
Setelah sampai dirumah, Arthur segera masuk kedalam kamarnya, entah apa yang dia lakukan, mungkin saja mandi atau istirahat, atau emm entahlah hanya Arthur yang tau apa yang sedang dia lakukam didalam kamarnya. Sementara itu Mala sibuk membereskan barang belanjaannya, dia mulai mengisi kulkas dengan sayuran segar, ayam, ikan dan daging yang dibelinya tadi, tak lupa beberapa minuman kaleng dan yogurt dia susun rapi didalam kulkas.
Setelah semuanya beres Mala kembali ke kamar, dia mengambil perlengkapan mandinya karena tubuhnya sangat lengket, gadis itu bersenandung lirih seraya melangkahkan kakinya keluar dari kamar.
"Mala." Panggil Arthur dengan lembut, entah sejak kapan dia mulai menurunkan nada bicaranya.
"Ya tuan?" Mala menghentikan kakinya, dia berbalik dan mengamati Arthur yang tengah berjalan mendekatinya.
"Kau mau mandi?" Ucap Arthur setelah melihat handuk yang melingkar dileher Mala.
"Iya, apa anda butuh sesuatu?"
"Mandilah dikamarku, sudah hampir gelap, dibawah pasti sangat sepi."
Mala mematung, dia belum percaya dengan apa yang baru saja didengarnya, seorang Arthur Bagaskara menyuruhnya untuk mandi dikamar mandinya, apa aku salah dengar, apa aku sedang berhalusinansi, batin Mala, dia sampai tak berkedip saking tak percayanya.
"Mala." Seru Arthur dan membuat Mala tersentak. "Mandi dikamarku saja." Ulang Arthur, kali ini suaranya terdengar lebih keras.
"Tapi tuan...."
"Kenapa senang sekali membantahku." Potong Arthur sebelum Mala menyelesaikan kalimatnya. "Cepat mandi dan masak makan malam untukku." Imbuh Arthur, dia menatap Mala tajam seolah ingin memakannya dan membuat Mala beringsut, gadis itu berlari dan masuk kedalam kamar Arthur sesuai perintah tuannya.
Lima belas menit kemudian Mala keluar dari kamar Arthur, gadis itu memakai celana pendek diatas lutut dan kaos polos yang kedodoran dan rambutnya yang basah ia gulung dengan handuk.
Arthur mengamati Mala dari ujung kepala hingga ujung kakinya, dia berulang kali menelan ludahnya melihat Mala yang terlihat sangat cantik setelah mandi, kecantikan natural tanpa polesan apapun, belum lagi celana yang dipakai Mala membuat paha putihnya terekspos dan membuat naluri kelakian Arthur bangkit. Ingatannya tiba-tiba kembali pada dua gundukan yang tak sengaja dilihatnya waktu itu, fikiran mesyum kini memenuhi kepalanya. Meskipun belum pernah berpacaran dan sikapnya yang begitu dingin tapi tak menutup fakta kalau Arthur adalah laki-laki normal yang akan tergoda dengan paha putih mulus seorang gadis.
__ADS_1
"Ganti celanamu, sangat norak." Seru Arthur lalu dia masuk kedalam kamarnya.
Mala menunduk dan mengamati celana yang dibilang norak oleh Arthur, namun melihat wajah tak suka Arthur membuatnya mengalah, dia masuk kedalam kamarnya dan mengganti celananya dengan celana panjang. Mala keluar dari kamarnya dan pergi kedapur untuk masak makan malam sesuai perintah tuannya, malam ini dia akan memasak yang sederhana saja karena Mala khawatir Arthur akan kelaparan jika menunggunya masak terlalu lama.
Mala mengeluarkan kwetiau basah, ayam fillet dan telur dari dalam lemari, tak lupa sawi hijau dan bawang daun, malam ini dia akan membuat kwetiau goreng dan semoga saja Arthur menyukainya. Mala mulai sibuk memotong semua bahan dan beberapa saat kemudian, apartemen mewah itu sudah dipenuhi wangi masakan Mala.
Mala sudah menyiapkan dua piring kwetiau goreng diatas meja makan, entah bisikan dari mana dia yakin Arthur akan mengajaknya untuk makan malam bersama jadi lebih baik dia menyiapkan makanan untuk dirinya juga. Mala melangkahkan kakinya menuju kamar Arthur, dia mengetuk pintu dan menunggu Arthur membukanya.
"Tuan makan malam sudah siap." Ucap Mala dengan setengah berteriak. "Tuan."
Ceklek..
Pintu terbuka, Arthur berdiri diambang pintu dan menatap Mala dengan senyum merekah diwajahnya sehingga lesung pipi miliknya kembali mencuat.
"Makan malam anda sudah siap tuan." Ulang Mala lagi karena Arthur masih saja memandangnya. "Tuan, makanan anda nanti dingin kalau anda terus berdiri disini." Imbuh Mala lagi, gadis itu beranjak dan berjalan menuju meja makan.
"Ya ini aku, apa kamu sudah tidak bisa membedakan kami?" Jawab Rey sedih, wajahnya terlihat murung.
"Maaf Rey, aku...." Mala kehabisan kata-katanya, apa yang diucapkan Rey benar adanya, Mala mulai kesulitan untuk membedakan mereka.
"Syudahlah, tidak masalah. Katamu kau masak, ayo makan aku sangat lapar." Potong Rey segera, dia mengalihkan pembicaraan mereka, dia meraih tangan Mala dan menggandengnya menuju meja makan.
"Apa yang kau masak." Tanya Rey, matanya berbinar melihat masakan Mala yang berada diatas meja makan.
"Kwetiau goreng." Jawab Mala singkat, dia masih merasa bersalah karena salah mengenali Rey.
__ADS_1
Rey menarik kursi dan mendaratkan bokongnya di sana, dia menggeser piring berisi kwetiau goreng itu agar lebih dekat dengannya, tanpa disuruh lagi Rey segera memakan hasil masakan Mala.
"Enak sekali La." Ucap Rey seraya mengacungkan jempol kepada Mala. "Kenapa diam saja, kamu nggak mau nemenin aku makan." Imbuhnya lagi karena melihat Mala yang masih berdiri disebelahnya. Rey menarik kursi disebelahnya, dia menarik tangan Mala agar Mala duduk, gadis itu mengulas senyum lalu duduk disebelah Rey.
Rey berdiri dan meraih piring berisi kwetiau goreng untuk Mala, dia juga menuangkan air untuk Mala, Rey tau jika Mala tengah merasa bersalah kepadanya, untuk itu dia mencoba untuk menghilangkan rasa bersalah Mala kepadanga.
"Makanlah." Ucap Rey dan hanya diangguki oleh Mala, lalu kedunya makan dengan hening, tak ada suara lain, hanya dentingan sendok yang saling bersautan.
Selesai makan Mala segera membereskan peralatan makan yang kotor, namun tangannya dihentikan oleh Rey, dia mengambil alih piring yang berada ditangan Mala dan membawanya ke wastafel.
"Apa yang kamu lakukan Rey?" Tanya Mala.
"Kamu sudah masak, kali ini aku yang mencuci piringnya, adil kan?" Ucap Rey seraya mengedipkan sebelah matanya.
Mala mengulum senyum melihat kerlingat mata Rey, dia menatap punggung Rey yang tengah mencuci piring. Mala kembali duduk dan memperhatikan Rey dari jauh. "Rey seandainya kamu itu nyata, aku pasti......... Pasti apa, apa yang aku fikirkan, aku pasti sudah gila, ya pasti aku sudah gila, hentikan fikiran anehmu Mala, sadarlah dia Rey, dia tidak nyata." Gumam Mala didalam hati.
"La, Mala." Panggil Rey.
"Ah.. Ya, apa sudah selesai." Jawab Mala dengan gugup.
"Sudah. Mau jalan-jalan?" Tawar Rey.
"Jalan-jalan? Kemana?" Tanya Mala penasaran.
"Kemana saja, asal bersamamu pasti menyenangkan."
__ADS_1
BERSAMBUNG...