
Hye semua, maaf telat up,,
Author lagi rada sibuk nih..
Tapi aku usahain buat tetep up ya..
Happy Reading ❤❤
Rafli berdiri dengan gagah di depan Altar pernikahannya, ia terlihat tampan mengenakan setelan jas berwarna abu-abu dengan kemeja dan dasi putih sebagai dalaman serta hiasan bunga yang di sematkan di bagian kerah jas.
Dari arah pintu masuk, Lala berjalan menuju Altar dengan di damping sang ayah, ia nampak sangat anggun dengan balutan gaun pengantin bergaya ball gown berwarna broken white. Gaun indah itu memiliki detail ruffles di bagian belakang dengan model tube dress yang bertekstur serta sentuhan lace berpayet mutiara.
Penampilan sang pengantin wanita pun semakin cantik dilengkapi dengan makeup yang flawless serta tatanan rambut updo yang clean yang tertutup veil panjang yang menjuntai hingga menutupi gaun bagian belakangnya.
Rafli tak bisa berkata apapun, ia hampir menangis melihat penampilan calon istrinya. Pak Dahlan berdiri tepat di depan Rafli, dengan mata berkaca-kaca ia menyerahkan putri satu-satunya itu kepada Rafli. Rafli menundukkan kepalanya, memberikan hormat kepada sang calon mertua, lalu ia meraih tangan Lala dan membawanya naik ke atas Altar pernikahan mereka.
Kedua mempelai kini berdiri berhadapan, setelah beberapa doa di rapalkan oleh pemuka agama kini mereka bersiap untuk mengucapkan janji suci mereka.
Saya, Rafli Hermawan berjanji di hadapan Tuhan, saya menerima engkau Mikhayla Ananta sebagai istri yang sah dan satu-satunya mulai saat ini dan seterusnya. Berjanji untuk setia, mengasihi engkau baik dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit, serta tidak akan meninggalkan engkau untuk selamanya.
Suasana semakin haru setelah keduanya mengucapkan janji suci mereka. Bu Yati menahan air mata bahagianya, sementara bu Erni tak kuasa menahan tangisnya, ia masih tak percaya jika putrinya kini telah menikah.
Di kursi tamu, Mala dan Arthur mengeratkan genggaman tangan mereka, Mala menitikan air mata bahagianya saat sang sahabat melafalkan janji suci pernikahannya dengan lancar, segenap doa Mala berikan untuk Lala dan Rafli.
Kembali ke atas Altar, setelah mengucapkan janji suci, kedua mempelai saling bertukar cincin. Dengan hati-hati Rafli membuka veil berupa kain transparan yang menutup wajah Lala, pria itu tak bisa menahan air matanya saat sang pujaan hati nampak begitu jelas di hadapannya. Setelah kain penutup itu terbuka Rafli segera mencium bibir istrinya sebagai tanda jika mereka telah sah menjadi suami istri baik secara agama maupun negara.
***
Setelah acara pemberkataan selesai, kedua mempelai menggelar resepsi sederhana di sebuah hotel, resepsi tersebut di hadiri oleh keluarga kedua mempelai serta teman-teman mereka.
Arthur dan Mala mengahampiri pasangan pengantin itu dengan wajah bahagia, Mala segera memeluk sahabatnya dan menangis saking bahagianya.
"Jangan menangis, nanti aku ikut nangis." Bisik Lala di telinga sahabatnya.
"Aku menangis karena terlalu bahagia." Sahut Mala namun ia tak bisa menghentikan tangisannya.
__ADS_1
Setelah beberapa saat akhirnya Mala mengurai pelukannya, di tatapnya sang sahabat dengan bahagia. "Selamat untukmu, semoga kamu segera memberi keponakan untukku." Ucap Mala seraya menggoda sahabatnya.
Lala tersenyum serta mengaminkan doa sang sahabat. "Terimakasih, dan semoga kalian cepat menyusul." Lala melirik Arthur sekilas.
"Tentu saja, dua minggu dari sekarang kita akan menikah." Sahut Arthur sontak membuat Rafli dan Lala terkejut.
"Benarkah?" Timpal Lala.
Mala mengangguk, gadis itu tersipu mengingat dirinya akan segera menjadi istri Arthur.
"Selamat tuan, selamat Mala." Ucap Rafli dengan tulus.
"Selamat juga untuk anda Asisten Rafli, tolong jaga Lala dengan baik, kalau tidak aku akan mengambilnya lagi dari anda." Jawab Mala seraya tersenyum.
"Untuk kalian." Arthur menyerahkan sebuah kotak berwarna hitam kepada Rafli. "Bukalah, itu kado yang pernah aku janjikan."
Rafli meraih kado itu dan membukanya, wajahnya terlihat bingung melihat sebuah kunci di dalam kotak kecil itu.
"Rumah impianmu, dengan kolam renang dan taman untuk bermain anak-anakmu kelak." Seru Arthur menjawab kebingungan Rafli.
"Anda serius?" Rafli masih tak percaya akan hadiah yang Arthur berikan kepadanya
Rafli segera memasukan kotak kado itu ke dalam jasnya, ia lalu memeluk sang sahabat dengan wajah yang sangat gembira. "Terimakasih, kau memang sahabat terbaikku."
"Tentu saja." Ucap Arthur dengan bangga.
***
Mala dan Arthur kembali ke apartemen setelah mereka menghadiri pernikahan sahabat mereka..Arthur duduk sofa sementara Mala merebahkan kepalanya di atas pangkuan Arthur, ia tak tidur namun kedua matanya tertutup, menikmati setiap sentuhan Arthur di kepalanya.
"Kamu yakin tidak ingin menggelar pesta untuk pernikahan kita?" Tanya Arthur seraya memainkan rambut Mala.
"Hem." Jawab Mala singkat.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Aku tidak punya siapapun untuk menghadiri pesta pernikahan kita, bahkan nanti tidak ada yang mendampingiku naik ke atas Altar pernikahan kita." Ucapnya datar namun terdengar menyedihkan.
"Kamu serius tidak akan memberi tahu tuan Mahesa?"
Mala membuka matanya, ia merubah posisinya dan duduk di sebelah Arthur. "Tidak." Jawabnya tanpa keraguan.
"Tapi kenapa? Kamu bahkan memaafkan tuan Bagaskara kenapa kamu nggak bisa memaafkan ayah kandungmu?"
"Sudahlah jangan bahas itu lagi, intinya aku tidak akan memberi tahu tuan Mahesa mengenai pernikahan kita." Finall Mala, wajahnya berubah masam, ia hendak berdiri dan meninggalkan Arthur, namun Arthur lebih dulu mencekal pergelangan tangannya dan menariknya duduk di atas pangkuan Arthur.
"Ok fine, maafin aku, aku nggak akan bahas itu lagi. Jangan marah. Ayo senyum, nanti cantiknya ilang." Rayu Arthur seraya merapikan rambut Mala.
"Dasarnya juga nggak cantik." Sahut Mala dengan wajah cemerut.
"Siapa bilang?"
"Kamu." Mala menempelkan jari telunjuknya tepat di kening Arthur. "Kamu bilang aku bukan tipemu karena aku bukan KUTILANG kan? Kamu juga selalu menghina fisikku, kamu bilang aku pendek dan dadaku tidak besar, kamu juga selalu menyebutku bodoh dan tak berguna."
"Sayang, kenapa kamu suka sekali membahas masa lalu. Aku kan sudah minta maaf. Sekarang kamu adalah yang tercantik, ya meskipun yang itu memang tak terlalu besar." Celoteh Arthur seraya menatap dada Mala.
"Apa yang kamu lihat?" Mala menutup dadanya dengan kedua tangan. "Tunggu sebentar, tidak terlalu besar katamu? Kamu saja belum pernah melihatnya, berani sekali kamu mengatainya."
"Siapa bilang aku belum pernah melihatnya?" Arthur menggoda Mala seraya menaik turunkan kedua alisnya.
"Kamu ingat saat kamu hampir tenggelam, saat itu kamu demam, jadi aku terpaksa melepas semua pakaianmu dan aku melihatnya."
"Dasar mesyummmmmmm." Mala memukul dada Arthur, rasanya sangat memalukan mendengar Arthur mengatakan kalimat itu.
Arthur hanya terkekeh, ia lalu mengangkat tubuh Mala membuat gadis itu terkejut.
"Turunkan aku." Teriak Mala.
Arthur tak mengindahkan ucapan Mala, ia tetap menggendong Mala ala bridal style dan membawanya masuk ke dalam kamar.
"Mungkin lebih baik aku memeriksanya lagi." Bisik Arthur dengan suara menggoda.
__ADS_1
"Turunkan aku tuan messsyuuuummm."
BERSAMBUNG..