My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 59 Kebakaran yang disengaja


__ADS_3

"Bertahanlah aku mohon." Bisik Mala dengan suara sendu, entah mengapa dia ikut merasakan sesak yang mungkin kini tengah Arthur rasakan.


Arthur tak bergeming, pandangannya lurus kedepan namun kosong, tanpa dia sadari buliran bening mulai menetes diantara tatapan hampanya. Entah apa yang sebenarnya dirasakan olehnya, hanya saja tiba-tiba tubuhnya tak bisa dikendalikan, perasaan dan fikirannya tak bisa disesuaikan. Didalam hatinya dia terus berusaha untuk mengingat kenangan buruk di masa lalu yang masih menjeratnya hingga kini, namun sayang, sekuat apapun Arthur berusaha isi kepalanya seakan kosong, memorinya telah terhapus belasan tahun silam dan kini hanya meninggalkan luka dan sebuah ketakutan yang tak ia ingat apa penyebabnya.


Menyedihkan bukan? Ya begitulah yang Arthur rasakan setelah insiden yang merenggut nyawa ibunya, dia tidak ingat seperti apa kejadian pastinyanya, yang ia tau ibunya meninggal karena kebakaran, hanya dia dan ayahnya yang selamat dari kejadian mengenaskan itu dan karena hal itu pula kepbribadian Arthur mulai terpecah belah membentuk karekater masing-masing didalam tubuhnya.


"Tuan, anda baik-baik saja?" Tanya Mala di sela rasa khawatirnya.


Namun Arthur tak menjawab, pria yang biasanya sangat garang itu tiba-tiba melunak, tangannya yang kekar kini gemetaran dan bersusah payang untuk meraih punggung Mala, membalas pelukan gadis itu, kepalanya yang terasa berat ia sandarkan dipundak Mala, lama dalam posisi seperti itu, mata Arthur mulai berkabut dan kelopak matanya mulai menutup, pria itu tak sadarkan diri tepat dipelukan Mala.


Perbedaan postur tubuh diantara keduanya membuat Mala kewalahan, gadis itu memutuskan untuk duduk bersimpuh ditengah trotoar jalan sebelum akhirnya dia menghubungi Rafli untuk meminta pertolongan. Dengan tangan yang masih bergetar, diambilnya ponsel dari tas yang berada tidak jauh darinya, dia mulai mengotak-atik benda pipih itu dan menghubungi Rafli.


"Hallo." Ucap Rafli di seberang telefon.


"Asisten Rafli, bisakan anda datang ke Jalan Mawar, Tuan Arthur pingsan dan saya ragu untuk menghubungi ambulan, saya takut kepribadian yang lain akan mucul." Terang Mala dengan suara bergetar.


Tanpa berkata apapun, Rafli segera menutup panggilan telefon itu dan bergegas menemui Mala dan Arthur, perasaannya mulai tak karuan, dia khawatir kepribadian yang lain akan muncul disaat Arthur tengah berada diluar.


Sementara itu, Mala dan Arthur mulai dikerubungi para pejalan kaki yang kebetulan lewat disana, mereka mulai berisik dan menyarankan Mala untuk memanggil ambulans, namun Mala menolak, dia lebih memilih menunggu Rafli, dia tidak ingin membuat kesalahan lain dengan membawa Arthur ke Rumah Sakit lain, dia yakin yang di butuhkan Arthur saat ini adalah Dokter Sheila.


Beberapa menit kemudian Rafli datang, Mala bisa sedikit bernafas lega saat melihat Rafli berlari menghampirinya dan juga Arthur. Dengan cepat Rafli segera menggedong Arthur dipunggungnya dan membawanya masuk kedalam mobil diikuti oleh Mala.


Didalam mobil, Rafli membaringkan Arthur tepat dipangkuan Mala, entah apa yang Rafli fikirkan namun menurutnya Arthur juga membutuhkan Mala saat ini, setelahnya dia segera melajukan mobilnya menuju tempat praktek Dokter Sheila.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Rafli seraya melirik Mala dari spion tengah yang berada didalam mobil.


"Kami baru saja bertemu Tuan Mahesa, namun Tuan Arthur ingin berjalan menuju kantor, tiba-tiba ada mobil pemadam yang melewati kami dan..."


"Tuan Arthur melihat kebakaran itu kan?"Tebak Rafli memotong ucapan Mala.


"Hem." Jawab Mala pelan, gadis itu menunduk mengamati wajah Arthur yang masih terlelap dalam mimpi panjangnya, tanpa sengaja jemari lentik Mala mengusap wajah Arthur dengan lembut.

__ADS_1


"Apa yang sebenarnya terjadi padamu." Batin Mala seraya menatap sendu seseorang yang kini berada di pangkuannya.


Rafli menghentikan mobilnya tepat didepan tempat praktek Dokter Sheila, dia segera mengeluarkan tubuh Arthur dari dalam mobil dan membawanya masuk kedalam bangunan dua lantai itu, Dokter Sheila yang sudah dihubungi oleh Rafli menyambut kedatangan mereka dan segera membuka pintu ruangannya, dengan hati-hati Rafli menurunkan tubuh Arthur diatas kursi yang biasa Arthur gunakan saat sedang di Hypnoterapi.


"Apa yang terjadi?" Tanya Dokter Sheila dengan setengah berbisik.


"Dia tak sengaja melihat sebuah kebakaran." Jawab Rafli.


"Sudah ku duga, kebakaran lima belas tahun lalu pasti penyebab dari semua ini, apa kamu belum menemukan sesuatu mengenai kebakaran itu?" Tanya Dokter Sheila lagi.


Rafli hanya menggeleng lemah. "CCTV ditempat itu hilang begitu saja, sepertinya ada seseorang yang sengaja menyembunyikannya, sejauh yang saya tau, ruangan itu terkunci saat kebakaran terjadi sehingga mereka semua tidak selamat."


Mala hanya diam menyimak pembicaraan Rafli dan Dokter Sheila, dia masih setia duduk disebelah Arthur dan menunggunya untuk sadar. Mala memicingkan matanya saat jemari Arthur bergerak, gadis itu mempertajam penglihatannya, dia ingin memastikan jika yang dilihatnya bergerak memanglah jemari Arthur.


"Dia sadar." Pekik Mala, lalu dia berdiri dengan seutas senyum diwajahnya, kelegaan kini mulai dirasanya.


Dokter Sheila segera memeriksa kondisi Arthur, perlahan Arthur mulai membuka matanya.


"Oh Shiiiit, kepalaku." Ujar Arthur seraya memegangi kepalanya.


Semua yang ada didalam ruangan itu terkejut mendengar umpatan Arthur, mereka bertiga saling pandang satu sama lain.


"Petra?" Tebak Dokter Sheila.


Arthur menoleh dan menatap tajam ke arah Dokter Sheila. "Hay cantik, lama tak bertemu." Ucap Arthur dengan seringai diwajahnya.


"Raf, kunci pintunya." Bisik Dokter Sheila tepat didepan telinga Rafli, dia tidak ingin Petra kabur dari ruanganya.


"Kau juga si sini sayang." Petra berdiri menghampiri Mala dan segera merangkul gadis itu. Mengingat kejadian saat makan malam waktu itu membuat Mala risih dengan dengan sikap Petra, meskipun didalam tubuh yang sama namun Mala bisa merasakan bahwa mereka semua berbeda dan Mala paling tidak suka saat berhadapan dengan Petra.


"Jangan sentuh aku." Mala melepaskan tangan Petra yang melingkar di bahunya.

__ADS_1


"Why, bukankah waktu itu kita juga sudah berciuman, kau sudah melupakannya sayang?" Seru Petra.


Mala tidak menjawab, gadis itu berpindah tempat sehingga Petra tak bisa menyentuhnya. Petra tersenyum smrik dan mencoba untuk mendekati Mala, namun Doktet Sheila menahannya dengan mencekal tangannya.


"Apa yang kau inginkan cantik?" Tanya Pertra dengan senyum mesyumnya.


"Duduklah, ada yang ingin aku bicarakan padamu."


"Apa imbalannya?"


"Apapun yang kau mau."


Mendengar itu Petra segera menuruti permintaan Dokter Sheila, dia duduk diatas kursi dan kakinya dia rentangkan diatas meja.


"Aku mau rokok." Pintanya dengan santai.


Dokter Sheila menarik laci mejanya, dia mengeluarkan rokok dari sana.


"Apa kau ada disana saat kebakaran lima belas tahun lalu?" Tanya Dokter Sheila, dia menahan rokok itu dan membuat Petra kesal.


"Bukannya waktu itu aku udah bilang, aku disana dan melihat semuanya."


"Bisakah kamu jelaskan apa yang terjadi waktu itu."


"Berikan dulu rokoknya."


Dokter Sheila memberikan rokok itu kepada Petra.


"Kebakaran itu adalah sebuah kesengajaan."


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2