My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 40 Dokter Sheila


__ADS_3

Arthur memeluk Mala dengan erat, entah mengapa dia merasa tenang setiap kali bersama dengan gadis itu. Mala hanya bisa pasrah menerima pelukan dari Arthur, perlahan Mala mulai menepuk punggung Arthur dan mencoba untuk menenangkannya.


10 menit berlalu, Arthur nampak mulai tenang , dia melepaskan pelukan Mala dengan ketidakrelaan. "Terimakasih." Ucap Arthur dengan suara serak dan Mala hanya menjawabnya dengan anggukan kepala. Dan beberapa saat kemudian Dokter Sheila dan Rafli kembali masuk kedalam ruangan.


"Apa yang kamu lihat?" Tanya Dokter Sheila.


"Seperti yang sudah-sudah, dua anak kecil dan kobaran api." Papar Arthur dengan wajah datar.


Dokter Sheila menghembuskan nafasnya pelan, dia memijat tengkuknya karena merasa usahanya telah sia-sia, dia belum bisa membantu Arthur untuk mengingat masa lalunya. "Baiklah, lebih baik sekarang kamu istirahat, kita akan mencobanya lagi lain waktu, segera hubungi aku jika terjadi sesuatu."


"Hem." Jawab Arthur singkat lalu dia pergi dari ruangan Dokter Sheila diikuti oleh Rafli dan Mala.


Mereka berjalan beriringan keluar dari tempat praktik Dokter Sheila. Arthur menatap bangunan dua lantai yang tak lagi asing baginya, lima tahun sudah dia rutin kemari untuk berkonsultasi dengan Dokter Sheila, seorang Psikiater muda berbakat dan terkenal di Jakarta. Jarak usia mereka tidak terlalu jauh, Dokter Sheila tiga tahun lebih tua dari Arthur sehingga membuat keduanya menjadi akrab, mereka juga berteman terlepas dari hubungan dokter dan pasien.


"Raf, aku akan pulang, kau kembalilah ke kantor." Ucap Arthur lirih, dia seperti tak bertenaga hari ini.


"Baik tuan."


Arthur melirik Mala sekilas, lalu dia memberikan kunci mobilnya kepada gadis itu dan segera masuk kedalam mobil. Mala menundukkan kepalanya sebelum meninggalkan Rafli, lalu dia segera menyusul Arthur masuk kedalam mobil.


Mala melajukan mobil menuju apartemen Arthur, hening menemani perjalanan mereka, Arthur hanya diam dan memandang keluar jendela dengan wajah sendu, Mala menyadari jika tuannya sedang tidak baik-baik saja, dia ingin menghiburnya namun tak tau harus berbuat apa.

__ADS_1


"La." Panggil Arthur dengan halus, bahkan Mala sempat mengira jika Rey yang memanggilnya.


"Ya tuan, anda butuh sesuatu?"


"Cepatlah, aku ingin istirahat, kepalaku sangat sakit." Titah Arthur seraya memijat pelipisnya. "Aku ingin kamu menemaniku." Batin Arthur seraya menatap Mala yang fokus pada jalanan didepannya.


Mala hanya mengangguk, lalu dia menambah kecepatan mobil yang dikendarainya. Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di kawasan apartemen Arthur, sebuah kawasan elit yang rata-rata penghuninya adalah pengusaha. Mala memarkirkan mobil dibasement, dia keluar terlebih dahulu lalu membukakan pintu untuk Arthur.


Arthur berjalan pelan menunu lift, Mala mengikuti Arthur dengan rasa khawatir karena Arthur terlihat tidak sehat, dia nampak begitu lesu dan sorot matanya memilukan. Sesampainya diapartemen, Arthur langsung masuk kedalam kamarnya tanpa bicara sepatah katapun kepada Mala.


Mala duduk disofa yang berada tidak jauh dari kamar Arthur, dia mengurungkan niatnya untuk kembali ke Art Life karena takut sesuatu akan terjadi kepada atasannya. Sesuai dugaan Mala, setelah setengah jam Arthur keluar dari kamarnya dengan gelagat aneh, dia berjalan dengan melenggak-lenggokkan tubuhnya layaknya seorang model, Mala memijat pelipisnya, disaat seperti ini kenapa harus miss Kimberly yang keluar. Dari gaya jalannya saja Mala sudah bisa menebak bahwa yang sedang berjalan menghampirinya adalah mis Kimberly.


"Mala." Ucap miss Kimberly, dia terlihat terkejut melihat Mala berada di apartemen Arthur.


"You tinggal disini?" Tanyanya lagi, mungkin dia penasaran.


"Ya miss." Jawab Mala singkat.


"Ou." Ucap miss Kimberly lalu dia meninggalkan Mala dan pergi ke ruangannya.


Mala menatap kepergian miss Kimberly, dia harus berjaga didepan pintu, takut jika miss Kimberly akan kabur seperti awal pertemuan mereka.

__ADS_1


****


Sementara dikantor pusat Bagaskara Group, Tuan Raymon tengah mendengar laporan dari anak buahnya, mereka menyampaikan perihal Arthur yang kembali lagi mendatangi Psikiater, selama ini Tuan Raymon memang selalu memantau putranya, namun sampai detik ini dia belum tau mengapa Arthur selalu datang ke Psikiater dan semua itu berkat kerja keras Rafli yang selalu bisa mengelabuhi anak buah Tuan Raymon, bahkan saat Arthur tengah berubah dengan kepribadian lain, Rafli akan melakukan segala cara agar anak buah Tuan Raymon tidak curiga.


"Apa mereka masih tinggala bersama?" Tanya Tuan Raymon datar.


"Masih tuan, bahkan mereka.." Ucap anak buahnya ragu.


"Ada apa dengan mereka?" Tuan Raymon kembali melayangkan pertanyaanya.


"Sepertinya mereka benar-benar berpacaran tuan, kemarin malam mereka keluar untuk jalan-jalan dan mereka berpelukan dipinggir jalan." Terang anak buah Tuan Raymon.


"Tapi ada yang membuat saya heran tuan." Imbuhnya lagi. "Tuan Arthur nampak berbeda kemarin malam, dia keluar layaknya anak muda pada umumnya, baru kali ini saya melihat Tuan Arthur tanpa setelan jaznya, mereka bahkan minum kopi dipinggir jalan."


"Arthur minum kopi dipinggir jalan?" Dahi Tuan Raymon mengkerut begitu mendengar penuturan anak buahnya.


"Ya tuan."


"Tetap ikuti mereka, untuk saat ini biarkan mereka tinggal bersama, aku harap mereka berdua tidak mengingat masa lalu mereka." Ucap Tuan Raymon mengakhiri obrolan panjang mereka.


Tuan Raymon menyenderkan kepala disenderan kursi kebesarannya, dia memikirkan kembali ucapan anak buahnya mengenai perubahan Arthur. Tuan Raymon mengehela nafas panjang, dia segera menyingkirkan kenangan buruk tentang kebakaran yang menewaskan istrinya 15 tahun silam, kebakaran yang bukan hanya merenggut istrinya , tapi juga merenggut nyawa sahabatnya..

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2