
Setelah menerima telefon dari Arthur untuk tak mengikutinya, Rafli segera berputar arah dan berencana untuk kembali ke kantor untuk mengambil beberapa berkas yang tertinggal disana.
Rafli memarkirkan mobilnya didepan gedung Art Life dan dia segera masuk kedalam kantor yang sudah sepi itu, langkah kaki Rafli terhenti saat melihat seseorang masih berada didalam ruangan. Rafli mendekati orang tersebut, dia penasaran siapa yang masih berada dikantor padahal jam pulang sudah lewat dari dua jam yang lalu. Rafli memicingkan sebelah matanya, karena sudah malam dan lampu yang juga sudah dimatikan membuat Rafli kesulitan mengenali karyawannya.
"Lala." Ucap Rafli begitu dia sampai didepan kubikal dan melihat wajah seorang gadis yang berada disana.
"Asisten Rafli." Lala terlonjak dari kursinya karena terkejut dengan kedatangan Rafli.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Rafli datar.
"Saya sedang menyelesaikan pekerjaan saya." Jelas Lala seraya menunjuk laptopnya.
"Ini sudah malam, kau bisa menyelesaikannya besok."
"Tapi saya harus menyerahkan laporan ini besok."
"Oh." Jawab Rafli singkat lalu dia meninggalkan Lala dan masuk kedalam ruangannya.
"Dasar es batu." Batin Lala, dia kembali duduk dan melanjutkan pekerjaannya.
Setelah mengambil dokumen diatas mejanya, Rafli tak langsung pulang, dia memilih duduk dikursinya dan mengamati Lala secara diam-diam. Ruangan Rafli tepat berada di seberang kubikal Lala sehingga Rafli bisa dengan leluasa memperhatikan gadis itu.
"Tumben sekali dia tidak berisik." Gumam Rafli seraya menyenderkan tubuhnya dikursi.
Satu jam telah berlalu, namun belum ada tanda-tanda Lala akan mengakhiri pekerjaannya, sementara Rafli terus menguap dan menahan kantuknya, hari ini dia merasa lelah, sebenarnya dia ingin segera pulang setelah mengambil dokumen yang tertinggal, namun dia urung melakukannya saat melihat Lala sendirian didalam kantor.
"Kapan dia selesai, aku ngantuk sekali." Ucap Rafli seraya memijat keningnya, dia berharap kantuknya akan hilang, namun percumah, mungkin karena terlalu lelah, akhirnya Rafli terlelap dikursinya.
__ADS_1
Hampir tengah malam dan Lala baru selesai mengerjakan tugas yang diberikan oleh seniornya, dia merapikan barang-barangnya dan bersiap untuk pulang.
"Apa dia belum pulang?" Lala berjalan menuju ruangan Rafli, dia mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka dan melihat Rafli tengah tidur dikursinya. Lala mengetuk pintu, dia berniat membangunkan Rafli dan menyuruhnya pulang.
Rafli membuka matanya saat mendengar ketukan dari arah pintu, dia memeriksa jam ditangannya dan terkejut karena sudah tengah malam. Rafli kembali menatap pintu dan melihat bayang-bayang Lala yang tengah berdiri didepan pintu, Rafli memasukkan dokumen kedalam tas kerjanya, lalu dia keluar dari ruangannya.
"Kau sudah selesai?" Tanya Rafli dengan suara serak.
"Sudah. Kalau begitu saya permisi." Pamit Lala.
"Tunggu." Seru Rafli dan membuat Lala menghentikkan langkahnya.
"Ada apa Asisten Rafli?" Tanya Lala dengan wajah datar, dia kelelahan hingga lupa yang tengah bersamanya adalah Rafli, pujaan hatinya.
"Kau pulang naik apa?" Tanya Rafli dengan sedikit ragu.
"Sepeda?" Ulang Rafli, dia terkejut mendengar jawaban Lala. "Kenapa mereka sangat suka bersepeda." Batin Rafli saat mengingat dulu Mala juga selalu bersepeda saat datang kekantor.
"Ya, kalau begitu saya permisi." Lala kembali berpamitan, dia membungkukan tubuhnya dengan hormat.
"Tunggu." Rafli kembali mengehentikan langkah Lala dan membuat gadis itu kesal.
"Apa lagi?" Bentak Lala tanpa sadar.
"Apa kau baru saja membentakku." Ujar Rafli kesal, baru kali ini ada yang berani membentaknya.
"Maaf, saya hanya terkejut saja." Ucap Lala penuh sesal, dia menundukan kepalanya.
__ADS_1
Lama mereka diam, Lala masih dalam posisinya, menunduk dan mematung sehingga membuat Rafli terheran.
"Kau baik-baik saja." Tanya Rafli namun tak mendapat jawaban dari Lala.
"Hey."
"Kau kenapa, kenapa tidak menjawab?"
Rafli mulai panik, dia fikir Lala ketakutan karena tadi dia sempat kesal kepada gadis itu. Rafli memegang kedua pundak Lala dan mengguncang tubuhnya, bukannya merespon kepala Lala justru menabrak dada Rafli.
"Apa yang kau lakukan." Seru Rafli seraya mendorong kepala Lala dengan telunjuk tangannya.
"Kau tidur?"
"Kau ini manusia jenis apa, bisa-bisanya kau tidur sambil berdiri." Gumam Rafli heran.
"Bangun." Ucap Rafli, dia sedikit meninggikan suaranya.
"Oh Tuhan, jangan sampai aku menyukai gadis aneh seperti dia." Batin Rafli.
Rafli membuang nafas kasar karena Lala tak juga bangun, dengan terpaksa akhirnya Rafli menggendong tubuh Lala, bukan ala pengantin namun lebih mirip seperti Rafli tengah mengendong karung beras, dia menaruh tubuh mungil Lala di bahunya dan membawa gadis itu kedalam mobilnya.
Lala membuka matanya saat dia merasa seperti melayang diudara, awalnya Lala sedikit terkejut, namun akhirnya dia mengulum senyum begitu menyadari Rafli telah menggendongnya .
"Setelah ini akan aku pastikan kau tak akan lepas dariku Asisten Rafli." Batin Lala, dia kembali memejamkan matanya dan menikmati momen konyol bersama Rafli.
BERSAMBUNG..
__ADS_1