My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 108 Dream


__ADS_3

"Rey, kenapa kamu memanggil Mala dengan sebutan sayang, bukankah kamu tau jika Mala calon istri kembaranmu?" Cecar Lala dengan ekspresi wajah bingung.


"Kenapa kalian diam saja." Lala menatap Rafli dan mama Wulan secara bergantian, Lala heran karena mereka berdua hanya diam saat Rey memperlakukan Mala sama seperti Arthur. "Rey, kenapa kamu tidak menjawabnya? Bukankah sikapmu sudah keterlaluan? Aku tau kamu menyukai Mala sejak awal, tapi menurutku tindakanmu keterlaluan, dia calon saudara iparmu, kamu tidak boleh memanggilnya sayang sekalipun tuan Arthur tidak ada di sini?" Imbuhnya panjang lebar.


"Mikhayla, hentikan. Ini bukan urusanmu." Bentak Rafli seraya menatap Lala tajam.


Lala membalas tatapan calon suaminya. "Aku tau aku tidak berhak untuk ikut campur, aku hanya ingin mengingatkan Rey jika tindakannya tidaklah benar. Mala sudah menerima lamaran tuan Arthur, tak sepantasnya Rey memperlakukan Mala seperti itu."Balas Lala dengan lantang.


"Ayo kita keluar sekarang." Rafli menarik tangan Lala dengan kasar karena menurutnya Lala sudah terlalu jauh ikut camput dengan urusan tuannya.


"Hentikan Raf." Cegah Arthur seraya menatap kedua pasangan itu.


"Tapi tuan.." Ucapan Rafli berhenti ketika Arthur menggelangkan kepala ke arahnya.


"La, kemarilah." Panggil Arthur, gadis itu menurut dan mendekat ke arah Arthur.


"Dengarkan baik-baik apa yang akan aku sampaikan, tapi aku harap kamu bisa menjaga rahasia ini, aku mempercayaimu karena sebentar lagi kau akan menjadi bagian dari keluargaku."


Lala hanya mengangguk meskipun sebenarnya ia tak tau dengan arah perkataan Arthur.


"Aku dan Rey adalah orang yang sama." Ungkap Arthur tanpa keraguan.


"Apa maksudmu Rey?" Lala masih mengira jika yang kini berbicara dengannya adalah Rey.


"Aku Arthur. Aku memiliki kepribadian ganda, dan salah satu kepribadianku bernama Rey, dia yang pernah bertemu denganmu dan mengaku sebagai kembaranku."


Lala menelan salivanya dengan kasar, kakinya melangkah mundur, ia berusaha mencerna perkataan Arthur.


"Apakah Mala tau tentang ini semua?" Tanya Lala dengan mulut bergetar.


"Dia tau La, dia tau sejak awal. Itulah mengapa aku menyuruhnya tinggal bersamaku waktu itu."


"Rey,, Ah bukan, maksudku tuan Arthur, saya masih belum paham dengan perkataan anda, tapi saya berjanji akan menyimpan rahasia ini."


"Terimaksih banyak Lala."


Di tengah perbincangan serius mereka, Mala mulai menggerakkan jemarinya, tak lama setelah itu kedua matanya mulai terbuka.

__ADS_1


"Kamu sudah sadar nak?" tanya mama Wulan setelah melihat kedua mata Mala terbuka.


Arthur segera menghampiri Mala, ia meraih tangan Mala dan mencium tangan itu bertubi-tubi. "Maafin aku sayang, maafin aku karena nggak bisa jagain kamu." Sesalnya dengan mata berkaca-kaca.


Mala hanya tersenyum dan mengedipkan kedua matanya memberi kode kepada Arthur bahwa semuanya baik-baik saja.


Setelah Mala sadar, mama Wulan, Rafli dan Lala pamit untuk pulang, mereka tidak ingin mengganggu waktu istirahat Mala.


Arthur duduk di kursi yang berada di sebelah tempat tidur Mala, tangannya tak pernah lepas dari tangan Mala, dua jam setelah siuman Mala sudah bisa di ajak berkomunikasi.


"Sayang, apa yang sebenarnya terjadi, kenapa lukamu terbuka lagi?" Arthur akhirnya memberanikan diri untuk bertanya, setelah beberapa waktu ia hanya diam.


"Aku juga tidak tau." Jawab Mala bohong.


"Bukankah kita berjanji untuk saling terbuka."


Mala berencana untuk tidak memberi tahu Arthur, namun mengingat janjinya untuk selalu terbuka kepada sang kekasih membuatnya gusar.


"Rey.."Mala ragu untuk melanjutkan kalimatnya.


"Lanjutkan, aku tidak akan marah."


"Jadi Rey yang melakukannya." Ujar Arthur dengan raut sedih. "Kamu boleh memukulku untuk membalas perbuatan Rey."


Mala menggeleng lemah, ia memegangi wajah Arthur yang sedikit pucat. "Aku baik-baik saja, lagi pula Rey tidak tau jika aku sedang sakit, kamu tidak perlu merasa bersalah, semuanya akan baik-baik saja."


Arthur meraih tangan Mala yang berada di pipinya, di rasanya dengan dalam sentuhan hangat dari wanita yang sangat berharga di dalam hidupnya, seorang wanita berhati bak malaikat yang mampu menerima segala kekurangannya.


***


Malam telah larut, suasana Rumah Sakit mulai sepi, Arthur memeriksa jam tangannya, waktu menunjukkan pukul 10 malam, namun Arthur maupun Mala masih terjaga.


"Sudah malam, kenapa belum tidur?" Ucap Arthur seraya mengusap kepala Mala.


"Aku nggak ngantuk. Kamu tidur aja dulu, besok kan harus ke kantor!"


"Em, aku juga sangat lelah." Arthur lalu berdiri dari kursinya, ia menuju sofa bed yang berada di dekat ruangan. Arthur lalu mendorong sofa bed itu dan membawanya ke sebelah tempat tidur Mala.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Mala bingung.


"Aku mau tidur, tapi aku nggak bisa jauh dari kamu, aku juga nggak mungkin tidur di tempat tidurmu kan."


Mala mengulas senyum, lagi-lagi Arthur bertingkah konyol di depannya, mungkin memang benar Mala sudah menjadi seorang pawang yang handal.


Arthur sudah memposisikan dirinya di atas sofa bed, berbekal bantal dan selimut tebal ia sudah bersiap menjelajahi alam mimpi, hari ini tubuhnya terasa sangat lelah, akhirnya Arthur mulai terlelap sebelum Mala.


***


"Dari mana aku bisa menghasilkan uang, bibi pasti akan marah kalau dia tau aku dipecat."


"Cari pekerjaan baru."


"Tuan Arthur."


"Arthur memecatmu? Apa kesalahanmu?"


"Kenapa Tuan Arthur bertanya kepada saya, bukannya tuan yang sudah memecat saya?"


"Ah aku bukan Arthur, kamu salah orang."


"Apa maksud anda?"


"Aku kembarannya, namaku Rey."


Arthur terbangun dari tidurnya dengan nafas yang berderu, ia bermimpi tentang Rey dan Mala, ia memimpikan awal pertemuan mereka tepat di hari Arthur memecat Mala waktu itu. Namun mimpi itu terasa begitu nyata.


"Kenapa aku bermimpi seperti itu? Gumamnya dalam hati.


Arthur membuka selimutnya, ia bangun dan memeriksa kondisi Mala, gadis cantik itu tengah terlelap di atas tempat tidurnya.


"Mimpi indah sayangku." Ucapnya seraya mengecup pucuk kepala Mala.


Setelah memastikan Mala sudah tidur, Arthur kembali merebahkan tubuhnya di atas sofa bed, ia kembali memikirkan mimpinya yang terasa begitu nyata.


"Mungkin karena aku sanggat membencinnya, makanya aku sampai memimpikannya."

__ADS_1


Arthur mentertawakan ucapannya sendiri, bagaimana tidak, ia memimpikan dirinya sendiri saat sedang menjadi orang lain. Lucu bukan, namun hal yang paling membuatnya merasa lucu adalah ketika ia harus merasa cemburu dengan tubuhnya sendiri.


BERSAMBUNG..


__ADS_2