My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 73 Kencan Singkat


__ADS_3

Akhir pekan memanglah momen yang pas untuk bermalas-malasan, namun sayangnya tidak dengan Mala, gadis itu bangun pagi seperti biasanya. Mala duduk di tepi ranjang dengan bibir mencebik.


"Kebiasaan deh, kenapa kalau libur malah bisa bangun pagi. Padahal Alarm sengaja aku matikan. Giliran kerja, mau buka mata aja males banget." Gumamnya seorang diri.


Mala kembali merebahkan tubuhnya, ia berusaha untuk memejamkan matanya , tapi lagi-lagi gadis itu di buat kesal karena sudah tak mengantuk. Mala akhirnya bangun dan memutuskan untuk beberes rumah.


Mala merinding saat samar-samar mendengar alunan musik jawa, ia melirik jam dinding, waktu menunjukan pukul empat pagi. Mala menelan ludahnya dengan kasar, dengan setengah berani ia mencari asal suara.


Lingsir wengi sliramu tumeking sirna


Aja tangi nggonmu guling


Awas aja ngetara


Aku lagi bang winga-winga


Jin setan kang takutusi dadya sebarang


dwaja lelayu sebi.


Bulu kuduk Mala semakin berdiri setelah mendengar syair lagu yang terdengar begitu mistis, sebuah kidung jawa yang tak asing di kalangan anak muda setelah menjadi sountrack salah satu film horor beberapa tahun lalu. Rasa penasaran Mala semakin besar, ia kembali melangkahkan kakinya menuju sebuah ruangan yang Mala yakini menjadi sumber suara.


"Masa ia didalam apartemen mewah begini ada miss Kunti. Setahuku hanya ada miss Kimberly kan." Batin Mala.


Mala berdiri di depan ruangan pakde Karto, tanganya gemetaran saat akan membuka pintu tersebut, Mala mengurungkan niatnya berkali-kali, namun rasa penasarannya akhirnya memberikan keberanian untuk membuka ruangan milik pakde Karto.


Mala membulatkan matanya, didalam ruangan gelap itu Mala melihat sebuah sosok yang sedang meliuk-liukan tubuhnya dengan kain putih menutupi sebagian tubuhnya. Sosok tersebut menghentikan kegiatannya seiring berakhirnya lagu yang kental akan mistis tersebut, dalam kegelapan Malam sosok tersebut seakan melayang dan menghampiri Mala.


"Kyaaa..." Teriak Mala histiris. Saat akan berlari sosok terdebut justru memcekal salah satu tangannya.


"Ampun, maaf, aku nggak ada niat ganggu, lepasin aku." Rancau Mala dengan mata tertutup.


"Buka matamu cah ayu." Ucap sosok tersebut.


Mala perlahan membuka matanya, suara yang baru saja ia dengar adalah suara yang tak asing baginya, suara lembut sengan aksen jawa yang begitu medok.


"Pakdhe." Ucap Mala setelah ia membuka matanya dan melihat Pakde Karto di hadapannya.


Pakde Karto terkekeh melihat wajah panik Mala. "Wajahmu kenapa panik gitu, kaya orang abis liat hantu." Tanya pakde Karto sambil menahan senyumnya.


Mala menggerutu, ia mengamati penampilan pakde Karto yang berhasil membuatnya ketakutan, sebuah sarung berwarna putih dengan motif hitam yang menutupi kepala pakde Karto telah berhasil membuat Mala ketakutan.


"Lagian pakde pagi-pagi kenapa mutar lagu horor sih, nanti kalau miss Kunti datang gimana, pakde nggak tau kalau lagu itu adalah mantra untuk manggil setan." Protes Mala panjang lebar.


"Ohalah, pantes saja. La ini miss Kuntinya sudah datang." Kelakar pakde Kerto sambil menunjuk Mala yang mengenakan baju tidur berwarna putih gading dan rambut panjang yang tergerai.

__ADS_1


"Pakde." Ucap Mala kesal.


****


Matahari belum menampakan sinarnya, namun seorang pria berwajah tampan dan terkesan dingin sudah berdiri didepan rumah kekasihnya.


Rafli, bak termakan kata-katanya, dahulu ia sangat anti-pati dengan gadis magang bernama Lala yang selalu mengejarnya dan membuatnya pusing. Namun kali ini berbeda, ia seperti terkena karma, setelah Lala berhenti mengejarnya justru ia yang mulai tergila-gila dengan gadis tersebut.


Seperti pagi ini, Rafli berniat mengajak Lala kencan untuk pertama kalinya, hanya saja Rafli terlalu bersemangat dan datang menjemput bahkan sebelum Lala ayam jantan mulai berkokok.


--


Rafli beberapa kali mengatur nafasnya, ia merasa gugup, jamarinya ia ketuk-ketukan di setir mobil membuat irama tak beraturan. Rafli berulang kali memeriksa jam tangannya yang seolah tak bergerak, ia berdecak kesal karena matahari tak kunjung terbit.


Setelah penantian hampir tiga jam lamanya akhirnya Lala keluar dari rumahnya. Rafli mengulum senyum begitu melihat penampilan Lala yang berbeda dengan sebelumnya, hari ini Lala terlihat feminim dengan balutan dress selutut berwarna peach.


Rafli keluar dari mobilnya, ia menyambut kedatangan Lala dengan senyuman merekah, sungguh sebuah senyum yang belum pernah Rafli tunjukan sebelumnya.


"Sudah lama?" Tanya Lala dengan senyum yang tak kalah lebar.


"Belum, baru beberapa menit aku sampai." Jawab Rafli bohong, ia terlalu malu untuk mengatakan jika datang lebih dari tiga jam yang lalu.


Lala menahan senyumnya, ia tau Rafli sudah datang sejak masih gelap, namun Lala sengaja membiarkannya menunggu lama, Lala ingin Rafli merasakan seperti apa rasanya menunggu.


"Kita mau kemana?"


"Kamu nggak pernah kencan sebelumnya?" Tebak Lala dengan senyum meledek.


"Aku terlalu sibuk bekerja."


"Baiklah, aku akan mengajarimu caranya berkencan."


Keduanya saling melempar senyum lalu masuk kedalam mobil. Rafli melajukan mobilnya sesuai arahan Lala, gadis itu sudah menyerupai suara embak-embak google maps yang biasanya bikin pusing dan malah bikin nyasar.


Setengan jam kemudian mereka sampai di tempat tujuan. Lala mengajak Rafli pergi ke Duffan karena hanya tempat itu yang jaraknya dekat.


Setelah membeli tiket, Rafli mengikuti Lala mengelilingi taman hiburan yang sangat terkenal di daerah Jakarta tersebut.


"Mau naik itu?" Lala menunjuk wahana kora-kora yang sedang berayun.


"Boleh."


Lala tersenyum bahagia, ia meraih tangan Rafli dan mengajaknya untuk mengantre. Hari ini sangat ramai pengunjung, mungkin karena refek akhir pekan dan tanggal muda.


Setelah antre keduanya akhirnya mendapat giliran untuk menaiki wahanya dengan bentuk menyerupai perahu. Mereka duduk bersebelahan dengan tangan saling bergandengan.

__ADS_1


Wahana tersebut mulai berayun, teriakan dari pengunjung yang duduk paling ujung terdengar histeris, untung saja Radfi memilih duduk di bagian tengah sehingga ayunan kora-kora tersebut tak membuatnya jantungan.


Rafli mengulas senyum saat menatap wajah Lala yang terlihat sangat bahagia, ia tak menyangka jika gadis kecil yang kini duduk disebelahnya akan mampu menggoyahkan hatinya, perhatiannya mulai tercuri dengan sikap konyol yang selalu Lala perlihatkan. Sungguh gadis kecil yang sangat imut.


***


Rafli memberanikan diri untuk menggandeng tangan Lala, gadis itu menoleh dan menatapnya tak percaya. Rafli tak bicara, ia hanya menjawabnya dengan sebuah kecupan di punggung tangan Lala dan membuatnya seolah terbang.


"Tunggu sebentar." Rafli menghentikan langkahnya, ia meraih ponsel yang sedari tadi bergetar.


"Hallo, ada apa?" Tanya Rafli setelah mengangkat telefonnya.


Rafli diam sejenak, ia melirik Lala yang tengah memperhatikannya.


"Baiklah, saya segera kesana, kamu tunggu saja di sana."


Rafli mengakhiri panggilan tersebut, ia memasukkan ponselnya kembali kedalam saku dan menatap Lala penuh sesal.


"Gak papa, kita pulang sekarang." Ucap Lala, tanpa Rafli memberitahunya ia sudah faham jika kekasihnya harus pergi sekarang.


"Maaf." Sesal Rafli.


"Nggak papa, kita masih bisa kencan lain waktu." Lala mencoba bersikap biasa saja padahal jauh di dalam hatinya ia merasa kecewa.


"Aku antar kamu pulang."


Lala hanya mengangguk. Keduanya lalu meninggalkan tepat tersebut dan mengakhiri kencan singkat mereka. Selama perjalanan keduanya hanya diam, Lala fokus menatap le luar jendela, sementara Rafli merasa sangat bersalah karena harus bekerja di saat kencan mereka.


"Terimakasih untuk kencan singkatnya." Ucap Lala setelah mereka tiba di depan rumahnya.


"Aku sangat menyesal, maaf."


"Tidak perlu meminta maaf terus, aku memaklumi pekerjaanmu."


Setelah tersenyum yang setengah di paksakan Lala keluar dari dalam mobil.


"La." Panggil Rafli, ia turun dari mobil dan menghampiri Lala yang sudah berada di depan rumahnya.


Belum sempat menjawab Rafli sudah membawa Lala kedalam pelukannya. Lala terperanjat, matanya membulat sempurna manakala Rafli memeluknya, jantungnya mulai berdegup dengan kencang, rona merah kini menghiasi wajangnya.


"Aku janji akan menebusnya." Bisik Rafli.


Rafli melepas pelukannya, ia segera membenamkan bibirnya di bibir Lala, saat ciuman mereka semakin memanas tiba-tiba pintu rumah Lala terbuka, seseorang keluar dan kaget melihat pemandangan yang tidak senonoh.


"Mikhayla."....

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2