
"Raf, sepertinya pak Karto menunjukan dimana dia menyimpan rekaman itu."
Setelah mendengar kabar dari Dokter Sheila, Rafli bergegas menuju apartemen milik Arthur, ia meninggalkan pekerjaannya dan pergi begitu saja tanpa berpamitan dengan Arthur padahal jam pulang kerja masih kurang satu jam lagi.
Rafli melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia sungguh berharap bisa segera menemukan rekaman CCTV tersebut, ia ingin masalah ini terselesaikan sebelum pernikahannya nanti,
Setelah memarkirkan mobilnya di basement apartemen, Rafli segera naik ke lantai sebelas tepat di mana pak Karto di rawat. "Semoga semua ini segera berakhir." Gumamnya pelan dan tanpa ia sadari pintu lift terbuka, ia telah sampai di lantai sebelas.
Kedatangan Rafli di sambut oleh Dokter Sheila dan suster Aida, mereka membawa Rafli menemui pak Karto. Rafli mengeryitkan dahinya melihat pak Karto sedang mengorek perut boneka Kangguru dan mencari sesuatu dari dalam sana.
"Apa yang dia lakukan?" Tanya Rafli seraya menatap Dokter Sheila.
"Dia mencari kejahatan di dalam Kanggurunya." Jawaban Dokter Sheila membuat Rafli bingung.
"Apa maksud anda Dok?"
"Itu yang di katakan pak Karto sejak dia melihat boneka Kangguru itu, katanya dia menyimpan kejahatan di dalam boneka itu, oh ya katanya seorang gadis monster merebut boneka Kangguru milik pak Karto, bukankah menurutmu ini sebuah petunjuk?"
Kejahatan, boneka Kangguru, gadis moster, melalui tiga kata tersebut tiba-tiba Rafli teringat akan Ara, kepribadian Arthur yang selalu memeluk boneka. Rafli menatap Dokter Sheila penuh arti saat ia kembali teringat jika boneka yang selalu di peluk Ara adalah boneka Kangguru.
"Ara, dia memiliki boneka itu?" Ucap Rafli dengan sangat yakin, pria itu lalu meninggalkan apartemen tersebut dengan tergesa membuat Dokter Sheila penasaran dan segera mengikuti Rafli di belakangnya.
Rafli naik ke lantai teratas dimana penthouse Arthur berada, setelah sampai di lantai tersebut Rafli segera masuk ke dalam apartemen Arthur di ikuti Dokter Sheila di belakangnya, untung saja Rafli memiliki akses untuk masuk ke dalam unit termewah itu.
Rafli segera masuk ke dalam kamar Ara yang kini di tempati oleh Mala, pandangannya mengedar ke seluruh ruangan mencari dimana boneka Kangguru itu di simpan. Perhatiannya kini tertuju pada sudut ruangan, dimana ada sebuah lemari kayu tanpa pintu, terdapat tiga susun rak, susunan pertama berisi buku-buku cerita dan buku gambar, sususan kedua terdapat berbagai jenis pensil warna dan di susunan teratas ada beberapa boneka dan salah satunya boneka Kangguru yang sedang Rafli cari.
Rafli melangkahkan kakinya menuju lemari kayu tersebut, di raihnya boneka Kangguru yang nampak usang, Rafli lalu membawa boneka tersebut ke tempat tidur, ia duduk di bibir tempat tidur seraya memperhatikan boneka tersebut.
"Aku baru melihatnya, selama ini aku belum pernah bertemu Ara, jadi boneka Kangguru itu memang ada?" Ucap Dokter Sheila tak percaya, wajahnya nampak begitu terkejut.
__ADS_1
Rafli mulai mengeluarkan boneka anak Kangguru tersebut dari kantung induknya, ia merogoh kantong itu dan menemukan sesuatu di dalam sana, Rafli meraih benda itu dan mengeluarkannya.
"Lipstik." Ucapnya heran seraya menatap benda tabung berukuran jari jempol orang dewasa.
"Coba aku lihat." Dokter Sheila meraih benda itu, ia mencoba membukanya seperti ia tengah membuka lipstik.
Klekk..
Benda kecil itu terbuka, Dokter Sheila memutar tube seperti lipstik pada umumnya, namun bukannya lipstik yang naik ke permukaan, Dokter Sheila mengerutkan keningnya saat mendapati sebuah benda mirip koin berwarna merah namun ukurannya lebih kecil, di atasnya terdapat sebuah ukiran yang entah apa bentuknya.
"Apa ini stempel?" Ucapnya seraya mengamati benda tersebut.
"Coba saya lihat." Rafli mengambil alih benda itu, ia memperhatikannya dengan seksama, ia seperti pernah melihat benda seperti ini sebelumnya. Rafli kembali berdiri, ia mengambil buku gambar dari lemari Ara, Rafli mencari halaman yang kosong lalu ia menempelkam permukaan benda itu ke atas kertas putih.
"Prasetyo Wiguna." Rafli mengeja tulisan yang tertera di stempel tersebut. Keningnya mengkerut karena begitu asing dengan nama yang tertera di stempel itu.
Rafli kembali duduk di tepi tempat tidur, ia memasukkan kembali benda itu ke dalam kantung boneka Kangguru, tujuannya saat ini hanyalah rekaman CCTV.
"Iya tapi saya tidak tahu milik siapa, namanya sangat asing. Lebih baik kita lanjutkan pencarian kita."
Rafli kini meraih boneka Kangguru kecil, ia merogoh sakunya dengan jari telunjuk karena ukurannya yang lumayan kecil.
Degg...
Jari telunjuk Rafli menyentuh sesuatu di dalam kantung boneka tersebut, kemudian ia mengeluarkannya dengan sangat hati-hati.
Rafli dan Dokter Sheila tercengang melihat sebuah Micro SD yang kini berada di tangan Rafli, keduanya lalu menoleh dan saling menatap satu sama lain.
"Mungkinkah?" Terka Dokter Sheila dengan wajah serius.
__ADS_1
"Saya harus segera menghubungi tuan Arthur."
"Apa tidak sebaiknya kita memeriksanya dulu Raf?" Saran Dokter Sheila.
Rafli nampak sedikit ragu, namun keputusannya sudah bulat dia harus menghubungi Arthur dengan segera. "Tidak Dok, kita hanya pekerja disini, bukanlah lancang jika kita membukanya terlebih dahulu." Tolak Rafli secara halus. Kemudian Rafli meraih ponselnya dan menghubungi Arthur yang masih berada di kantor.
"Kau kemana Raf, kenapa pergi tak pamit denganku, pekerjaanmu banyak sekali." Teriak Arthur dari ujung telefon, suaranya nampak kesal karena Rafli pergi tanpa memberitahunya.
"Tuan, sepertinya saya menemukan rekaman CCTV itu." Jawab Rafli tanpa memperdulikan kemarahan Arthur.
"Kau serius, kau dimana sekarang, biar aku kesana."
"Tidak tuan, tunggulah di kantor, saya akan kembali ke kantor."
Sambungan telefon telah berakhir, Rafli meletakkan kedua boneka Kangguru serta buku gambar di atas tempat tidur, ia lalu mengajak Dokter Sheila untuk keluar dari apartemen Arthur.
"Terimakasih banyak Dok, mudah-mudahan sesuai dengan harapan kita." Ucap Rafli dengan wajah serius.
"Ya semoga saja begitu. Semoga kita menemukan jalan untuk mengobati Arthur." Jawab sang Dokter seraya tersenyum.
Rafli lalu meninggalakan Dokter Sheila, ia bergegas kembali ke kantor untuk menunjukkan Micro SD yang di temukannya. Rafli berharap jika benda yang di dapatnya hari ini adalah rekaman yang selama ini ia cari, ia sungguh ingin membebaskan Arthur dari penderitaannya, melihat Arthur selalu malih rupa membuatnya tak tega, apalagi setelah menikah nanti ia tidak mungkin menjaga Arthur 24 jam seperti yang di lakukannya saat ini.
****
Di sebuah ruangan gelap, seseorang pria duduk seraya mendengarkan percakapan Rafli dan Arthur yang di dapatnya secara ilegal, bibirnya terangkat ke atas, sebuah senyuman licik terbentuk di wajahnya yang penuh luka. Kepulan asap putih keluar dari mulutnya di sertai tawa yang terdengar hambar.
"Kalian dengar, cegat Rafli sekarang dan ambil benda itu dari tangannya."
"Baik bos."
__ADS_1
"Tunggu dulu, tangkap juga Asisten angkuh itu, aku ingin memberinya sedikit pelajaran."
BERSAMBUNG...