
"Marsel." Ucap Arthur, kedua tangannya mengepal sempurna.
Detik itu juga Arthur meninggalkan Rumah Sakit dan pulang ke rumah orang tuanya, kabut amarah terlihat jelas menutup matanya, untuk itu Rafli berinisiatif untuk mengantarkan Arthur pulang ke rumah utama.
Rafli mengemudi dengan perasaan cemas, ia khawatir Arthur tidak bisa menahan emosinya, kecemasan lainnya Rafli takut jika kepribadian Arthur yang lain akan muncul di depan anggota keluarganya.
Arthur tak berhenti memaki di dalam hatinya, setelah melihat vidio yang di tunjukan Rafli kepadanya, Arthur langsung menebak jika dalang di balik semua ini adalah dady-nya, sejak awal dia memang tidak menyukai Mala, tapi mengapa? Bukankah Mala adalah putri dari mendiang sahabatnya?"
Pukul dua lebih tiga puluh mereka tiba di rumah utama, Arthur langsung keluar dari dalam mobil begitu Rafli menghentikan mobilnya di depan rumah besar itu.
Duar,,duar,,duar
Arthur menggedor pintu dengan keras, beberapa kali ia menggedornya namun tak kunjung ada yang membukanya. Salahkan Arthur karena tak memiliki kunci cadangan sehingga ia harus membuat keributan di pagi buta.
Arthur berniat mendobrak pintu itu, untung saja salah seorang pelayan lebih dulu membukakan pintu untuknya.
"Tuan muda." Ucap pelayan tersebut seraya membungkukkan tubuhnya.
Arthur masuk ke dalam rumah, penghuni lain yang terusik dengan keributan yang Arthur buat mulai keluar dari kamar masing-masing.
"Siapa sih, pagi-pagi begini." Gerutu oma Lusi, ia keluar dari kamarnya dan turun ke lantai bawah.
Begitupun dengan tuan Raymon dan mama Wulan, sepasang suami istri itu keluar dari kamar dan mencari tau siapa yang sudah membuat kegaduhan pada dini hari.
Semua anggota keluarga sudah berada di lantai bawah, mereka terkejut melihat Arthur tengah berdiri dan menatap dadynya penuh kebencian, sementara itu Rafli berdiri di belakang Arthur.
"Ada apa nak, apa yang terjadi?" Tanya mama Wulan dengan lembut, ia dapat melihat kilatan amarah dari sorot mata Arthur.
Arthur tak menjawab pertanyaan mama Wulan, ia melangkah mendekati tuan Raymon, wajahnya berwarna merah padam dan kedua tangannya mengepal dengan kuat.
"Apa anda sudah puas sekarang tuan Raymon Bagaskara yang terhormat?" Ucap Arthur, suaranya menggema di ruangan besar iru.
"Apa maksudmu?" Tanya tuan Raymon, ia nampak bingung.
"Tidak usah bersandiwara lagi, saya tau anda yang sudah menyuruh Marsel untuk mencelakai Mala." Seru Arthur, deru nafasnya mulai tak beraturan, emosinya semakin tersulut.
"Apa yang kamu bicarakan, pagi buta membuat keributan dan sekarang memfitnah dadymu sendiri." Ujar tuan Raymon, suaranya mulai meninggi.
Arthur menyerahkan ponselnya, ia memutar rekaman CCTV yang Rafli ambil dari mobil dan juga dari Villa yang berada di puncak. Ia juga memutar vidio saat Marsel keluar dari mobil dan menemui anak buahnya.
__ADS_1
"Marsel." Tuan Raymon nampak terkejut.
"Jadi anda mengakuinya sekarang? Kenapa anda begitu jahat, apa salah Mala hingga anda tega mencelakainya, bukankah Mala putri nyonya Intan, sahabat anda sendiri?" Cecar Arthur, suaranya mulai meninggi.
"Dady benar-benar tidak tau apa yang sedang kamu bicarakan, dady tak pernah menyuruh Marsel untuk melakukan kejahatan." Sangkal tuan Raymon.
"Tidak usah mengelak lagi, buktinya sudah jelas sekarang, Marsel bekerja untuk anda." Bentak Arthur.
"Sejak awal saya memang menganggap anda jahat, namun saya tidak mengira anda akan sejahat ini, anda berusaha melenyapkan Mala, apakah anda belum puas membunuh mamy. Sekali pembunuh tetap pembunuh."
Plakkk....
Sebuah tamparan mendarat di pipi Arthur. Tuan Raymon menatap tangannya yang bergetar, emosinya membuncah karena sikap Arthur yang di nilai sangat kurang ajar kepadanya.
Arthur mengibaskan kepalanya,ia memegangi pipinya yang terasa ngilu. Arthur menatap dadynya dengan tatapan yang lain, tatapan yang tak pernah Arthur tunjukan sebelumnya, tatapan membunuh.
Arthur tak dapat mengendalikan amarahnya, dengan senang hati Petra menggantikannya, tepat sebelum tamparan itu mendarat di wajah Arthur, Petra sudah menguasai raga Arthur.
"Beraninya kau menamparku." Bentak Petra dengan suara berat khas miliknya.
Rafli menyadari perubahan suara Arthur, ia melirik mama Wulan yang juga tengah meliriknya, keduanya terlihat panik, mereka tidak ingin Petra membongkar penyakit yang di derita Arthur.
"Lepas." Sentak Petra, ia berusaha melepas tangan Rafli.
"Jangan bodoh, kalau kau nekat aku bisa mengambil semua kemewahan yang kau punya, aku akan membakar motor besarmu kalau kau tidak menurutiku." Ancam Rafli, ia segera memasukkan Petra ke dalam mobilnya.
Sementara di dalam rumah utama, semua anggota keluarga masih berdiri di tempat semula, mereka masih terkejut dengan keributan yang Arthur ciptakan.
"Semua perkataan Arthur tidak benar kan mas?" Mama Wulan membuka suaranya.
"Kau tidak mempercayaiku, aku tidak pernah mengusik gadis itu."
"Tapi Marsel.."
"Sudahlah, jangan fikirkan itu, aku akan mengurusnya besok."
Tuan Raymon kembali naik ke kamarnya, ia duduk di bibir ranjangnya dan merenungi perkataan Arthur kepadanya. Hubungan yang sejak awal telah retak akhirnya hancur berantakan hanya karena sebuah kesalahpahaman yang engga tuan Raymon luruskan.
Siapa sebenarnya yang menyuruh Marsel?
__ADS_1
Masa lalu seperti apa yang mereka coba sembunyikan?
****
Rafli membawa Petra ke Rumah Sakit karena khawatir jika Mala akan mencari Arthur.
"Untuk apa kau membawaku kemari?" Tanya Petra, bola mata legamnya menatap Rafli penuh tanya.
"Mala kecelakaan, dia di rawat di sini." Jawab Rafli seadanya.
"Lah terus apa hubungannya sama aku?" Protes Petra.
"Kau ini kan numpang di tubuh tuan Arthur, setidaknya kau harus berguna untuk tuan Arthur. Kecelakaan Mala itu di segaja jadi kau harus bersama Mala dan menjaganya."
"Bang*sat, dia yang sakit kenapa aku yang repot."
Rafli berhasil menelusup masuk tanpa harus memperlihatkan kartu penunggu pasien, Rumah sakit tempat Mala di rawat terbilang sangat ketat penjagaannya sehingga tak sembarang orang bisa keluar masuk dengan bebas.
Dua orang anak buah Rafli masih berjaga di depan kamar perawatan Mala, mereka sengaja di utus guna menjaga keselamatan Mala dan mengantisipasi agar keributan yang di timbulkan nyonya Marry tidak terulang lagi.
Rafli dan Petra membuka pintu dengan pelan, di atas ranjang Mala masih terlelap. Petra berdiri mematung, ia menatap Mala yang terbaring di atas ranjang, tanpa Petra sadari air matanya menetes, sesuatu yang tajam seolah menusuk hatinya. Dengan cepat Petra menghapus air matanya sebelum Rafli melihatnya.
"Kenapa hatiku sangat sakit." Batin Petra, lalu ia melangkahkan kakinya menuju sofa.
"Apa yang terjadi pada gadis itu?"
Tiba-tiba Petra sangat penasaran dengan apa yang menimpa Mala.
"Seseorang sengaja menabraknya, untung saja dia bisa selamat."Jawab Rafli pelan, ia tak ingin mengganggu tidur Mala.
"Seseorang? Siapa?" Petra semakin penasaran, tak biasanya ia tertarik dengan urusan orang lain.
"Suruhan tuan Raymon."
"Tuan Raymon. Tidak mungkin, dia tak sekejam itu."
"Kenapa tidak mungkin, sudah jelas yang menabrak Mala adalah asistennya."
"Raf, jangan lupakan seseorang yang lebih berkuasa dari tuan Raymon!"
__ADS_1
BERSAMBUNG....