
Warning 21++++++++++
Rumah Utama Bagaskara Group..
Tuan Bagaskara berada di dalam ruangannya dengan di temani Marsel. Pria tua itu masih berada di Indonesia dan mengundur jadwal keberangkatannya ke Singapore hingga dua minggu ke depan, ia berencana menyaksikan pernikahan Mala dan Arthur .
"Ambilah uang itu dan pergilah sejauh mungkin dari keluargaku, jika kau berani muncul aku tak segan-segan untuk menghabisimu." Ucap tuan Mahesa seraya melemparkan beberapa gepok uang ke kaki Marsel.
"Tapi apa salah saya tuan?"
"Kenapa kau sangat bodoh Marsel. Kau lupa jika Mala ingin memenjarakanmu. Aku tidak ingin terlibat jika gadis itu sampai melaporkanmu pada polisi. Pergilah karena aku sudah tak membutuhkan anjing sepertimu lagi."
Marsel memunguti gepokan uang itu dan membawanya keluar dari rumah besar tersebut, kedua tangannya mengepal dan wajahnya di liputi amarah.
"Anjingpun bisa menggigit majikannya." Batinnya dengan rahang mengeras.
***
Setelah semua tamu pulang dan resepsi selesai, kedua pengantin baru itu masuk ke dalam kamar hotel yang sudah Arthur pesankan untuk mereka.
Lala melemparkan tubuhnya ke atas kasur berukuran king size, setelah seharian berdiri dan menyalami tamu undangan tubuhnya terasa sangat lelah. Namun Lala merasakan tubuhnya sangat lengket sehingga mau tidak mau ia harus bangun dan membersihkan tubuhnya.
Saat Lala bangun, ia terkejut melihat Rafli sudah bertelanjang dada seraya menatapnya.
"Kenapa tidak pakai baju?" Tanya Lala dengan sedikit malu.
"Oh, aku mau mandi. Kamu mau mandi juga?" Rafli balik bertanya.
"Iya, badanku sangat lengket."
Lala lalu meninggalkan Rafli dan masuk ke dalam mandi, di dalam kamar mandi ia kewalahan melepaskan gaun pengantinnya. Lala berusaha untuk membuka gaun itu, namun ia akhirnya menyerah dan memutuskan untuk meminta bantuan pada Rafli.
"Kak." Panggil Lala, ia membuka sedikit pintu kamar mandi.
Rafli yang sedang duduk di tepi ranjangpun segera bangun saat Lala memanggilnya. "Kenapa?" Tanyanya di depan pintu.
"Tolong bantu aku melepas gaun ini." Ujar Lala dengan pelan.
__ADS_1
Rafli mengulum senyum, ia lalu masuk ke dalam kamar mandi dan membantu istrinya untuk melepaskan gaun yang melekat pada tubuhnya.
Lala memunggungi Rafli agar suaminya lebih leluasa untuk membantunya. Dengan hati-hati Rafli menarik resleting gaun istrinya, gaun itu mulai terbuka dan menampakkan bahu Lala yang mulus, gaun itu semakin terbuka hingga tubuh bagian belakang Lala terekspos sempurna di depan mata Rafli.
"Terimakasih kak, kamu boleh keluar sekarang." Usir Lala secara halus.
Namun Rafli tak mendengarkan ucapan istrinya, ia justru memegang kedua bahu Lala dari belakang, ia lalu mencium punggung Lala membuat gadis itu terkejut.
"Kak, apa yang kau lakukan." Protes Lala, ia ingin beranjak namun Rafli menahannya.
"Diam dan rasakan." Bisik Rafli dengan suara serak.
Lala akhirnya menurut, ia diam di tempatnya dan membiarkan Rafli mengendus tubuh bagian belakangnya, sesekali Rafli memberikan gigitan kecil pada kulitnya membuat Lala meremang.
Rafli terus melakukan aksinya, ia menarik gaun Lala sehingga kini istrinya terlihat polos, hanya sebuah under wear yang melekat di tubuh bagian bawah Lala dan menutupi area sensitifnya.
Rafli memutar tubuh istrinya, ia menatap tubuh itu penuh damba. Beberapa kali ia menelan salivanya, nafasnya mulai terdengar berat dan matanya di penuhi kabut gairah.
Rafli berlutut di depan Lala membuat gadis itu reflek menutupi bagian sensitifnya, namun Rafli menyingkirkan tangan Lala dengan pelan, detik berikutnya satu-satunya kain yang menempel di tubuh Lala telah terlepas.
"Beautifull." Ucap Rafli seraya memandangi titik vilat istrinya.
Setelah puas berada di atas bukit, kini Rafli berpindah menuju lembah yang di apit oleh kedua paha Lala, ia hampir saja menyentuhnya namun Lala menahan tangannya dan menggeleng.
"Cepat mandi, jangan menggodaku terus." Ujar Lala dengan nafas menderu, dadanya naik turun menadakan ia sudah terpancing hawa nafsu.
Rafli mengulas senyum, ia segera membilas tubuh Lala dengan air. Setah itu ia melepaskan celananya dan segera membersihkan tubuhnya. Lala berdiri mematung menyaksikan Rafli yang tengah mandi, entah bisikan dari mana ia berinisiatif membantu Rafli untuk menyabuni tubuh kekar itu.
Rafli menelan ludahnya berkali-kali, ia sungguh ingin segera menerkam istrinya saat ini juga, namun ia harus bersabar dan menyelesaikan ritual mandi ini, Rafli tak ingin momen malam pertama mereka terjadi di dalam kamar mandi.
Sepuluh menit kemudian mereka telah selesai membersihkan tubuh mereka. Dengan tak sabar Rafli meraih tengkuk Lala dan mencium bibir istrinya secara rakus. Lala yang sudah terbakar gairah itupun membalas ciuman sang suami, mereka saling melu*mat dan menyesap lidah masing-masing.
Rafli mengangkat tubuh Lala dan membawanya keluar dari dalam kamar mandi tanpa melepaskan ciuman mereka. Rafli duduk di tepi tempat tidur dan Lala berada di atas pangkuannya, keduanya kembali membelit lidah masing-masing hingga mereka kehabisan pasokan oksigen.
Rafli tersenyum, ia menarik tengkuk Lala dan mengecup kening istrinya.
"Aku sangat mencintaimu, jadilah milikku selamanya."
__ADS_1
Rafli kini membaringkan tubuh Lala di atas tempat tidur, ia ingin segera menikmati malam pertamanya. Rafli kembali mencium istrinya, bukan hanya di bibir, hampir semua lekuk tubuh Lala mendapat ciuman Rafli.
Lala mulai mend*esah menerima perlakuan Rafli, bagian intimnya mulai terasa lembab dan sedikit basah. Akhirnya dengan pelan dan hati-hati Rafli mulai menyatukan tubuh mereka. Lenguhan dan des*ahan mengiringi pergerakan lembut nan menggoda dari keduanya, malam ini dengan keringat yang kembali bercucuran Rafli telah memiliki Lala sepenuhnya.
****
Lain di kamar hotel, lain pula di penthouse mewah milih Arthur, ia justru harus menelan pil pahit karena Mala mengusirnya keluar dari kamar, ia terpaksa tidur di kamar Petra karena Mala mengunci kamarnya. Mala benar-benar teguh pada pendiriannya untuk tidak membiarkan Arthur menyentuhnya sebelum mereka menikah.
Namun Arthur berusaha untuk mengerti Mala, ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan membayangkan malam pertama mereka yang akan terjadi dalam waktu dua minggu lagi.
Khayalan mesyumm Arthur terganggu oleh suara ponselnya, ia meraih ponsel itu dan melihat nama tuan Mahesa di layar ponselnya.
"Ya hallo." Sapa Arthur.
"Hallo tuan Arthur, maaf mengganggu malam-malam begini, apa kita bisa bertemu? Saya ada di restoran yang berada di lantai bawah apartemen anda." Balas tuan Mahesa di ujung telefon.
"Saya turun sekarang."
Arthur keluar dari kamar Petra dan menuju kamarnya. "Sayang aku keluar sebentar." Teriak Arthur di depan pintu kamarnya.
Lama menunggu tak mendapatkan jawaban dari sang kekasih akhirnya Arthur memutuskan untuk pergi, ia keluar dari apartemen dan turun ke lantai bawah untuk menemui tuan Mahesa.
Arthur masuk ke dalam restoran yang tuan Mahesa sebutkan, ia melihat pria baruh baya itu tengah menunggunya. Arthur bergegas menghampiri tuan Mahesa dan duduk di hadapannya.
"Maafkan saya mengganggu malam-malam begini." Ucap tuan Mahesa.
"Tidak masalah. Sebebarnya ada apa tuan?" Tanya Arthur dengan sopan.
"Maafkan atas kelancangan saya. Saya hanya ingin tau kapan kalian menikah, saya sungguh ingin mendampingi Mala berjalan menuju altar pernikahannya." Tuan Mahesa nampak begitu sedih membuat Arthur merasa kasihan padanya, namun Arthur sudah berjanji pada Mala untuk merahasiakan pernikahan mereka dari ayah kandungnya.
"Maafkan saya tuan Mahesa, namun Mala tak menghendaki anda datang ke pernikahan kami, saya sungguh menyesal namun saya sudah berjanji pada Mala untuk merahasiakannya dari anda."
Tuan Mahesa tertunduk lemas, air matanya yang tertahan akhirnya menetes. "Sebenci itukan Mala kepada saya." Gumamnya pelan.
Arthur menghela nafas dengan panjang, ia tak mampu berbuat apapun untuk merubah keputusan Mala, ia sudah berjanji untuk selalu menghormati keputusan Mala.
Tanpa Arthur dan tuan Mahesa sadari pertemuan mereka di amati oleh seseorang dari kejauhan, seseorang itu mengangkat sudut bibirnya menampakakan sebuah senyuman licik.
__ADS_1
BERSAMBUNG....