My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
104 Anak Kangguru Kelaparan


__ADS_3

Pagi telah berlalu, namun Mala masih berada di dalam kamar Arthur dan tidak tau harus melakukan apa lagi. Ia mulai merasa bosan, hampir setengah hari menghabiskan waktunya untuk rebahan dan menonton televisi.


Mala mematikan televisi, ia berjalan menuju walk in closet, meraih hoodie milik Rey yang kebesaran untuknya, Mala mengenakan hoodie itu dan keluar kamar, ia berniat jalan-jalan di sekitar komplek apartemen.


Saat keluar dari apartemen tiba-tiba Mala teringat dengan kakek tua yang kemarin di jumpainya di apartemen Arthur, ia sempat menguping pembicaraan antara Arthur, Rafli dan mama Wulan mengenai siapa kakek itu sehingga membuatnya semakin penasaran.


Mala urung untuk turun ke lobby, ia memilih turun di lantai sebelas, tempat dimana kakek tua itu di rawat.


Tingg...


Pintu lift terbuka, Mala keluar dari lift namun ia bingung, kakek tua itu berada di unit yang mana, di lantai tersebut ada tiga unit apartemen, sialnya kemarin Mala hanya mendengar jika Rafli akan membawa kakek tua itu pindah ke lantai sebelas.


"Masa aku harus mengetuk tiga pintu itu?"


Tingg...


Pintu lift kembali terbuka, Mala menoleh dan melihat seorang wanita muda memakai baju perawat keluar dari lift tersebut.


"Permisi sus, apa anda perawat yang di sewa tuan Arthur?" Sapa Mala dengan ramah.


"Ia mbak, ada perlu apa ya?" Tanya perawat dengan wajah bingung.


"Saya istri tuan Arthur, apa saya boleh bertemu dengan kakek?"


Maafkan saya tuan Arthur, saya terpaksa berbohong agar bisa menemui kakek itu, batin Mala.


"Maafkan saya nyonya, maaf saya tidak mengenali anda. Tentu saja boleh, mari ikut saya."


Mala mengulas senyum tipis di wajahnya, sebenarnya jantungnya berdebar karena ulahnya sendiri yang mengatakan jika ia adalah istri Arthur. Dengan wajah sedikit merona Mala mengikuti perawat tersebut masuk ke dalam apartemen.


"Silahkan duduk nyonya, apa anda butuh sesuatu?" Tanya Perawat itu dengan sopan.


"Terimakasih sus, saya tidak butuh apapun. Oh ya dimana kakek?"


"Mungkin ada di kamar bersama perawat yang lain, mari saya antarkan ke kamar nyonya."


Mala lalu mengikuti perawat itu masuk ke dalam kamar, di dalam sana ia segera di suguhi pemandangan yang mampu menyayat hati, bagaimana tidak, Mala melihat pak Karto tengah duduk di atas tempat tidur dengan posisi kaki dan tangannya di ikat.


"Sus, kenapa tangan dan kaki kakek di ikat?"


Mala menatap perawat yang berdiri di sebelahnya dengan mata berkaca-kaca. Perawat lain yang tengah menjaga pak Karto mendekat begitu ia mendengar pertanyaan Mala kepada rekannya.


"Kenapa kamu mengikatnya lagi suster Aida?" Tanya perawat yang datang bersama Mala.


"Maafkan saya suster Hanum, saya terpaksa karena pasien sempat mengamuk?"


"Mengamuk?" Sela Mala dengan suara tecekat.


Suster Aida melirik Mala sekilas lalu ia menatap suster Hanum.


"Beliau istri tuan Arthur." Ucap suster Hanum menjawab pertanyaan suster Aida yang tak terucap.


"Maafkan saya nyonya, saya tidak mengenali anda." Sesal suster Aida seraya membungkukkan tubuhnya

__ADS_1


"Nggak papa sus. Jadi bagaimana keadaan kakek?" Mala semakin penasaran dengan kondisi pak Karto.


"Seharian ini pak Karto selalu mengatakan tentang Kangguru, ia mencari Kangguru. Pak Karto mulai marah karena tak menemukan Kangguru yang ia cari." Terang suster Aida.


"Kangguru?"


Entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja Mala teringat akan boneka Kangguru milik Ara.


"Boleh saya bicara dengan kakek?"


Kedua suster itu saling melempar pandang, namun mereka juga tidak mungkin melarang keinginan nyonya muda. Begitulah yang mereka fikirkan saat ini.


"Tapi anda harus hati-hati nyonya." Ujar suster Hanum memberi peringatan kepada Mala.


Mala menggangguk tanda mengerti, ia mengayunkan kakinya ke arah ranjang, lalu ia duduk menghadap pak Karto di tepi tempat tidur.


"Kek, bagaimana kondisi kakek hari ini?" Tanya Mala dengan lembut, ada sebuah ketulusan didalam matanya.


Pak Karto sedikit mengangkat kepalanya, ia menatap Mala sekilas lalu kembali menunduk lagi.


"Kakek sudah makan?"


Pak Karto hanya mengangguk, Mala sedikit terkejut karena pak Karto merespon pertanyaannya, begitupun dengan kedua suster yang ikut merasa heran.


"Kangguru, dimana Kangguru saya." Ucap pak Karto seraya mengedarkan pandangannya.


"Kakek mencari Kangguru?" Tanya Mala dengan hati-hati. "Dimana kakek menyimpan Kangguru itu, nanti saya bantu carikan kek?" Imbuh Mala.


"Kangguru, Kangguru saya, anak kangguru saya pasti lapar, saya belum memberinya makan sejak lama."


***


Di waktu yang sama, Arthur memilih pulang lebih cepat karena khawatir dengan Mala, ia membawa pulang semua pekerjaannya, ia merasa tak tenang meninggalkan Mala sendirian.


Hari ini Arthur mengendarai mobilnya sendiri karena ia belum mencari supir pengganti Mala. Arthur melajukan mobilnya dengan cepat, ia ingin segera bertemu dengan Mala.


Saat memasuki pelataran apartemen ia kembali melihat dua pria berbaju serba hitam yang di lihatnya pagi tadi, perasaan Arthur semakin tak karuan.


Setelah memarkirkan mobilnya Arthur cepat-cepat naik ke unitnya, perjalanan dari basement hingga penthouse miliknya terasa begitu lama.


Ting...


Arthur segera keluar, dengan langkah cepat ia menuju pintu dan membukanya. Ia segera masuk dan berteriak memanggil Mala.


"Sayang aku pulang, kamu dimana?"


Arthur memeriksa kamarnya namun ia tak menemukan Mala, lalu ia membuka pintu kamar mandi dan tak ada seorangpun di dalamnya. Arthur keluar dari kamarnya dan memeriksa setiap ruangan yang ada di apartemennya. Arthur merasa frustasi karena tak menemukan Mala dimanapun.


Arthur meraih ponselnya ia mencoba menghubungi Mala namun justru ponsel itu berdering di dalam kamarnya.


"Sial, kemana dia?" Umpatnya seraya meraih ponsel Mala yang tergeletak di atas kasur.


Arthur kembali keluar dari apartemennya, ia berniat mencari Mala di bawah, mungkin saja gadis itu sedang mencari makan di bawah.

__ADS_1


Tingg...


Pintu Lift terbuka tepat di lantai sebelas, suster Aida menunduk memberi hormat saat melihat Arthur berada di dalam lift.


"Masuklah." Ucap Arthur karena suster Aida malah berdiri mematung.


"Terimakasih tuan."


Suster Aida masuk ke dalam lift, ia berdiri di belakang Arthur.


"Bagaimana kondisi pak Karto?" Tanya Arthur tanpa menoleh sedikitpun.


"Sudah jauh lebih baik tuan. Pak Karto mulai mau berinteraksi."


"Bernarkah?"


"Iya tuan, sayangnya pak Karto hanya mau bicara saat istri anda yang bertanya."


"Istri?"


"Ya tuan, istri anda, nyonya Mala."


"Mala." Arthur terkejut, ia berbalik dan menatap suster Aida. "Mala ada di sana?" tanyanya dengan wajah menegang namun ada kelegaan di baliknya


"Iya tuan."


Arthur buru-buru memencet setiap tombol yang berada di sisi lift, ia harus segera keluar dari lift itu dan menemui Mala.


***


Ting..tong..ting..tong..


Bel berbunyi, suster Hanun segera berlari ke arah pintu dan membukanya.


"Dimana Mala?" Todong Arthur setelah pintu terbuka.


"Ada di dalam tuan."


Tanpa permisi Arthur masuk dan melewati suster hanum, ia segera pergi ke kamar yang di pakai untuk merawat pak Karto. Pintu kamar terbuka, Arthur bernafas lega saat melihat Mala tengah berbincang dengan pak Karto.


"Kau disini rupanya, istriku." Ucap Arthur, ia menekankan kata istriku di akhir kalimatnya.


Mala menoleh, ia menutup mulutnya karena terkejut melihat kedatangan Arthur.


"Arthur."


"Arthur? Bukankah seharusnya kau memanggilku suamiku?"


Mala menunduk menahan malunya, bisa-bisanaya Arthur tau jika ia mengaku-ngaku menjadi istrinya.


Lain halnya dengan Mala yang tersipu Malu, pak Karto justru terlihat menegang, matanya membulat sempurna saat ia melihat Arthur, detik berikutnya pak Karto mulai berontak, ia kembali berteriak histeris.


"Moster, dia moster."

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2