
Rey mengangkat tubuh Mala disela ciuman mereka yang semakin dalam, Rey membawa Mala masuk kedalam kamar Mala, bibir mereka masih saling bertautan, mereka saling mengecap sehingga menciptakan sebuah suara khas orang yang tengah berciuman.
Rey duduk ditepi tempat tidur sementara Mala duduk dipangkuannya, tiba-tiba Rey merasakan sesuatu yang seakan tengah menariknya dengan kuat, Rey melepas pagutannya, dia menatap Mala dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Tidurlah, kau harus bekerja besok." Ucap Rey pelan, dia menurunkan tubuh Mala dari pangkuannya lalu dia segera keluar dari kamar Mala.
Mala menatap punggung Rey yang hingga menghilang dibalik pintu kamarnya, Mala tersenyum getir mengingat keputusannya yang sangat gegabah, bagaimana bisa dia menerima Rey, sedangkan niat awalnya datang kerumah ini adalah untuk bekerja, mengumpulkan uang untuk biaya kuliahnya.
Mala merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur, dihari pertama kebersamaannya bersama Rey, dia sudah memikirkan bagaimana hubungan mereka selanjutnya, bagaimana dia akan menghadapi Arthur jika Arthur menyadari hubungannya bersama Rey, bagaimana jika Arthur tau mereka sudah berciuman dan saling menyentuh saat tubuh Arthur dihuni oleh Rey.
Sementara didalam kamar, Rey nampak gelisah, dia menggigit ujung jarinya dan berjalan mondar-mandir. Rey segera meraih ponsel milik Arthur dan menghubungi seseorang.
"Hallo dok, kita harus bertemu besok." Ucap Rey gugup lalu dia mengakhiri panggilannya.
****
Pagi tiba, seperti biasa Mala bangun pagi dan menyiapkan sarapan untuknya dan Arthur, mereka sarapan bersama dengan rasa canggung pagi ini, keduanya saling diam, Mala mengamati Arthur yang terlihat berbeda pagi ini, entah karena apa, namun Arthur terlihat sedih dan wajahnya sangat lelah.
"La." Panggil Arthur setelah keduanya menghabiskan sarapan mereka.
"Ya tuan?"
"Apa semalam kau pergi bersama Rey?" Tanya Arthur dengan pelan, namun justru membuat Mala merasa khawatir. Mala diam sejenak, dia meremas kedua tangannya yang tersembunyi dibawah meja makan.
"I..iya tuan." Jawab Mala dengan gugup.
"Baguslah, ikuti dia kemanapun dia pergi, aku tidak ingin dia makan sembarangan lagi seperti waktu itu." Papar Arthur dan membuat Mala sedikit merasa lega.
"Kau berangkatlah lebih dulu, aku harus pergi ke suatu tempat." Imbuh Arthur lalu dia pergi meninggalkan Mala yang masih duduk dikursi meja makan.
Mala membereskan meja makan sebelum pergi ke Art Life, pagi ini dia pergi ke kantor sendiri, dia merasa ada yang aneh setelah beberapa waktu selalu berangkat bersama Arthur. Sepi, mungkin itulah yang Mala rasakan pagi ini.
__ADS_1
Sesampainya didepan gedung Art Life Mala segera menghampiri Lala yang terlihat sedang menunggu seseorang. "Nungguin aku ya." Ujar Mala dengan senyum diwajahnya.
"Aku sedang menunggu kak Rafli."
"Kak Rafli?"Tanya Mala dengan dahi mengkerut.
"Aku sedang mengejarnya." Bisik Lala penuh percaya diri.
Mala hanya menggeleng, dia tidak yakin Lala serius mengejar Asisten Rafli, karena sebelumnya Lala selalu bersikap seperti itu, dia menyukai pria tampan, namun begitu melihat pria lain yang lebih tampan dia akan segera berpaling. (Lala adalah gambaran Author, penyuka pria tamvan 🤣🤣🤣).
"Dia datang, dia datang." Ucap Lala bersemangat.
"Selamat pagi Asisten Rafli." Sapa Mala.
"Ya." Jawab Rafli singkat.
"Selamat pagi kak Rafli." Sapa Lala tak mau Kalah.
Mala mengejar Rafli begitu dia sadar Arthur tak datang bersama Rafli, sejak pagi Mala merasa khawatir dengan Arthur. Lala yang tidak tau apa-apa hanya mengekor dibelakang Mala.
"Asisten Rafli." Panggil Mala.
Asisten Rafli berhenti dan memutar tubuhnya.
"Apa tuan Arthur tidak berangkat bersama anda?"
"Tidak, bukankah dia berangkat bersamamu?"
"Tidak, Tuan Arthur menyuruhku untuk berangkat lebih dulu, dia bilang harus pergi kesuatu tempat, aku fikir Tuan Arthur pergi bersama anda." Ucap Mala menjelaskan situasi yang sebenarnya.
"Ikut aku." Seru Rafli, lalu dia kembali keluar dari kantor dan pergi menuju parkiran, Mala segera menyusul Rafli dan meninggalkan Lala yang masih kebingungan.
__ADS_1
Sementara ditempat lain Arthur tenyata pergi menemui Psikiater yang selama ini menangani penyakitnya, dia merasa ada yang aneh dengan dirinya akhir-akhir ini.
"Jadi apa masalahnya sekarang?" Tanya Psikiater wanita bernama Sheila.
"Akhir-akhir ini, kepribadianku yang lain sering muncul tanpa aku harus tidur. Pertama saat aku bertemu dengan gadis itu dan tiba-tiba Rey muncul. Setelah pertemuan itu Rey sering sekali muncul setiap aku bertemu dengan gadis itu. Kedua saat kami pergi ke rumah utama untuk makan malam dan Petra muncul seperti yang pernah aku ceritakan padamu, ketiga saat pakde Karto muncul dia pergi untuk adu jangkrik, disana terjadi keributan dan Petra muncul, lalu sesaat kemudian aku sadar dan sudah berada dibawah air." Jelas Arthur panjang lembar.
"Dan semalam, tiba-tiba aku sadar saat gadis itu berada diatas pangkuanku." Imbuhnya lagi, dia kembali mengingat kejadian semalam, dia yakin jika Rey dan Mala telah berciuman, mengingat bibir Mala yang basah dan sedikit bengkak.
"Jadi semuanya berawal dari gadis itu?" Tanya Dokter Sheila hati-hati.
Arthur hanya diam, dia masih belum yakin jika Mala bisa memancing kepribadian lainnya terus bermunculan.
"Yang pertama kita harus tau kenapa Rey tiba-tiba muncul setelah kamu bertemu dengan gadis itu. Untuk kasus Petra, kemungkinan besar dia tercipta dari rasa takutmu, dia menggantikanmu untuk melawan ketakutan yang kamu rasakan dan kita harus tau sumber dari ketakutanmu itu sehingga kita bisa menyusun puzzle-puzzle yang selama ini terpecah belah menjadi satu-kesatuan yang utuh."
"Kamu mau mencobanya lagi?" Imbuh Dokter Sheila.
"Hipnotis?" Tanya Arthur dengan ragu, dia pernah beberapa kali melakukannya untuk mengembalikan memori masa kecilnya, namun nihil, tidak ada apapun dalam ingatannya. Arthur menarik nafasnya berat, dia ragu namun dia ingin kembali mencobanya. Arthur akhirnya mengangguk, dia setuju untuk kembali dihipnotis oleh Dokter Sheila.
Dua bocah laki-laki tengah bermain didalam sebuah ruangan, anak perempuan itu menggunakan gaun yang sangat cantik, mereka bermain sambil menyanyikan lagu ulang tahun, namun tiba-tiba ruangan itu dipenuhi oleh asap, mereka berlari, berteriak hingga ruangan itu dipenuhi oleh api. Api menyambar dimana-mana.. Hanya ada api yang berkobar disana.
Dokter Sheila mencoba membangunkan Arthur yang mulai gelisah, tubuhnya dipenuhi oleh keringat, namun Arthur tak kunjung sadar membuat Dokter sheila menjadi khawatir. Disaat yang bersamaan Rafli datang bersama Mala, mereka berdua segera menghampiri Arthur yang duduk terpejam diatas sebuah kursi khusus.
"Apa yang terjadi?" Tanya Rafli dengan nada khawatir.
"Aku menghipnotisnya lagi, namun dia belum juga sadar." Terang Dokter Sheila yang tak kalah khawatir.
Mendengar keteraangan Dokter Sheila, Mala berinisiatif untuk membangunkan Arthur, dia melangkah lebih dekat dengan tubuh Arthur, Mala berdiri tepat disebelah Arthur, dia membungkukkan tubuhnya dan berbisik ditelinga Arthur. "Tuan, bangunlah." Tutur Mala dengan suara yang begitu lembut.
Arthur membuka matanya, nafasnya tersenggal-senggal seolah dia baru saja berlari, dia menatap sekeliling, saat dia melihat Mala, dia reflek menarik Mala sehingga gadis itu limbung dan jatuh kedalam pelukannya. Arthur memeluk Mala dengan erat, entah mengapa dia merasa tenang setiap kali bersama dengan Mala.
BERSAMBUNG...
__ADS_1