My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 25 Tidur bersama


__ADS_3

Setelah pulang dari kantor pengacara, bi Ningsing dan kedua anaknya sengaja menunggu Lala didepan rumahnya, mereka akan mencari tau dimana Mala sekarang, karena mereka membutuhkan stempel milik kedua orangtua Mala, mereka yakin jika stempel itu disimpan oleh Mala.


Yang ditunggu ketiganya akhirnya datang, mereka segera menyerbu Lala, mereka sudah tidak sabar untuk segera menemukan stempel itu.


"Apa lihat-lihat." Hardik Lala. Dia sangat kesal melihat ketiga orang yang sudah mengusir Mala.


"Lo tau dimana Mala tinggal?" Tanya Sofyan sembari menatap Lala dengan tatapan mesum.


"Bukannya Mala tinggal bareng kalian."


"Mala pindah dan gue yakin lo juga tau dimana tempat tinggal Mala sekarang." Timpal Rani.


"Aku nggak tau, beneran deh." Jawab Lala tenang, dengan begini mungkin mereka akan mempercayainya.


"Nak Lala, kami ada urusan dengan Mala, apa nak Lala bisa memberitahu kami dimana Mala tinggal sekarang.?" Ucap bi Ningsing dengan halus, namun terlihat jelas niat buruknya dari sorot matanya.


''Maaf tante, Lala nggak tau, Lala malah baru tau sekarang kalau Mala pindah."


Mereka bertiga percaya dengan Lala dan segera masuk kedalam rumah mereka. Lala pun demikian gadis itu segera masuk kedalam rumahnya sebelum tiga orang jahanam itu mengganggunya lagi.


"Apa aku jadi artis aja ya, aku pinter banget aktingnnya tadi." Gumam Lala dengan senyum merekah diwajahnya. Kalau urusan percaya diri sepertinya Lala adalah juaranya.


*****


Setelah makan malam mama Wulan memutuskan untuk pulang, dia tidak ingin berlama-lama dan mengganggu pasangan kekasih itu. Sepulang mama Wulan, Mala melanjutkan beres-beres didapur sementara Arthur sudah kembali sibuk dengan pekerjaannya, padahal sudah akhir pekan, namun sepertinya tidak ada kata libur untuk Arthur.


Semuanya sudah beres, dapur sudah kembali bersih, Mala masuk kedalam kamarnya dan tak lama kemudian dia keluar untuk mandi. Arthur melirik sekilas, dia menggeleng kecil melihat Mala mondar-mandir dan anehnya dia tidak merasa terganggu sama sekali.

__ADS_1


Selesai mandi, Mala segera masuk kedalam kamarnya, Arthur mengamati Mala saat berjalan kekamarnya, gadis itu mengenakan celana training dan kaos putih polos yang kebesaran. "Dia kampungan sekali." Desis Arthur, lalu dia kembali fokus dengan pekerjaannya.


Hampir tengah malam saat Mala mendengar seseorang mengetuk pintunya. Mala berjalan sempoyongan untuk membuka pintu, gadis itu sedang mimpi indah sebelumnya.


Mala membuka pintu dan Arthur sudah berdiri didepan kamarnya dengan senyum, lesung pipinya kembali mencuat, Mala segera membalas senyum itu, karena sudah dipastikan jika yang berada didepannya sekarang adalah Rey.


"Maaf aku mengganggumu." Ucap Rey lembut,


"Ada apa Rey?"


"Aku ingin melukis, tapi aku tidak tau akan melukis apa, bisakah kamu menjadi model untuk lukisanku?"


"Tapi ini sudah malam Rey." Mala menolak secara halus, dia sangat ngantuk sekarang dan ingin segera kembali tidur.


"Aku bayar cash."


Mala masuk keruangan yang biasa digunakan Rey untuk melukis dan diikuti Rey dibelakangnya.


"Aku harus duduk dimana dan aku harus bergaya seperti apa Rey?" Tanya Mala begitu mereka berada didalam studio lukis Rey.


"Duduk saja disana, dan bergaya senyaman kamu saja, senatural mungkin." Rey menunjuk sofa panjang yang berada disudut ruangan itu.


"Tapi penampilanku Rey." Mala menunjuk dirinya sendiri, gara-gara uang dia sampai lupa penampilannya sangat kusut khas orang baru bangun tidur.


Rey mendekati Mala, dia tersenyum dan merapikan rambut Mala. "Kamu cantik seperti biasanya." Ucap Rey sambil menatap Mala penuh perasaan.


"Terimakasih Rey." Jawab Mala gugup, pipinya kembali merona gara-gara pujian Rey, gadis itu segera duduk disofa sebelum jantungnya melompat keluar jika terus berhadapan dengan Rey.

__ADS_1


Mala duduk disofa panjang itu dengan gaya senatural mungkin, sementara Rey sudah siap dengan canvas dan pensilnya. Rey larut dalam hobinya, dia menikmati setiap momen yang tergores dalam canvas putihnya, dia melukis dengan penuh perasaan.



Baru setengah jam menjadi model, mata Mala sudah tak bisa dikondisikan lagi, rasa kantuknya sudah tak tertolong, dia kembali terlelap diatas sofa dengan posisi duduk dan bersandar pada sofa. Melihat Mala tidur Rey justru semakin bersemangat untuk melukis, dia ingin pose senaturan mungkin, dan dia melihatnya saat Mala tidur, pose yang sangat natural namun cantik.


Dua jam sudah Rey bergelut dengan lukisannya, dia menatap hasil lukisannya yang indah, sama seperti wujud aslinya yang begitu indah dan mempesona. Rey keluar dari studio lukisnya, dia harus mencuci tangannya yang kotor, setelah mencuci tangan dia kembali masuk dan duduk disebelah Mala yang masih terbuai dalam mimpinya.


Rey menatap intens wajah Mala, setiap jengkal wajah itu tak ia lewatkan sedikitpun, tanpa sadar tangannya mulai menyentuh wajah cantik itu. "Cantik." Gumam Rey, namun tiba-tiba dia memegangi dadanya karena jantungnya kembali berpacu, berdetak tak sesuai ritme yang seharusnya. "Aku rasa aku bukan hanya tertarik padamu, sepertinya aku menyukaimu La." Bisik Rey ditelinga Mala, namun Mala hanya menggeliat dan kembali terlelap.


Ray memposisikan kepala Mala dibahunya, namun sepertinya gadis itu tidak merasa nyaman, Mala memindahkan kepalanya didada bidang Rey, dan tangannya memeluk pinggang pria itu, mungkin Mala mengira tubuh Rey adalah bantal guling yang selalu dipeluknya saat tidur. Rey hanya tersenyum, dan tangannya kini melingkar ditubuh Mala, memberikam kehangatan untuk gadis yang menarik perhatiannya, tak lama dia ikut terlelap, malam ini mereka tidur dengan posisi saling memeluk satu sama lain.


Pagi datang, tak seperti biasanya pagi ini Mala masih terlelap padahal matahari mulai meninggi, dia enggan melepaskan bantal guling bernyawanya, rasanya sangat nyaman sehingga gadis itu ingin berlama-lama memeluk guling hidupnya.


Namun kenyamanan itu sepertinya tidak berlaku bagi si bantal bernyawa, dia mulai terusik dengan kilauan matahari yang menembus jendela studio lukis itu. Perlahan dia mengernyitkan matanya, dia terkejut begitu melihat seseorang tidur dengan nyaman didalam dekapannya. Sibantal bernyawa menundukkan kepalanya, dia ingin memeriksa siapa yang telah tidur bersamanya sehingga membuat badannya remuk redam.


"Gadis bodoh." Gumam sibantal yang sudah kembali menjadi Arthur, pemilik sah bantal hidup yang tengah dipeluk oleh Mala.


Arthur menatap wajah Mala yang tertutup oleh rambutnya, dia menggerakkan jarinya menyapu rambut yang menghalanginya untuk menatap wajah Mala, adegan yang dilakukan Rey kembali Arthur peragakan, dia menatap wajah Mala dengan seksama, dug dug dug dug, jantungnya mulai berdegup dengan kencang dan wajahnya mulai terasa hangat.


Perlahan-lahan Mala membuka matanya, saat netranya membuka sempurna, ternyata Arthur masih menatapnya, lama mereka saling diam dan menatap satu sama lain, pagi yang indah untuk sebuah romantisme yang tak sengaja tercipta.


"Kau." Ucap Arthur, lalu dia mendorong tubuh Mala hingga terhempas dari pelukannya.


"Auwww." Pekik Mala, gadis itu kesakitan karena tubuh bagian belakangnya membentur lengan sofa.


Mereka saling menatap tajam, saling bertanya-tanya mengapa mereka tidur diatas sofa yang sama dan saling memeluk.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2