My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 26 KUTILANG


__ADS_3

Mereka saling menatap tajam, saling bertanya-tanya mengapa mereka tidur diatas sofa yang sama dan saling memeluk.


Mala segera berlari keluar dari studio lukis Rey, dia masuk kedalam kamar dan mengunci pintunya. Gadis itu menggaruk rambutnya dengan kasar, dia mencoba mengingat kembali apa yang terjadi semalam hingga dia tidur didalam pelukan Arthur.


"Tamat sudah riwayatku." Pekik Mala, lalu dia menghempaskan tubuhnya keatas tempat tidur.


Arthur masih memegangi dadanya, jantungnya masih berdegup kencang, dia segera keluar dari ruangan itu dan masuk kedalam kamar untuk mencari ponselnya, dia harus segera menelfon Rafli.


"Ya tuan." Ucap Rafli dari seberang sana.


"Raf, segera kesini dan bawa dokter Lutfi, sepertinya jantungku bermasalah,." Seru Arthur dengan suara panik, dia terus berusaha untuk mengatur nafasnya agar jantungnya kembali derdetak dengan normal.


Setengah jam kemudian Rafli dan dokter Lutfi tiba dikediaman Arthur, mereka segera masuk setelah dipersilahkan oleh tuan rumah. Arthur berbaring ditempat tidurnya dan dokter Lutfi segera memeriksa kondisi Arthur.


"Bagaimana, apa aku sakit jantung? beberapa hari ini aku merasa jantungku bermasalah?"


"Apa yang anda rasakan?" Tanya dokter Lutfi sebelum dia memberikan diagnosa.


"Tiba-tiba jantungku berdetak dengan sangat cepat, lalu wajahku mulai memanas. Aku yakin jika jantungku bermasalah "


"Apa anda selalu merasa seperti itu atau hanya pada situasi tertentu."


Arthur diam sejenak, dia memikirkan pertanyaan dokter Lutfi. "Jantungku bermasalah setiap kali aku bersama sibodoh itu? Apa dia yang menyebabkan aku sakit?"


"Sibodoh?" Tanya dokter Lutfi penasaran, kemudian dokter itu melirik Asisten Rafli untuk menemukan jawabannya.


"Dia asisten rumah tangga tuan Arthur sekaligus supirnya, dia juga bekerja di Art Life sebagai Cleaning Service." Jawab Rafli detail.


"Multitalenta sekali dia. Dia pasti laki-laki yang hebat."


"Dia seorang gadis dok." Imbuh Rafli.


"Gadis?" Dokter Lutfi hampir berteriak karena terkejut, namun kemudian dia mengulum senyum dan menatap Arthur yang masih duduk diatas ranjangnya. "Sepertinya masalahnya bukan dijantung, tapi di hati anda tuan?"

__ADS_1


"Hati? Apa aku terkena kanker hati?" Jawab Arthur gugup, dia menatap tajam dokter yang sedang memeriksanya.


Dokter Lutfi kembali mengulum senyum, dia tidak menyangka seorang Arthur Bagaskara yang terlihat begitu sempurna ternyata sedikit bodoh dalam masalah hati.


"Kenapa anda malah tersenyum, anda senang jika aku penyakitan dan mati."


"Anda tidak sakit tuan, anda hanya sedang jatuh cinta."


"Apa?" Teriak Arthur dan Rafli bebarengan, kedua pria dingin ini mana tau artinya jatuh cinta, keduanya kini menatap tajam dokter Lutfi dan membuat dokter Lutfi semakin terkekeh.


"Maksud anda tuan Arthur jatuh cinta dengan pembantunya? Hey tidak mungkin, anda pasti bercanda dok?" Ucap Rafli tak percaya, dia sudah kenal Arthur selama hampir 10 tahun dan dia tidak pernah melihat satu gadispun yang dekat dengannya, jadi tidak mungkin Arthur tertarik dengan gadis itu. Tidak mungkin.


"Tidak mungkin, jelas-jelas dia bukan tipeku." Sanggah Arthur.


"Lalu seperti apa tipe anda tuan?" Tanya dokter Lutfi.


"Yang jelas tidak bodoh seperti dia, dan yang pasti harus KUTILANG."


"Burung kutilang?"


Setelah perdebatan panjang mengenai diagnosanya, dokter Lutfi memilih pulang, percumah saja dia menjelaskan kepada Arthur jika dia bukan sakit melainkan sedang jatuh cinta, namun Arthur tak mempercayainya, dia yakin jika jantung dan hatinya bermasalah, dokter Lutfi menyerah dan menyuruh Arthur pergi kerumah sakit untuk memeriksa keadaan jantung dan hatinya yang memang tidak bermasalah sedikitpun.


Saat keluar dari kamar Artur, dokter Lutfi tak sengaja melihat Mala yang tengah berada didapur, dokter Lufti berinisiatif mendekati Mala, dia yakin jika gadis yang sedang minum itu adalah sibodoh yang dimaksud Arthur tadi, dokter Lutfi jadi penasaran dengan sosok yang sudah membuat Arthur jatuh cinta.


Menyadari kedatangan seseorang, Mala segera menoleh dan kearah dokter Lutfi dan keduanya sama-sama terkejut.


"Mala."


"Dokter Lutfi."


"Kau kerja disini?" Tanya dokter Lutfi, dia melangkahkan kakinya agar lebih dekat dengan Mala.


"Iya dok. Apa yang dokter Lutfi lakukan disini?"

__ADS_1


"Aku memeriksa kondisi tuan Arthur tadi."


"Apa dia sakit dok?"


"Tidak. Oh ya bagaimana kondisi pamanmu, apa sudah lebih baik?" Tanya dokter Lutfi dengan semangat.


"Paman sudah meninggal dok." Jawab Mala sedih.


"Maaf Mala aku tidak tau, aku turut berduka dengan kepergian pamanmu."


"Terimakasih dok."


Mendengar suara dari dapur membuat Arthur penasaran, dia keluar dari kamarnya dan diikuti oleh Rafli. Arthur berdiri didepan pintunya, dia menatap tajam dokter Lutfi dan Mala yang sedang berbincang, beberapa kali Mala tersenyun kepada dokter Lutfi dan membuat Arthur merasakan sesuatu yang aneh didalam hatinya. Arthur melangkahkan kakinya kedapur, seketika obrolan seru antara dokter Lutfi dan Mala berhenti, mereka memperhatikan Arthur yang berjalan melewati mereka dan mengambil air dari dalam kulkas.


"Kalian saling mengenal?" Tanya Arthur datar, padahal sedari tadi dia sudah sangat penasaran.


" Ya tuan." Jawab Mala.


"Bagaimana bisa?"


"Kami pernah bertemu dirumahsakit, karena pamannya adalah pasien saya." Terang Lutfi, lalu dokter itu melirik kearah Mala dan tersenyum.


"Baiklah kalau begitu, saya permisi. Jaga dirimu baik-baik La." Ucap dokter Lutfi, lalu dengan sengaja dia memeluk Mala dan membuat sigadis berkacamata itu terkejut, dokter Lutfi hanya ingin melihat respon Arthur saat dia memeluk Mala.


Sesuai dugaan dokter Lutfi, Arthur memang jatuh cinta dengan Mala, buktinya Arthur segera menarik tubuh Mala dari pelukan dokter Lutfi dan segera mengusir dokter itu. Dokter Lutfi hanya tersenyum, sebelum keluar dari apartemen itu dokter Lutfi membisikan sesuatu ditelinga Arthur. "Anda yakin tak menyukainya? Kalau begitu biar aku yang mengejarnya." Ucap dokter Lutfi lalu keluar dari apartemen Arthur.


Arthur melengos mendengar bisikan dokter Lutfi, dia masih tidak percaya dengan diagnosa dokter itu.


"Apa ada yang lain tuan." Tanya Rafli.


"Tidak, pulanglah." Ucap Arthur datar, lalu dia masuk kembali kamarnya.


Rafli melirik Mala sekilas sebelum dia keluar dari apartemen milik Arthur. "Tapi dia memang cantik, hanya saja dia terlalu sederhana." Gumam Rafli sambil berjalan menuju mobilnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2