
Setibanya di Rumah Sakit paman Bahar segera ditangani oleh dokter yang sedang bertugas. Mala berjalan mondar-mandir sambil menggigit ujung jarinya, dia sangat khawatir dengan kondisi pamannya.
Lima belas menit kemudian dokter itu keluar dari ruang pemeriksaan. Perasaan Mala berkecamuk saat melihat ekspresi wajah dokter yang merawat pamannya. Gadis itu berjalan mendekati dokter dengan mata berkaca-kaca.
"Maafkan kami, kami sudah berusaha sebaik mungkin, namun Tuhan berkehendak lain, pasien sudah meninggal dunia."
Lagi dan lagi, Mala harus kehilangan orang terkasihnya, hari ini dia ditinggalkan oleh paman Bahar untuk selamanya. Dunia Mala seakan runtuh, satu-satunya keluarga yang dimilikinya kini juga meninggalkannya seorang diri.
Mala masuk kedalam ruang perawatan dan menemui pamannya yang sudah terbujur kaku. Mala menangis sesegukan dihadapan jasad pamannya yang begitu malang, bahkan disaat terakhirnya istri dan anak-anaknya sama sekali tidak menemani.
"Paman, Mala harus bagaimana sekarang, kenapa paman meninggalkan Mala sendirian?" Ucap Mala dengan suara serak.
Ditengah tangis pilunya seorang perawat datang dan memberitahu Mala untuk mengurus biaya administrasi sebelum jenazah pamannya dibawa pulang.
Setelah membayar biaya administrasi dan beberapa waktu menunggu, akhirnya Mala bisa membawa jenazah pamannya pulang. Kesedihan Mala semakin bertambah saat tak ada satu orangpun yang menyambut kedatangan jenazah pamannya.
Mala meraih ponselnya, dia mengetik beberapa pesan untuk Lala, dia memberi tahu kondisinya, dia juga ingin ada Lala yang menemaninya saat ini. Karena kelelahan akhirnya Mala terlelap disebelah peti mati pamannya.
****
"La, Mala, Nismala." Teriak Lala dari balik pintu.
Mala mengerjapkan matanya, rasanya baru beberapa saat yang lalu dia terlelap. Mala berdiri, gadis itu berjalan kearah pintu dan membukanya.
"Apa yang terjadi, kenapa paman bisa meninggal?" Tanya Lala begitu sahabatnya membuka pintu.
"Masuk." Perintah Mala, Lala hanya mengangguk dan mengikuti Mala masuk kedalam rumah.
"Pagi sekali datangnya?" Ucap Mala setelah melihat jam diponselnya.
__ADS_1
"Aku tidak bisa ikut kepemakaman nanti, jadi setelah melihat pesanmu aku segera kesini." Ucap Lala penuh sesal. "Kemana yang lain." Lala celingukan mencari anggota keluarga yang lain.
"Nggak tau, dikamar mungkin."
"Apa." Pekik Lala. "Mereka benar-benar tidak punya hati, sudah tau suami dan ayah mereka meninggal dan mereka malah tidak menemani jasadnya untuk terakhir kali. Sebenarnya apa yang terjadi, bukankah kamu bilang kondisi paman sudah membaik?"
Mala menceritakan semuanya kepada Lala, dari awal kepulangannya hingga saat paman mencoba membantunya dari serangan bibi dan saat kak Sofyan menendang kursi roda paman dan berakhir dengan meninggalnya paman Bahar.
Lala geram mendengar cerita dari sahabatnya, hanya gara-gara harta seseorang bisa menutup Mata dan telinga.
"Kita harus lapor polisi, ini pembunuhan La." Terang Lala dengan suara menggebu.
"Percumah saja, aku tidak punya bukti dan kesaksianku belum tentu dipercaya." Sergah Mala dan matanya kembali berkaca-kaca.
Lala segera memeluk erat sahabatnya, berharap dia bisa memberi kekuatan untuk sahabatnya.
Matahari mulai terbit dan meninggi, Bi Ningsih dan kedua anaknya baru saja turun saat Lala sudah pergi dari rumah itu. Mala menatap lekat ketiga orang yang sudah siap dengan setelan hitam mereka, ingin rasanya Mala memukul mereka satu persatu, namun demi pamannya Mala harus menahan amarahnya sekarang.
Setelah pemakaman Mala segera naik kekamarnya, untung saja dia mengambil cuti hari ini sehingga dia bisa beristirahat total.
Mala merebahkan tubuhnya diatas kasur, seluruh tubuhnya serasa remuk redam, tak biasanya dia merasa selelah ini, mungkin karena dia terlalu banyak menangis hingga tubuhnya kelelahan.
"Haruskah aku bertahan dirumah ini?" Gumam Mala seraya menatap langit-langit kamarnya, dia menarik nafas panjang, fikirannya kini menjalar kemana-mana dan tanpa Mala sadari iapun tertidur.
"Mala, Mala, keluar kamu." Panggil Bi Ningsing seraya menggedor pintu kamarnya, dengan malas Mala membukakan pintu untuk bibinya.
"Apa bi?"
"Bereskan pakaianmu dan pergi dari rumah ini."
__ADS_1
"Tapi ini sudah malam bi." Sergah Mala, dia melirik jendela yang menunjukan gelapnya malam.
"Aku tidak peduli, keluar dari rumah ini sekarang."
Kali ini Mala tidak terkejut, dia sudah memprediksi ini sebelumnya, bibinya pasti akan mengusirnya, hanya saja Mala tak menyangka dia akan diusir secepat ini. Tanpa melawan Mala mulai mengemas pakaiannya yang tidak terlalu banyak, sementara bi Ningsih dan kedua anaknya sedang menonton Mala dengan perasaan bahagia.
"Dia pasti akan jadi gelandangan." Cibir Rani sambil menatap hina kearah Mala.
"Dia kan bisa jual diri hahaha." Oceh Sofyan.
Mala tidak menperdulikan ocehan kedua sepupunya, dia sibuk mengemasi pakaiannya, dia juga sudah muak tinggal bersama mereka, jika bukan karena pamannya, Mala tidak akan bertahan hingga sekarang.
Mala benar-benar keluar dari rumah yang sudah menaunginya selama 15 tahun. Mala kebingungan kemana dia harus menginap malam ini, dia tidak mungkin tidur dihotel karena uang tabungannya sudah terpakai habis untuk membayar biaya rumah sakit paman dan biaya pemakamannya. Sementara gaji 5 kali lipat yang Rafli janjikan belum juga diterimanya. Mala juga tidak mungkin pergi kerumah Lala, keluarga Lala sudah banyak membantunya selama ini, dia tidak ingin merepotkan mereka lagi.
Mala berjalan dengan tas ransel dipunggungnya, tiba-tiba dia mengingat rumah lamanya, rumah yang telah sekian lama tak pernah ia kunjungi.
Mala bergegas menuju rumah lamanya, meskipun rumah itu kini telah menjadi milik bibinya, tapi tidak ada pilihan lain, dari pada ia harus tidur dijalanan.
***
Mala tercengang ketika sampai dirumah lamanya, rumah yang sudah dipenuhi oleh semak belukar, maklum saja 15 tahun rumah itu tidak terjamah manusia.
"Aku jadi gelandangan sekarang." Ucap Mala pasrah.
Mala menepi saat sebuah mobil berjalan kearahnya dan tiba-tiba berhenti didepannya. Mala mengambil batu yang berada dibawah kakinya untuk berjaga-jaga.
Dahinya mengkerut saat melihat seseorang turun dari mobil itu, tempat itu begitu gelap sehingga Mala tidak bisa melihat wajah orang yang kini berjalan menghampirinya. Tangannya mulai berkeringat, dan batu yang diambilnya tadi sudah dia siapkan untuk memukul orang itu jika berani melukainya.
"Hey gadis gila, kau ingin dipatok ular, malam-malam begini berada didekat rumah kosong."
__ADS_1
BERSAMBUNG..