
"Saya ayahnya, apakah anda puas sekarang?" Aku tuan Mahesa, ia terpaksa mengungkap jati dirinya demi keselamatan Mala.
Arthur, Rafli dan Lala tercekat, ketiganya menatap tuan Mahesa tak percaya, pria yang awalnya menjadi client Arthur tiba-tiba mengaku sebagai ayah kandung Mala.
Arthur memicingkan sebelah matanya, sambil menatap tuan Mahesa senyum hambar terukir di bibirnya. "Jangan bercanda tuan Mahesa, kedua orang tua Mala sudah meninggal." Ucap Arthur ragu.
"Tanyakan saja pada dady mu, dia tau semua kebenaran itu." Ujar tuan Mahesa.
"Dady? Anda mengenal dady saya?" Rasa penasaran Arthur mulai bangkit.
Tuan Mahesa mengabaikan pertanyaan Arthur, dia kembali fokus kepada sang Dokter. "Saya akan mendonorkan hati saya untuk putri saya Dok." Keputusan tuan Mahesa sudah bulat, ia akan memberikan sebagian hatinya untuk Mala. Apapun akan tuan Mahesa lakukan agar putrinya bisa sembuh, jika perlu ia akan menukar nyawanya demi keselamatan sang putri. Bertahun-tahun lamanya ia menelantarkan Mala, jika Tuhan memberikan kesembuhan untuk Mala, tuan Mahesa berjanji akan menebus semua kesalahannya di masa lalu, ia akan meminta mengampunan pada Mala karena pernah tak mengakuinya.
"Baiklah, mari ikut dengan saya, anda harus melakukan beberapa tes kesehatan sebelum menjadi pendonor."
Tuan Mahesa mengikuti Dokter Hendi untuk melakukan serangkaian tes guna mengetahui bagaimana fungsi hati milik tuan Mahesa serta memastikan apakah tuan Mahesa memiliki riwayat penyakit tertentu.
Arthur, Rafli dan Lala menatap kepergian tuan Mahesa yang meninggalkan tanda tanya besar bagi mereka.
"Tuan, apakah yang saya dengar tadi bukan sebuah kebohongan, tapi bagaimana bisa tuan Mahesa mengaku sebagai ayah Mala?" Tanya Lala, ia menatap Arthur yang tengah melamun, pandangannya terlihat kosong.
"Jaga Mala." Ucap Arthur, tanpa menjawab pertanyaan Lala ia pergi meninggalkan Rafli dan Lala membuat kedua pasangan itu merasa heran.
Arthur berlari keluar dari Rumah Sakit, ia menghentikan taxi di depan Rumah Sakit, cepat-cepat Arthur masuk ke dalam taxi dan meninggalkan Rumah Sakit.
Arthur menatap keluar jendela, ucapan tuan Mahesa benar-benar mengganggunya, ia harus segera bertemu dengan dady dan mencari tau kebenarannya. Jika semua yang di katakan tuan Mahesa benar, berarti kecurigaan Mala benar adanya, jika mereka mengenal sejak masih kecil.
Hampir satu jam lamanya Arthur duduk termenung di dalam taxi hingga taxi tersebut berhenti di depan sebuah rumah mewah.
Arthur tersadar dari lamunan panjangnya, ia keluar dari taxi dan berlari masuk kedalam rumah orang tuanya.
"Dad, dady." Teriak Arthur, ia berjalan melewati oma Lusi yang tengah duduk di ruang keluarga. Arthur menaiki tangga dan menuju kamar dady-nya di lantai atas. Arthur menghentikan kakinya saat berpapasan dengan mama Wulan, wanita itu keluar dari kamar dan kaget melihat kedatangan Arthur.
"Nak, ada apa, kenapa kamu terlihat cemas sekali?" Tanya mama Wulan.
"Dimana dady ma?" Tanya Arthur dengan perasaan menggebu-gebu.
"Ada di dalam, mama panggilkan sebentar."
Sebelum mama Wulan kembali ke dalam kamar, Arthur lebih dulu menerobos masuk dan mencari keberadaan dady-nya. Mama Wulan lantas mengikuti Arthur masuk, ia khawatir jika bapak dan anak ini akan bertengkar lagi.
Tuan Raymon turun dari tempat tidurnya saat melihat Arthur menerobos masuk ke dalam kamarnya..Saat Arthur semakin dekat, ia menodongkan tongkat kayunya tepat di depan wajah Arthur dan menjaga jarak di antara mereka.
"Beraninya kau." Bentak tuan Raymon.
"Sopan santunmu sungguh sudah hilang." Imbuhnya lagi dengan keras, urat lehernya sampai mencuat di permukaan kulitnya yang mulai keriput.
"Benarkah Mala anak kandung tuan Mahesa?" Tanya Arthur seraya menatap tajam wajah dady-nya.
Tuan Raymon tercekat, wajahnya seketika memucat, rahasia yang di simpannya selama ini terkuak sudah, tuan Raymon mulai resah, dari mana Arthur mengetahui rahasia ini.
"Jadi benar. Dan dady mengetahui semuanya, dady mengenali Mala sejak awal kan?
Diamnya tuan Raymon membuat Arthur menarik kesimpulan jika pengakuan tuan Mahesa benar adanya.
"Apakah aku dan Mala saling mengenal sejak kami masih anak-anak?" Arthur kembali bertanya dengan wajah serius.
__ADS_1
"Jawab dad!"Bentak Arthur , mama Wulan yang berdiri di belakangnya pun tersentak kaget.
"Beraninya kau membentakku." Geram tuan Raymon.
"Lalu apakah orang tua Mala juga meninggal bersama mamy di villa itu?" Cecar Arthur, dia sungguh ingin tau kebenarannya.
"Bicaramu itu ngawur."Elak tuan Raymon.
"Aku tidak asal bicara dad, Mala kecelakaan dan harus melakukan cangkok hati, dan tuan Mahesa menawarkan diri untuk menjadi pendonor untuk Mala, mereka mempunyai golongan darah yang sama."
"Mala kecelakaan, bagaimana kondisinya?" Sela mama Wulan dengan suara bergetar.
Arthur menoleh, ia menatap mama Wulan yang kini berdiri di sebelahnya. "Mala kritis Ma." Jawab Arthur seraya memegang kedua lengan mama Wulan.
Mama Wulan menutup mulutnya, buliran bening mulai membasahi pipinya. "Dimana dia di rawat nak, mama mau melihat Mala." Pinta mama Wulan di tengah isaknya.
"Mama bersiaplah, setelah ini kita pergi ke Rumah Sakit."
Mama Wulan hanya menggangguk, ia meninggalkan kedua orang yang masih bersitegang itu, mama Wulan tak peduli lagi, dia hanya ingin melihat Mala sekarang, gadis baik hati yang sudah di anggapnya seperti putrinya sendiri.
"Aku akan datang lagi, pastikan dady menjawabnya saat aku bertanya nanti."
Arthur keluar dari kamar tuan Raymon dengan wajah merah karena menahan amarah. Di lantai bawah mama Wulan sudah bersiap bersama Lea, ada juga oma Lusi yang duduk di sofa dan memperhatikan anak dan juga cucunya.
"Kalian itu, gadis itu bukan siapa-siapa kalian, kok mau-maunya nengokin." Sungut oma Lusi.
Mama Wulan tak merespon, dia sedang berdoa di dalam hati untuk kesembuhan Mala, beban berat mengenai penyakit Arthur sedikit berkurang semenjak kedatangan Mala, bagi mama Wulan, kehadiran Mala seperti sebuah lentera di dalam kehidupan putra sambungnya, Mala adalah sebuah keajaiban.
Dengan setengah berlari Arthur menuruni anak tangga, setelah sampai di lantai bawah ia segera menghampiri mama Wulan dan Lea.
"Dasar tidak tau sopan santun." Gerutu oma Lusi.
Di luar rumah Arthur nampak kebingungan, ia lupa jika ia datang dengan taxi. Mama Wulan menghampiri Arthur dan menepuk bahunya, tak lama sebuah mobil berhenti di depan mereka.
"Naiklah, biar supir yang mengantar kita." Ucap mama Wulan lembut.
"Terimakasih ma." Arthur menoleh sejenak, lalu ia segera masuk ke dalam mobil, di ikuti oleh mama Wulan dan Lea.
Arthur duduk di depan bersebelahan dengan supir keluarga mereka, sementara mama Wulan dan Lea duduk di kursi belakang.
Hening menemani perjalanan mereka, sesekali mama Wulan memperhatikan Arthur dari belakang. Dia sungguh tidak tega melihat Arthur bersedih seperti itu.
Arthur berjalan dengan tergesa-gesa, ia ingin segera menemui Mala. Mama Wulan dan Lea mengikuti langkah Arthur dengan setengah berlari, sesampainya mereka di sana beberapa perawat tengah mengeluarkan Mala dari ruang ICU.
"Ada apa ini, mau dibawa kemana Mala?" Tanya Arthur degan kilatan marah di matanya.
Rafli menepuk bahu sahabatnya, Arthur menoleh dan menatap Rafli penuh tanya.
"Mala akan di pindahkan ke Rumah Sakit lain, mereka akan melakukan cangkok hati di Rumah Sakit yang lebih besar." Jelas Rafli sebelum Arthur meluapkan amarahnya.
"Mala akan di operasi?" Tanya Arthur, jelas terlihat kelegaan dari sorot matanya.
"Ya, hasil pemeriksaan kesehatan tuan Mahesa sudah keluar dan hasilnya bagus."
Arthur mulai bernafas lega, setidaknya harapan Mala untuk sembuh semakin besar. Para perawat kembali mendorong brankar tidur Mala, ambulans sudah menunggu di depan Rumah Sakit, Mala akan segera di rujuk ke Rumah Sakit lain.
__ADS_1
Rafli mengendarai mobilnya bersama Lala, sementara Arthur naik mobil bersama mama Wulan dan adiknya, mama Wulan melarang Arthur mengendarai mobil sendiri, ia khawatir Arthur tidak fokus saat menyetir. Mobil mereka beriringan persis di belakang ambulans yang membawa Mala, sedangkan tuan Mahesa masih tertinggal di Rumah Sakit sebelumnya, ia masih harus mengurus beberapa persyaratan yang lainnya.
Beberapa menit kemudian mereka tiba di Rumah Sakit milik pemerintah yang berada di pusat kota Jakarta, Rumah Sakit tipe A yang menjadi pusat rujukan nasional. Rumah Sakit tersebut juga merupakan Rumah Sakit pendidikan bagi Universitas yang memiliki Fakultas Kedokteran.
Setelah sampai Mala segera mendapatkan perawatan intensif dari Dokter dan juga perawat. Mala kembali masuk ke dalam ruang ICU dan menunggu informasi selanjutnya.
Arthur duduk di kursi tunggu yang berada tidak jauh dari ruang perawatan Mala di temani oleh mama Wulan dan Lea, adiknya. Rafli dan Lala pamit untuk pulang terlebih dahulu, Rafli masih harus mencari pelaku yang menabrak Mala, sementara Lala akan mengambil baju dan perlengkapan yang mungkin akan di butuhkan oleh Mala.
Tak lama setelah kepulangan Rafli, tuan Mahesa datang bersama dengan istri dan juga putranya. Mereka menghampiri Arthur yang sedang duduk.
"Bagaimana kondisinya?" Tanya tuan Mahesa dengan suara datar, wajahnya terlihat lebih tenang dari sebelumnya.
Arthur berdiri mensejajari tuan Mahesa. "Masih belum sadar."
"Mm.. soal tadi, saya minta maaf tuan." Ucap Arthur sedikit ragu.
Tuan Mahesa menepuk pundak Arthur dan tersenyum kepadanya. "Bukan salah anda tuan Arthur, saya justru bersyukur Mala mempunyai calon suami seperti anda." Ungkap tuan Mahesa jujur, meskipun sempat merasa kesal terhadap Arthur, namun tak bisa di elaknya jika Arthur melakukan itu semua demi menjaga Mala.
"Kapan Transplantasinya di lakukan tuan?" Tanya Arthur.
"Dua hari lagi."
"Transplantasi apa pah?" Tanya Sang istri dengan wajah terkejut.
"Aku akan mendonorkan hati untuk Mala."
"Apa? Mamah tidak sejutu."
"Aku tidak meminta persetujuanmu, aku membawamu kemari agar kamu melihat putriku yang pernah kau pisahkan dariku dulu."
"Pokoknya mamah tidak setuju, belum tentu gadis itu putrimu pah." Lanjut sang istri yang masih belum setuju dengan keputusan tuan Mahesa.
"Dia putriku." Bentak tuan Mahesa, sang istri merasa tak terima di bentak, ia menarik tangan putranya dan pergi dari Rumah Sakit itu.
"Maafkan istri saya tuan Arthur." Ucap tuan Mahesa pelan, ia sungguh malu karena harus membuat keributan di depan Arthur.
Arthur hanya tersenyum dan mengangguk kecil. Lelah berdiri akhirnya mereka duduk bersebelahan.
"Tuan, bolehkah saya tau kenapa anda terpisah dengan Mala?" Tanya Arthur.
Tuan Mahesa diam sejenak membuat Arthur merasa tak enak hati karena sudah menanyakan hal pribadi tuan Mahesa.
"Maafkan kelancangan saya, anda tak perlu menjawabnya." Imbuh Arthur
Tuan Mahesa menghela nafas berat, ia menatap ke depan namun tatapannya terlihat kosong.
"Dua puluh lima tahun yang lalu saya bertemu Intan untuk pertama kalinya, dia adalah gadis yang sangat mandiri, dia bekerja keras untuk membiayai kuliahnya. Saat dia lulus dia mulai bekerja di perusahaan ayah saya, kami jadi sering bertemu dan mulai jatuh cinta. Perbedaan kasta di antara kami membuat hubungan kami sulit, namun saya nekat melawan ayah saya dan menikahi Intan. Lima tahun menikah, Intan tak kunjung hamil, saya tidak pernah mempermasalahkan hal itu, namun tidak dengan keluarga saya, mereka memaksa saya untuk menceraikan Intan. Hingga suatu waktu saya melihat Intan bersama dengan dady-mu di sebuah hotel dan satu bulan setelahnya Intan hamil. Namun saya tak bahagian, fikiran saya sudah di pengaruhi oleh Kartika, istri saya sekarang. Dia meracuni fikiran saya, dia bilang Intan mengandung anak Raymon bukan anak saya, dan dengan bodohnya saya percaya akan hal itu dan menceraikan Intan dalam kondisi hamil. Padahal Intan dan Raymon berada di hotel bersama mamy anda dan juga anda, bodohnya saya yang tak mempercayai Intan."
"Dari mana anda dan nyonya Intan mengenal dady saya?" Tanya Arthur penasaran.
"Intan dan Raymon serta mendiang mamy anda bersahabat sejak mereka masih kuliah. Mereka mengambil jurusan yang sama, mereka adalah Arsitek yang handal. Meskipun status mereka berbeda, namun Raymon dan Lidya tulus bersahabat bersama Intan"
Arthur menunduk lemah, air matanya hampir tumpah, ia tak menyangka jika takdirnya bersama Mala terhubung sejak puluhan tahun yang lalu. Mereka memang di takdirkan untuk bersama, setelah waktu berlalu mereka di pertemukan lagi dengan cara yang tak terduga.
"Sayang, bangunlah." Pinta Arthur didalam hati, ia tak berhenti memohon agar Mala segera sadar. Banyak hal yang ingin Arthur ceritakan.
__ADS_1
BERSAMBUNG...