
Ambulans membawa Mala menuju Rumah Sakit terdekat, di dalam ambulans Arthur tak berhenti menangis, air matanya seolah tak habis, mulutnya berkomat-kamit seakan tengah merapalkan mantra untuk kesembuhan Mala.
Beberapa menit kemudian mereka tiba di depan UGD Rumah Sakit, perawat dan Dokter jaga berhamburan keluar begitu ambulans berhenti tepat di depan pintu UGD.
"Apa yang terjadi?" Tanya seorang Dokter pada salah satu petugas kesehatan yang berada di ambulans.
"Tabrak lari, pasien berusia 21 tahun, hilang kesadaran sekitar 7 menit yang lalu, pupil melebar antara 3mm-4mm, pasien mengalami muntah darah, mungkin akibat benturan keras di perut atau dadanya, bagian kepala depan mengalami kerobekan." Jelas petugas tersebut dengam cepat.
"Sus, hubungi bagian Radiologi, kita akan melakukan MRI segera." Perintah sang Dokter lalu dengan di bantu beberapa perawat Mala di bawa masuk ke dalam UGD.
Arthur menunggu di luar UGD dengan cemas, ia mondar-mandir di depan pintu sambil menggigit ujung jarinya, perasaannya tak karuan. Ketakutan kembali menghinggapi hatinya, kehilangan Mala menjadi sebuah ketakutan terbesar yang kini Arthur rasakan.
Beberapa kali ponsel Arthur berbunyi, namun ia tak mempunyai waktu hanya untuk memeriksa ponselnya. Fikirannya hanya tertuju pada keselamatan gadis itu.
Puluhan kali ponselnya terus berdering, dengan enggan ia meraih ponsel dari saku celananya, tangannya masih bergetar dan noda darah masih menempel di telapak tangannya.
"Anda dimana?" Tanya Rafli setelah panggilan tersambung, dari nada bicaranya ia sangatlah cemas.
"Mala, hiks,,hiks,, Mala kecelakaan, ia di tabrak mobil." Ucap Arthur seraya menangis, ia begitu rapuh, perasaanya kepada Mala bukanlah hal yang main-main.
"Dimana kalian?" Rafli kembali bertanya.
"Primaya Hospital."
Arthur kembali terisak, ia bahkan tak mampu lagi berdiri, kakinya terasa begitu lemah, perlahan tubuhnya merosot kebawah, ia duduk di lantai dengan bersandar dinding yang dingin, ia rapuh.
Dua puluh menit kemudian, pintu ruang pemeriksaan terbuka, beberapa perawat mendorong brankar keluar, tubuh pucat Mala terbaring di atasnya, wajah ayunya tergores serpihan kaca dan meninggalkan banyak jejak disana. Arthur segera bangun dan menghampiri Mala, ia menatap Mala sejenak lalu atensinya beralih kepada Dokter yang baru saja menangani Mala.
"Bagaimana kondisi Mala Dok?
"Pasien masih belum sadar, kita perlu melakukan MRI untuk mengetahui kondisi pasien lebih lanjut."
"Tolong lakukan yang terbaik Dok?" Pinta Arthur.
"Kami akan melakukan yang terbaik, namun doa dari anda juga sangat di butuhkan oleh pasien."
__ADS_1
Para perawat kembali mendorong tempat tidur Mala, mereka menuju Laboratorium Radiologi guna melakukan pemeriksaan lanjutan. Arthur mengikuti di belakang perawat, ia tak mampu untuk menatap wajah Mala.
Arthur kembali menunggu, ia duduk di kursi panjang tempat keluarga pasien menunggu proses MRI, Arthur menunduk mengamati tangannya yang di penuhi oleh noda darah yang telah mengering.
"Tuan Arthur." Seru sebuah suara dari lorong Rumah Sakit yang menghubungkan Laboratorium Radiologi dan ruangan lainnya.
Arthur menoleh, ia melihat Rafli datang bersama Lala dan berjalan menghampirinya.
"Apa yang terjadi?" Tanya Lala cemas.
"Maafkan saya La, ini semua saya." Ujar Arthur dengan mata berkaca-kaca, matanya yang sembab tak membuatnya untuk berhenti menangis.
"Apa maksud anda tuan?" Tanya Lala lagi, ia menuntut penjelasan dari Arthur.
Arthur menceritakan kecelakaan yang menimpa Mala secara detail, Lala menutup mulutnya, ia tak kuasa menahan tangis saat Arthur menceritakan semuanya, tiba-tiba Lala merasa tak memiliki tenaga, ia hampir jatuh, untung saja Rafli segera menahan tubuhnya dan membantunya untuk duduk.
"Cari pelakunya Raf, hukum dia seberat mungkin." Tegas Arthur dengan mata memerah, sorot matanya begitu menakutkan, Arthur sedang di liputi amarah.
Rafli segera menghubungi anak buahnya untuk mencari pelaku tabrak lari tersebut, setelahnya ia duduk menemani Lala dan Arthur, keduanya terlihat kacau.
"Anda keluarganya?" Tanya sang Dokter kepada Arthur.
"Bukan Dok, saya calon suaminya." Jawab Arthur membuat Rafli dan Lala saling melempar pandang.
"Saya harus segera bertemu dengan anggota keluarga!" Pinta Dokter laki-laki tersebut.
"Dia yatim piatu Dok." Jelas Arthur. "Apa kondisinya sangat parah?" Imbuh Arthur dengan suara serak.
"Pasien mengalami Dislokasi Tulang Leher, untung saja tak mengenai syarafnya sehingga kelumpuhan bisa di hindari, benturan di kepalanya membuat pasien mengalami Gegar Otak, dan yang lebih mengkhawatirkan benturan keras pada bagian dada membuat tulang rusuk bagian bawah mengalami fraktur atau patah tulang, sangat di sesalkan patahan tulang tersebut merobek organ hatinya hingga rusak parah." Jelas Dokter tersebut.
"Untuk itu kami perlu bertemu dengan anggota keluarganya, kami harus segera melakukan Transplantasi hati pada pasien, biasanya anggota keluarga memiliki tingkat kecocokan yang tinggi."
"Pasien akan segera di pindahkan ke ruang ICU, sebaiknya anda mencari anggota keluarga lain, mungkin saja pasien masih memiliki kerabat dekat!"
Dokter itu kembali masuk ke dalam ruangannya, tak lama berselang Mala keluar dari ruangan itu, dia akan di pindahkan ke ruang ICU hingga mendapatkan pendonor hati untuknya.
__ADS_1
Mereka semua mengikuti Mala, namun langkah mereka terhenti saat Mala di masukkan ke dalam ruang ICU, tidak semua orang bisa masuk ke dalam sana, mereka mengamati Mala dari balik jendela kaca.
"Saya akan ke rumah bibinya, mungkin mereka bersedia di tes kecocokannya." Ujar Rafli.
"Bi Ningsih bukan bibi kandung Mala, sementara paman kandungnya sudah meninggal. Kita harus bagaimana?" Terang Lala.
"Sepupunya. Siapa tau mereka cocok?" Rafli kembali mengutarakan pendapatnya.
Arthur hanya mengangguk lemah, ia membiarkan Rafli mengurus segalanya.
***
Rafli dan Lala meninggalkan Rumah Sakit, mereka akan mengunjungi rumah bi Ningsih dan meminta mereka untuk melakukan tes guna menolong Mala.
Keduanya tiba di depan rumah bi Ningsih, Lala memencet bel berkali-kali namun tak ada yang membukakan pintu. Lala mulai geram, ia menggedor pagar rumah, namun tak mendapat respon dari sang pemilik rumah.
Ponsel Rafli berdering, ia memegangi tangan Lala agar tak meneruskan aksi menggedor pintu, Rafli meraih ponsel dan memeriksa siapa yang menelfonnya.
"Tuan Mahesa." Gumam Rafli, lalu ia mengganggat panggilan dari tuan Mahesa.
"Selamat sore tuan Mahesa, ada yang bisa saya bantu?" Ucap Rafli setelah panggilan tersambung.
"Maafkan mengganggu waktu anda, tapi saya tidak bisa menghubungi tuan Arthur maupun Mala, ada beberapa hal yang harus saya bahas dengan mereka." Ujar Tuan Mahesa.
"Maaf tuan, Mala mengalami kecelakaan, tuan Arthur sedang menunggu Mala di Rumah Sakit, mungkin beliau lupa mengaktivkan ponselnya."
"Mala kecelakaan, bagaimana kondisinya. Dimana dia di rawat?" Cecar tuan Mahesa dengan suara panik.
"Mala di rawat di Primaya Hospital tuan."
Tuan Mahesa tiba-tiba menutup panggilannya membuat Rafli kebingungan, alisnya mengkerut sambil menatap layar ponselnya.
"Mereka tidak di rumah, lebih baik kita kembali ke Rumah Sakit saja." Ajak Lala dengan wajah lesu.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Magnetic resonance imaging(MRI) merupakan pemeriksaan organ tubuh yang dilakukan dengan menggunakan teknologi magnet dan gelombang radio. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendapatkan hasil gambar organ, tulang, dan jaringan di dalam tubuh secara rinci dan mendalam.