
Satu jam telah berlalu namun Rafli tak kunjung tiba di kantor, padahal jarak apartemen Arthur dan kantor mereka tidaklah jauh, jika terkena macet paling telat 40 menit sudah sampai. Arthur menunggu Rafli dengan perasaan gelisah, tiba-tiba ia merasa khawatir dengan sahabatnya itu. Arthur mondar-mandir di dalam ruangannya, sesekali ia juga memeriksa arloji di tangannya, sementara itu Mala duduk di atas sofa dan memperhatikan gerak-gerik sang kekasih.
"Sayang, aku pusing melihatmu mondar-mandir seperti setrikaan. Duduk sini." Ucap Mala seraya menepuk sofa di sebelahnya.
Arthur menghentikan langkahnya, ia menatap sang kekasih sekilas, lalu ia menuruti perintah Mala dan duduk di sebelahnya.
"Kenapa Rafli lama sekali." Ucap Arthur, pria berlesung pipi itu kembali menatap arlojinya.
"Mungkin Asisten Rafli kejebak macet, ini kan jam pulang kantor." Ucap Mala mencoba menenangkan sang kekasih.
"Udah satu jam sayang, nggak biasanya dia telat kaya gini, nomernya juga nggak bisa di hubungi."
"Kita tunggu sepuluh menit lagi, kalau Asisten Rafli belum juga sampai kita pulang saja, siapa tau nanti papasan di jalan."
Arthur mengangguk mengiyakan saran kekasihnya, namun perasaannya tetap saja tidak karuan, Rafli bukanlah tipikal orang ceroboh yang lupa mengisi daya ponselnya, sepuluh tahun lebih bersahabat baru kali ini Arthur mendapati ponsel Rafli tak bisa di hubungi.
Sepuluh menit telah berlalu namun Rafli belum juga menampakan batang hidungnya, Arthur semakin resah, berkali-kali ia mencoba menghubungi ponsel Rafli lagi, namun hasilnya tetap sama ponselnya tak bisa di hubungi.
"Kita pulang sekarang." Arthur tak bisa lagi menunggu, ia bangkit dari duduknya lalu keluar dari ruangan, ia harus segera mencari keberadaan Rafli.
Mala mengikuti Arthur seraya berlari, langkah kaki Arthur yang begitu panjang membuat Mala sedikit kewalahan mengikuti Arthur di belakangnya. Sesampainya di mobil, Arthur membukakan pintu untuk sang kekasih, tak lupa ia mengusap rambut panjang Mala. "Maafin aku, aku sampai lupa kalau kamu tertinggal di belakang." Ucapnya penuh sesal.
"Hm, aku tau, kamu sedang mengkhawatirkan Asisten Rafli." Balas Mala dengan tersenyum lalu ia masuk ke dalam mobil.
Arthur memutari mobilnya dan menyusul Mala masuk ke dalam mobil, ia segera melajukan mobilnya meninggalkan Art Life. Arthur mengemudi dengan kecepatan penuh, ia hanya ingin segera bertemu Rafli dan memeriksa memory card yang di temukan oleh Rafli.
"Sayang, sepertinya itu mobil Asisten Rafli." Seru Mala seraya menepuk lengan kekasihnya.
Ciiitt..
Arthur menginjak remnya secara mendadak, ia membanting setirnya ke kiri dan menepikan mobilnya di bahu jalan, untung saja jalanan tak terlalu ramai sehingga tidak menyebabkan kecelakaan beruntun.
__ADS_1
Arthur membuka kaca mobilnya, ia memperhatikan mobil yang berada di seberang jalan sana. "Kamu benar itu mobil Rafli." Ucap Arthur membenarkan dugaan Mala, ia lalu kembali melajukan mobilnya dan mencari tempat untuk berputar arah.
Arthur menepikan mobilnya di depan mobil Rafli, ia dan Mala segera keluar dari dalam mobil dan menghampiri mobil Rafli yang terparkir di pinggir jalan.
Arthur mengetuk kaca mobil Rafli dan berusaha membuka pintu mobil tersebut yang ternyata tak terkunci. Arthur menyusupkan kepalanya masuk ke dalam mobil dan memeriksa mobil itu yang ternyata kosong.
"Nggak ada siapapun." Terangnya setelah keluar dari mobil. Perasaannya semakin tak karuan, bagaimana bisa Rafli menghilang begitu saja? Kemana perginya Rafli? Begitulah yang kini memenuhi kepala Arthur.
****
Satu jam yang lalu...
Rafli mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh, sebentar lagi jam pulang kantor ia khawatir akan terjebak macet. Namun tanpa Rafli sadari, dua buah mobil mengikutinya dari belakang, di jalanan yang sepi salah satu mobil tersebut menyalip mobil Rafli dan berhenti mendadak dengan posisi melintang di depan mobil Rafli, pria itu reflek menginjak remnya dan membanting setirnya ke kiri.
"Bad*jingan." Umpat Rafli karena merasa sangat kesal. Pria itu lalu membuka sabuk pengamannya dan turun dari dalam mobil.
Saat Rafli turun empat orang berbadan kekar dengan pakaian serba hitam juga turun dari mobil yang berada di depan Rafli dan tanpa ia sadari dua orang lagi turun dari mobil yang berada di belakang mobilnya.
"Dimana Memory Card itu?" Tanya salah satu orang berbadan besar itu.
"Memory Card? Apa maksud kalian?" Kilah Rafli, ia mencoba untuk tetap tenang.
"Serahkan memory card itu kalau kamu mau selamat." Ancam orang itu lagi.
"Saya tidak mengerti dengan maksud kalian, saya sedang buru-buru jadi saya mohon singkirkan mobil kalian!"
"Cepat serahkan memory card itu."
"Anda tuli, sudah saya katakan sebelumnya saya tidak mengerti maksud anda."
Bugg..
__ADS_1
Rafli tersungkur saat kepala belakangnya di pukul oleh sebuah besi, dua orang yang berada di belakang Rafli lalu mengangkat tubuh Rafli dan membawanya ke dalam mobil mereka. Rafli mencoba untuk melawan, namun pukulan keras di kepala belakangnya membuat Rafli kehilangan tenaganya dan sesaat kemudian pria itu kehilangan kesadarannya.
***
Rafli mulai tersadar, ia mengerjapkan matanya, kepalanya terasa sangat berat dan tubuhnya tak bisa bergerak sama sekali. Rafli tertunduk lemah, ia mencoba mengumpulkan kesadarannya kembali. Setelah beberapa menit akhirnya Rafli tersadar jika kedua tangan dan kakinya terikat, ia terkurung di dalam sebuah gudang tua di lihat dari banyaknya debu dan sarang laba-laba di setiap pojok ruangan itu.
"Lepaskan aku. Dasar Breng*sek!!!" Teriak Rafli dengan sisa kekuatan yang ia punya.
Mendengar teriakan Rafli, enam orang yang berjaga di depan gudang itu masuk dan mengampiri Rafli yang masih duduk dalam kondisi tubuh terikat. Mereka menyeringai saat melihat Rafli sama sekali tak berdaya.
"Apa mau kalian, lepaskan aku sekarang!!"
Hahaha...
Suara tawa ke enam pria bertubuh besar itu menggelegar di dalam gudang tua itu. Salah satu dari mereka lalu mendekati Rafli dan membungkukkan tubuhnya sehingga ia bisa melihat wajah Rafli dengan jelas
"Apa kau tidak ingat dengan gudang ini?" Tanya pria itu dengan setengah berbisik.
Rafli menoleh ke kanan dan ke kiri, beberapa saat kemudian ia baru menyadari jika ia berada di gudang yang sama dengan tempat pak Karto di siksa dulu, di gudang ini juga Petra menyiksa Marsel secara membabi-buta.
"Sepertinya aku harus membuatmu sedikit ingat." Ucap pria itu seraya tersenyum licik.
Bugg..
Pria itu melayangkan tinjunya di wajah Rafli, seketika wajah tampan itu membiru akibat pukulan yang sangat keras. Saat pria itu akan memukul Rafli lagi, tiba-tiba pintu gudang terbuka, seorang pria masuk dan menghampiri Rafli.
"Hentikan, itu bagianku."
Pria itu lalu duduk di depan Rafli dan menatap Rafli dengan tatapan penuh dendam. Rafli mengangkat kepalanya, ia memperhatian pria yang duduk di hadapannya, pria dengan wajah penuh goresan membuat Rafli membelalakan kedua matanya.
"Kau..
__ADS_1
BERSAMBUNG..