
Lala berjingkrak kegirangan setelah ayahnya memberikan restu kepanya dan juga Rafli, ia reflek berbalik dan memeluk Rafli yang kini berdiri di belakangnya. Rafli hanya mematung, merutuki kecerobohan kekasihnya, karena kini sang calon mertua tengah menatapnya tajam karena Lala memeluknya.
Rafli mendorong tubuh Lala pelan sehingga gadis itu mengurai pelukannya. Tatapan kesal tertuju pada Rafli, ia tak sadar jika tanduk mulai muncul di kepala ayahnya.
"Dasar bodoh." Ucap Rafli tanpa bersuara, ia hanya menggerakkan bibirnya, ia juga memberikan kode kepada Lala agar menoleh ke belakang.
Lala menoleh ke belakang, ia terperanjat, menyadari sang ayah masih berdiri di tempatnya dan menyaksikan pelukannya secara live.
"Untung saja aku tak menciummnya tadi." Gumam Lala dalam hati.
Sementara itu Rafli masih tak bergerak di tempatnya, keberanian dan kepercayaan dirinya selalu runtuh acap kali ia bertemu sang calon mertua. Rafli menelan salivanya dengan kasar mana kala pak Dahlan memperingatinya dengan sebuah gerakan yang mengerikan, pak Dahlan seaakan tengah menggorok leher dengan tangannya, tentu saja peringatan itu membuat Rafli ketar-ketir.
"Bawa keluargamu ke sini akhir bulan ini." Seru pak Dahlan sebelum ia meninggalkan tempat itu. Bu Erni pun menyusul sang suami, ia tak ingin mengganggu sepasang kekasih yang sedang kasmaran itu.
"Dasar bodoh." Rafli mencubit hidung Lala hingga memerang.
Lala mengaduh seraya memegangi hidungnya yang tak terlalu mencung itu, ia menatap kesal Rafli yang kini statusnya sebagai calon suami. Gadis itu kembali duduk dengan wajah merengut.
"Ganti bajumu, kita pergi sekarang." Titah Rafli, ia berencana mengajak Lala belanja segala sesuatu yang di butuhkan untuk acara lamaran mereka.
"Kemana?" Lala mendongakkan kepalanya, ia menatap Rafli yang berdiri di sebelahnya.
"Belanja."
Lala sontak berdiri, tanpa permisi ia berlari menuju kamarnya dan meninggalkan Rafli begitu saja. B.E.L.A.N.J.A, tujuh huruf yang mampu membahagiakan wanita, sebuah kata yang begitu indah ketimbang ucapan i love you dan lain sebagainya, wanita mana yang tak suka di ajak belanja?
Rafli menggelengkan kepalanya, ia lantas duduk dan menunggu Lala dengan setian. Hari ini Rafli mengajukan cuti, ia memang berencana untuk mempersiapkan lamarannga dengan sebaik mungkin, karena keadaan Mala mulai membaik dan Arthur sudah kembali ke kantor sehingga Rafli bisa menikmati masa cutinya dengan tenang, ia akan menghabiskan sisa hari ini bersama gadis kecilnya.
Rafli kembali berdiri saat pak Dahlan menghampirinya dengan membawa dua cangkir kopi di tangannya, Rafli menerima salah satu cangkir yang pak Dahlan suguhkan kepadanya.
Pak Dahlan duduk setelah menaruh cangkirnya, ia menatap Rafli yang masih saja berdiri.
"Duduk."
Rafli mengangguk, ia lalu duduk sesuai permintaan pak Dahlan. Rafli kembali merasa gugup, ia bahkan lupa meletakkan cangkir kopinya.
"Nak Rafli, apa boleh bapak bertanya sesuatu?" Tanya pak Dahlan memecahkan keheningan.
__ADS_1
"Tentu pak?"
"Apa yang membuat nak Rafli yakin untuk menikahi Lala?" Tanya pak Dahlan dengan tatapan tajam.
"Saya mencintai Lala pak." Tegas Rafli.
"Selain itu?" Pak Dahlan belum puas dengan jawaban Rafli.
"Apa saya boleh berkata jujur?"
Pak Dahlan mengangguk, mengiyakan pertanyaan Rafli. "Tentu saja."
"Sebelumnya saya tidak pernah berhubungan dengan gadis manapun, sampai akhirnya saya bertemu Lala. Setiap kami bertemu saya selalu merasa pening karena Lala selalu mengganggu saya, pernah suatu ketika saya mengatakan kepada Lala bahwa saya tidak mau memiliki pacar seperti dia, tingkahnya yang konyol benar-benar membuat saya sakit kepala."
Pak Dahlan menautkan kedua alisnya mendengar Rafli mengolok putrinya, namun ia tetap diam dan menunggu cerita Rafli hingga selesai.
"Namun anehnya, saat beberapa hari kami tidak bertemu, saya mulai merindukan sikap konyolnya, saya mulai mencari-cari dia saat tak menemukannya di kantor. Sampai suatu waktu Lala menghindari saya, dia bilang akan berhenti mengganggu saya, seketika hati saya terasa sakit, namun saya belum menyadari jika saya tertarik dengan Lala. Namun perasaan saya semakin tak karuan, saya marah saat melihat Lala bersama pria lain, saya tersenyum saat melihat tawanya, saya merindu saat tidak melihatnya meskipun hanya satu hari."
"Dan akhirnya saya sadar, gadis konyol itu telah mencuri hati saya, hati yang sebelumnya tak tersentuh oleh siapapun, saya menyayangi Lala, itulah mengapa saya ingin cepat-cepat menikahinya, saya tidak ingin kehilangan Lala."
Rafli bernafas lega setelah menyelesaikan ceritanya yang begitu panjang, ia memberanikan diri untuk menatap pak Dahlan. Rafli sampai berkeringat dingin saat menceritakan itu, namun justru tanggapan pak Dahlan membuatnya merasa heran, pria itu justru tertawa setelah mendengarkan cerita Rafli.
Rafli hanya mengangguk dan tersenyum simpul, melihat tawa pak Dahlan membuat rasa gugupnya sedikit berkurang.
"Bapak titip Lala kepadamu, jangan berani-berani untuk menyakitinya." Ancam pak Dahlan dengan wajah serius.
"Saya berjanji pak, saya akan menjaga Lala dan membahagiakannya."
Rafli dan pak Dahlan saling melempar senyum, hingga tanpa mereka sadari Lala sudah berdiri di antara mereka dan menyaksikan mereka yang mulai akrab.
"Ayo berangkat."
Ucapan Lala membuat Rafli dan pak Dahlan terkejut, keduanya menoleh bersamaan dan menatap Lala dengan wajah kesal.
"Lala." Seru mereka bersamaan.
"Cie, kopak."
__ADS_1
****
Kebahagiaan tak hanya Rafli dan Lala yang merasakannya di pagi ini, begitupun yang Mala rasakan, saat terbangun dari tidurnya, Arthur menyambutnya dengan senyum di wajahnya, senyum yang begitu indah hingga menampakan lesung pipi di kedua sisi wajahnya.
Mala tersipu, ia menarik selimut hingga menutupi hidungnya. "Sudah bangun." Tanyanya dengan serah serta wajah yang merona.
Arthur hanya mengangguk, ia menarik selimut itu hingga menampakan wajah Mala, tangannya yang hangat membelai pipi Mala, ia menyentuhnya penuh kasih sayang.
"Hari ini aku harus ke kantor, apa kamu baik-baik saja di rumah sendirian?" Arthur menatap Mala sendu, ia belum rela meninggalkan Mala sendirian, namun pekerjaannya tak bisa ia tinggalkan lagi.
Mala mengangguk pelan, ia memegangi tangan Arthur yang berada di wajahnya. "Aku baik-baik saja." Ucapnya seraya tersenyum.
"Aku mau mandi dan bersip, tunggu sebentar setelah ini kita sarapan bersama."
Arthur pengecup punggung tangan Mala yang tengah memegangi tangannya, ia juga tak lupa mengecup kening dan bibir Mala, bagi Arthur, Mala bak candu yang membuat Arthur ingin terus menyentuhnya.
Setelah Arthur masuk ke dalam kamar mandi, Mala menyibak selimut tebalnya, ia bangun dan melangkahkan kakinya menuju walk in closet. Mala mulai memilih setelah jas yang akan Arthur pakai hari ini, tak lupa dasi dan jam tangan yang menurutnya serasi dengan jas pilihannya.
Arthur keluar dari kamar mandi dan mencari keberadaan Mala, ia mengulus senyum saat menemukan gadisnya tengah menimang dua dasi di tangan kanan dan kirinya.
"Apa yang kamu lakukan?"
Mala menoleh, ia menatap Arthur yang begitu tampan dan juga segar, pemandangan setelah Arthur mandi tak pernah membuatnya merasa bosan.
"Memilih dasi, aku bingung mana yang lebih cocok untukmu. Ini apa ini?" Mala menunjukan kedua dasi itu kepada Arthur.
Arthur meraih dasi yang berada di tangan Mala. "Aku pilih ini."
"Aku juga menyukai yang ini." Ucap Mala seraya tersenyum, ia mengembalikan dasi satunya lagi ke dalam lemari penyimpanan.
"Tunggulah di meja makan, aku sudah memesan sarapan mungkin sebentar lagi akan datang." Perintah Arthur dengan lembut.
Mala menurut, ia segera keluar dari kamar Arthur dan menunggu di dapur, ia duduk di kursi meja makan sambil menunggu sarapan mereka datang.
Ting..tong..ting..tong..
Bel berbunyi, Mala bersemangat untuk membuka pintu, perutnya sudah kelaparan. Mala membuka pintu tersebut, seseorang di balik pintu itu membuat Mala terkejut.
__ADS_1
"Mala....
BERSAMBUNG..