
"Siapa kalian?" Teriak Arthur, wajahnya memerah karena menahan amarah.
Pak Karto dan perawatnya tersentak, mereka terpaku di tempat, pak Karto bersembunyi di balik punggung perawatnya.
Mendengar teriakan Arthur dari dalam apartemen, Rafli segera menyusul atasannya, ia lupa memberi tahu soal pak Karto kepada Arthur. Mama wulan, Lea serta Lala menyusul Rafli di belakangnya, mereka juga khawatir terjadi sesuatu kepada Arthur dan Mala.
"Maafkan saya tuan, saya lupa memberi tau anda jika saya membawa orang kemari." Jelas Rafli, wajahnya menegang.
Arthur menatap tajam asistennya itu. "Beraninya kau."
"Maaf tuan, saya terpaksa membawa pak Karto kemari, dia saksi kunci kebakaran di Villa itu tuan, beberapa waktu lalu Marsel menculiknya dan menganiayanya."
"Kenapa kau tidak mengatakan sejak awal." Suara Arthur mulai pelan, amarahnya sedikit mereda.
"Maaf tuan, anda sedang kalut saat Mala kecelakaan, saya tidak mau menambah beban anda."
Arthur membuang nafas dengan kasar, ia memperhatikan pak Karto sekilas. " Kenapa dia seperti itu?" Tanyanya kepada Rafli.
"Setelah kebakaran 15 tahun lalu, pak Karto mengalami gangguan jiwa."
"Ya sudah kau urus dulu, aku akan mengantar Mala ke kamar."
Arthur membawa Mala ke kamarnya, mulai sekarang Mala akan tidur di kamarnya, Arthur khawatir Mala tidak nyaman tidur di kasur kecil yang berada di kamar Mala sebelumnya.
"Kenapa ke kamarmu?" Tanya Mala penasaran.
"Di sini lebih nyaman, lagipula di kamarmu kan nggak ada kamar mandi." Terang Arthur seraya menatap Mala.
"Terus nanti kamu tidur dimana?"
"Aku bisa tidur di kamar lain. Apa aku tidur di sini saja, menemanimu?" Goda Arthur.
Mala menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Tidak perlu, aku bisa tidur sendiri." Tolak Mala dengan cepat.
Arthur terkekeh, ia membantu Mala untuk naik ke atas tempat tidur. Ia membantu Mala berbaring, menyelimuti kaki Mala dengan hati-hati.
"Istirahat ya, aku harus keluar sebentar." Ucapnya seraya mengecup pucuk kepala Mala.
Mala mengangguk, ia membiarkan Arthur untuk menyelesaika masalahnya. Sepeninggal Arthur, Lala dan Lea masuk ke dalam kamar untuk menemani Mala.
"Dimana mama Wulan?" Mala mencari keberadaan wanita itu.
"Di luar, kak Arthur melarang mama masuk." Sahut Lea.
Di luar kamar, Arthur duduk di sofa di temani Rafli dan mama Wulan. Sementara pak Karto dan perawatnya berada di kamar Petra. Arthur melipat tangannya di dada, ia menunggu penjelasan Rafli.
"Dari mana kau tau tentang orang tua itu?" Tanya Arthur , ia sudah tak sabar menunggu Rafli membuka mulutnya.
"Saya sedang menyelidiki kebakaran itu, anak buah saya mendapat informasi mengenai pak Karto, kami mencarinya tapi tak menemukan titik terang, sampai saya tidak sengaja bertemu Aryo, anak dari pak Karto."
Arthur menautkan kedua alisnya, ia masih setia mendengar penjelasan Rafli.
"Saya bertemu Aryo di tempat adu jangkrik, saat itu dia memperhatikan anda saat sedang menjadi pakde Karto, kata Aryo penampilan pakde Karto sangat mirip dengan ayahnya. Lalu kami kembali bertemu, saya mengantar Aryo ke Rumah Sakit jiwa dan bertemu dengan pak Karto."
Rafli menceritakan secara detail kepada Arthur, namun ada satu hal yang Rafli tutupi, ia tak memberi tau Arthur mengenai ocehan pak Karto tentang moster kecil dan yang lainnya,Rafli takut Arthur memiliki pemikiran yang sama dengannya jika ia menceritakan tentang hal itu.
"Tapi kenapa Marsel menculiknya, apa yang dia cari?"
"Rekaman CCTV, mereka menginginkan hal itu, kami juga sedang mencarinya sampai saat ini."
Mama Wulan hanya diam menyimak kedua pemuda itu, sesekali ia menatap Arthur dengan sendu.
"Maafkan mama nak, tapi mama tidak berhak untuk menceritakan semuanya." Batin Mama Wulan.
__ADS_1
"Raf, sewakan apartemen di lantai bawah, aku tidak nyaman tinggal bersama orang lain." Titah Arthur dan hanya di tanggapi anggukan oleh Rafli. "Aku tidak mau waktuku bersama Mala terganggu." Imbuhnya di dalam hati.
Saat itu juga Rafli menghubungi beberapa pekerja untuk membersihkan apartemen kosong di lantai bawah, Rafli tak perlu repot-repot menyewa karena Arthur memiliki beberapa unit di gedung ini.
Setelah dua jam berlalu, pak Karto dan perawatnya di pindahkan ke unit lain, Rafli juga menyuruh dua pengawalnya untuk menjaga pak Karto.
****
Matahari telah menyingsing ke barat, semburat warna orange kemerahan membentang indah di atas langit, segerombolan burung nampak terbang bersama-sama, mungkin mereka akan kembali ke sarangnya.
Mala duduk di kursi yang berada di balkon, pandangannya menerawang jauh ke atas sana, sesekali ia meringis saat merasakan sesuatu yang tidak nyaman perutnya.
Arthur menyusul Mala ke balkon, ia duduk di kursi yang berada di sebelah kursi Mala, ia menatap wajah Mala, tatapannya penuh cinta, siapa sangka gadis yang selalu ia hina kini berhasil merebut hatinya bahkan memilikinya sepenuhnya. Arthur merasa ia terkena karma karena dulu selalu menghina Mala.
"Kenapa menatapku begitu?" Mala merasa kurang nyaman dengan tatapan Arthur.
"Aku hanya ingin memeriksa luka di wajahmu." Kilah Arthur, senyum terbit di kedua sisi bibirnya.
"Oh." Singkat Mala.
"Kamu nggak kedinginan?"
"Sedikit?"
"Mau aku peluk?"
Mala menggeleng pelan, lehernya masih terasa sakit jika bergerak berlebihan.
"Kenapa, kamu bosan denganku?" Ucap Arthur dengan wajah sok sedih.
"Perut dan leherku masih sakit, kalau di peluk pasti tambah sakit?" Mala menatap Artur dan menunjuk bagian tubuh yang di sebutkannya tadi.
"Kalau cium boleh?" Pinta Arthur setengah mengiba, namun Mala kembali menolaknya, ia menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Bibirnya kan nggak luka, boleh yaa, bolen kan, dikit aja." Rengeknya lagi.
Arthur memalingkan wajahnya, namun tiba-tiba seringai muncul di wajah tampannya, ia berdiri dan mendekati Mala membuat gadis itu mendelik ke arahnya.
"Mau apa?Cecar Mala dengan mata melotot.
Arthur tak mengindahkan ucapan Mala, ia segera mengangkat tubuh Mala, menggendongnya ala bridal style dan membawanya ke dalam kamar.
"Turunkan aku." Berontak Mala, namun detik berikutnya ia mengalungkan tangannya di leher Arthur, ia takut jatuh dari gendongan Arthur
Arthur membarinkan tubuh Mala di atas tempat tidur, lalu ia meraih selimut dan menutup kaki Mala. Mala mengawasi gerak-gerik Arthur yang nampak mencurigakan, benar saja sesaat kemudian Arthur menyusul Mala di atas tempat tidur, Arthru berbaring di sebelah Mala dan masuk kedalam selimut Mala.
"Apa yang kau lakukan?" Seru Mala, ia menoleh kesamping.
"Menemanimu tidur." Jawab Arthur dengan wajah tanpa dosa.
Mala mendelik mendengar ucapan Arthur, saat ia akan melayangkan protes Arthur lebih dulu membungkam bibirnya dengan sebuah ciuman.
"Kamu kenapa senang sekali menciumku si?" Protes Mala dengan wajah kesal, namun pipinya sedikit merona.
"Entah, aku selalu ingin menciummu setiap kali kita bersama." Bisik Arthur dengan suara menggoda.
"Dasar mesyummm." Ujar Mala seraya menjentikan jarinya di kening Arthur.
"Auw." Arthur mengaduh, ia memegangi keningnya yang terasa ngilu.
Mala tertawa puas melihat Arthur memegangi keningnya, namun tawa Mala terhenti saat Arthur merubah posisinya, kini Arthur berada di atas tubun Mala, kedua tangannya menyangga tubuhnya.
"Ap..a yang kau lakukan, aku masih sakit?" Ucap Mala gugup.
__ADS_1
Arthur menyeringai, ia menurunkan kepalanya hingga hidung mereka saling menempel, deru nafas Arthur menyapu wajah Mala dengan hangat.
Mala memejamkan matanya saat bibir mereka semakin dekat, namun beberapa detik berlalu Mala tak merasakan apapun, ia membuka matanya dan melihat Arthur tengah tersenyum lebar di atasnya.
"Apa yang kamu harapkan Mala?" Goda Arthur tanpa menghilangkan senyumannya.
Mala memalingkan wajahnya karena Malu, ngilu di lehernya tak ia pedulikan lagi, Arthur membuatnya kehilangan muka.
Cupp..
Arthur mengecup pipi Mala sekilas lalu ia bangkit dari atas tubuh Mala.
"Ayo makan, aku lapar."
Mala menoleh ke arah Arthur, dia tak percaya Arthur mengajaknya makan di saat seperti ini. Mala mendegus kesal, ia protes, tak mau turun dari tempat tidur.
"Aku nggak lapar." Ucapnya ketus.
Kriukk..kriukk..
(Suara perut bunyi giman si, Komen ya haha)
Arthur mengulum senyum mendengar teriakan dari dalam perut Mala, sementara gadis itu semakin menggerutu dan menyalahkan perutnya yang membuatnya semakin malu.
"Aku gendong ya."
Mala belum menjawabnya namun Arthur lebih dulu mengangkat tubuhnya dan membawanya keluar dari rumah. Mala mengalungkan tangannya di leher Arthur untuk berjaga-jaga kalau Arthur akan mejatuhkan tubuhnya.
Mereka tiba di dapur, Arthur menurunkan Mala di atas meja makan, ia mengunci tubuh Mala dengan kedua tangannya.
"Mana makanannya?" Tanya Mala karena ia tak melihat apapun di atas meja makan.
"Belum datang."
"Dasar nggak jelas."
"Kamu semakin menggemaskan saat marah." Goda Arthur.
"Mala, sayangku." Ucap Arthur dengan suara menggoda.
Mala mendungakkan kepalanya agar bisa menatap wajah Arthur. " Apa?"
"Aku mencintaimu."
Mala mematung mendengar ungkapan cinta yang tiba-tiba keluar dari mulut Arthur. Kesempatan itu tentu saja tak akan Arthur lewatkan, ia segera membenamkan bibirnya di bibir Mala, mengecup bibir ranum Mala dengan lembut, lambat laun kecupan itu berubah menjadi luma*tan. Mala mulai terbawa suasanya, ia memeluk pinggang Arthur dan membalas ciumannya.
Arthur melepaskan ciumannya saat Mala kehabisan nafas, kening mereka saling beradu, deru nafas mereka menyapu wajah masing-masing.
"Aku mencintaimu Arthur, aku mencintaimu dalam bentuk apapun, aku mencintai semua hal yang ada di dalam tubuhmu."
Mala akhirnya mengungkapkan perasaan yang selama ini di pendamnya, ia tak lagi ragu mengatakan cinta kepada kekasihnya.
Arthur sangat bahagia mendengar pengakuan Mala, ia kembali mencium Mala dan segera mendapatkan balasan dari gadisnya, mereka saling mencium, mengekspresikan rasa cinta mereka lewat tautan lidah.
Ting..tong..tingg..tong..
Bel berbunyi, kedua insan yang sedang di mabuk cinta itu tak memperdulikannya, mereka masih melanjutkan ciuman hangat mereka di dapur.
Ting..tong..ting..tong..
Pengantar makanan..
Mereka terpaksa berhenti berciuman, keduanya menatap pintu secara bersamaan..
__ADS_1
"Aishh, mengganggu saja." Ucap mereka bersamaan.
BERSAMBUNG...