
"Pak Karto tenanglah." Ucap salah seorang perawat yang ada di ruangan itu.
"Karto."Ulang Rafli, tiba-tiba ia teringat dengan seseorang bernama Karto yang sedang di carinya. "Mungkinkah?" Batin Rafli.
"Sebaiknya kalian keluar dulu, kami akan menangani pasien."
Rafli dan Aryo akhirnya keluar dari ruangan itu, mereka duduk di bangku panjang yang tersedia didepan ruangan.
"Pak Aryo." Panggil Rafli.
"Ya tuan."
"Boleh saya menanyakan beberapa hal?" Tanya Rafli dan mendapat anggukan dari Aryo.
"Bapak anda bernama Karto?"
"Benar tuan"
"Apa anda tau dimana bapak anda bekerja sebelum beliau sakit."
"Bapak saya dulu jadi tukang kebun di keluarga kaya raya tuan, kalau nggak salah pemilik Bagaskara Group. Bapak bekerja disana sudah puluhan tahun." Ujar Aryo. Ia menjawab semua pertanyaan Rafli karena merasa segan, perasaan tak enak hati karena Rafli sudah berbaik hati mengantarnya membuat Aryo menjawab pertanyaan Rafli.
Rafli mematung, sepertinya pertemuannya dengan Aryo bukanlah kebetulan semata, berkat semua itu Rafli menemukan pak Karto, seseorang yang ia yakini menjadi saksi atas kebakaran 15 tahun silam.
"Pak Aryo tau kenapa bapak tiba-tiba sakit setelah pulang kerja?"
"Saya juga kurang tau tuan. Seminggu setelah bapak sakit saya sengaja datang ke rumah utama Bagaskara Group, niatnya mau ngasih kabar kalau bapak sudah tidak bisa bekerja, tapi saya tidak ketemu dengan bos bapak saya, kata pelayan tuan mereka berada di rumah duka karena nyonya besar meninggal." Aryo menerawang jauh mencoba mengingat kejadian yang sudah lampau.
"Boleh saya minta nomer telefon pak Aryo?"
"Boleh tuan."
Rafli mencatat nomer telefon Aryo di gawai pintarnya, ia akan terus menggali informasi dari Aryo, karna mustahil mengorek informasi dari pak Karto yang sedang sakit jiwa.
***
Hari beranjak malam, Rafli meninggalkan Rumah Sakit setelah Aryo menyuruhnya untuk pulang. Selama perjalanan Rafli terus memikirkan pak Karto, sebenarnya apa yang terjadi sampai pak Karto mengalami gangguan jiwa.
Perhatian Rafli tiba-tiba teralihkan pada deretan ruko yang menjual aneka bunga segar. Rafli menepikan mobilnya, ia berencana membeli bunga untuk Lala sebagai tanda permintaan maaf darinya.
Rafli memilih bunga mawar merah untuk diberikan kepada Lala, setelah membayar ia segera kembali kedalam mobilnya dan meletakan buket bunga tersebut di kursi sebelahnya.
Rafli mengulas senyum, ia sudah tak sabar bertemu dengan Lala. Entah mantra apa yang sudah gadis itu pakai sehingga Rafli selalu saja memikirkannya.
Rafli menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Lala, ia mengirim pesan kepada Lala agar gadis itu keluar menemuinya.
Aku dibawah, keluarlah...
Rafli bersenandung lirih saat menunggu balasan pesan dadi Lala, namun tak sengaja pandangannya menangkap sosok yang tak asing keluar dari rumah lama Mala.
"Tuan Mahesa, sedang apa dia disini."
Rafli sengaja mematikan mobilnya, ia mengamati Tuan Mahesa dari dalam mobilnya, tak lama bi Ningsih ikut keluar, mereka berbincang sejenak sebelum akhirnya Tuan Mahesa meninggalkan rumah bi Ningsih.
"Mereka saling kenal?"
Tok..tok..tok
__ADS_1
Suara ketukan kaca mobil mengalihkan perhatian Rafli, ia segera menurunkan kaca mobilnya dan melempar senyum kepada Lala.
"Masuklah." Pinta Rafli dengan lembut.
Lala memutari mobil lalu ia masuk kedalam mobil Rafli.
"Sudah selesai pekerjaannya?" Tanya Lala, gadis itu duduk disebelah Rafli.
"Sudah."
Rafli meraih buket mawar merah dari kursi belakang, ia sempat memindahnya kebelakang sebelum Lala masuk.
"Untukmu." Rafli menyerahkan buket bunga tersebut kepada Lala.
"Untukku." Lala mengaga, ia tak percaya Rafli memberikan bunga untuknya.
"Hem, sebagai tanda permintaan maaf dariku." Ucap Rafli, ia meraih salah satu tangan Lala dan menggenggamnya.
"Seharusnya tidak perlu repot, aku tau kamu sibuk dan aku memakluminya. Terimakasih bunganya." Ucap Lala bijak, ia lalu mencium pucuk kelopak mawar tersebut, bibirnya kembali melengkung menerbitkan sebuah senyum yang sangat cantik dimata Rafli.
Rafli merubah posisi duduknya, ia mencondongkan tubuhnya kedepan, seolah lupa dengan janji yang ia ucapkan pagi tadi, Rafli kembali berniat untuk mencium Lala.
Saat bibir mereka susah dekat, tiba-tiba Lala menahan bahunya.
"Kepalamu kenapa?" Tanya Lala, ia mengusap lembut dahi Rafli yang membiru.
"Aku hampir menabrak orang tadi, aku lupa pakai sabuk pengaman dan begini jadinya." Ucap Rafli sambil tertawa getir.
"Dasar ceroboh. Apa masih sakit?" Lala menatap Rafli khawatir.
"Sedikit. Tapi aku rasa akan sembuh jika kamu menciumnya."
"Ini belum" Rafli menunjuk bibirnya. Mungkin peribahasa yang pas untuk Rafli adalah dikasih hati malah minta jantung, sudah di cium sekali malah mau berkali-kali.
Cup.. cup..
Dua kecupan mendatar di bibir Rafli, ia mengulum senyum karena mendapat kecupan dari Lala. Sungguh tak di sangka si kembar batu es mulai mencair di tangan kedua gadis yang bersahabatan itu.
"Sudah malam, masuklah. Besok pagi aku jemput ya." Ucap Rafli seraya mengelus kepala Lala.
"Hem.. hati-hati dijalan, segera obati lukamu. Kabari aku jika sudah sampai."
Cup Cup Cup..
Tiga kecupan kembali mendarat di bibir Rafli sebelum sang pelaku keluar dari mobil..Rafli salah tingkah dibuatnya, wajahnya tersipu mendapat perlakuan spesial dari Lala.
****
Apartemen Arthur..
Mala dan pakde Karto duduk berdampingan sambil menonton acara televisi. Sebuah keripik kentang tersaji di atas piring, snack yang tak bisa di makan Mala saat bersama Arthur, menurut Arthur jajanan dalam kemasan tidak baik untuk kesehatan. Memang benar sih, tapi kalau sesekali gak papa lah ya.
Acara televisi terjeda saat tayangan breaking news tiba-tiba muncul di layar televisi membawakan sebuah berita mengenai kebakaran di pemukiman padat penduduk.
"Matikan TV-nya nduk, sudah malam." Pakde Karto bangun dari duduknya, ia berjalan menuju kamarnya. Baru beberapa langkah tubuh pakde Karto sudah terjatuh diatas lantai.
"Pakde." Teriak Mala dengan mulut penuh keripik kentang.
__ADS_1
Mala beranjak dari sofa, ia berlari ke arah tubuh pakde Karto yang tergeletak diatas lantai. Mala mengguncang tubuh pakde Karto, tiba-tiba ucapan pakde Karto terngiang di telinga Mala.
"Pakde bangun." Seru Mala.
"Pakde." Mala kembali mengguncang tubuh pakde Karto.
Lima menit kemudian, Pakde Karto mulai membuka matanya, ia menatap Mala yang duduk bersimpuh disebelahnya.
"Mala." Ucap pria itu dengan suara serak.
Mala menatap wajah pria tersebut. Jantung Mala seolah berhenti saat ia bertatap dengan mata teduh yang beberapa hari ini ia rindukan, Mala membuang wajahnya, ia tak sanggup jika harus berhadapan dengan Rey. Ya, Mala yakin jika yang berada di hadapannya sekarang adalah Rey. Tatapan hangat itu hanya milik Rey.
"Mala." Ulang pria itu.
"Kenapa kamu membiarkanku tidur di lantai." Sambungnya lagi, ia lalu bangun dan duduk menghadap Mala. Dengan lembut ia meraih tangan Mala dan mengusap cincin yang melingkar dijari manis Mala.
"Apa kamu belum mau menjawab lamaranku."
Mala menoleh, ia kembali menatap wajah pria yang kini duduk bersila di depannya. "Mata itu, kenapa Tuan Arthur memiliki sorot itu, tatapan teduh yang biasanya hanya Rey yang memilikinya. Aku benar-benar tidak bisa membedakan mereka sekarang."
"Kenapa diam." Ucap pria itu seraya menyentuh pipi Mala.
"Tuan Arthur?"
"Ya ini aku, memangnya ada lagi yang melamarmu." Goda Arthur.
"Bagaimana jawabanmu." Tagihnya tak sabar.
Mala menunduk, ia memandangi cicin pemberian Arthru, ia mimilin cincin itu lalu berusaha untuk melepasnya. Arthur yang melihat hal tersebut segera mencegah Mala, ia menggenggam kedua tangan Mala dengan erat.
"Jangan tolak aku sekarang. Aku akan memberi waktu lebih lama." Pinta Arthur setengah mengiba.
"Tuan." Panggil Mala pelan.
"Ya."
"Bagaimana jika kita saling mengenal sebelumnya. Maksudku ketika kita masih anak-anak."
"Apa maksudmu."
"Menurut Asisten Rafli, kebakaran yang merenggut nyawa ibu anda ada disebuah Vila di daerah puncak."
"Ya, itu Vila milik keluargaku, sekarang sudah di renovasi tapi aku masih belum bisa untuk datang kesana." Jawab Arthur membenarkan perkataan Mala.
"Kedua orang tua saya juga meninggal karena kebakaran dan kata bibi kebakaran itu terjadi di sebuah Villa di daerah puncak milik teman ibu saya." Mala kembali melanjutkan dugaannya. Entah mengapa tiba-tiba Mala ingin memberi tahu tentang prasangkanya.
"Kebakaran itu terjadi 15 tahun lalu..Saya sudah mencari tau dari berbagai media massa, namun pada tahun tersebut hanya ada satu kebakaran di daerah puncak, dan kebakaran tersebut terjadi di Villa milik Bagaskara Group."
Arthur menutup mulutnya, ia belum percaya dengan perkataan Mala.
"Kau yakin?" Tanya Arthur.
"Saya belum terlalu yakin, untuk itu saya ingin meminta bantuan anda, tolong cari tau siapa yang sengaja membakar Villa itu, setelah masalah ini jelas saya akan menjawab lamaran anda."
Arthur membawa tubuh Mala kedalam pelukannya, ia merasa bersalah karena tak pernah tau perasaan Mala mengenai kedua orang tuanya.
Mala terlena dalam kehangatan pelukan Arthur, ia merasa nyaman dan aman berada didalam pelukan pria itu, tiba-tiba Mala ingin menangis, ia ingin menumpahkan semua kesedihannya, ia ingin berbagi cerita bersama Arthur.
__ADS_1
Buliran bening mulai membasahi pipi Mala, detik berikutnya ia mulai terisak. Sementara Arthur hanya diam, ia membiarkan Mala menumpahkan kesedihannya, ia hanya bisa megelus rambat panjang Mala dan berusaha menenangkannya.
"Jangan bersedih sendirian, berbagilah denganku." Bisik Arthur seraya mengecup kepala Mala berulang kali.