
Didalam mobil Mala memilih duduk didepan bersebelahan dengan Rafli, Mala khawatir Arthur akan melahapnya hidup-hidup jika dia duduk dibelakang bersama Arthur.
Sore ini jalanan lumayan padat, tapi tak sampai macet, biasanya jam pulang kantor begini jalanan begitu padat. Sementara didalam mobil itu hanya ada keheningan, tak ada yang berbicara, hanya helaan nafas dari ketiganya yang terdengar beriringan.
"Mala." Panggil Rafli memecahkan keheningan.
Mala menoleh dan menatap Rafli yang masih fokus pada jalanan didepannya. "Ya."Jawab Mala singkat.
"Apa sebelumnya kau kuliah?"
"Ya."
"Lalu kenapa malah bekerja, bagaimana kuliahmu?"
"Saya cuti karena tidak mempunyai biaya."
"Kau kuliah jurusan apa?"
"Arsitektur Lanskap." Jawab Mala apa adanya.
Rafli melirik Mala sekilas, dia tidak menyangka jika Mala juga tertarik dengan dunia Arsitektur. Sementara di kursi penumpang, Arthur mempertajam pendengarannya agar bisa mendengar percakapan kedua orang yang duduk didepannya.
Hening kembali menyelimuti mobil itu, ketiganya larut dalam fikiran masing-masing, Rafli melajukan mobilnya menuju butik langganan Arthur. Setengah jam berlalu Rafli menghentikan mobilnya didepan sebuah butik yang cukup besar, Rafli keluar terlebih dahulu lalu membukakan pintu untuk atasannya.
Kedua pria berwajah dingin itu masuk kedalam butik diikuti oleh Mala dibelakanganya. Didalam butik, seorang pria bergestur gemulai sudah menunggu kedatangan Arthur, pria yang ternyata pemilik butik itu menyambut Arthur dengan hangat.
"Holaa Tuan Arthur, lama sekali tidak kesini." Sapa pemilik butik dengan kemayu, Mala bergidik ngeri karena mengingatkannya kepada miss Kimberly.
"Aku sibuk." Jawab Arthur dingin.
"Siapa dia?" Tanya sipemilik butik.
__ADS_1
"Carikan pakaian yang cocok untuk makan malam." Arthur tidak menjawab pertanyaan pemilik butik, dia segera mengutarakan niatnya datang kebutik ini.
Pria gemulai itu mengamati Mala secara menyeluruh, lalu dia segera mencari gaun yang cocok untuk Mala. Pemilik butik keluar membawa beberapa gaun dan menyuruh Mala untuk mencobanya.
Mala keluar masuk ruang ganti dan mencoba semua gaun yang dipilih oleh pemilik butik namun tak ada satupun dari mereka yang dilirik oleh Arthur. Kini Mala akan mencoba pakaian terakhirnya, Mala keluar dari ruangan ganti, ketiga pria yang berada disana terkesima melihat penampilan Mala yang begitu anggun, dia mengenakan sheath dress berwarna hitam dengan model sabrina sehingga memamerkan bahu putihnya. Warna hitam tampak kontras dengan kulit putih pucat Mala sehingga memancarkan auranya, tak lupa sepatu heels berwarna senada membuat penampilan Mala begitu sempurna.
"Sepertinya ini berlebihan untuk makan malam." Ucap Mala sambil berusaha menutupi dadanya.
"Pakai itu saja, Kau harus terlihat mewah malam ini."Ujar Arthur dingin, padahal dia tengah berusaha menyembunyikan kekagumannya kepada Mala. "Dandani dia." Imbuh Arthur memerintah pemilik butik yang juga seorang penata rias.
Lagi-lagi Arthur dibuat terpana oleh penampilan Mala, wajah polosnya begitu cantik setelah disapu dengan beberapa make up, rambut yang biasanya terikat kini Mala biarkan tergerai dengan indah, Arthur kesulitan menelan salivanya, gadis kampungan itu kini menjelma bak seorang putri dari negeri dongeng.
"Ekhem." Rafli berdehem dan membuat Arthur salah tingkat. Rafli mengapit kedua bibirnya berusaha untuk menahan senyum ketika melihat Arthur salah tingkah karena tertangkap basah olehnya tengah memandangi Mala tanpa berkedip.
"Kau pulanglah, istirahatlah hari ini." Ucap Arthur setelah berhasil menyetel wajahnya ke pengaturan semula.
"Aku akan mengemudi sendiri."
Rafli tertegun mendengar ucapan Arthur, pasalnya sudah lama sekali tuannya itu tidak pernah mengemudi mobil sendiri, apalagi mengemudi untuk orang lain. "Apa dia tertarik dengan gadis itu?" Gumam Rafli dalam hati.
Rafli menyerahkan kunci mobil kepada pemiliknya, setelah berpamitan Rafli segera pergi dari butik itu.
"Pergi sekarang." Ajak Arthur setelah Mala siap dengan tampilannya.
Mala hanya mengangguk dan berjalan dibelakang Arthur, jika bukan demi gaji 5 kali lipat dia tidak akan mau berpakaian terbuka seperti ini.
Ketidak biasaannya memakai sepatu hak tinggi membuat Mala sedikit kesusahan saat menuruni anak tangga yang berada didepan butik, Mala turun dengan hati-hati namun saat pijakan terakhir kakinya tidak seimbang sehingga Mala terhuyung kedepan dan menabrak punggung Arthur, menyadari hal itu Arthur reflek memutar tubuhnya sehingga kini tubuh Mala berada didalam pelukan Arthur.
Mala mendongakkan kepalanya, tak sengaja mata mereka saling bertemu, Mala menelisik setiap inci wajah Arthur yang begitu sempurna, namun yang membuat Mala tertarik justru sorot mata yang terlihat begitu sendu, banyak tersimpan kesedihan dibola mata berwarna cokelat itu.
__ADS_1
Sementara tangan Arthur kini memeluk pinggang ramping milik Mala, saat mata mereka tak sengaja saling bertemu, tiba-tiba Arthur merasakan darahnya berdesir dan jantungnya berdegup begitu kencang. Arthur kembali kesulitan menelan salivanya saat menatap bibir ranum milik Mala dan tanpa Arthur sadari tangannya kini menyisipkan rambut Mala yang menghalangi Arthur untuk memandangi wajah ayunya.
"Maaf Tuan, saya,, saya tidak sengaja." Ucap Mala terbata.
Arthur segera melepaskan tangannya dari pinggang Mala, keduanya kini terlihat canggung setelah persekian detik saling memandang dan mengagumi satu sama lain.
"Dasar ceroboh." Gumam Arthur lirih, lalu dia meninggalkan Mala dan masuk kedalam mobilnya.
Melihat tuannya sudah masuk kedalam mobil Mala pun segera menyusulnya. Mala membuka pintu belakang mobil dan masuk kedalamnya.
"Kau fikir aku supirmu, duduk didepan." Bentak Arthur tak terima Mala duduk di kursi belakang.
Mala beringsut dan segera pindah sesuai perintah tuannya. Setelah Mala duduk disebelahnya Arthur segera menghidupkan mobilnya dan melajukannya untuk pulang kerumah utama.
Sepanjang perjalanan mereka saling membisu, Mala menatap keluar, kepalanya ia sandadkan dikaca mobil, sementara Arthur pandangannya hanya lurus kedepan.
Setengah jam berlalu mobil Arthur sudah berhenti didepan sebuah rumah berlantai dua yang ukurannya sangat besar. Mala memegangi dadanya, belum juga masuk kedalam rumah yang mirip sebuah istana itu Mala sudah begitu gugup. Mala menarik nafas perlahan lalu membuangnya dengan pelan, setelah dirasa cukup tenang Mala keluar dari mobil dan mengikuti Arthur yang sudah keluar lebih dulu.
Arthur mengamati sekeliling rumah besarnya, dia heran karena tak satupun pelayan yang terlihat, dipintu gerbang juga hanya ada satu penjaga, tidak seperti biasanya rumah besar itu terlihat begitu sepi.
Arthur berdiri didepan pintu utama, dia melirik Mala yang kini berdiri disampingnya. Tiba-tiba tangan Arthur meraih pergelangan tangan Mala dan mengaitkan tangan gadis itu dilengannya. Mala menatap Arthur heran, kepalanya tiba-tiba dipenuhi ribuan pertanyaan mengapa sikap Arthur berubah menjadi lembut.
"Setidaknya biar kita terlihat seperti pasangan asli.."Ujar Arthur menjawab semua pertanyaan Mala.
Kedua pasangan palsu itu masuk kedalam rumah utama, mereka bergandengan selayaknya pasangan yang sesungguhnya.
Didalam rumah utama mereka telah ditunggu oleh keluarga inti Bagaskara Group. Tangan Mala gemetaran saat mereka masuk semakin dalam, menyadari hal itu Arthur segera menepuk punggung tangan Mala, dia berharap bisa menenangkan pacar sewanya itu.
"Nismala?" Panggil seseorang saat mereka sudah berada diruang makan.
BERSAMBUNG...
__ADS_1