
"Kamu menyakitiku Rey."Ucap Mala dengan suara tercekat, matanya mulai berkaca-kaca sebelum akhirnya air matanya tumpah.
Arthur melepas ciumannya, dia memandangi leher Mala yang kemerahanw karena ulahnya, sesaat kemudian dia menatap wajah Mala yang masih berada dibawah kungkungannya, Arthur merasa bersalah karena telah memaksa Mala, dia menyeka air mata Mala dengan lembut, lalu dia menghempaskan tubuhnya disebelah tubuh Mala.
Arthur memiringkan tubuhnya, tangannya ia lingkarkan diatas perut Mala. "Maafin aku La, aku..." Arthur belum menyelesaikan kalimatnya namun Mala lebih dulu memotong ucapannya.
"Aku merasa bersalah kepada Tuan Arthur." Potong Mala dengan suara serak.
Deg, Arthur merasa aneh saat mendengar penuturan Mala. "Kenapa kau berfikir begitu?" Tanya Arthur penasaran.
"Aku yakin Tuan Arthur akan merasa jijik jika dia tau kamu menggunakan tubuhnya untuk menyentuhku." Papar Mala dengan pelan namun terdengar tegas.
Arthur terdiam, perasaanya berkecamuk mendengar ucapan Mala. "Apa kau begitu membenciku hingga kau mempunyai fikiran seperti itu, seandainya kamu tau, aku bahkan ingin melakukan ini sebagai Arthur, aku ingin memelukmu dan menciummu tanpa harus menjadi orang lain La." Batin Arthur.
"Aku mau tidur." Ucap Mala setelah lama menunggu Arthur yang hanya diam tak memberi jawaban apapun kepadanya, dia mengangkat tangan Arthur dari atas perutnya lalu dia bangun dan meninggalkan Arthur yang masih tergeletak diatas tempat tidurnya.
Mala meninggalakan kamar Arthur dengan perasaan bersalah, entah mengapa dia merasa seperti tengah mengkhianati Arthur yang sudah berbaik hati mau menampungnya diapartemen ini.
Mala masuk kedalam kamarnya, dia menatap pantulan dirinya dari balik cermin, Mala memiringkan kepalanya, tangannya mengusap tanda merah hasil perbuatan Arthur yang berpura-pura sebagai Rey. Gadis itu menghela nafas dengan keras. "Kenapa aku harus terjebak diantara mereka." Gumam Mala, lalu dia melemparkan tubuhnya keatas tempat tidur dan tak lama setelahnya gadis itu mulai terlelap.
**
Sementara Arthur, dia masih berada diatas tempat tidurnya dengan posisi yang sama, aroma tubuh Mala masih tersisa diruangannya dan menjadikannya semakin mendambakan gadis berkacamata itu.
"Kenapa harus Rey, kenapa bukan aku."
Arthur merubah posisinya, kini dia terlentang dan menatap langit-langit kamar, fikirannya mulai bercabang, dia kembali menyalahkan penyakitnya dan kembali tak menerima takdirnya yang menyakitkan, padahal lama sekali Arthur berusaha untuk berdamai dengan penyakit yang dideritanya, namun semenjak perasaanya tumbuh untuk Mala, dia mulai membenci takdir yang Tuhan gariskan untuknya. "Aku lebih memilih jika Mala mencintai orang lain dari pada aku harus bersaing dengan diriku sendiri. Apa aku harus menjadi seperti Rey agar kau juga menyukaiku seperti kau menyukai dia?" Ucap Arthur, dia merasa frustasi dengan kisah cintanya yang sangat rumit.
****
__ADS_1
Pagi tiba, dua insan yang hidup dalam satu rumah itu sudah berkutat dengan kesibukan masing-masing, Mala tengah menyiapkan sarapan untuk Arthur, sementara Arthur duduk disofa dan sibuk dengan laptopnya.
Mala memanggil Arthur setelah sarapan siap, Arthur segera menutup laptopnya dan berjalan kearah dapur, pagi ini dia terlihat murung dan membuat Mala segan untuk menyapanya.
Mereka sarapan dengan ditemani keheningan, Arthur masih merasa bersalah dengan kejadian semalam, padahal jelas-jelas dia sedang berakting sebagai Rey, sementara Mala takut bersuara karena melihat ekspresi wajah Arthur yang menakutkan.
"Kau tidak kepanasan memakai baju itu?" Tanya Arthur seraya menunjuk baju Mala yang bermodel Turtleneck sehingga menutupi leher gadis itu. Arthur mencoba menghidupkan suasana dipagi yang cerah ini.
Uhuk.. Uhukk..
Mala tersedak begitu mendengar pertanyaan Arthur, dia segera meraih gelas berisi air dan meminumnya hingga habis. Kemudian Mala memegangi lehernya dengan senyum terpaksa. "Tidak tuan." Jawab Mala singkat.
"Apa kau menyembunyikan sesuatu dilehermu?" Tanya Arthur lagi, padahal dia tau dibalik kerah itu ada tanda merah keunguan hasil kenakalannya tadi malam, namun Arthur tetap bertanya, dia ingin tau alasan apa yang akan Mala katakan kepadanya.
"Ti..tidak tuan." Sangkal Mala dengan suara gagap. Dia kembali memegang lehernya, namun dengan tidak sengaja dia sedikit menarik baju yang menutupi lehernya sehingga Arthur bisa melihat tanda yang dibuatnya.
"Lehermu kenapa merah begitu?" Arthur kembali bertanya dengan wajah tanpa dosa..
"Serangga." Ulang Arthur dengan keras.
"Ya tuan, sepertinya Tomcat karena meninggalkan bekas seperti ini."
"Tomcat?" Seru Arthur dengan ekspresi aneh diwajahnya. "Sialan, bisa-bisanya dia menyebutku serangga." Batin Arthur kesal.
"Lain kali berhati-hatilah, mungkin saja serangga itu akan datang lagi dan memakanmu." Ucap Arthur kesal, lalu dia berdiri dari tempat duduknya dan meninggalkan Mala.
Mala bergidik, dia malah membayangkan jika lehernya benar-benar digigit serangga. Mala menggeleng dengan cepat lalu dia membereskan meja makan sebelum Arthur keluar dari kamarnya dan berangkat ke kantor.
***
__ADS_1
Selama diperjalanan Arthur terlihat murung, dia tak berenergi pagi ini, hingga mereka sampai di kantor Arthur masih mempertahankan wajah masamnya dan membuat Mala bertanya-tanya apa yang terjadi dengan atasannya itu.
Rafli menyambut kedatangan Arthur didepan Art Life, dia membukakan pintu mobil untuk Arthur. Rafli heran begitu melihat wajah murung Arthur, sudah lama Rafli tak melihat ekspresi itu diwajah atasannya, akhir-akhir ini Arthur memang terlihat sedikit berbeda dimata Rafli, menurutnya Arthur terlihat lebih manusiawi, namun pagi ini Rafli sedikit ngeri karena wajah lama Arthur kembali lagi, raut wajah yang menakutkan itu kembali Arthur nampakkan.
"Raf, apa aku terlihat seperti serangga?" Tanya Arthur seraya berjalan menuju ruangannya.
"Apa maksud anda tuan?" Jawab Rafli bingung, dia tidak mengerti dengan maksud pertanyaan Arthur.
Arthur menghentikan langkahnya, dia memutar tubuhnya sehingga kedua pria dingin ini saling berhadapan. "Lihatlah baik-baik, apa wajahku mirip dengan serangga bernama Tomcat?"
"Tomcat?" Ulang Rafli dengan wajah kebingungan. "Saya bahkan belum pernah melihat serangga itu tuan, memang seperti apa bentuknya?" Bukannya menjawab Rafli malah balik bertanya dan membuat Arthur semakin geram.
"Ah sudahlah, kau semakin membuatku kesal Raf." Gerutu Arthur lalu dia segera masuk kedalam ruangannya.
Setelah Arthur masuk kedalam ruangannya, Rafli segera merogoh sakunya dan meraih ponsel, dia mengetik kata kunci Tomcat di mesin pencarian dan sesaat kemudian puluhan gambar serangga itu memenuhi layar ponselnya.
"Kenapa dia bertanya seperti itu, apa ada yang mengatainya seperti serangga." Gumam Rafli seraya mengelus tengkuknya, dia merasa geli melihat gambar serangga yang ada diponselnya.
"Rafli." Panggil Arthur dengan suara yang menggelegar sehingga asistennya itu segera lari dan masuk kedalam ruangannya.
"Ya tuan."
"Buatkan jadwal untuk bertemu Dokter Sheila, aku harus menemuinya sekarang."
"Apa ada masalah tuan?" Tanya Rafli, dia mulai khawatir jika terjadi sesuatu kepada Arthur.
"Dasar serangga terkutuk." Gumam Arthur, kepalanya dipenuhi oleh ucapan Mala mengenai gigitan serangga, dia benar-benar kesal akan hal itu.
Rafli mengela nafas melihat kelakuan aneh atasannya, dia keluar dari ruangan Arthur dan membuat janji temu dengan dokter Sheila.
__ADS_1
"Semoga aku tetap menjaga kewarasanku." Batin Rafli.
BERSAMBUNG..