
Lima jam sebelum konferensi pers, lebih tepatnya setelah tuan Mahesa pulang dari apartemen Arthur, ia mengumpulkan beberapa pengacaranya untuk membuat identitas baru untuk Mala..Bukan hal yang sulit bagi orang-orang yang memiliki kekuasaan dan banyak uang, dalam waktu kurang dari dua jam, nama Mala sudah masuk di dalam kartu keluarga tuan Mahesa, tak sampai di situ, tuan Mahesa bahkan membubuhkan nama Nadraswara di belakang nama Mala.
Namun tentu saja keputusan tuan Mahesa tak mendapat dukungan dari istrinya, nyonya Marry menentang keputusan suaminya, ia tak sudi jika Mala menjadi bagian dari keluarganya. Nyonya marry merasa usahanya selama ini sia-sia, bersusah payah ia mengusir Intan yang tengah mengandung Mala dan kini gadis itu justru kembali mengusik ketentraman keluarganya.
"Aku tidak meminta pendapatmu, aku hanya mengatakannya padamu. Jangan berani menentangku atau aku akan mencabut semua kemewahan yang kau miliki."
Ancaman tuan Mahesa benar-benar membuat nyonya Marry tak bisa melakukan apapun, untuk saat ini ia hanya bisa menahan amarahnya, kebenciannya kepada gadis itu semakin besar.
***
Ballrom hotel..
"Selamat malam dan terimakasih untuk rekan-rekan wartawan yang bersedia hadir dalam acara konferensi pers yang kami gelar malam ini." Asisten tuan Mahesa membuka konferensi pers tersebut.
"Selanjutnya kami persilahkan tuan Mahesa untuk menyampaikan beberapa hal kepada rekan-rekan media."
"Selamat malam." Ucap tuan Mahesa dengan suara yang terdengar sangat berwibawa.
"Pertama saya ingin mengucapkan terimakasih kepada rekan-rekan semua yang bersedia hadir memenuhi undangan kami. Pada kesempatan malam hari ini, saya ingin meluruskan berita yang tengah menjadi topic hangat dalam dua hari ini." Tuan Mahesa menjeda kalimat panjangnya, ia mengatur nafasnya sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Seperti yang rekan-rekan tau, siang ini saya menjadi sorotan media saat menolong seorang gadis dari kerumunan media, dan setelah kejadian tersebut berbagai spekulasi negatif mulai bermunculan. Perlu saya tekankan jika gadis yang saya tolong bukanlah gadis simpanan saya seperti yang tertulis di beberapa media masa, gadis itu adalah Nismala Andriani Nadraswara, putri kandung saya."
Kehebohan mulai terjadi, para wartawan yang berada di sana di kejutkan dengan pengakuan tuan Mahesa, mereka tak menyangka jika gadis itu adalah putri tuan Mahesa, pasalnya selama ini tuan Mahesa tak pernah memperkenalkan putrinya kepada dunia luar, yang mereka tau tuan Mahesa hanya memiliki satu putra.
__ADS_1
"Saya juga akan mengajukan tuntutan kepada media yang sudah membuat berita palsu mengenai putri saya. Team pengacara saya dan tuan Arthur yang merupakan calon suami putri saya akan bekerja sama menuntut netizen yang sudah menghina putri saya dengan tuntutan pencemaran nama baik."
"Demikian informasi yang dapat saya sampaikan, rekan-rekan wartawan boleh mengajukan pertanyaan sekarang."
Awak media mulai berebut untuk bertanya kepada tuan Mahesa, fakta mengenai identitas Mala sungguh menghebohkan media.
"Tuan, lalu kenapa anda baru mengenalkan putri anda kepada media sekarang, apa anda sengaja menutupi identitasnya, lalu apakah benar putri anda bekerja di perusahaan Arthur Bagaskara sebagai Cleaning Service?" Tanya salah seorang perwakilan wartawan .
"Yang pertama karena putri saya adalah orang yang sangat tertutup, dia tidak suka dengan sorotan media. Yang kedua memang benar putri saya bekerja di perusaan calon suaminya sebagai Cleaning Service. Mala adalah gadis yang mandiri dan keras kepala, dia memilih hidup sederhana dan bekerja untuk membiayai kuliahnya sendiri, sebagai orangtua tentunya saya tidak tega, namun saya menghargai keputusan putri saya, selama dia masih berada di jalur yang benar saya akan selalu mendukungnya."
***
Setelah konferensi pers yang di lakukan oleh tuan Mahesa, pemberitaan negatif tentang Mala seolah di telan bumi, mereka mulai menyanjung Mala yang memilih hidup sederhana meskipun dia putri seorang konglomerat.
Bi Ningsih dan kedua anaknya juga menonton konferensi pers yang di siarkan secara langsung di salah satu stasiun televisi, Rani kembali heboh saat tau jika Mala kini menjadi anak orang kaya. Sofyan yang juga menonton acara tersebut tersenyum licik, entah rencana apa yang kini ada di dalam benaknya. Sementara bi Ningsing terlihat biasa saja, ia sama sekali tak terkejut dengan berita tersebut.
***
Arthur mematikan televisi begitu melihat pergerakan Mala, ia berjalan menuju tempat tidur, benar saja Mala sudah terbangun dari tidur panjangnya.
"Sudah bangun, bagaimana kondisimu?' tanya Arthur seraya menempelkan punggung tangannya di kening Mala.
"Demamnya sudah turun, ayo duduk, kamu harus banyak minum agar tidak dehidrasi." Arthur membantu Mala untuk duduk, lalu ia meraih gelas berisi air putih dan memberikannya kepada Mala.
__ADS_1
"Setelah ini kamu harus makan dan minum obat."
Mala hanya mengangguk, mengiyakan semua perintah sang kekasih. Setelah minum, Arthur menyuapi Mala dengan bubur yang di belinya di tantai bawah, dengan telaten ia memasukkan bubut tersebut ke dalam mulut Mala hingga habis. Tak sampai di sana, Arthur kembali membantu Mala untuk minum obat, dia terlihat seperti seorang Dokter.
"Terimakasih." Ucap Mala dengan pelan, ia masih merasa lemas namun masih sanggup untuk menggerakan bibirnya dan memberikan senyum kecil untuk Arthur
"Sama-sama, jangan sakit lagi, aku sangat khawatir." Ujar Arthur seraya mengelus kepala Mala.
"Hem." Jawab Mala singkat. "Tadi aku turun, ada banyak wartawan di bawah, apa mereka masih di bawah sekarang?" Tanya Mala setelah mengingat kejadian saat ia di serbu puluhan wartawan.
"Mereka sudah perfi dan tidak akan mengganggumu lagi."
"Benarkah? Tapi kenapa bisa begitu?"
Arthur merogoh saku celananya dan meraih ponselnya, ia lalu menunjukkan vidio saat tuan Mahesa mengumumkan jika Mala adalah putrinya.
Mala menutup mulutnya, ia tak menyangka jika tuan Mahesa akan mengakuinya di depan awak media, mata Mala berkaca-kaca, ia merasa tersentuh namun di sisi lain ia belum bisa memaafkan tuan Mahesa.
"Kenapa dia harus melakukan itu." Ujar Mala seraya menatap kekasihnya.
"Beliau hanya ingin melindungimu, beliau tidak ingin kamu terluka, bukankah wajar jika seorang ayah mengkhawatirkan putri kecilnya."
"Aku tidak akan memaksamu untuk memaafkan tuan Mahesa. Tapi aku tidak suka jika calon istriku menyimpan dendam dan kebencian kepada orang lain, mana Malaku yang baik hati dan pemaaf itu. Kamu bisa belajar membuka sedikit hatimu untuk menerima tuan Mahesa. Kamu harus berdamai dengan masa lalumu sebelum kita menikah, aku ingin hidup bersama Malaku yang baik hati dan bukan pendendam."
__ADS_1
Mala tak bisa berkata-kata, ia lebih memilih memeluk Arthur dan menangis di pelukannya, dalam kondisi seperti ini yang di butuhkan Mala hanyalah Arthur, orang yang di cintainya.
BERSAMBUNG..