
Sehari sebelum pernikahan Arthur nekat mengunjungi rumah utama demi menemui Mala, rasa rindunya tak terbendung lagi membuat pria berlesung pipi itu diam-diam masuk ke dalam rumah utama dan mengunjungi Mala yang berada di dalam kamarnya. Semua orang di rumah utama sibuk menyiapkan pernikahan mereka sehingga Arthur lebih leluasa masuk ke dalam kamarnya.
Layaknya seorang perampok, Arthur berjalan secara mengendap-endap, menaiki tangga demi tangga dengan sangat hati-hati. Ia tersenyum lebar saat tiba di depan kamarnya, dengan segera ia membuka pintu tersebut dan masuk ke dalam kamar.
Di dalam kamar Arthur melihat Mala tengah berbaring di atas tempat tidur, ia segera menghampiri Mala dan duduk di tepi ranjang seraya menyentuh wajah gadisnya.
Mala terkejut begitu membuka mata, bagaimana tidak, pria yang hampir satu minggu ini tak di temuinya kini berada di hadapannya. Setumpuk rindu itu serasa runtuh saat Mala melihat lesung pipi di wajah calon suaminya.
"Apa yang kamu lakukan disini?" Ucap Mala setengah berbisik.
"Aku sangat merindukanmu." jawab Arthur seraya memeluk tubuh Mala.
Mala membalas pelukannya, ia juga merasakan hal yang sama. Rindu, ya kata itulah yang tengah mereka rasakan saat ini setelah enam hari lamanya mereka di pisahkan oleh jarak dan waktu.
Arthur mengurai pelukannya, ia mengelus rambut Mala dengan lembut, di pandanginya dengan dalam wajah yang sangat ia rindukan, tak seincipun wajah ayu itu Arthur lewatkan.
"Sebentar lagi aku mau ke makam kedua orang tuaku, aku berniat menelfonmu untuk menemuiku di sana." Ujar Mala, ia menggenggam tangan Arthur dengan erat.
"Kalau begitu aku antarkan kesana, aku juga ingin bertemu mereka dan meminta izin kepada mereka untuk menikahimu."
Mala mengangguk, ia lalu beranjak dari atas tempat tidur dan bersiap untuk pergi ke makam kedua orang tuanya.
Arthur lebih dulu keluar dari rumah itu, ia meninggalkan mobilnya tidak jauh dari rumah utama, demi mengelabuhi penjaga yang berada di pos sekuriti Arthur nekat melompati pagar setinggi hampir 2 meter.
Setelah siap, Mala menyusul Arthur keluar dari kamarnya, ia menitipkan pesan kepada pelayan bahwa ia akan pergi ke makam kedua orang tuanya. Mala berjalan cukup jauh hingga tiba di mobil Arthur, setelah perjalanan yang cukup membuatnya berkeringat akhirnya Mala sampai di dalam mobil calon suaminya.
__ADS_1
"Capek ya? Lihatlah keringatmu itu!" Ucap Arthur seraya menyeka keringat Mala dengan sapu tangan.
"Lumayan. Ayo jalan sekarang sebelum ada yang melihat kita."
Arthur segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah besar itu. Setelah hampir setengah jam lamanya mereka tiba di salah satu komplek pemakaman yang berada di kota Jakarta bagian barat
Mereka berdua keluar dari mobil dan membeli bunga sebelum masuk ke dalam komplek pemakaman itu. Setelah berjalan melewati beberapa blok makam akhirnya mereka berhenti di depan dua batu nisan yang berdampingan.
Mala duduk di antara kedua nisan itu, ia meletakan dua buket bunga di masing-masing pusara kedua orang tuanya.
"Ayah, ibu, maafkan aku karena baru bisa datang sekarang."
"Kalian pasti sudah tau kan, besok Mala akan menikah, hari ini Mala membawa calon suami Mala datang mengunjungi kalian. Bagaimana menurut kalian, dia tampan kan? hehehe, selain tampan dia juga sangat menyayangi Mala, ayah dan ibu tidak perlu mengkhawatirkan Mala lagi karena mulai sekarang Arthur akan menjaga Mala selamanya."
"Ayah, ibu, apa kalian sungguh meninggalkan ini untuk Mala?" Mala menunjukkan stempel yang di temukannya sebulan yang lalu di dalam kamar Ara.
"Mala akan menjaga benda ini dengan baik . Terimaksih karena sudah menjaga Mala sampai hari ini. Mulai sekarang Mala akan mengikhlaskan kalian, semoga kalian bahagian di sana."
Mala mengakhiri kalimat panjangnya, matanya nampak berkaca-kaca namun ia berusaha untuk menahan supaya air mata tersebut tidak jatuh di atas pusara kedua orang tuanya.
Kini giliran Arthur yang duduk di antara kedua makam itu. "Om, tante, maafkan saya karena baru bisa mengunjungi kalian hari ini. Saya Arthur, mungkin kalian masih mengingat saya, maafkan saya karena telah melupakan masa lalu dan melupakan kalian. Om, tante, hari ini saya datang meminta izin kepada kalian untuk menjadikan Mala sebagai istri saya, saya harap kalian merestui pernikahan kami, semoga kalian bahagia di sana. Tante, terimakasih karena telah melahirkan putri yang sangat cantik dan baik hati, saya berjanji akan selalu melindungi Mala dan menjaganya dengan nyawa saya."
Setelah mengunjungi makam kedua orang tua Mala, mereka juga mengunjungi makan mamy Lidya yang berada di komplek pemakaman yang sama. Arthur tak banyak bicara, ia hanya mengenalkan Mala seadanya dan meminta restu kepada mendiang ibunya.
*****
__ADS_1
WEDDING DAY
Arthur terlihat gagah mengenakan tuxedo berwarna hitam serta hiasan bunga di yang tersemat di kerahnya. Namun di balik kegagahan itu ada sepasang tangan yang tak berhenti bergetar, wajah tampannya di hiasi butiran keringat dingin, ia gugup, seorang Arthur Bagaskara akhirnya menunjukkan titik lemahnya.
"Tenangkan diri anda, kalau anda terus seperti ini percayalah Petra yang akan menggantikan anda mengucapkan janji suci bersama Mala."Ucap Rafli, ia berusaha untuk menenangkan Arthur yang sedari tadi di landa kecemasan.
"Hu ha, hu ha." Arthur berusaha mengatur nafasnya, ia harus menghilangkan rasa cemasnya sebelum naik ke altar pernikahan mereka.
"Cepat naik, sudah hampir tiba waktunya. Jangan lupa untuk mengatur nafas."
Arthur menghela nafas panjang, meskipun kakinya masih bergertar ia tetap berusah untuk bersikap tenang hingga berdiri di altar pernikahan dan menunggu kedatangan Mala.
Tuan Raymon dan tuan Bagaskara nampak duduk berdampingan, di sebelah mereka juga ada oma Lusi. Sementara Rafli dan Lala duduk di kursi yang berada di seberang keluarga pria, mereka di temani kedua orang tua Lala dan bu Yati. Sementara tamu undangan berada di belakang keluarga inti kedua mempelai.
Pintu ballroom hotel terbuka, Mala masuk di dampingi oleh mama Wulan dan juga Lea. Tamu undangan di buat terkesima dengan kecantikan Mala. Gadis itu nampak begitu anggun dengan balutan gaun model ball gown berwarna putih. Bagian atas gaun tersebut memiliki model off-shoulder atau sabrina sehingga memberikan kesan seksi dan anggun. Gaun yang Mala kenakan juga dihiasi bunga-bunga pada bagian dada hingga pinggulnya yang semakin menambah kesan manis pada gaun tersebut. Tambahan kain veil yang menutupi kepala Mala dan menjuntai hingga sepanjang gaunnya membuat Mala terlihat bak seorang putri dari negeri dongeng.
Arthur berusaha untuk menenangkan dirinya, ia mengingat pesan Rafli sebelumnya, ia tak sudi jika sampai Petra menggantikannya untuk mengucapkan janji suci.
Kedua mempelai itu kini telah berdiri berhadapan, seorang pemuka agama tengah membacakan doa untuk pernikahan mereka.
Arthur dan Mala bersiap untuk mengucapkan janji suci mereka, namun tiba-tiba pintu ballrom hotel tersebut kembali terbuka. Seorang pria paruh baya masuk dengan wajah menahan amarah, pria itu menghampiri kedua mempelai di atas altar pernikahan.
"Pernikahan ini tidak bisa di lanjutkan, dia adalah seorang pembunuh."
BERSAMBUNG...
__ADS_1