuda yang masih duduk di kursinya dan berdiri tepat di hadapan Marsel.


"Marsel, untuk menghadapi binatang seperti kalian aku juga harus memainkan peran sebagai binatang pula, aku rela menjadi anjing gila demi menggigit kalian satu persatu."


"Kalian? Apa maksudmu dengan kalian nona Nadraswara?"


"Wah, jadi benar, kau rupanya yang memberikan rekaman CCTV itu kepada ayahku." Ucap gadis itu seraya bertepuk tangan.


"Ah ya, tadi kau bertanya tentang arti kalian kan? Bukankah sudah jelas, kalian yang aku maksud adalah kau, tuan Bagaskara dan pelaku asli yang membakar villa di puncak."


"Namun sebelum itu,.sepertinya aku harus membalas perbuatanmu terlebih dahulu."


Gadis itu berhenti sejenak, ia berputar dan menatap pemuda yang masih duduk di depannya. "Mana pisau yang aku minta kak Sofyan." Ucap gadis itu seraya mengadahkan tangannya di udara.


Pemuda bernama Sofyan itu mengeryitkan dahinya, dengan ragu ia mengeluarkan pisau yang ia simpan di balik celana jeansnya. "Mala, apa kau yakin?" Ujarnya seraya menatap sepupunya.


Mala, gadis tersebut adalah Mala, ia sengaja meminta bantuan Sofyan untuk mencari dimana Marsel berada. Kini ketika Marsel sudah berada di depan matanya, ia berniat untuk membalas dendam kepada pria itu. Amarah yang meluap membuat gadis cantik yang begitu baik hati itu seolah tertutup mata hatinya, melihat pria yang di cintainya hampir saja bunuh diri membuatnya semakin kesakitan dan menggila, ia berjanji akan menemukan pelaku pembakaran villa itu, dan jalan tersebut akan terbuka jika gadis itu memegang kuncinya, Marsel.


Mala meraih pisau tersebut, ia kembali berbalik dan mengacungkan pisau itu tepat di depan salah satu mata Marsel, pria itu bergeming, aura membunuh yang terpancar dari sorot mata Mala membuat nyalinya mengkerut, ia kembali teringat saat Petra melukai wajahnya secara membabi buta.


"Sepertinya calon suamiku sudah mewakiliku menggores wajahmu." Ucap Mala seraya memperhatiakan bekas luka gores yang memenuhi wajah Marsel.

__ADS_1


"Tak apa, aku bisa menambahkan goresan di bagian wajah yang masih kosong."


Mala nampaknya serius dengan ucapannya, ia menempelkan pisau dengan ujung yang runcing dan sanggat tajam itu di pipi Marsel, hawa dingin dari badan pisau membuat Marsel menggigil dan mengeluarkan keringat dingin.


"Apa yang kau lakukan nona?" Ucap Marsel dengan mulut bergetar.


Mala tak menggubrisnya, rasa sakitnya telah menutupi akal sehatnya, bak orang yang kerasukan, Mala mulai menggores wajah Marsel dengan ujung pisau yang lumayan runcing itu. Marsel meringis menahan sakit bersamaan dengan darah segar yang keluar dari luka di wajahnya yang lumayan dalam.


"Ma.la..Mala, apa yang lo lakuin?" Sofyan terkejut melihat sepupunya menyakiti orang lain, selama ini ia menganggap Mala adalah gadis yang lemah, ia tak percaya jika Mala kini berani melukai seseorang, dan tindakan itu membuat tubuh Sofyan bergetar hebat.


"Diam kak, apa kakak ingin merasakannya juga." Ucap Mala tanpa menoleh kebelakang di mana Sofyan berada.


Sofyan bungkam seketika, ia kembali memperhatikan Mala yang tengah menggores wajah Marsel tanpa perasaan. Sofyan bergidik ngeri melihat wajah Marsel yang berlumuran darah.


"Karena aku berbaik hati maka aku akan menghentikan ini. Bagaimana, apakah sakit?" Tanya Mala, ia memperhatikan sisa darah di ujung pisaunya.


"Apa maumu nona?" Ucap Marsel, wajahnya terasa sangat perih membuatnya sedikit terbata saat berbicara.


"Kenapa kau tidak tanya dari awal apa mauku." Mala kembali menyeringai, sungguh gadis baik hati itu tak tertolong lagi.


"Ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi saat kebakaran di villa, kau pasti tau semuanya kan karena kau mantan orang terpercaya tuan Bagaskara."


Marsel menggeleng dengan cepat. "A..aku tidak tau, aku tidak tau apa-apa, aku hanya tau jika kebakaran itu di lakukan oleh tuan muda Arthur." Kilah Marsel dengan suara bergetar.


Mendengar nama Arthur di sebut dari mulut kotor Marsel membuat Mala semakin meradang, ia hampir saja menancapkan pisau di salah satu mata Marsel, untung saja Sofyan menahan tangannya sehingga tangan mungil itu tak kembali melukai orang lain.


"Mala, lo jangan gila, kita bisa di penjara." Pekik Sofyan masih dengan menahan pergelangan tangan Mala.


Gadis itu diam sejenak, ia mencoba menetralkan emosinya yang meluap, setelah ia merasa tenang ia melepaskan cekalan tangan Sofyan di pergelangan tangannya.


Mala meletakan pisaunya tepat di paha Marsel, ia lalu mengeluarkan sesuatu dari balik jaket kulitnya, sebuah boneka beruang berukuran kecil membuat bola mata Marsel mebulat sempurna.


"Kau yakin tidak tau apapun Marsel? Ah boneka yang lucu sama seperti pemiliknya. Siapa namanya kak , aku lupa?" Ucap Mala seraya melirik Sofyan.

__ADS_1


"Michele." Jawab Sofyan singkat.


Mala kembali meraih pisaunya lagi, ia menyeka bekas darah Marsel pada bulu boneka beruang berwarna cream itu sehingga meninggalkan bekas di antara bulu-bulu halusnya..Boneka yang awalnya begitu manis berubah bak boneka terkutuk di dalam film horor.


"Kak Sofyan, dari mana kamu mendapatkan boneka ini." Tanya Mala seraya menempelkan pisaunya di perut boneka beruang itu.


"Tk Pertiwi."


"Apa aku perlu menjemput Michele agar kau bicara padaku?"


Marsel masih bungkam, ia tak menyangka gadis itu bisa menemukan putrinya, padahal selama ini ia menutup rapat anggota keluarganya, bahkan tuan Bagaskara sendiripun tak tau jika ia sudah menikah dan memiliki seorang putri bernama Michele.


"Kak, jemput Michele sekarang, bawa anak itu kemari."


"Oke." Jawan Sofyan penuh semangat, ia sudah membayangkan harta warisan Mala yang akan di berikan kepadanya, untuk itu ia menuruti segala perintah Mala. Dengan senyum licik, Sofyan beranjak dari tempat itu, namum sebelum ia sempat keluar, Marsel lebih dulu menahannya.


"Tunggu, aku mohon jangan sakiti putriku. Baiklah aku akan berbicara padaku, semua yang aku tau aku akan mengatakannya padamu." Pita Marsel dengan memohon.


"Tunggu kak." Mala memanggil Sofyan agar pemuda itu kembali duduk.


"Katakan." Ucap Mala, ia masih memainkan pisau di tubuh boneka beruang kecil.


"Aku tidak tau jelasnya, tapi tuan Bagaskara pernah menyuruhku mencari seorang pria, dia bilang pria itu mantan pelayannya dan yang telah membakar villa itu. Aku yakin pria tua itulah dalangnya, dia adalah orang yang licik dan tak mau di salahkan."


"Pelayan pria? Lalu apa kau menemukan pria itu?"


"Aku menemukannya. Aku akan memberitahumu, tapi berjanjilah rahasiakan identitas anak dan istriku, aku mohon nona."


"Baiklah, aku janji asal kau tak mempermainkanku."


"Datanglah ke perusahaan pusat ayahmu nona, cari seorang cleaning service bernama pak Darman."


"Pak Darman....

__ADS_1


BERSAMBUNG..


__ADS_2