My Unique Boyfriend

My Unique Boyfriend
Bab 91 Moster kecil


__ADS_3

Rafli melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, bukan karena ia marah terhadap Lala namun karena ia mendapatkan kabar dari anak buahnya jika ada beberapa orang yang membawa pak Karto keluar dari Rumah Sakit Jiwa. Setelah mendengar kabar itu Rafli segera pergi ke Rumah Sakit Jiwa tempat pak Karto di rawat.


Tiga puluh menit kemudian Rafli tiba di depan Rumah Sakit Jiwa, orang suruhannya segera menghampirinya dan masuk ke dalam mobil miliknya.


"Kemana mereka membawa pak Karto pergi?" Tanya Rafli, wajahnya terlihat sangat serius.


"Fredi dan beberapa anak buahnya sedang mengikuti mereka tuan." Jawab anak buah Rafli yang bernama Tomi.


"Saya rasa mereka bukan orang sembarangan tuan?" Imbuh Tomi seraya menyerahkan sebuah ponsel pintar kepada Rafli.


Rafli meraih ponsel itu dan memutar vidio yang sudah Tomi siapkan. Tomi memang di utus Rafli untuk berjaga di Rumah Sakit Jiwa.


"Kenapa kamu bisa menyimpulkan begitu?" Tanya Rafli tanpa mengalihkan perhatiannya.


"Mereka bisa membawa pak Karto keluar dari Rumah Sakit tanpa keributan, saya yakin anak pak Karto tidak tau jika bapaknya di bawa pergi oleh orang-orang itu. Mereka pasti suruhan seseorang yang memiliki kekuasaan tuan."


Rafli memicingkan matanya, ia menangkap sosok yang sepertinya tak asing baginya di dalam salah satu vidio yang tengah ia putar. Rafli mengeluarkan ponselnya, ia memutar rekaman CCTV yang di perolehnya di puncak setelah Mala kecelakaan.


"Tom, bukankah mereka orang yang sama?" Rafli menunjukan rekaman CCTV yang berada di ponselnya dan membandingkan dengan rekaman yang ada di ponsel Tomi.


Tomi memeriksa dengan teliti, ia membandingkan postur tubuh laki-laki yang berada di dalam vidio itu dengan sangat hati-hati.


"Ya tuan, mereka orang yang sama." Ucap Tomi setelah beberapa waktu membandingkannya.


"Bagaskara Group. Sepertinya kita harus hati-hati Tom." Rafli memberikan peringatan kepada anak buahnya.


Tomi hanya mengangguk, sebenarnya ia penasaran kenapa Bagaskara Group mengutus orang untuk mencelakai calon istri tuan muda mereka, namun Tomi sadar akan posisinya, ia hanya orang yang di bayar untuk melakukan pekerjaannya. Setelah urusannya dengan Rafli selesai, Tomi segera keluar dari mobil Rafli dan melanjutkan pekerjaannya.


"Tuan Raymon, apa yang anda coba sembunyikan?" Gumam Rafli.


Rafli lalu teringat jika ia mempunyai nomer telefon Aryo, anaknya pak Karto. Rafli segera mencari nomer tersebut dan menghubunginya.


"Hallo." Ucap seseorang dari seberang sana.


"Selamat malam pak Aryo, ini Rafli, apa anda masih mengingat saya?" Tanya Rafli sekedar basa-basi.


"Tuan Rafli tentu saja saya ingat. Ada perlu apa tuan malam-malam menghubungi saya?" Tanya Aryo.


"Saya tiba-tiba ingat dengan pak Karto, bagaimana kondisi beliau sekarang?"

__ADS_1


"Bapak?" Suara Aryo terdengar sedikit gugup.


"Bapak baik-baik saja tuan." Imbuhnya lagi.


"Syukurlah, saya berada di sekitar Rumah Sakit dan saya berniat untuk mengunjungi pak Karto sekarang."


"Jangan." Potong Aryo dengan suara yang terdengar semakin gugup.


Rafli menyunggingkan senyum, dugaannya benar jika sesuatu yang tidak beres telah terjadi. "Apa alasannya?" Pancing Rafli, ia berharap mendapat informasi dari Aryo.


"Bapak tidak boleh di kunjungi beberapa hari ke depan tuan, kondisinya sangat tidak stabil."


"Bukankah tadi pak Aryo bilang pak Karto baik-baik saja?" Cecar Rafli membuat Aryo semakin terpojok.


"Katakan apa yang terjadi pak Aryo? Anda tau jika bapak anda di bawa pergi oleh orang asing kan?"


"Saya bisa membantu anda, asal anda ceritakan semuanya kepada saya apa yang sebenarnya terjadi?"


"Temui saya di arena adu jangkrik."


Rafli kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia harus segera menemui Aryo sebelum orang itu berubah fikiran. Rafli memeriksa arlojinya, waktu menunjukan pukul delapan malam, jalanan sudah mulai sepi sehingga ia bisa leluasa untuk kebut-kebutan di jalan raya.


Rafli memarkirkan mobilnya di lahan kosong yang biasa di pakai untuk parkir motor orang-orang yang melakukan adu jangkring di area itu. Beberapa saat kemudian seseorang mengetuk kaca mobilnya, Rafli menurunkan sedikit kaca mobilnya, setelah melihat Aryo dia membuka pintu mobil dan Aryo segera masuk.


"Ya. Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Rafli.


"Beberapa hari yang lalu ada lima orang datang ke rumah saya, mereka mengobrak abrik rumah saya seperti sedang mencari sesuatu, mereka bilang ayah saya telah mencuri sesuatu yang berharga milik Bagaskara Group."


"Sesuatu yang berharga?" Ulang Rafli dan Aryo hanya mengangguk. "Apakah mereka menemukan sesuatu?"


Aryo hanya menggeleng.


"Apa anda tau kalau ada yang membawa pak Karto keluar dari Rumah Sakit Jiwa?" Lanjut Rafli.


"Tau tuan, saya yang membantu mereka mengeluarkan bapak dari sana, tapi saya tidak tau mereka membawa bapak kemana. Mereka mengancam akan membunuh bapak serta istri dan anak saya jika saya tidak menuruti kemauan mereka."Tutur Aryo dengan mulut gemetar.


"Saya tidak tau ini akan membantu atau tidak, beberapa hari terakhir bapak selalu menggambar ini, petugas Rumah Sakit memberikan ini kepada saya."


Aryo meraih sesuatu dari saku jaketnya dan menyerahkan kepada Rafli. Pemuda itu meraih selembar kertas dari tangan pak Aryo dan memeriksanya.

__ADS_1


Rafli mengerutkan kedua alisnya, ia sedang menebak-nebak apa yang di gambar oleh pak Karto.


"Kangguru." Gumam Rafli, awalnya ia berfikir jika itu gambar kelinci, namun setelah melihat lebih dekat ada sebuah kantung depan tubuh kelinci itu.


Rafli mengamati keseluruhan gambar pak Karto, meskipun tak begitu jelas namun Rafli tau jika pak Karto menggambar seekor kangguru dan dua orang perempuan sedang bermain kembang api.


"Kabari saya jika terjadi sesuatu, saya akan mencari tau dimana mereka membawa pak Karto. Jaga diri anda baik-baik, jangan percaya kepada siapapun selain saya."


Aryo hanya mengangguk, lalu ia keluar dari mobil Rafli dan bergegas pergi dari tempat itu. Rafli kembali memeriksa gambar itu, ia menggaruk tengkuknya, haruskah ia mempercayai sebuah gambar milik orang gila?


"Kangguru, apa maksudnya, kenapa harus kangguru, kenapa bukan hewan yang lain."


***


Di sebuah gudang terbengkelai seorang laki-laki tua duduk di sebuah kursi dengan tangan dan kaki terikat oleh sebuah tali. Mulutnya tak berhenti menyuarakan kalimat aneh membuat orang lain yang berada di sana marah.


"Diam." Bentak seorang pria paruh baya berperawakan tinggi besar dan pakaian serba berwarna hitam melekat di tubuh besarnya.


"Moster kecil, dia yang membakarnya, dia pelakunya, moster kecil, dia adalah moster kecil." Pak Karto terus mengulang kalimat itu.


"Dimana rekaman CCTV itu?" Tanya orang yang membentak pak Karto sebelumnya.


Beberapa orang yang berada di sana berdiri saat sebuah mobil mewah memasuki gudang tersebut, seorang laki-laki berusia 30-an tahun keluar dari mobil itu. Kedatangan laki-laki tersebut di sambut dengan hormat.


"Dia belum bicara?"Tanya laki-laki tersebut.


"Belum bos."


"Kau bahkan tidak bisa mengatasi pria tua seperti ini." Ucapnya lagi dengan wajah mengerikan.


"Kau tau apa yang akan terjadi jika gagal menyelesaikan pekerjaanmu kan?"


"Mengerti bos." Jawab pria bertubuh besar itu.


"Pukul dia sampai dia mengatakan dimana dia menyimpam rekaman itu."


Laki-laki yang di panggil bos itu kembali masuk kedalam mobilnya dan pergi meninggalkan gudang tersebut.


Suara hantaman benda tumpul menggema di dalam gudang kosong itu, namun ironisnya yang di pukul tidak mengaduh sedikitpun, tubuh tuanya mulai membiru akibat beberapa pukulan, namun ia seperti tak merasakan sakit, bibirnya masih saja mengucapkan kata-kata yang sama.

__ADS_1


"Moster kecil, dia yang membakarnya, dia pelakunya, moster kecil, dia adalah moster kecil."


BERSAMBUNG...


__ADS_2