My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 142 Kehamilan


__ADS_3

Dua minggu telah berlalu, Arthur masih enggan untuk memperjuangkan tubuhnya, selama dua minggu itu pula Mala berusaha untuk memancing Arthur keluar, namun yang terjadi hanya Petra, Jade, Pakde Karto dan Ara yang keluar secara acak dan bergantian.


Selama dua minggu itu pula Mala menunggu niat baik tuan Bagaskara, namun pria tua itu nampaknya tetap keras kepala, dengan demikian Mala memilih untuk menyebarkan rekaman pak Darman kepada media.


Pemberitaan mengenai tuan Bagaskara mulai ramai, namun lemahnya bukti yang Mala miliki membuat pemberitaan tersebut hanya bertahan untuk beberapa saat. Namun pertolongan Tuhan selalu datang tepat waktu, di saat yang bersamaan Pak Darman dan Marsel muncul di hadapan media dan menjadi saksi atas kejahatan yang dilakukan oleh Tuan Bagaskara. Duuar, layaknya bom waktu, pemberitaan mengenai Tuan Bagaskara kembali ramai diperbincangkan, munculnya dua orang saksi sekaligus benar-benar memberatkan Tuhan Bagaskara, efeknya saham Bagaskara Group merosot jatuh hingga titik terendah, hal tersebut tentu membuat tuan Bagaskara meradang, ia tak menyangka jika ancaman Mala benar-benar menghancurkan kerajaan bisnis yang telah di bangunnya.


Marsel dan Pak Darman sudah di panggil pihak kepolisian sebagai saksi, pun demikian tuan Bagaskara mendapat surat panggilan untuk pemeriksaan, kasus yang telah terkubur 15 tahun lalu kini kembali di selidiki.


Pembunuhan yang menyeret nama seorang pesohor tentu menjadi berita terpanas, Mala membuang nafas kasar saat menonton berita di televisi, ia sebenarnya tak ingin berbuat sejauh ini jika pak tua itu tidak egois dan mau mengakui kesalahannya. Namun Mala bukanlah Mala yang dulu, gadis yang baik hati dan juga pemaaf, dari kasus Marsel ia banyak belajar, sebuah kejahatan harus mendapat hukuman yang setimpal dan bukan hanya sebuah kata maaf.


Pagi ini mama Wulan datang bersama Lea mengunjungi Arthur di apartemennya, tak lupa juga tuan Raymon turut hadir bersama anak dan istrinya. Mala segera menghambur ke dalam pelukan mama Wulan, ia merasa bersalah atas apa yang di perbuatnya.


"Ma, maafin Mala, mama pasti sangat menderita karena pemberitaan itu." Ucap Mala penuh sesal.


Mama Wulan mengelus punggung Mala, ia lalu melepaskan pelukan Mala dan menatap gadis itu dengan lembut. "Mala tidak perlu minta maaf, justru kami datang kemari karena ingin meminta maaf kepada Mala, gara-gara romo, Mala harus hidup menderita, Mala harus menjadi yatim piatu di usia sekecil itu, maafkan kami sayang, maafkan atas kesalahan keluarga Bagaskara terhadapmu."


"Benar Mala, dady tidak menyalahkan tindakanmu, dady juga datang kemari untuk memohon pengampunanmu, dady sungguh tidak tau jika Romolah yang membakar villa itu, dady harap Mala mau memaafkan dady yang bodoh ini." Imbuh tuan Raymon seraya menatap Mala.


Mala bergeser mensejajari tuan Raymon, ia menatap pria paruh baya itu seraya tersenyum. "Mala memaafkan dady, Mala juga memaafkan Opa Bagaskara, namun Mala harus memberikan hukuman kepada Opa, jadi Mala harap dady mengerti dan tidak menyalahkan Mala." Ucap gadis itu bijaksana.


"Dady mengerti nak, dady tidak keberatan jika romo harus di hukum, benar kata Mala, romo harus membayar semua perbuatannya." Tuan Raymon mengusap kepala Mala dengan lembut.


"Juga maafkan Mala dad, gara-gara Mala perusahaan jadi bermasalah." Sesal Mala, gadis itu tertunduk lemah.


"It's okay, dady bisa mengatasinya, perusahaan berangsur pulih, itu semua berkat bantuan Mahesa."


"Papa?"


"Ya, benar papamu yang sudah membantu dady, ia membeli 40 persen saham Bagaskara Group dan menyuntikkan dana ke dalam perusahaan sehingga perusahaan tidak harus gulung tikar."

__ADS_1


Mala tersenyum mendengar penuturan tuan Raymon, ia tak menyangka jika papanya akan berbuat sejauh itu demi menebus kesalahannya di masa lalu, kini mungkin Mala harus belajar untuk benar-benar menerima kedatangan tuan Mahesa.


Di tengah perbincangan mereka, tiba-tiba Arthur keluar dari salah satu ruangan kesayangannya, ia memakai pakaian lurik serta belangkon yang menutupi kepalanya. Semua orang terkejut, namun mereka sudah bisa menerima keadaan Arthur. Arthur yang tengah menjelma menjadi pakde Karto berjalan mendekati anggota keluarganya, kedua tangannya berada di belakang tubuhnya, dari cara berjalannya ia nampak seperti pria berumur 60 tahun.


"Lo kok rame sekali, ada acara opo to?" Tanyanya seraya menatap Mala.


"Mereka datang untuk menjenguk Arthur pakde." Jawab Mala.


Pakde Karto kini berpindah menatap tuan Raymon, ini adalah kali pertama mereka bertemu sebagai orang asing, tuan Raymon nampak tak bisa menutupi keterkejutannya, namun pakde Karto justru tersenyum melihat wajah aneh tuan Raymon saat terkejut.


"Walah dalah, pie iki? Arthur belum juga bangun, jadi yo kalian terpaksa menjenguk pakde saja." Ujar pakde Karto.


"Trus mana oleh-olehnya, masa menjenguk orang tidak membawa apapun?"


Lea tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan kakaknya yang tengah menjelma menjadi orang lain, gadis kecil itu tak bisa menahan tawanya melihat penampilan aneh Arthur, belum lagi logat jawa yang pakde gunakan berhasil membuat gadis itu tertawa hingga menangis.


"Cah ayu, kenapa tertawa to, tidak sopan mentertawakan orang tua." Tegur pakde Karto secara halus.


"Pakde, panggil PAKDE, bukan kakak." Seru pakde Karto, setiap kata pakde ia berikan penekanan.


"Lea, diam nak." Kini giliran sang mama yang menegur putri kecilnya.


Lea mengerucutkan bibirnya, gadis kecil itu terlihat sangat menggemaskan, pakde Karto dengan sengaja mencubit bibir Lea dan mengundak gelak tawa dari semua orang.


****


Lala keluar dari kamar mandi, ia membawa sebuah benda kecil berukuran panjang, di tengah benda kecil tersebut terdapat dua garis berwarna merah.


Lala mengahmpiri anggota keluarganya yang berada di ruang tamu rumah bu Yati, di ruangan itu juga ada pak Karto dan suster Hanum.

__ADS_1


"Aku hamil." Ucapnya penuh semangat.


Rafli beranjak dari duduknya, ia segera menghampiri sang istri dan meraih tes kehamilan yang berada di tangan Lala.


"Kau serius?" Ucapnya masih belum percaya.


Lala mengangguk dengan cepat, ia tersenyum begitu lebar hingga menampakkan deretan gigi putihnya.


"Yeaass." Rafli melompat kegirangan, ia begitu bahagia sekarang, dengan cepat ia memeluk istribya dan menghujani kepalanya dengan kecupan.


"Terimakasih sayang." Ucapnya dengan tulus.


"Selamat ya nak, semoga kalian selalu sehat sampai dede bayinya lahir." Ucap bu Yati, ia berdiri dan mengahmpiri menantunya, ia menyingkirkan Rafli yang masih memeluk istrinya, setelah itu bu Yati segera memeluk menantu kesayangannya.


"Ibu sudah tidak sabar untuk menimang cucu."


Bu Yati melepaskan pelukannya, ia lalu mengelus perut rata milik Lala. "Sehat-sehat di dalam sana ya cu, jangan buat mama kesusahan, nenek tidak sabar menunggu kedatanganmu."


Ucapan selamat juga keluar dari mulut suster Hanum, kini keluarga kecil itu tengah di liputi rasa bahagia.


"Selamat nak, semoga kalian selalu sehat." Ucap pak Karto pelan.


Semua orang menoleh ke arah pak Karto, mereka berjalan mendekti pak Karto yang duduk di atas kursi roda.


"Kakek."Panggil Lala, ia duduk berlutut di lantai.


"Terimakasih doanya kek, semoga kakek juga cepat sehat kembali."


Pak Karto hanya mengangguk, ia tersenyum tipis saat menatap Lala.

__ADS_1


"Saya ingin bertemu tuan muda Arthur."


BERSAMBUNG..


__ADS_2