My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 107 Twins


__ADS_3

**SELOW UPNYA YA GAYS, AKU LAGI BAPIL ,, OH YA JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, GIVE, VOTE BIAR AKU TAMBAH SEMANGAT..


UNTUK KALIAN, JANGAN LUPA JAGA KESEHATAN YA**.....


Mala kembali masuk ke dalam ruang operasi, luka bekas operasinya yang terbuka membuatnya harus melewati prosedur jahit ulang atau yang sering di sebut dengan istilah Hecting.


Rey menunggu di depan ruang operasi dengan perasaan bercampur aduk. Cemas, sedih dan merasa bersalah, itulah yang tengah Rey rasakan saat ini.


"Mama Wulan. Aku harus menghubungi mama Wulan." Batin Rey seraya merogoh saku celananya.


Deg..


Perasaan Rey bergemuruh saat melihat wallpaper yang Arthur gunakan pada ponselnya, potres Mala tengah mencium pipi Arthur membuatnya kembali merasa cemburu, namun ia harus menepis rasa cemburunya sekarang, ia mengabaikan wallpaper tersebut lalu mencari nomor mama Wulan.


"Ya nak, ada apa?" Ucap mama Wulan begitu panggilan terhubung.


"Ma, bisakah mama ke Rumah Sakit Cipto sekarang, Mala sedang di operasi ma."


"Apa? Operasi? Tunggu sebentar, mama segera kesana!"


***


Satu jam kemudian mama Wulan sudah tiba di Rumah Sakit, ia segera menghampiri Rey yang masih duduk termenung di depan ruang operasi.


"Apa yang terjadi, kenapa Mala masuk ruang operasi lagi?" Tanya mama Wulan dengan wajah panik, ia lalu duduk di sebelah Rey tanpa menyadari jika yang duduk bersamanya bukanlah Arthur.


"Ma, bisa mama ceritakan kenapa Mala melakukan operasi cangkok hati?"Rey menatap mama Wulan dengan sendu.


Mama Wulan menautkan kedua alisnya, wajahnya nampak bingung, namun detik selanjutnya ia menyadari jika pria yang ada di sebelahnya bukanlah Arthur.


"Apa ini Rey?" Tebak mama Wulan dengan lembut. Rey hanya mengangguk lemah.


"Mala mengalami kecelakaan, dia di tabrak mobil dan lukanya cukup parah, tulang rusuknya patah sehingga merusak hatinya, untuk itu Mala harus melakukan transplantasi hati."


"Siapa yang menabrak Mala ma? Apa pelakunya sudah tertangkap?"


"Mama juga tidak tau siapa pelakunya."


Mama Wulan terpaksa berbohong, ia tak menceritakan perihal Marsel dan kecelakaan yang di sengaja, mama Wulan merasa Rey tidak mempunyai hak untuk mengetahui yang terjadi kepada Mala dan keluarganya.


Lampu indikator ruang operasi telah di matikan pertanda tindakan Hecting telah selesai, Rey dan mama Wulan berdiri saat pintu terbuka dan seorang Dokter keluar dari dalam ruang operasi.


"Bagaimana kondisi Mala Dok?" Tanga mama Wulan, wajahnya terlihat begitu cemas.


"Mala baik-baik saja, kami terpaksa menjahit ulang lukanya, sebentar lagi Mala akan sadar dan di pindahkan ke ruang perawatan." Jelas sang Dokter.

__ADS_1


"Terimakasih banyak Dok."


Seluluh menit kemudian beberapa perawat keluar dari ruang operasi dengan mendorong hospital bed dan Mala terbaring di atasnya, matanya masih terpejam karena efek obat biusnya belum hilang.


Mala kini sudah berada di kamar perawatan VVIP seperti sebelumnya, kamar super luas dengan fasilitas mewah di dalamnya.


"Rey, tolong jaga Mala ya, saya mau mengurus administrasinya dulu."


Rey hanya mengangguk, kemudian mama Wulan keluar dari ruang perawatan Mala dan pergi ke bagian administrasi di lantai dasar. Mama Wulan tak lupa mengirim pesan untuk Rafli, mengingat kondisi Rey yang sepertinya tidak stabil, mama Wulan khawatir akan ada kepbribadian lain yang muncul menggantikan Rey.


Setelah kepergian mama Wulan, pintu ruangan Mala terbuka, Rafli dan Lala masuk menghampiri Rey yang tengah duduk di sebelah tempat tidur Mala.


"Apa yang terjadi tuan?" Tanya Rafli setelah mereka berada di hadapan Rey.


"Aku juga nggak tau Raf, kejadiannya sangat cepat, tiba-tiba perutnya mengeluarkan cairan, aku terkejut saat melihat perban di perutnya."


Dahi Lala mengkerut hingga kedua alisnya hampir menyatu, ia tak menangkap maksud perkataan Rey yang di anggapnya sebagai Arthur. "Apa maksud anda dengan terkejut melihat perban di perut Mala, anda kan tau beberapa hari yang lalu Mala baru saja melakukan operasi cangkok hati."


Rey dan Rafli saling melempar pandang. Rey lupa jika Lala tidak tau siapa dirinya yang sebenarnya, sementara Rafli juga tidak menyadari ternyata Rey yang sedang menguasai tubuh Arthur.


"Aku Rey, aku tidak kalau Mala baru saja melakukan operasi, aku berada di luar negeri beberpa bulan terakhir." Jawab Rey, ia terpaksa membohongi Lala.


"Rey, si bayi matahari?" Tandas Lala seraya menatap Rey.


****


"Terimakasih banyak sus." Ucap mama Wulan setelah selesai membayar biaya administrasi, ia buru-buru kembali ke kamar Mala, jujur saja mama Wulan sedikit khawatir meninggalkan Mala bersama Rey.


Mama Wulan kembali ke kamar Mala yang berada di lantai 5 Rumah Sakit tersebut, saat tiba di kamar Mala, mama Wulan terkejut saat melihat Rafli dan Lala sudah berada di ruangan itu, mereka nampak sedang berbincang dengan Rey.


"Rafli, Lala kalian sudah datang." Tanya mama Wulan dengan wajah panik.


"Baru saja nyonya, anda dari mana?" Rafli dan Lala berdiri dan menunduk memberikan hormat.


"Dari bawah. Em, apa Mala belum sadar?"


"Belum ma." Jawab Rey.


Mama Wulan benar-benar merasa cemas, ia khawatir Lala akan curiga dengan Rey, ia tak ingin penyakit Arthur di ketahui oleh banyak orang.


"Kemana tuan Arthur, kenapa malah kamu yang membawa Mala kemari Rey?" Tanya Lala seraya mentap Rey.


Deg..


Tubuh Mama Wulan tiba-tiba bergetar dengan hebat begitu mendengar pertanyaan Lala, ia juga penasaran bagaimana Lala bisa mengenal Rey.

__ADS_1


"Arthur sedang ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan." Jawab Rey dengan tenang, sehingga membuat mama Wulan sedikit bernafas lega.


Rey merasa kepalanya berdenyut, ia tau jika seseorang di dalam tubuhnya sedang berusaha untuk keluar, Rey memegangi kepalanya yang semakin berputar-putar, ia berniat keluar dari ruangan itu sebelum kepribadian lain muncul menggantikannya.


Bruugg..


Belum sempat keluar dari ruang perawatan Mala, tubuh Rey sudah terkulai lemas di atas lantai yang dingin, ia tak sadarkan diri.


"Rey."


Semua orang panik, mereka segera menghampiri Rey yang tergeletak di lantai. Mama Wulan dan Rafli saling melempar pandang, mereka tau saat bangun nanti Rey akan berubah menjadi orang lain, mereka lalu melirik Lala secara bersamaan, apa yang harus mereka katakan kepada Lala saat Rey bangun nanti.


"Sayang, tolong beliin minyak kayu putih untuk tuan Rey."


Rafli berusaha membuat Lala keluar dari ruangan itu, ia tidak mau Lala tau mengenai penyakit tuan Arthur.


"Aku bawa." Lala mengeluarkan minyak kayu putih dari dalam tasnya.


"Oh ya syukurlah. Kalau begitu tolong panggilkan Dokter." Rafli kembali berusaha membuat Lala keluar. Gadia itu mengangguk, ia berdiri dan berjalan ke arah tempat tidur Mala, ia menekan tombol nurse call system yang berada di samping tempat tidur Lala.


Rafli mengusap wajahnya dengan kasar, ia terlihat mulai frustasi karena tidak menemukan cara untuk membuat Lala keluar dari ruangan itu.


"Lala sayang, bisa temani tante keluar sebentar nak, sepertinya Rey pingsan karena belum makan." Ujar mama Wulan dengan wajah menegang.


"Tapi Rey bagaimana nyonya?" Lala menatap tubuh Rey yang masih berada di lantai.


"Ada Rafli yang menjaganya, ayo sayang."


"Baik nyonya."


Belum sempat mama Wulan berdiri dari tempatnya, pria yang terkulai di lantai mulai membuka matanya, ia mengedarkan pandangannya, pria itu segera bangun setelah menyadari ia berada di Rumah Sakit.


"Raf, kenapa kita ada di Rumah Sakit?" Tanyanya dengan wajah bingung. Pria itu lalu menoleh ke arah hospital bed, ia sangat terkejut melihat Mala terbaring di atas sana.


"Apa yang terjadi kepada Mala Raf, kenapa dia di rawat lagi?"


Rafli belum menjawab pertanyaannya, namun pria itu sudah berdiri dan berjalan cepat menuju tempat tidur Mala.


"Sayang apa yang terjadi, maafin aku nggak bisa jagain kamu dengan baik." Ucapnya dengan tatapan sendu.


Lala mematung di tempatnya, ia menatap Rey dengan tatapan penuh tanya, apa yang sebenarnya terjadi di sini? Kenapa Rey tiba-tiba bertingkah seperti tuan Arthur?


"Rey, kenapa kamu memanggil Mala dengan sebutan sayang, bukankah kamu tau jika Mala calon istri kembaranmu?"


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2